
“Apa kau tidak tahu betapa berbahayanya jika kau merusak sejarah?
Salah satu pria yang kau bunuh tadi bisa saja leluhur dari orang yang penting, orang yang memiliki pengaruh pada masanya. Jika kau mengakhiri garis keturunn orang itu, sebelum dia sempat memiliki anak....”
Rara sedang berjalan mondar-mandir dikamar tidurnya, tempat Wira mengembalikan mereka. Laki-laki itu sedang berdiri ditengah kamar sambil berpangku tangan, tampak hanya memperhatikan saja.
Rara marah pada wira, karena sekarang yang ingin dilakukannya adalah memukul Wira karena menyebabkannya Begitu khawatir.
Dan yang membuat Rara makin frustasi adalah Wira paling hanya akan merasa geli jika ia benar-bener melakukannya.
Tapi akhirnya Rara bisa cukup tenang untuk menjelaskan kepada Wira bahwa apa yang dilakukan laki-laki itu adalah salah, dan penjelasannya itu sekarang terpotong dengan pernyataan, “ kau mencemaskan pertempuran yang sepele.”
Sepele? Pikiran Rara menjerit. Saat sejarah bisa saja berubah?
Mata Rara menyipit marah pada Wira saat mengajukan pertanyaan, “memangnya pertempuran apa tadi itu? Apakah tercatat sejarah?”
__ADS_1
“yang tadi itu tidak lebih dari pertempuran kecil antara para tetangga desa, tidak begitu berpengaruh.”
Ada yang berubah dari suara Wira yang benar-benar mengganggu ditelinga Rara. Mungkin bagi pendekar seperti Wira pertempuran begitu diagungkan, benar-benar bagian terpenting dari kehidupan mereka.
Mereka hidup untuk itu. Mereka tidak sama sekali berpikir panjang, siapa yang tewas yang tewas karena tikaman pedang mereka.
Bahkan saat mereka menceritakan kembali pertempuran itu, tidak ada tersirat rasa penyesalan atau rasa kasihan, yang ada hanya kebanggaan dan kepuasan bahwa sipemenang begitu tangguh hingga bisa menceritakan kisah pertempurannya.
“ Kau tidak mengerti apa yang kumaksud, Wira. Pertempuran tadi itu berlangsung dimasa lampau. Itu sudah terjadi, dengan sebuah hasil, dan waktu berlanjut untuk merefleksikan hasil dari pertempuran itu.Tapi jika ada yang seperti dirimu, yang aslinya bukan dari pertempuran itu, muncul begitu saja, untuk mengubah kejadiannya, membunuh orang yang seharusnya masih bisa bertahan hidup...”
“menghindari dirimu sendiri? Ulang Rara, terkejut oleh sesuatu yang sama sekali tidak terpikirkan.
“ Jadi, kenapa kau tidak mematuhi nasihat guru mu itu?”
“Aku mematuhinya,” ujar Wira. “kedua belah pihak di pertempuran itu sudah lama bertikai. Ada beberapa orang yang selamat dari pertempuran tadi. Tapi kemudian ada kelompok lain yang membenci kedua belah pihak yang bertempur tadi, dan mengambil keuntungan dari situasi itu, dengan datang ke lokasi saat pertempuran akan berakhir, lalu mengakhiri nyawa mereka yang masih hidup.
__ADS_1
Semuanya tewas dalam pertempuran itu, Rara. Jadi apa bedanya jika ada yang mati ditanganku, atau ditangan orang lain?”
Ternyata Wira tahu apa yang dimaksud Rara, “kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi? Dan bagaimana kau bisa tahu?”
untuk pertama kalinya, Wira terdengar muak, "aku datang bersama kelompok ketiga saat itu, orang-orang keji. Mereka bermain dengan korban-korban mereka, membuat korban-korban itu tersiksa."
To be continued...
jangan lupa like dan komentarnya
maaf jika ada salah-salah tulis
maaf baru bisa up lagi
terimakasih 😘
__ADS_1
cc