Wira penjaga masa lalu

Wira penjaga masa lalu
episode 3


__ADS_3

“ Aku masih tidak percaya kita membawa kotak ini de...”.


“Ade pun tidak akan mau membawanya jika bukan nenek yang meminta tolong untuk membawanya kepada paman. Mungkin nenek sudah tidak bisa merawat benda yang ada didalam kotak ini sepeninggal abah.”


Rara tidak bisa mengungkapkan perasaannya terhadap pedang itu, dan kekuatan yang menyelimuti nya, perasaan yang membuat Rara tidak bisa jauh-jauh dari pedang itu, semenjak pedang itu dibuka beberapa hari yang lalu.


“Apakah kakak tahu isi dari kotak ini?” sttttt... Jangan pernah bocorkan rahasia ini ya, isi kotak ini adalah pedang”.


“”apakah ada yang terjadi setelah membuka kotak itu?”


“Tidak ada kecuali nenek dan Abah menemukanku melihatnya .."


“ Dan satu lagi, pedang itu memiliki nama Wira raksa rahiyangtang.”


“ konon katanya dari yang aku dengar dari Abah dan nenek ,bercerita ketika aku masih kecil, pedang itu dukutuk, jadi tidak boleh disentuh oleh wanita.”


“Entahlah kebenarannya yang jelas ini peraturan yang disampaikan turun-temurun.”


“kakak kan tahu berabad lalu generasi dahulu masih mempercayai hal-hal gaib seperti sihir, kutukan, manusia terbang dan orang bisa berjalan di air.


Ketika kami sampai dirumah paman, Rara tak pernah habis untuk mengagumi keindahannya bukit-bukit yang menjulang dan kebun teh yang terhampar.


Belum Rara keluar mobil datanglah mang Udin penjaga rumah paman yang setia dari semenjak Rara kecil hingga sekarang.


“Neng Rara den jingga, bapak sama ibu jayadarma baru berangkat tadi, kerumah sahabatnya bapak diJakarta tadi malem meninggal”


“ Bapak sama ibu pesen neng sama Aden istirahat dan nginep disini saja dulu, sampai bapak sama ibu pulang besok.


“Iya mang terimakasih kami masuk dan istirahat saja dulu ya didalam.”


“ Iya den.. mangga...”


Rara menggunakan kamar tidur paling pojok dirumah ini, bahkan tempat tidur dan perabot dirumah ini semua serba antik. Rara menoleh sekilas pada kotak kayu itu ketika ia berjalan dikamar tidurnya menuju kamar mandi.

__ADS_1


Dorongan perasaannya untuk bergerak kearah kotak itu dan membukanya, tidaklah sebesar hari-hari yang lalu dirumah nenek. Rara berjuang keras untuk melawan dorongan itu, berusaha agar benda tersebut tidak mengendalikan nya.


Hari ini pengecualian, karena Rara harus memastikan pedang itu baik-baik saja selama tadi di mobil Berjam jam. Perjuangan untuk melawan dorongan batinnya yang hendak membuka kotak itu telah menjadi bagian obsesinya. Rara bahkan menolak jingga untuk menyimpan kotak ini dikamarnya.


Setelah lelah dan badannya terasa lengket Rara mandi dibawah pancuran selama sepuluh menit dan dengan handuk tebal yang membungkus badannya ia mencari baju tidur yang tersedia di lemari pakaian. Tubuhnya masih terlalu basah untuk memakai baju, jadi ia menyisir rambut nya terlebih dahulu.


Dari cermin, Rara bisa melihat tempat tidur, dan kotak yang tergeletak diatasnya, dan tiba-tiba ia menyadari bahwa ia tidak memiliki keinginan untuk membuka kotak itu. Mungkin dirinya terlalu lelah. Tapi Rara sudah berjanji untuk membuka kotak tersebut dan tidak ada perasaan yang menggebu untuk membuka kotak tersebut.


Ia mengeluarkan anak kunci, dari tas tangannya dan menuju ketempat tidur, hanya dalam beberapa detik pedang itu sudah ada ditangannya. Gagang pedang itu masih terasa hangat, sama seperti terakhir kali Rara memegang nya. Dan anehnya secara kebetulan, ia kembali mendengar gemuruh petir dari kejauhan, dan walaupun kamarnya cukup terang, namun sekilas cahaya tampak dari halaman belakang lewat jendela-jendela kamarnya, cahaya itu tembus ke kamarnya walaupun jendelanya tertutup gorden.


Rara menoleh ke jendela nampak nya tidak ada hujan atau pun angin yang terjadi diluar, ketika Rara akan mengecek keadaan diluar, terdengar pekik pelan seorang laki-laki disudut kamarnya. Dan bukan sembarang laki-laki, dia adalah Wira, Rara lagi-lagi mengerjakan mata, tapi laki-laki itu masih ada disana. Dan pikirannya yang begitu kelelahan


tidak bisa menerima kenyataan ini.


Laki-laki yang muncul sama persis seperti yang pernah muncul dirumah neneknya, wajahnya tubuhnya tidak akan bisa Rara lupakan. Rara mengakui dalam hati, ia menyukai pria itu dalam batasan fisiknya saja. Dan mengapa ia memikirkan gagasan itu.


Laki-laki itu berpakaian agak berbeda kali ini, ia tidak bertelanjang dada, namun mengenakan baju yang terlihat untuk melindungi badannya, butuh beberapa menit untuk Rara menyadari bahwa dibajunya terdapat noda bercak darah, ada darah disudut bibir laki-laki itu.


“oh Tuhan, kau tidak melukai jingga dan mang Udin ketika masuk kerumah ini kan?”


“Jingga..?”


“Yang aku kalah kan adalah musuh bebuyutan ku Aryaka..”


Ia melihat kemarahan disuara dan raut muka laki-laki itu,Rara sungguh bingung dengan adanya laki-laki ini dikamarnya, dan merasa marah terhadap Rara, harusnya Rara lah yang merasa terganggu dan marah. Rara langsung menyela.


“ Tolong berhenti tuan yang saya tidak tahu anda berasal dari mana dengan kostum yang anda pakai, kekonyolan kamu sudah terlalu berlebihan”.


Pria itu balas memotong, “ kau yang memanggil ku nyi, aku terpaksa datang karena perintah mu.”


Rara menyipitkan matanya kearah laki-laki itu, dan hendak berkata ketika dipotong oleh laki-laki itu.


“Tapi, omong-omong, jika kamu memanggil ku untuk diajak tidur, maka musuh bubuyutannku bisa menunggu.”

__ADS_1


Pria itu menatap handuk yang membalut tubuhnya, beberapa centimeter tubuh Rara bagian atas terlihat jelas. Wajah Rara langsung dibanjiri warna merah, ketika memahami perkataanya.


Rara langsung buru-buru mengambil pedang yang tergeletak didepan tubuhnya, murni sebuah reaksi insting Rara mengangkat pedang tersebut kearah laki-laki itu. Reaksi laki-laki itu membingungkan.


Laki-laki tertawa kepalanya terdorong kebelakang, suaranya tidak dibuat-buat, karena memang ada yang lucu. Ketika suara tawanya mulai menghilang laki -laki itu berkata.


“Pedangku tidak akan bisa melukaiku apa lagi membunuhku. Yang bisa membunuhku adalah orang yang telah mengutukku.


Rara tidak mendengarkan apapun yang diucapkan laki-laki itu selain pedang itu miliknya.Dan rasa memiliki pedang itu mencuat keluar.


“Pedang mu?, Ini adalah pedang ku pedang keluarga ku..!”


“kau punya waktu beberapa detik untuk keluar dari rumah ini, atau aku akan menelepon polisi!”


“Tidak diajak tidur, kalau begitu?”


“Keluar!” Rara berteriak.


Pria itu mengangkat bahu sambil menyeringai. Lalu ia menghilang didepan Rara dan sekali lagi, terdengar gemuruh suara petir dari kejauhan yang diikuti oleh petir.


Selama beberapa menit Rara masih termangu memandang tempat dimana laki-laki itu berdiri. Jantung nya berdegup kencang, pikirannya membeku, bulu kuduknya berdiri.


Ketika pikirannya mulai bisa bekerja normal kembali, Rara dengan hati-hati mengangkat pedang tersebut dan memasukkan kekotaknya. ia memakai baju tidur dan naik ketempat tidur, ia masih dan menatap ke arah sudut itu cukup lama. Ia bahkan tidak mau untuk mematikan lampu kamarnya.


Ketika akhirnya merebahkan badannya, di tempat tidur, Rara menghela nafas berat. Pagi nanti, ia pasti akan punya penjelasan yang masuk akal untuk kejadian tadi. Saat ini, yang bisa dipikirannya adalah fakta bahwa ia kehilangan akal sehat nya.


To be continued...


maaf jika ada salah tulis..


jangan lupa komentar dan like nya


salam manis dari ichi...😘😘

__ADS_1


__ADS_2