
Rara berharap para pria yang sekarang mengelilinginya tidak berkesimpulan seperti itu, tapi seringain para pria itu menepiskan harapannya.
Dan mereka bukankah para pria abad kedua puluh yang akan mundur dan meminta maaf jika ia menjelaskan kesalahan mereka.
Rara harusnya mulai menjerit keras, malihat apa yang mungkin terjadi, bukannya malah mencoba tenang dan hanya memperingatkan mereka.
“Aku akan berteriak, dan membuat kalian jadi tontonan, jika kalian tidak berhenti dan membiarkanku pergi.”
Salah satu dari mereka tertawa mendengar gertakan itu. Yang lainnya mulai meraih rambut Rara dan mengusapnya dengan jemari yang kotor.
Yang satunya lagi masih berada didekat Rara. Bau amis dari tubuh mereka hampir membuat Rara muntah.
Tapi kata-kata pria yang sedang meremas payudaranya membuat darah Rara membeku.
“Jika menginginkan lebih, biarkan kami menungganginya dulu, kemudian kau boleh menjerit. Kami tidak keberatan berbagi.”
__ADS_1
Diperkosa ramai-ramai? Rara ketakutan. Tidak, terimakasih. Pria itu mungkin benar. Ia tidak melihat ada pria bangsawan di sekitarnya yang mungkin mau melakukan aksi heroik, dan kalaupun ada bangsawan diantara mereka, mungkin bangsawan itu sama kejamnya seperti bawahannya, dan ia akan ambil bagian juga.
Lagi pula, orang di zaman dahulu mungkin tidak punya aturan dalam hal perkosaan dan penjarahan. Mungkin para pria ini sedang bersiap-siap untuk berperang atau berbagai alasan lain yang Rara tidak ketahui.
Pria yang memegangi Rara menepis tangan pria yang meremas dadanya sebelum ia sendiri sempat melakukannya.
Rara merasa tidak perlu berterimakasih, pasalnya pria itu tidak sedang membantunya, hanya menjelaskan pembagian saja.
“Aku yang menemukannya,” pria itu menggeram pada teman-temannya. “Aku yang mencobanya terlebih dahulu.”
Tapi teman-teman pria itu hanya tertawa dan mengangkat bahu. Rara menyadari sekarang kalau para pria itu tidak bercanda saat mengatakan tidak keberatan untuk membaginya.
Rara menyadari sekarang waktunya untuk berbohong dan menyebutkan beberapa nama, berdoa semoga mereka tidak begitu bodoh hingga tidak mengetahui siapa yang berkuasa di daerah sini.
“Aku adalah tamu dari prabu Siliwangi, aku disini untuk bertemu dengannya. Dan pengawalnya yang terkenal Ki bian yang mengantarkanku, tapi kami berpisah. Jika salah satu dari kalian mau berbaik hati mengantarkanku padanya , aku akan memastikan kalian diberi imbalan.”
__ADS_1
“Aku akan mengantarkanmu kemanapun kau mau... Setelah aku mendapatkan imbalan ku,” ujar yang sekarang sedang memeluk Rara.
Pria itu memutar tubuh Rara menghadap ke tubuhnya, mulutnya mulai mendekati dirinya untuk mengklaim apa yang dianggap sebagai imbalannya.
Ia akan muntah jika pria itu menciumnya, rara tahu itu, dan semoga itu tidak terjadi, karena ia tidak bisa menghentikan pria itu.
Dengan kekerasan sepertinya tidak mungkin. Bukan karena ia belum pernah melakukan kekerasan. Sebelumnya dalam hidup, tapi karena berkelahi dengan mereka hanya akan membuat para pria ini berlaku lebih kasar terhadap dirinya, dan saat ini saja ia sudah kalah.
Meskipun demikian, begitu pria itu dengan mulutnya itu mendekatkan mulutnya pada mulut Rara yang terkatup rapat, Rara langsung menendang ************ pria itu, dengan lututnya.
Tendangannya luput, tapi ada sesuatu yang mengenai pria itu, atau pasti akan terjatuh Jika saja tidak ada yang meraih lengannya, hampir merobek pakaiannya, dan menariknya kembali.
To be continued...
jangan lupa likenya..
__ADS_1
Terimakasih 😘