Wira penjaga masa lalu

Wira penjaga masa lalu
episode 34


__ADS_3

Orang yang tadi hampir memperkosanya mengerang dan terlempar ke tanah, tangannya menekan telinganya, yang mengeluarkan darah begitu banyak hingga darah itu meresap hingga ke sela-sela jarinya.


Pria itu mendapat pukulan tangan amat keras. Rara melihat kepalan tangan yang melayangkan pukulan itu ketika ia berbalik, dan darah segar juga terlihat disana.


Itu adalah tangan seorang pendekar yang ahli dalam ilmu beladiri, pendekar itu begitu berkilau dibawah sinar matahari hingga Rara begitu ingin memakai kacamata hitamnya.


Tubuh pendekar itu tinggi dan bidang, tidak seperti para penyerangan tadi, yang sekarang sedang mencoba untuk merangkak menjauh dengan diam-diam.


Teman-teman pria yang akan memperkosa Rara sudah menghilang dari tadi, berlarian kearah yang berbeda, meninggalkan Rara sendirian di sana bersama dengan sang pendekar dan Rinja.


Butuh beberapa saat bagi Rara agar bisa melihat pemuda yang ada dibelakang pendekar itu.


Ketika akhirnya Rara bisa melihat pemuda yang ada di belakang pendekar itu wajah Rinja, ia bisa melihat ekspresi cemas pemuda itu.


Rara menyadari bahwa Rinja lah yang membawa pendekar itu untuk menyelamatkannya.

__ADS_1


Ternyata tadi Rinja berada lebih dekat dibanding yang diperkirakan Rara. Rinja telah melihat apa yang terjadi, dan mencoba mengatasinya dengan cara yang ia bisa, dengan menjemput seseorang yang mampu menyelamatkan Rara


Rara amat bersyukur. Ia juga cukup terguncang, atau kalau tidak ia pasti sudah menyadari lebih awal cara pendekar yang tinggi itu menatapnya dengan sorot penuh kekaguman.


Tapi Rara menyadarinya sekarang, juga menyadari bahwa pendekar itu begitu tampan.


Rara hampir tertawa, tapi tidak sopan jika ia melakukannya, maka ia berusaha untuk mengendalikan diri.


Itu tidak mudah, seorang pendekar yang tampan menyelamatkannya.


Dan Rara tidak yakin ada banyak perjalanan waktu yang terjadi, kecuali ada orang lain diluar sana yang seperti Wira, dengan Pedang supranatural nya yang dikutuk.


Rara merasa harus menanyakan hal ini pada Wira. Rara juga berniat menanyakan pada Wira apa yang telah dilakukannya hingga dikutuk si penyihir. Tapi sekarang Wira tidak ada disini, dan ia ingin mengucapkan terima kasih.


“Terima kasih,” ujar Rara, bahkan mencoba untuk menambah senyum demi menunjukkan ketulusannya.

__ADS_1


“Kau datang tepat pada waktunya dan aku amat menghargainya. Dan terima kasih juga, Rinja, jika kau yang membawa pendekar baik ini.”


“yah, tapi sebenarnya tidak perlu dilakukan,” gerutu Rinja. “Kalau saja kau tetap di tempatmu tadi....”


“Aku tahu, aku tahu,” potong Rara, sebelum pemuda itu menceramahinya,


“Dan percayalah padaku, aku tidak akan membuat kesalahan seperti ini lagi. Aku tadi tidak menyadari kalau ada begitu banyak prajurit disini..”


Rara tidak melanjutkan kalimatnya supaya mereka tidak berpikir kalau ia benar-benar orang yang bodoh, dan ia juga tidak ingin mereka bisa menduga kalau ia tidak berasal dari abad ini.


Wanita tahu batasan mereka di periode ini, dan jarang sekali melanggar sistem. Satu hal yang mungkin sudah diketahui para wanita di periode ini adalah apa yang akan terjadi jika mereka keluar tanpa pengawal di kamp prajurit.


“Mereka gerombolan pria yang kasar, apa yang mereka tahu selain menyapa seorang wanita?” ujar sang pendekar.


To be continued..

__ADS_1


jangan lupa likenya 😘


__ADS_2