
Dugaan Rara pasti karena ukuran tubuh Wira. Tidak ada yang mau menghadapi laki-laki itu sendirian. Namun Rara tidak merasa cemas bahwa Wira akan terluka karena ketidakseimbangan itu.
Wira sudah meyakinkannya bahwa laki-laki itu tidak akan bisa terluka kecuali ditangan dewa dan mungkin orang yang telah mengutuknya.
Rara menyerah untuk terus berteriak ketika tenggorokannya mulai terasa sakit. Ia harus menenangkan diri. Sungguh menakjubkan, semua yang dikatakan Wira padanya benar-benar terjadi.
Rara tidak bisa menjelaskannya, tapi semua ini benar-benar terjadi. Mereka mendarat ditengah peperangan, mungkin karena dengan bodohnya ia berkata “kemanapun yang kau mau”, kepada Wira ketika ia setuju untuk pergi dengan laki-laki itu.
Wira memang mencari peperangan seperti ini semenjak pertama kali Rara memanggilnya.
Dan Rara tanpa pikir panjang telah memberikan kekuatan pada Wira untuk menemukan sebanyak mungkin peperangan sasuai keinginan laki-laki itu.
Dengan hati-hati, Rara turun dari pohon. Ada sekitar dua puluh orang yang masih bertarung. Walaupun mereka sudah tidak lagi bersemangat seperti sebelumnya.
Karena kelelahan, pikir Rara. Delapan dari mereka adalah orang yang berkuda, dan salah satu dengan mereka sedang bertarung dengan Wira. Yang juga sedang diatas kuda.
__ADS_1
Antara dirinya dan Wira tergeletak empat jasad yang harus dilangkahinya, dan seekor kuda tanpa ada penunggangnya. Yang mungkin karena itu membuat kuda tersebut membuntutinya.
Dibuntuti binatang seperti itu membuat Rara bergerak lebih cepat. Dan kemudian ia sudah berada cukup dekat dengan dua orang pria yang sedang beradu senjata itu yang hingga bisa saja membuatnya terinjak atau jadi sasaran senjata mereka.
Sekali lagi Rara meneriakkan nama wira. Wira pasti mendengernya, tidak mungkin laki-laki itu tidak mendengarnya saat ia begitu berada begitu dekat, hanya saja mata Wira tidak lepas dari pedang lawannya.
Bahkan Wira tidak mengucapkan sepatah katapun Kepada Rara. Walaupun Rara tahu Wira bersikap cerdas dengan. Menghindari gangguan yang mungkin dapat membuatnya kehilangan kepala, namun Rara masih marah pada Wira, karena laki-laki itu bisa saja membunuh orang yang seharusnya tidak tewas dalam pertempuran ini.
Jika itu terjadi, maka generasi berikutnya yang seharusnya ada tereleminasi, bisa saja leluhur rara, siapa tahu.
Rara tidak bisa meraih pijakan itu. Ia bisa saja berlari dengan kencang dan meloncat untuk menginjak pijakan itu, tapi itu sebuah usaha yang untung-untungan.
Apalagi ia tidak yakin bisa membuang binatang itu tetap diam disana. Tapi, sebelum Rara sempat berbalik untuk mencobanya, ia diangkat dari belakang dan didudukan di depan Wira,satu lengan Wira yang kokoh memeluknya, membuatnya tetap disana.
“Demi para dewa, memang apa yang kau pikir sedang kau lakukan?” tukas Wira kasar.
__ADS_1
“Apakah kau tahu betapa mudahnya binatang itu bisa membuatmu terbunuh?”
Rara tidak menghiraukan tatapan marah Wira dan menjawabnya. “aku cukup sadar dengan. Fakta itu, terimakasih, tapi karena kau....ah, sudahlah aku suka untuk pergi, Wira detik ini juga.
Dan jika kau tidak mengeluarkan kita dari tempat ini sekarang maka... Maka aku akan mengambil pedangku kembali dan berdiri dengan riang menyaksikan orang-orang ini mencincangnya.”
Mengingat betapa marahnya Wira saat ini, seharusnya Rara mengucapkan kalimat tadi dengan gaya meminta.
Tapi saat ini bukanlah saat untuk bersikap baik, dan Rara tidak ingin dipinggirkan lagi. Ia tidak me oleh kebelakang Wira untuk melihat apakah lawan tarung terakhir Wira telah roboh. Ia hanya tidak ingin ada lagi yang jadi lawan Wira .
Wira menanggapi ancaman Rara dengan sangat serius. Wira tidak berkata apa-apa lagi. Memang tidak perlu. Sama cepatnya seperti mereka sampai tadi, Wira mengeluarkan mereka dari tempat itu.
To be continued...
jangan lupa like nya...
__ADS_1
Terimakasih 😘