
Rara berusaha untuk tidak memikirkan ultimatum wira. Ia juga berusaha untuk tidak memikirkan apa yang dilakukan Wira dikamarnya.
Rara benar-benar tidak tahu Wira laki-laki jenis apa. Lebih mudah menerima bahwa Wira adalah hantu. Banyak orang yang mempercayai hantu, bersumpah pernah melihatnya. Dan Rara tipe orang yang termasuk tunjuk dulu padaku sebelum aku bisa percaya.
Bahkan makhluk luar angkasa sekalipun lebih mungkin, karena sekali lagi, banyak orang yang mempercayai bahwa kalau mereka itu ada. Tapi manusia abadi? Seorang yang bisa hidup ribuan tahun dan sama sekali tidak memiliki uban?
Kalau begitu siapa sebenarnya Wira? Seorang pelawak eksentrik? Atau pesulap yang memiliki peralatan mahal dan canggih yang bisa membodohinya, yang membuatnya berpikir kalau laki-laki itu bisa muncul dan menghilang karena kutukan pedang? Pria itu nyata. Tidak ada suatu pun yang berbau hantu saat tubuh Wira mendekati tubuhnya.
Rara tahu cara membuktikannya. Bisa saja ada peralatan yang dipasang dikamarnya, bahkan disetiap ruangan dirumahnya, bahkan mungkin saja dimobil yang dikendarainya. Ia tidak akan mengobrak Abrik rumah untuk mencari benda itu. Itu tidak perlu. Ia hanya perlu membawa pedang tersebut kedaerahan yang terpencil yang Rara lihat kemarin ketika jalan-jalan, dimana tidak ada apapun disekelilingnya.
Dan jika laki-laki itu muncul lagi? Itu akan membuktikan bahwa Wira bukanlah ilusi berteknologi tinggi itu tidak bisa membuktikan jenis apa Wira itu, tapi paling tidak satu dari banyak pertanyaan mengenai laki-laki itu terjawab.
Jika ia benar-benar mau melakukan itu, maka ia harus mengabaikan ultimatum wira, dan hal itu adalah satu-satunya yang ada dibenaknya sekarang.
Menyadari dilema itu, Rara menjadi bingung.
__ADS_1
Rara pun memikirkan bagaimana cara pemecahannya. Lagi pula, permainan ancaman dan ultimatum ini bisa dimainkan dua orang. Dan hampir tiba-tiba setelah sebuah solusi terbentuk dibenaknya, ia membawa bekal makanan untuk piknik yang amat banyak, meraih kotak pedang dan segera menyetir menuju tempat yang Rara kira ideal.
Tanpa ada apapun disekelilingnya selain alam, pemandangan ini bisa saja seperti pemandangan dari abad lain, yang membuat tempat ini menjadi ideal. Ia tidak ingin wira terganggu oleh abad kedua puluh. Ia ingin perhatian laki-laki itu tidak terbagi, paling tidak sampai mereka memiliki kesepakatan.
Rara harus dua kali bolak-balik ke mobil, karena bekal piknik dan kotak pedang itu terlihat berat untuk dibawanya sekaligus, namun tidak lama ia sudah merentangkan alas dibawah pepohonan, membuka bekal berisi tumpukan makanan yang dimasukkan tadi, dan ia juga membuka kotak pedang, walaupun amat berhati-hati untuk tidak mengenai pedang itu.
Makanan adalah hadiah penghibur. Wira tidak akan senang padanya, jika ia memberikan ultimatum padanya, jadi ia berpikir paling tidak ada satu hal yang dilakukannya yang bisa mengurangi kebutuhan laki-laki itu.
Kemudian Rara menyadari kalau ia benar-benar mengharapkan kemunculan kembali Wira, tanpa pikir panjang lagi.
Dan ditempat itu, sama sekali tidak ada alat elektronik yang tersembunyi. Jika Wira datang dengan halilintar dan kilat, maka ia harus menerima kenyataan bahwa pria itu adalah.....
Rara meraih pedang itu, namun belum menyentuhnya, karena jantungnya tiba-tiba saja berdegup lebih kencang, darahnya mengalir lebih deras.
Rara menarik nafas dalam-dalam, mengendalikan emosi dan tubuhnya, lalu menyelipkan jemarinya dengan lembut ke gagang pedang itu.
__ADS_1
Seperti biasa, rasanya hangat, dan satu hal lagi yang menentang akal sehat. Seharusnya besi itu terasa dingin dan baru hangat setelah digenggam, tapi tidak demikian dengan pedang ini.
Matahari menghilang. Jika memang ada kilat, maka Rara tidak melihatnya, tapi ia jelas mendengar suara gemuruh halilintar. Namun ia tidak melihat Wira.
Rara menoleh kesekeliling dengan cepat, tapi laki-laki itu tidak muncul dibelakang nya. Kemudian ia merasakan hantaman... Hantaman kekecewaan.
Seolah ia kehilangan sesuatu yang teramat disayanginya, dan ia merasakan dorongan untuk menangis.
Tapi Rara tidak melakukannya. Ia menjatuhkan pedang itu dan kembali berusaha menanam dipikirannya kalau semua ini adalah lelucon, lelucon kejam dari siapapun pria itu.
Ia belum siap menghadapi semua itu sekarang, atau bagaimana itu bisa terjadi, atau kenapa ia terlalu...
“Kau mengejutkan ku nyi, kukira kau tidak akan memanggilku lagi”.
To be continued..
__ADS_1
jangan lupa like dan komentarnya
salam maniss dari Ichi😘😘