
Rara menahan nafas ketika mereka turun dari puncak dan menuruni lereng untuk pertama kalinya, Wira melihat mobilnya.
Dan Wira tidak terlihat terkesima atau takjub melihat mobil ini.
Laki-laki itu memang sempat berhenti untuk menatapnya, tapi hanya sesaat. Sebenarnya Wira lebih tertarik pada tiang listrik. Ia menatap tiang itu dengan pandangan amat ingin tahu.
Rara tidak tahan, ia kecewa dengan reaksi Wira, atau kurang nya reaksi Wira. Tentu saja, laki-laki itu belum tahu apa yang bisa dilakukan mobil.
Kesimpulan itu terbentuk dibenak rara, dan dengan sukarela ia menjelaskan bahwa sebelum Wira bertanya, “kau ingat lampu yang kau lihat waktu pertama kali kita bertemu, Wira?” tenaganya berasal dari listrik, dan kabel-kabel yang sedang kau lihat sekarang ini, gunanya untuk mengalirkan tenaga listrik ketempat mana pun yang dibutuhkan.
Sekarang ini tidak ada lagi lampu minyak tanah yang bau dan lilin... kecuali ketika mati lampu.”
Mata Wira beralih pada Rara, begitu penuh dengan pertanyaan, hingga Rara menghela nafas.
“Jangan minta aku untuk menjelaskan tentang Lis....”
Wira langsung memotong untuk bertanya, “Tenaga ini, apakah bisa bekerja pada pedangku?”
__ADS_1
Cuma itu yang menarik perhatian Wira? Rara menggeleng. Ia bahkan lebih terkejut lagi dibanding Wira.
“Tidak, jawab Rara, “ tenaga atau kekuatan alami supernatural. Tenaga yang aku maksud adalah tenaga yang berasal dari listrik dan membuat benda-benda mekanik jadi bisa bekerja sendiri.
Kau akan melihat banyak contoh ketika kembali ke rumah. Tapi ada sumber tenaga lainnya juga... Baterai, bensin... Dan kau akan melihat salah satu benda yang tenaganya berasal dari bensin.”
Rara lanjut berjalan kearah mobil, menaruh pedang itu dikursi belakang, dan membukakan bagasi untuk Wira agar bisa menaruh barang-barang didalamnya.
Rara masih menunggu reaksi laki-laki itu, dan ketika akhirnya Wira menunjukkan reaksinya, itu lebih terdengar seperti kejengkelan.
“Benda apa pula ini?”
“Kereta tanpa kuda? Kalau begitu benda ini tidak bisa bergerak?”
“Benda ini bisa bergerak.” Rara menyeringai.
“ Benda ini diberi makan bensin, dan bisa mengantarmu kemana saja.”
__ADS_1
“Benda ini hidup?”
Dalam pikirannya Rara memgerjap. Ia seharusnya menjelaskan dengan cara yang lebih baik. Ungkapan “diberi makan” hanya akan membuat Wira semakin bingung.
“Tidak, benda ini tidak hidup. Ini adalah salah satu bentuk dari besi yang dibuat orang pada masa sekarang ini. Ini adalah kereta modern, Wira. Ayo, kutunjukkan padamu apa yang menggantikan kuda dan membuat benda ini bisa bergerak.”
Beberapa saat kemudian, Rara membuka kap mobil dan lanjut menjelaskan dengan singkat. “Ini mesin. Bensin yang kusebutkan tadi membuat mesin ini bisa bekerja, memberikannya tenaga kuda, tenaga itu mengalir ke roda hingga bisa bergerak. Apa kau siap untuk melihat demonstrasinya?”
“Aku lebih memilih naik kuda nyi.”
Fakta bahwa Wira memanggilnya nyi lagi, menunjukkan kalau laki-laki itu sedang bingung, ragu, dan sepertinya tidak nyaman.
Apakah ia mengharapkan wira akan merasa seperti ini? Tapi ia juga tidak mau berjalan sejauh beberapa kilometer kembali ke rumah hanya untuk membuat Wira nyaman dengan apa yang sudah akrab bagi laki-laki itu.
To be continued...
jangan lupa like ya...
__ADS_1
Terimakasih 😘