
Rara tidak mau repot-repot membuat dirinya bisa didengar. Ia tahu pasti kalau Wira tidak akan kembali, tidak peduli apapun yang diteriakkannya.
Wira menemukan Medan perang, dan laki-laki itu akan memanfaatkannya sebaik mungkin.
Dari tempatnya ini, Rara bisa melihat kalau orang-orang yang berperang disana tidaklah terlalu banyak, tentunya tidak sampai ribuan seperti yang ia pikirkan.
Dari dua kelompok yang dapat dibedakannya dari perbedaan jenis peralatan perang yang mereka gunakan, ia dapat memperkirakan mungkin ada empat puluh orang disisi ini, dan lima puluh orang disisi sana.
Tentu saja, tidak semua pejuang itu sekarang masih hidup untuk dapat bertarung. Ada beberapa dari mereka yang terluka parah dan bahkan mati.
Rara menatap kedepannya dan merinding, ini adalah fantasi yang biasanya akan dibayangkan oleh para pria macho.
Di zaman modern, para wanita tidak akan pernah bermimpi terjebak ditengah-tengah pertempuran abad pertengahan. Dan mimpi buruk ini benar-benar berlangsung lama.
__ADS_1
Rara mengerutkan dahi ketika satu kesimpulan terpikir olehnya. Memangnya kapan sebelumnya ia bisa mengendalikan pikirannya dalam mimpi?
Tentu saja, kebanyakan dari mimpinya tidak bisa diingat lagi. Kau bisa bermimpi sepanjang malam, namun kau hanya bisa mengingat potongan akhir mimpi saat kau akan terbangun, bahkan yang itupun akan terhapus dari ingatanmu dalam beberapa detik jika kau tidak langsung benar-benar memikirkannya. Dan Rara benar-benar tidak ingat kapan ia pernah berpikir saat bermimpi sebelumnya.
Disisi lain, Wira tampak begitu konsisten untuk sebuah mimpi. Begitu juga dengan dirinya sendiri. Seberapa sering seorang pernah bersikap benar-benar normal, benar-benar seperti karakter asli mereka yang sebenarnya, dalam mimpi buruk sekalipun? Tidak sering, setidaknya tidak benar-bener mirip.
Rara tahu pasti apa yang sedang dilakukannya sekarang. Ia sedang bicara dengan dirinya sendiri, keluar dari mimpi buruk dan menuju kenyataan, dan sesuatu yang mengerikan mulai merayap ke pikirannya.
Obrolan singkatnya dengan Wira mengenai perjalanan waktu bisa jadi sebuah mimpi yang mengarah pada keadaan sekarang ini, tapi sekali lagi, ini bisa saja benar-benar terjadi dan....
Selama setengah menit, ia benar-benar menatap tanah sejauh sekitar dua meter dibawanya, tapi akhirnya ia membuang idenya itu.
Ada cara yang lebih mudah, yang tidak terlalu berbahaya, untuk mencari tahu apakah ia akan merasa sakit atau tidak. Ia menggigit jarinya, dengan kuat, sampai air matanya tergenang. Kini rasa takut mulai mengungkungnya.
__ADS_1
Oh Tuhan, ia tidak sedang bermimpi. Wira benar-bener menyeret mereka ke masa lalu, seperti yang dikatakan laki-laki itu.
Dan Wira mungkin saja sudah membunuh orang di Medan pertempuran ini, yang bisa saja seharusnya selamat.
Wira bisa saja mengubah sejarah, membuatnya berbeda dari yang selama ini diketahui Rara. Namun Rara hanya duduk disana, dan tidak melakukan apa-apa.
Rara teringat film perjalanan waktu yang pernah ditontonnya, dimana gambar-gambar orang difoto menghilang saat sejarah aslinya berubah. Jadi tidak mengherankan kalau rasa panik yang tadi menderanya kini kembali muncul.
Rara mulai meneriakkan nama Wira. Tapi tampaknya Wira begitu sibuk untuk mendengarkannya.
Sebenarnya Wira tidak perlu mencari-cari lawan, mereka sendiri yang datang menghadangnya, dan kebanyakan datang berpasangan.
To be continued...
__ADS_1
jangan lupa likenya...
Terimakasih😘