Wira penjaga masa lalu

Wira penjaga masa lalu
episode 25


__ADS_3

Tidak berhasil. Dalam keadaan normal, mengalihkan perhatian Wira adalah suatu hal yang mudah untuk dilakukan.


Namun sekarang laki-laki itu begitu sibuk, sangat tidak mungkin untuk mengalihkan perhatiannya. Tapi Wira tidak tahu seberapa besar niat Rara.


Rara tidak tahu bagaimana Wira bisa menebak kalau yang menarik laki-laki itu tadi adalah dirinya, karena Wira tidak mau repot-repot menoleh kebelakang untuk melihat siapa orangnya.


Wira berujar dengan nada tenang yang begitu menakjubkan, “jangan sekarang Rara.”


Sepertinya ketenangan Wira lah yang membuat Rara kesal. Dari tadi, sepertinya Wira sama sekali tidak pernah kelelahan.


Sementara pria yang tadi didorong oleh Rara sekarang sudah kembali siap beraksi dan sepertinya sedang memperhatikan punggung Wira dan panggul Rara, mungkin mencoba menimbang-nimbang apakah dengan tombaknya ia bisa menikam kedua target itu.


Kemarahan membuat Rara menetapkan pilihan. Rara mengepalkan tangannya dan melayangkan ke punggung Wira.


Rasanya benar-benar kesal menyadari laki-laki itu mungkin saja tidak merasakan tinjunya.


Jadi Rara berteriak agar suaranya terdengar di antara hiruk-pikuk itu. “ Ya sekarang! Aku akan meninggalkan mimpi buruk ini, dengan atau tanpamu.”


“Mungkin kau menganggap ide ini menyenangkan, tapi menurutku tidak...dan punggung mu seperti akan bolong, seperti sundel bolong.!

__ADS_1


Seolah memiliki mata, pedang itu langsung berputar. Si pemilik tombak perlahan terhuyung jatuh ketanah, tanpa kepala.


Pada saat itu, Rara berkata dengan jijik, “oh, bagus sekali, pancung saja beberapa kepala, memang apa salahnya? Apa peduliku?aku akan berdiri saja disini, sambil memutar-mutar jemariku sampai kau merasa puas dengan aktivitas berlumuran darah ini.


Tapi lain kali jika kau mengajakku ke salah satu mimpimu, pilihlah tempat yang indah, mungkin dengan lilin, lampu berkelap-kelip dari kejauhan, musik yang lembut....”


Mata bak elang itu sekarang beralih pada Rara. “Dan kita hanya berdua,saling merayu mungkin?”


“Selama itu hanya mimpi...”


Rara langsung berhenti bicara, konyol sekali ia mengatakan hal seperti itu...pada Wira.


Sayangnya, hanya perlu beberapa detik bagi Wira untuk merobohkan lawannya itu, dan bahkan satu orang lagi yang datang menyerang untuk menggantikan temannya yang roboh terlebih dahulu.


Kemudian Wira menunggangi salah satu kuda yang tidak ada penunggangnya dan menyeret Rara naik keatas untuk duduk dibelakangnya.


Karena Wira akhirnya membawanya pergi, amarah Rara sedikit menurun, namun ia kembali kesal dengan laki-laki itu.


Karena Wira kerap berhenti untuk menangkis serangan dari tombak dan pedang yang menghalangi kepergian mereka.

__ADS_1


Dan itu semua membuat amarah Rara makin bergejolak. Ketika mereka berhenti dibawah pohon, diujung Medan pertempuran, Wira menarik Rara keperluannya dan melemparkan Rara keatas, kedalam pohon paling rendah, yang membuat Rara benar-benar marah.


“ Apa yang kau....”


“Kau akan aman disana,” ujar Wira, kemudian ia menyeringai lebar menanggapi tatapan kesal yang diarahkan Rara padanya.


“Jangan menarik perhatian, Rara, dan diam. Aku tidak akan senang kalau kau menarik perhatian.”


“Oh, ya?” tukas Rara kesal


Tapi hanya itu yang bisa keluar dari mulut Rara sebelum Wira berbalik, tak menghiraukannya, dan berderap pergi.


Namun laki-laki itu tidak pergi jauh. Rara masih bisa berteriak kearah Wira. Wira juga mungkin masih bisa mendengarnya, tapi itu karena Wira pasti memperhatikan teriakannya yang datang darinya.


Kalau tidak, laki-laki itu tidak akan bisa mendengarnya, karena kebisingan disana sungguh luar biasa.


to be continued....


jangan lupa likenya...

__ADS_1


Terimakasih....😘


__ADS_2