Wira penjaga masa lalu

Wira penjaga masa lalu
episode 9


__ADS_3

Rara mengangkat kepalanya secara perlahan, dan disanalah laki-laki itu, Wira raksa rahiyangtang, duduk disalah satu dahan pohon yang rendah . Kaki laki-laki itu berayun kedepan dan kebelakang, mengingatkan Rara akan anak kecil. Tapi tidak ada yang kekanak-kanakan dengan senyuman yang diberikan laki-laki itu.


Selama beberapa saat, Rara hanya memandang kosong pada Wira, sementara emosinya mulai kembali pulih dari perasaan kecewa. Kegelisahan akut merupakan kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaannya yang mulai muncul.


Apakah ia awalnya mulai benar-benar yakin bisa mengendalikan laki-laki ini? Wira jelas bisa menjadi pemenang kontes pria yang paling agresif, paling suka perang, dan paling bar-bar yang pernah ada.


Rara akan lari ke mobilnya pada saat itu, jika saja ia bisa mengingat dimana mobilnya, jadi ia hanya mengucapkan apa yang ada dipikirannya, “Bagaimana kau bisa berada disana?” dan berharap pertanyaannya itu juga bisa mengalihkan apa yang ada dipikiran Wira.


Kemudian Rara mendapat jawaban dari Wira, yang membuatnya kesal, “kau memang bisa memanggilku, tapi aku yang memilih dimana aku ingin menginjakkan kaki, dan aku memilih untuk tidak turun dulu sekarang”.


Wira baru akan turun tepat didepan Rara ketika Rara meloncat menjauh dari pohon tersebut, dari tempat dimana Wira akan melompat turun. Tawa Wira lembut, menyadari pemikiran Rara . Wira tahu persis bagaimana perasaan rara, dan betapa takutnya Rara. Sama sekali bukan situasi yang bagus untuk melakukan kesepakatan bagi Rara.

__ADS_1


Rara mengenakan kacamata seperti tameng, dan rambut digelung lebih ketat dibandingkan biasanya, hanya untuk memastikan. Rara tahu ia sudah mengambil resiko yang dianggap tantangan oleh Wira untuk mengenyahkan kacamata dan ikat rambutnya, namun ia sama sekali tidak memiliki niat untuk terang-terangan mencoba menarik perhatian pria itu. Menurutnya itu tidak begitu penting.


Sekarang Rara menegakkan bahu dan mencoba untuk mengenyahkan kesan ketakutan yang tadi ditunjukkannya. Dan dengan nada suara yang berusaha untuk terdengar tegas, Rara berkata, “aku ingin bicara dengan mu Wira.”


Wira sama sekali tidak terkesan. Ekspresi Wira, dan cara Wira meloncat dari dahan pohon, menunjukkan kalau ia tampak geli. “kau boleh melakukannya..... Nanti.”


Wira turun ketanah sekitar dua meter dari Rara, tapi sayangnya, laki-laki itu tidak tetap berada disana. Rara tetap berdiri ditempatnya ketika Wira mendekatinya. Berlari tidak akan menegaskan ultimatumnya, yang akan diucapkannya sebentar lagi, sebelum laki-laki itu benar-benar menutup jarak diantara mereka.


Wira berhenti, sekitar setengah meter dari Rara, sebenarnya Wira bisa menjangkau rara, namun ia tidak melakukannya. Alih-alih demikian, Wira malah menunduk menatap tanah diantara mereka seolah berharap akan melihat perangkap yang akan terbuka dan menelannya.


Namun yang ada hanyalah rumput dan beberapa bunga. Jadi Wira menoleh kearah lain, kesekelilingnya, dan ketegangan pria itu menyiratkan bahwa ia seperti mengharapkan ada pasukan yang bersembunyi diladang.

__ADS_1


Tanpa menoleh kepada rara, dan masih tetap mencari-cari ujung anak panah atau kilatan pedang Wira berkata dengan tergesa, “jelaskan nyi,apa yang akan menahan ku disini?”


Rara berpikir untuk lari saat ini, karena setelah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Wira, ia yakin sekali laki-laki itu akan marah karena apa yang akan diucapkannya. Tapi ia tetap mengatakannya.


“Aku yang akan menahanmu.”


to be continued...


jangan lupa like dan komentarnya


terimakasih 😘

__ADS_1


__ADS_2