Wira penjaga masa lalu

Wira penjaga masa lalu
episode 5


__ADS_3

Rara bergegas kelantai bawah, dengan perasaan linglung, memegang daun tadi ditangannya. Rara memegang daun itu diantara dua jarinya, seolah itu adalah tikus mati yang harus dibuangnya. Rara melangkah ke dapur untuk membuang sampah itu dan disanalah ia bertemu mang Udin, yang sedang menyiapkan makanan. Melihat mang Udin Rara mengucapkan hal pertama yang terlintas dibenaknya, “ mang coba cubit tangan Rara deh, seperti nya Rara masih bermimpi.”


Mang Udin langsung berbalik, melihat sekilas langsung berkata, “ya ampun neng, wajah neng Rara meuni pucat, kayak yang habis ketemu hantu saja.”


Rara hampir tertawa, ada dorongan histeris yang membuatnya ingin tertawa, namun Rara berusaha untuk bisa mengendalikan diri. Perkataan mang Udin yang menggambarkan wajah nya yang pucat, benar-benar ironis dengan isi pikirannya saat ini.


Tapi untungnya mang Udin mengalihkan pandangannya pada apa yang Rara pegang, “ kenapa neng bawa daun bekas kue?” apa ada tikus gitu yang bawa neng?” Perkataan mang Udin membuat Rara menyadari sesuatu yang lebih masuk akal.


Tentu saja, penjelasan yang lebih masuk akal, tikus yang mengacak sampah dan membawa sampah itu hingga masuk ke rumah.


Rara berjalan ketempat sampah, dan membuang sampah itu. Ia bertanya kepada mang Udin, “ apakah man Udin butuh bantuan?” . Bi Eros engga kesini mang?


“Tidak usah neng, mang bisa, Bi Eros ke belakang dulu, dari pada ini jadi gosong dilanjut sama amang.

__ADS_1


“ Neng Rara tidak sakit kan? Sampai pucat begitu?”


“ engga mang, mungkin Rara baru bangun tidur, dan mimpi buruk”.


“Bapak sama ibu ko belum pulang yah neng?” padahal harusnya hari ini sudah sampai..!


“Kemarin Rara ditelepon mang, paman pulangnya bisa dua atau tiga hari lagi, belum selesai urusan diJakarta, jadi Rara disuruh paman untuk liburan lebih panjang disini.” Gpp ya mang, Rara ngerepotin mang Udin sama Bi eros.”


“ Teu nanaon, engga apa-apa atuh neng, mang sama Bi Eros mah malah bungah,senang neng ada disini, jadi rame, semenjak den Budi kuliah rehe neng, sepi disini teh.”


Rara belum memperhatikan nya, tapi ia menatap ke luar jendela dapur sekarang, melihat diluar memang sudah gerimis. Tapi Rara tersenyum, di sisi lain sama cerahnya seperti sinar matahari.


“ Rara bingung mang, enggak pernah ngira akan menyambut hujan seperti ini.” “munculnya petir ditengah awan hitam disertai hujan lebat memang menyeramkan buat Rara.” “ Tapi setidaknya kali ini petir dan gemuruhnya muncul disertai dengan hujan, sebagai mana mestinya.”

__ADS_1


Ia ingin memulai penelitian nya mengenai pertanian , dan daerah ini sangat cocok untuk penelitian nya. Dia harus mulai melihat-lihat, dan membeli beberapa buku. Ia sama sekali tidak punya waktu untuk menganalisis mimpinya, yang tidak pernah memuaskan rasa penasarannya mengenai kutukan tersebut.


Rara masih tetap berkutat dengan pemikirannya hingga larut malam, ketika ia meringkuk diatas tempat tidur. Rara mencoba untuk tidur, tapi ia tahu itu tidak mungkin dengan adanya setitik keraguan melayang-layang dalam benaknya, bagaimana kalau itu bukan mimpi?


Rara mengerang dibantainya. Ia tidak mulai mempercayai omong kosong ini kan? Tapi bagaimana jika...bagaimana jika Wira itu hantu??manusia dari masa lalu..?


Jantung Rara mulai berdegup kencang, ketika kemungkinan lain mulai terpikir kan, apakah Wira bisa menjadi saksi dari abad- abad yang dia lalui? Bisakah dia bercerita tentang kejadian masa lampau? Seperti yang biasa Rara lihat dan tonton tentang mitologi Yunani moirai.


Kemungkinan itu mulai menarik baginya, ia mulai melempar selimutnya, untuk mengambil pedang tersebut. Namun ia menghentikan dirinya sendiri dengan kembali mengerang. Pasti ia terlalu kelelahan, seperti nya Rara harus banyak beristirahat.


To be continued..


jangan lupa like dan komentarnya

__ADS_1


salam manis dari ichi😘😘


maksihhh


__ADS_2