
Iya”
“Betapa...bijaknya...dia.”
Kata-kata itu pasti ampuh untuk mengalihkan pikiran Rinja agar santai sedikit dengan topik tersebut.
“Airnya nyi?” Rinja mengingatkan.”
“Nanti akan kugunakan, sahut Rara. “Tapi pertama-tama ....”
Tanpa menyelesaikan ucapannya, Rara langsung keluar dari tenda sebelum Rinja sempat terpikir untuk menghentikannya, Rinja memanggil namanya, meneriakkan lebih tepatnya, dan terdengar cukup cemas, tapi ia tidak berhenti.
Seberapa sulitnya ia menemukan Kadatuan Pamingkis itu jika tempatnya memang dekat?
Ia berjalan cepat saat ini, bahkan nyaris berlari, Rara berusaha menoleh ke berbagai arah untuk mencari. Tapi yang dilihatnya hanyalah tenda dimana-mana, mungkin ratusan tenda di mana-mana.
Ia mulai menduga bahwa berpergian sebentar dengan kuda yang dimaksud Rinja tadi mungkin bisa memakan waktu berjam-jam.
__ADS_1
Ada begitu banyak pria, yang berdiri sambil bicara, duduk, makan, memasak pagi didepan api unggun, berlatih perang, membersihkan peralatan perang.
Ada beberapa wanita juga, tapi tidak begitu banyak, dan sepertinya mereka pengikut orang-orang yang berkemah, setidaknya pakaian mereka dan tindak-tanduk mereka menunjukkan seperti itu.
Pakaian memang memegang peranan penting pada zaman dahulu, dari pakaian tercermin perbedaan kelas sosial, hanya bangsawan kaya yang mampu memiliki pakaian bagus.
Pakaian yang diberikan pada Rara memiliki kualitas yang bagus, tapi ia punya firasat pakaian itu tidak akan memberikan perlindungan yang cukup padanya ditengah kumpulan prajurit.
Tidak ketika para prajurit itu terdiri atas para pria yang berasal dari berbagai kelas sosial. Mungkin ada kelompok bangsawan dan petani disini, tapi bisa juga kelompok yang lain yang mungkin Rara tidak ketahui.
Harapan satu-satunya, pemuda itu mengikutinya dan segera menemukannya.
Tapi karena ia tidak pergi terlalu jauh, Rara merasa tidak akan sulit untuk mengikuti kembali jejak langkahnya.
Tapi seorang prajurit datang mendekat dan memutarnya kearah lain. Reaksi pertamanya adalah mengenyahkan prajurit itu, namun pria itu memeganginya.
Kemudian Rara menoleh kearah pria itu dan mengerang dalam hati. Seorang prajurit, tidak lebih tinggi dari dirinya, tapi cukup tegap
__ADS_1
Pria itu masih muda, tapi seringainya menunjukkan beberapa giginya yang telah hilang, dan di dagunya yang berbulu lebat tertinggal sisa-sisa makanan dan mungkin beberapa kutu-kutu yang gemuk bersarang disana.
Kemudian Rara melihat ada tiga orang lagi yang begitu mirip dengan pria pertama dan pria itu sedang menyeretnya kearah mereka.
Baru kemudian Rara paham, sekalipun sudah terlambat, bahwa walaupun ia mengenakan pakaian seorang bangsawan, namun rambutnya benar-benar berantakan, karena ia baru bangun tidur tadi.
Ia sama sekali tidak memikirkan hal itu ketika tadi buru-buru keluar tenda. Wanita terhormat di zaman ini jarang terlihat didepan publik dengan rambut yang tidak rapi, dan acak-acakan seperti ini.
Jadi sayangnya, siapa saja yang kebetulan melihatnya mungkin akan berasumsi kalau ia baru saja bangun.
Dan dengan berkeliaran sendiri di tengah-tengah lautan prajurit tanpa ada pengawal mungkin akan mengarahkan pada kesimpulan yang lebih buruk, bahwa ia mungkin saja tadi malam habis melakukan kencan rahasia dengan seorang prajurit,dan jika ia bisa bersama salah satu dari mereka, kenapa tidak bersama beberapa dari mereka sekalian?
To be continued...
Jangan lupa likenya
terimakasih 😘
__ADS_1