Wira penjaga masa lalu

Wira penjaga masa lalu
episode 12


__ADS_3

Rara akan mulai tertawa jika ia tidak berhenti membayangkan bagaimana reaksi Wira nanti, dan juga mengenyahkan bayangan Wira yang langsung menghunuskan pedangnya keluar jendela saat melewati tank-tank.


“Mengenai besi,” lanjut Rara “sekarang besi bisa dibuat dalam berbagai jenis dan ukuran. Sama seperti plastik, pokonya ada pabrik yang memproduksi bagian-bagiannya, ada bagian pabrik yang menyatukannya, dan hasilnya adalah barang-barang membuat kehidupan di zaman modern ini jadi lebih mudah.


Pokoknya kami hidup dimasa sekarang ini tanpa harus memikirkan yang rumit-rumit. Kau akan melihat keajaiban zaman modern ini nanti. Hanya jangan tanyakan padaku bagaimana cara kerjanya, tekhnologi bukan bidangku.”


Mendengar semua itu, Wira hanya mendengus. Dan Rara harus memahami, laki-laki itu mungkin tidak memahami ucapannya. Wira kembali mencermati Apa yang dipegangnya, namun sekarang ia menyadari apa yang ada didalamnya.


Rara menyeringai dan memberi tahu, “ pegang bagian ini, dan putar bawahnya.”


Wira melakukannya, dan matanya membelalak saat batang lipstik itu muncul keluar, kemudian kembali masuk ketika ia memutar bagian bawah lipstik itu kearah yang berlawanan. Keluar masuk, wira memainkan lipstik itu sekitar satu menit, sama seperti anak kecil yang menemukan mainan baru


Tapi akhirnya, Wira berhasil mengendalikan rasa penasarannya dan bertanya, “ini..apa gunanya?”


Paling tidak pertanyaan itu bisa dijawab Rara, dan bisa langsung membuat Wira kaget.


“Untuk memberi warna pada bibir.....bibir wanita.”

__ADS_1


“Kenapa?”


Senyuman Rara lebih tertuju pada dirinya sendiri. “Aku sendiri juga sering mempertanyakan itu. Ini hanya salah satu dari berbagai jenis kosmetik yang digunakan wanita untuk meningkatkan kecantikan mereka.”


Kemudian Wira menoleh untuk melihat bibir Rara dan menatapnya cukup lama, hingga perasaan Rara tidak karuan.


Rara hendak memalingkan wajah untuk mengendalikan perasaannya ketika wira kembali mengalihkan pandangannya ke lipstik, dan ia berkata, “Kau tidak memakainya.”


Entah bagaimana, Rara berhasil menimpali walaupun sedikit gugup, “Memang, aku jarang memakainya.”


Wira menyerahkan lipstik itu pada Rara.


Itu adalah suatu perintah. Wira berharap akan dipatuhi tanpa dibantah. Dengan lincah dan cekatan , Rara menyapukan lipstik itu ke bibirnya, lalu mengusap-usap bibirnya.


Karena tidak ada cermin, secara otomatis ia mulai mengusap dari mulai bagian atas hingga bawah, kebagian luar bibirnya.


Ketika Rara kembali menoleh pada Wira, laki-laki itu kembali bertanya padanya, “seperti apa rasanya?”

__ADS_1


Dan Rara sudah tahu apa yang ada dalam pikiran Wira bahkan jika laki-laki itu belum memikirkannya.


“Kau tidak akan mengetahuinya,” jawab Rara, suaranya tegas penuh peringatan.


Wira merespon dengan mengambil lipstik itu dari tangan rara, dan secara perlahan, begitu perlahan, menyapukan ketengah lidahnya. Sementara itu, Wira menatap Rara yang terkesima menatap mulutnya.


Akhirnya, Wira mengerutkan bibirnya. Dan ketika akhirnya mata Rara kembali beralih kemata wira, ia mendengar Wira berkata, “Benda ini tidak ada rasanya......Aku lebih memilih mengecap rasamu.”


Rara hanya bisa melotot, dan dalam keputusasaan ia menyeret makanan itu kedepan Wira. “Ini makan! Aku akan pergi jalan-jalan.”


Jalan-jalan omong kosong. Ia hampir bisa dikatakan berlari kearah berlawanan, makin menjauh ketengah Padang rumput, dan tawa Wira menyertai di setiap langkahnya.


to be continued.....


jangan lupa like dan komentarnya....


mohon maaf jika ada salah-salah ketik...

__ADS_1


terimakasihh...😘


salam manis dari ichi....


__ADS_2