Wira penjaga masa lalu

Wira penjaga masa lalu
episode 22


__ADS_3

Itu berarti ada kepastian bahwa mereka akan kembali ke masa sekarang tidak peduli apa pun yang terjadi.


Senang mengetahuinya. Dan Rara tidak begitu tertarik melakukan perjalanan ke masa depan.


Fakta bahwa ia tidak dapat melakukannya, tidaklah begitu mengecewakan baginya.


Yang menarik baginya adalah masa lalu, dan cerita putri Rara kandita yang selama ini dikatakan hanya dongeng belaka, jadi ia kembali membahas hal itu.


“Jadi, jika tidak ada yang berubah dimasa lalu, maka kau bisa menentukan tanggal pastinya kapan kau hendak kemasa itu?”


“Ya, dan pergi kemanapun, ketempat dulunya aku pernah muncul.” Kemudian Wira menyeringai.


“Tunggu dulu,” ujar rara. “Apakah kau pernah mencobanya?”


“Aku belum pernah punya kesempatan untuk melakukannya. Karena agar berhasil, wanita pemilik pedangku itu harus menemaniku, namun tidak ada satupun dari mereka yang mau.”


“Oke, hanya untuk memperjelas,” Rara melanjutkan, “sekarang, menit ini juga, jika kau memiliki pedangku ditanganku, maka kita bisa pergi dan mengunjungi Putri Rara kandita?”


“Ya.”


“Atau bahkan Raja Pakuan Pajajaran Prabu Siliwangi?”

__ADS_1


“Ya... Atau peperangan apa pun yang pernah kuhadiri.”


Rara mengerutkan dahi. Wira mengulang lagi apa yang pernah dikatakan nya tadi, jika topik yang lain Rara mungkin tidak menyadarinya, tapi perang?


Rara tahu betapa Wira sangat mencintai pertarungan. Dan ekspresi Wira saat ini jelas-jelas menyiratkan betapa laki-laki itu amat senang karena mereka sedang membicarakan hal ini.


Apakah mungkin Wira benar-bener percaya bahwa dirinya bisa melakukan perjalanan waktu, bahwa apa yang dikatakannya bukan sekedar tipu muslihat untuk mendapatkan pedangnya kembali.


Rara kembali merasakan gejolak antusiasme. Jika ia membiarkan dirinya percaya, bahkan selama satu menit saja, bahwa semua yang dikatakan Wira padanya adalah benar, maka hasil dari kemungkinan itu akan mengejutkan.


Karena ia bisa menjelajah waktu, memiliki kesempatan bertemu dengan orang-orang yang telah mengubah sejarah dan bertemu orang yang selama ini hanya diceritakan dalam dongeng.


Tapi itu berarti memberikan pedangnya pada Wira, atau lebih tepatnya meminjamkan pedangnya pada laki-laki itu. Bagaimana ia mengambil resiko itu?


Tapi, bagaimana mungkin ia tidak melakukannya kecil baginya untuk mengunjungi masa lalu, benar-benar melihat dengan mata kepalanya sendiri, melihat kebenaran yang selama ini disebut-sebut hanya dongeng semata.


“Tunggu disini, aku akan mengambil pedang.” Kata Rara sebelum ia berubah pikiran.


Wira tidak menurutinya, tentu saja. Rara tidak tahu apa yang membuatnya berfikir Wira akan mematuhinya.


Wira tepat dibelakangnya ketika Rara meninggalkan ruang perpustakaan.

__ADS_1


Rara berbalik dan berbisik kepada wira,untuk berjalan hati-hati dan jangan mengeluarkan suara yang membuat gaduh.


Rasa nya Wira lebih dekat daripada itu kepadanya ketika ia hendak memasuki lorong kamar, walaupun mungkin kewaspadaannya bertambah terhadap Wira dan tempat yang dilaluinya Sekarang.


Namun perasaan tersebut menjauhkannya dari keraguan ketika ia memasuki kamar, setidaknya sampai pedang yang berat itu ada ditangannya.


Pada saat itu, Rara kembali merasa bimbang. Memiliki pedang yang mampu menembus waktu terlalu berlebihan untuk bisa diterima akal sehatnya.


Dan ia tidak ingin kehilangan pedang yang dititipkan padanya, ia benar-benar tidak ingin....


“Berikan pedang itu padaku Rara.”


Untuk beberapa detik Rara menutup matanya. Ia haya merasa sedikit bimbing memikirkan pedang itu akan dipegang oleh Wira.


To be continued...


Jangan lupa untuk like dan komentarnya...


Maaf jika ada salah-salah tulis ya..


Terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2