
Tuan kita? Wira bukanlah tuannya. Sekarang Rara jadi penasaran, memangnya Rinja berpikir dirinya ini siapa, atau apa yang dikatakan Wira pada rinja. Ia mungkin tidak akan menyukai jawabannya, dan ia sudah cukup malu untuk hari ini.
Tapi nada Rinja memerintah memang membuat Rara naik darah. Remaja laki-laki mungkin akan menanggung beban lebih besar dibandingkan wanita pada saat ini, tapi Rara tidak akan menerima begitu saja aturan sosial itu, batasan yang mungkin akan menjadi yang paling menganggu baginya selama berada disini.
Jadi, Rara menimpali pemuda itu dengan kalimat yang diduganya tidak terdengar terlalu kontradiktif, “aku, melakukannya, dan aku tidak butuh pengasuh, jadi kau bisa mencoba menemukan Wira lalu membawanya kemari sekarang juga. Itu saja kali bisa secepat mungkin.”
Wajah Rinja memerah lagi, tapi ia terlihat marah sekarang. Nada suara yang digunakan Rara tadi padanya mungkin mengingatkan pemuda itu pada ibunya, dan sudah pasti banyak tidak akan ada wanita selain ibunya yang pernah menyuruhnya
Anak laki-laki di zaman sekarang berada dibawah asuhan ayah mereka. Dan biasanya mereka dititip pada keluarga lain untuk dilatih oleh pendekar.
Rinja tidak menimpali perintah Rara tadi, pemuda itu hanya berbalik dan meninggalkannya. Menurut Rara, sikapnya ini tidak terlalu cerdas, dengan menjauhkan salah satu dari sedikit orang yang dikenalnya di sini.
Kejadian dengan para prajurit tadi pasti telah membuatnya kesal lebih daripada yang disadarinya.
__ADS_1
Hingga membuatnya sensitif. Tapi tentu saja, ia tidak seharusnya membuat masalah hanya karena seorang remaja bersikap normal sesuai zaman.
Lagi pula, sebagai seorang pengajar ia sudah terlatih dalam menghadapi anak muda.
Merasa kesal dengan dirinya sendiri, Sam kesalnya seperti terhadap Wira dan Rinja Rara berjalan mondar-mandir sembari menunggu Wira muncul. Itu tidak mudah dengan. Pakaiannya yang dipakai sekarang selam ia berjalan.
Satu jam telah berlalu, lalu berjam-jam lagi. Rara mulai menduga Rinja tidak pergi untuk menjemput Wira seperti yang ia suruh.
Karena marah, pemuda itu bisa saja memutuskan untuk membuarkannya seperti direbus sepanjang siang.
Keringat Rara bercucuran saat menjelang tengah hari, dan perutnya mulai meyakinkannya kalau ia kelaparan.
Kombinasi yang tidak menyenangkan ini makin memperburuk suasana hatinya, yang mungkin menjadi penyebab kenapa ia langsung “menyemprot” Wira begitu laki-laki itu muncul.
__ADS_1
Rara bahkan tidak memberikan kesempatan pada Wira untuk berdiri dengan tegak setelah ia masuk ketenda.
“Akhirnya kau datang juga! Berani-beraninya kau membawaku ke sini dan meninggalkanku. Jika aku tidak benar-benar mengenal sejarah dengan baik, aku bisa saja terkena masalah serius pagi ini...”
Wira mengangkat Rara dari tanah dengan memegang lengannya, yang membuat Rara langsung berhenti bicara.
Wira mengguncang Rara beberapa kali, hingga ia jadi lupa apa yang membuatnya marah pada laki-laki itu.
“Berani-beraninya kau meninggalkan tenda ini ketika aku mengatakan dengan jelas padamu untuk tidak melakukan nya. Apa kau tidak peduli dengan keselamatanmu sendiri? Apa kau bisa membayangkan apa tangan akan terjadi...”
“Kau bisa berhenti bicara sekarang.” Sela Rara. “Aku tahu pasti apa yang akan terjadi jika Ki ranggah Banyu yang baik itu tidak datang, dan untungnya pria itu datang. Tapi aku tidak akan terjebak dalam situasi yang tidak mengenakkan seperti itu jika kau ada disini ketika aku bangun pagi ini.”
To be continued..
__ADS_1
jangan lupa like nya
terimakasih....