Wira penjaga masa lalu

Wira penjaga masa lalu
episode 19


__ADS_3

Rara sedang duduk diseberang tamunya itu, dan merasa gugup. Rara begitu ingin membahas apa yang ada dalam pikirannya. Dan Rara bertanya apa yang terlintas dipikirannya.


“Apakah kau benar-benar memiliki kekuatan untuk mengutuk seseorang?”


Wira hanya tersenyum. Apakah laki-laki itu sedang menggodanya?


“Pertanyaan bodoh”, tukas rara, lebih ditujukan kepada dirinya sendiri. Kemudian sesuatu terlintas dibenaknya. “Apa pedang itu memberikan kekuatan lain untukku yang seharusnya kuketahui?”


Senyum Wira sekarang berganti dengan senyuman berseri-seri. “Tadinya.”


“Tadinya? Sekarang tidak?” Rara mengerutkan dahi.”Apa maksudnya?”


“Tadinya kau memiliki kekuatan untuk memerintahku. Aku tidak bisa berbohong padamu, tidak bisa menyakitimu, atau menolak apa yang kau perintahkan. Jadi, kau memiliki kendali penuh atas diriku.”


Rara menatap Wira dengan tidak percaya. Tidak heran Wira menutup matanya ketika dimobil saat Rara menyuruhnya, dan benar-benar harus mendapatkan izin agar bisa membuka mata kembali.


Pemikiran mengenai memiliki Wira dibawah kendalinya benar-benar membuat Rara takjub. Tapi yang dibicarakan Wira adalah masa lalu.


Mata Rara menyipit, menatap penuh curiga ke arah Wira. “Apa kau mengatakan padaku bahwa tadinya kau memiliki kekuatan seperti itu, dan sekarang tidak lagi?”


Sepertinya tidak mungkin, tapi sekarang senyuman laki-laki itu makin congkak dan makin penuh kemenangan.


“Ya, ketika kau membebaskanku, maka kehilangan kekuatanmu atas diriku.”


Rara bersandar dan menghela nafas.


Seharusnya ia marah karena melewatkan hal semacam itu, dan juga karena laki-laki itu tidak memberi tahu nya lebih awal.

__ADS_1


Tapi tentu saja Wira tidak akan mau secara sukarela memberitahu informasi semacam itu.


Untuk apa? Rara dari tadi sudah begitu cemas memikirkan kesepakatan yang akan dibuatnya dengan wira, padahal, Wira akan menuruti apa yang akan dikatakannya tadi.


Ya, seharusnya ia marah, tapi ia tidak marah. Karena ia tidak benar-benar menghendaki kekuatan semacam itu atas diri Wira atau orang lain. Tapi telah membiarkan Wira terbebas dari.....


Rara jadi bertanya-tanya sekarang, apa lagi yang tidak diberitahukan laki-laki itu padanya.


“Apa ada kekuatan lain yang berhubungan Dengan pedang itu yang seharusnya aku ketahui?”


“Yang seharusnya kau ketahui? Nyi sekarang kekuatan lainnya sekarang ada padaku.”


“Kekuatan lain seperti apa?”


“Berikan pedang itu padaku, dan aku akan Menunjukkan padamu.”


Sarkasme pada ucapannya seperti itu begitu kentara, tidak peduli dari zaman apa kau berasal.


“Kau punya alasan untuk melarangku menggunakan pedang itu padahal hanya untuk sementara?”


Wira terdengar tersinggung, jadi Rara menjawab dengan hati-hati, “jangan salah paham Wira, tapi sekarang kau bisa pergi kapanpun kau mau, dan aku hanya bisa pegang kata-katamu bahwa pedang itu tidak akan mau ikut bersamamu.Aku lebih suka untuk tidak menguji kebenaran ceritamu itu, jika kau tidak keberatan.”


“Kau pikir aku akan berbohong padamu??”


“ Kupikir, sepertinya aku suka ketika kau tidak mempercayaiku.”


“Oh ya? Kenapa?”

__ADS_1


“Aku tidak sedang dibawah perintah untuk harus menjawabnya.”


“Hentikan, seru Rara.


Salah satu alis Wira terangkat. “Apa?”


“Kau tau persis apa yang kukatakan. Aku sudah menyuruhmu untuk tidak menatapku dengan cara seperti itu.”


“Apa semua wanita di zamanmu ini mengharapkan para laki-laki untuk melakukan apa yang mereka minta?”


Ada banyak cara untuk menjawab pertanyaan itu. Rara memutuskan cara yang paling aman adalah dengan tidak menjawabnya sama sekali.


“Sudahlah. Kita sudah punya kesepakatan. Apa kau akan menghormatinya?”


“Apakah kesepakatan kita termasuk tidak melihatmu? Aneh, karena aku tidak ingat.”


Wira sedang bermain-main dan sepertinya laki-laki itu menikmatinya. Dan Wira tidak menjawab pertanyaan. Rara semakin sedikit gelisah. Ia benar-benar harus mengganti topik pembicaraan, tapi sudah terlambat untuk saat ini.


“Terimakasih sudah diingatkan.”


Rara menyadari kemudian, bahwa Wira tidak menjawabnya secara jelas. Wira tidak akan melakukannya terus bertanya-tanya, cemas, dan... Rara menatap kesal pada wira. Namun ia malah membalasnya dengan senyuman.


To be continued...


jangan lupa likenya...


Terimakasih 😘

__ADS_1


__ADS_2