Wira penjaga masa lalu

Wira penjaga masa lalu
episode 7


__ADS_3

Wira duduk diantara salah satu sisi tempat tidur, sehingga ia menghadap langsung kearah Rara yang berdiri disisi lainnya. Secara perlahan Wira menyusuri tubuh Rara.


Keberadaan Wira yang begitu dekat dengannya seperti ini benar-benar membuatnya linglung. Wira benar-benar laki-laki bertubuh besar, atau tepatnya hantu bertubuh besar. Dan setiap jengkal tubuhnya kelihatan keras, solid, berbahaya. Paling tidak terlihat seperti itu, tapi sepengetahuan Rara , Wira tidak memiliki substansi, dan itu artinya laki-laki itu tidak berbahaya.


Karena pemikirannya itu Rara langsung bertanya. “ Bagaimana rasanya menjadi hantu?


Wira langsung tertawa “ Aku memiliki daging dan darah sama sepertimu”.


Rara butuh waktu beberapa saat sebelum kemarahan mengambil alih rasa kagetnya.


“Tidak mungkin. Kamu itu hantu.” Sekarang Rara menjadi bingung.


Wira masih terlihat geli, paling tidak senyumnya menyiratkan seperti itu.


“Kau bukan orang pertama yang menuduhku seperti itu. Tapi aku pernah bilang, hanya dewa dan orang yang mengutukku yang bisa melukaiku dan aku menunggu hari dimana bisa bertemu lagi dengannya.


“ Wow ini pasti mimpi...Tidak bisa dipercaya..”


“ Nyai aku tidak punya urusan dengan apa yang kamu percayai. Aku tidak perlu menunjukkan bukti dari apa yang kukatakan.


Fakta bahwa aku ada disini sudah cukup..”


“ Jika kamu Memang masih disini, koreksi Rara. “aku mulai meragukan itu lagi.


Pernyataan itu membuat Wira tersenyum menyeringai, dan ia masih tersenyum ketika berdiri dan mulai berjalan disekitar tempat tidur menuju kearah rara. Jantung Rara seakan melonjak hingga ke tenggorokan.


“ Emmm... Kurasa sekarang waktumu untuk pergi,” ucap Rara secepat ia bisa, tapi ternyata tidak cukup cepat.

__ADS_1


“ Aku berterima kasih padamu karena mengizinkanku untuk pergi, tapi aku tidak siap untuk pergi sekarang.”


Wira berdiri tepat di depan Rara saat mengatakannya, hanya berjarak beberapa senti. Wira lebih tinggi darinya hingga membuat Rara mendongkak kearahnya.


Kemudian ia hampir pingsan ketika ia melihat tangan laki-laki itu bergerak kedepannya Wajahnya.


Rara menutup matanya dan berhenti bernafas. Rara tidak tahu apa yang kini dialaminya. Sebuah pengalaman yang dihantui? Sesuai yang amat menakutkan? Yang bisa dirasakan Rara adalah kacamatanya meluncur dari wajahnya.


“ Ini aneh... Perhiasan yang kamu pakai ini.. apa namanya?”


Mata Rara terbuka. Wira menatap kacamatanya. Laki-laki itu memegang lensanya bukan bingkainya. Terlihat jelas ia tidak mengenali benda tersebut.


Tidak ada penyerangan tidak ada hembusan dingin dari keberadaannya yang begitu dekat dengan Rara.


“Kacamata,” jawab Rara.


“ Perhiasan dimaksudkan untuk memperindah, kenapa kamu memakainya, jika tidak memperindah penampilanmu?”


“Kacamata bukan perhiasan,” Rara hendak menjelaskan, tapi berhenti dengan terkesiap, karena Wira menjangkau kearah wajahnya lagi. “Apa...??”


Rara tidak menyelesaikan kalimatnya. Tangan Wira kini menjangkau ikat rambutnya. Wira melepaskan ikat rambutnya, membuat rambutnya jatuh tergerai.


“ Begini lebih baik, ujar Wira pelan saat secara perlahan melihat sekali lagi sosok Rara.


“apa yang kamu pakai dikakimu hingga mencetak kakimu?”


Pertanyaan wira membuat jantung Rara berdegup kencang dan merasa kesal.

__ADS_1


“ Ini namanya celana, celana dipakai oleh kaum wanita di zaman sekarang”.


Kemudian Wira hanya melihat Rara semakin intens, dan memojokkan Rara ditembok kamar.


Sensasi aneh membuat menjalari tubuh Rara, seperti dipeluk, ternyata tubuh laki-laki itu nyata, Sangat solid. Pipi wira menggesek pipi rara, dan bibir Wira kini bergerak dibibirnya hingga lehernya.


Rasa takut yang masih dirasakan Rara bergabung dengan perasaan aneh yang dirasakannya kini. Kemudian Wira menunduk dan menatapnya.


“Masih berpikir kalau aku ini hantu?”


“Kau sudah diperingatkan dua kali. Kalau kau panggil aku lagi, aku tidak akan menjamin apa yang akan terjadi selanjutnya”.


Rara merasakan amarahnya meledak. “ Kau sudah tidak diharapkan lagi disini tuan.”


Rara mendorong tubuh Wira ketika mengucapkan kalimat tersebut.


Sungguh menyakitkan mengetahui bahwa ia tidak bisa apa-apa jika Wira memutuskan untuk tetap disini.


Namun Wira bergerak, sampai berdiri diujung tempat tidur. Kemudian ia menoleh kearah Rara, matanya menatap tajam penuh intensitas yang membuat Rara tidak bisa bernafas.


Rara memutuskan kontak mata tersebut, hingga Rara melihat kelantai, Rara mendengar suara tawa dan dikejauhan terdengar gemuruh petir.


Rara tidak perlu melihat laki-laki itu karena Rara tahu dia sudah pergi.


To be continued..


Jangan lupa like dan komentarnya..

__ADS_1


salam manis dari ichi😘😘


__ADS_2