
Rara berbalik untuk menghadap Wira. Wira tidak sedekat apa yang dipikirkannya. Dan Wira sedang mengangsurkan tangan, meminta pedang itu.
Berhasil. Rara melakukannya. Kenyataannya, Rara secara otomatis mengulurkan pedang itu ke arah Wira. Ia begitu cemas, ia hampir tidak melihat perubahan pedang itu, saat jemari Wira menggenggam pegangan pedang itu.
Rara mengira ia membayangkan saja , besi kehitaman itu perlahan berubah menjadi sewarna perak yang menyala, dan batu yang tertanam ditengah pedang yang tidak tertutup oleh jemari Wira tidak lagi tampak suram, batu itu nampak berkilau karena cahaya lampu dari atas.
Rara mengira ia pasti membayangkan semua ini, akibat dari efek cahaya, kecemasannya sendiri karena memikirkan pedang itu, dan laki-laki itu akan segera lenyap dari kehidupannya.
Tapi kemudian ia merasa masih memiliki harapan. Bagaimana jika ia menutup matanya?
Mungkin saat membuka matanya lagi ia akan berada di abad yang berbeda.
Mungkin entah bagaimana dengan penuh keajaiban, apa yang dikatakan Wira benar.
Rara menutup matanya sekarang, memberikan kesempatan kepada Wira untuk membuktikan.
Tentu saja tidak ada yang terjadi. Ia masih bisa mendengar bunyi detak jarum jam dikamarnya, masih bisa mencium aroma pewangi yang menempel yang tergantung diatas kamarnya.
“Kita tidak bisa pergi”, kata Wira. “Tidak sampai aku mendengar persetujuan dari mulutmu, bahwa kau akan pergi kemanapun aku pergi.... Karena memang itu yang kau inginkan.”
__ADS_1
Mata Rara langsung terbuka. Mereka masih berada di kamarnya..yah, tentu saja mereka masih berada di kamar, Wira baru saja mengatakan kalau mereka belum bisa pergi.
Dan Wira masih berdiri disana, mencengkram erat pedang itu, dan terlihat kesal. Apa karena ia hanya diam? Apakah Wira benar-bener tidak bisa pergi tanpa kerja samanya?
Kecemasannya berkurang sedikit karena pemikiran itu. Ia bahkan mempertimbangkan untuk minta pedangnya kembali agar bisa meredakan sisa kecemasannya.
Tapi ia tidak ingin melihat kekecewaan di wajah Wira lagi, atau paling tidak, ia tidak ingin menjadi penyebab kekecewaan itu.
Dan ketika akal sehatnya kembali bekerja, ia mengingatkan dirinya kalau ia juga tidak mau dikecewakan.
Rara memilih untuk percaya bahwa Wira benar-bener yakin kalau perjalanan waktu mungkin terjadi.
Rara merasa agak ragu untuk memberikan persetujuannya, karena ia tidak benar-bener ingin melihat Wira kecewa lagi. Tapi ia ia tidak tahu pasti apa yang akan terjadi kecuali ia bertindak.
Rara akan mengatakan apa yang ingin didengar Wira, tapi pertama-tama, demi ketenangan pikirannya, ia mengatakan, “Hanya supaya tidak terjadi kesalahpahaman di sini. Aku hanya meminjamkan pedangku padamu, Wira.
Aku ingin itu jelas diantar kita berdua. Dan kau akan mengembalikan pedangku jika aku memintanya... benar,kan?”
Jawaban Wira cukup lama baru keluar, dan juga bukan jawaban verbal. Yang didapat Rara hanyalah anggukan pelan. Jelas sekali Wira enggan untuk melakukannya. Tapi ada satu poin lagi yang ingin ia konfirmasi.
__ADS_1
“Dan aku ingin kau berjanji bahwa kau akan mengembalikan kita jika aku menyuruhmu.”
Jawaban kali ini terdengar lebih santai tapi tidak panjang. “baiklah.”
“yahh, lanjut rara, bahkan memberikan sedikit senyuman pada Wira karena jawaban itu.
“Kau mendapatkan persetujuan dariku untuk pergi ke mana pun kau mau, dan aku melakukannya dengan sukarela.”
Wira tiba-tiba mengulas senyum, senyum yang begitu indah dengan aura kebahagiaan yang tersirat didalamnya.
Dan Rara tidak perlu menutup matanya lagi. Tiba-tiba saja yang ada dihadapan mereka hanyalah kegelapan, dan sensasi saat mengambang di udara.
Tapi beberapa lama kemudian, banyak yang terdengar, bunyi besi saling beradu, pekik kuda, dan sepertinya puluhan orang bahkan lebih pejuang saling bunuh satu sama lain.
To be continued...
jangan lupa likenya..
terimakasih 😘
__ADS_1