Wira penjaga masa lalu

Wira penjaga masa lalu
episode 14


__ADS_3

Rara tidak bisa mempercayainya. Ia benar-benar telah meninggalkan pedang itu dengan Wira. Jika Wira mengambil pedang itu sekarang, ia tidak bisa membayangkan bagaimana bisa mendapatkannya kembali.


Dan bagaimana jika kepemilikan pedang itu mengakhiri kendalinya atas pria itu?


Begitu Rara menyadari betapa bodoh dirinya karena telah mengambil jarak dari wira supaya bisa menenangkan diri, ia kembali kearah pria itu.


Ia tidak berharap untuk menemukan pedang itu. Ia tidak berharap untuk menemukan pedang itu masih berada di kotaknya, alas dan daerah sekelilingnya dikotori oleh makanan yang bertebaran dimana-mana, dan Wira mendongak menatapnya intens.


“Kukira kau mungkin.... Apa kau tidak tahu... Berhenti menatapku seperti itu.”


Ketika Wira mengalihkan pandangan, dorongan hati Rara justru menginginkan tatapan itu kembali. Oh Tuhan, ia bahkan tidak tahu apa yang diinginkannya.


Untuk membantu berpikir jernih, Rara mulai berkonsentrasi pada kekacauan yang dibuat Wira, berdecak-decak ketika ia mulai mengikuti apa yang telah dilemparkan laki-laki itu ke rumput.


“Aku amat menyadari kalau kebersihan tidak menjadi prioritas orang-orang dimasamu dulu.Dan tolong pungut sampah mu sendiri.”


“Apa kau sedang menghukum ku nyi?”


“Ya, aku menghukummu. Tidak boleh lagi melempar barang-barang yang tidak kau inginkan. Kau mesti menaruhnya kembali, menyerahkannya kembali, atau membuangnya, apapun yang pantas pokoknya.”


“Membuangnya...persis seperti yang kulakukan tadi, kau bisa lihat sendiri.”


Wira terdengar kesal, bukan karena Rara menceramahi laki-laki itu, tapi karena tidak menjelaskannya secara benar.


Rara menghela nafas. Apakah ia harus memikirkan dengan cermat segala hal yang akan diucapkannya sebelum mengatakannya? Itu akan menjadi sebuah pekerjaan yang tidak masuk akal.


“Aku minta maaf, 'membuangnya' pada masa sekarang ini adalah ungkapan singkat yang berarti membuangnya ketempat sampah terdekat. Dan karena tidak ada tempat sampah didekat sini, untuk sementara kita akan masukkan semuanya ketempat yang kubawa tadi, jadi kita akan meninggalkan tempat ini seperti saat kita menemukannya.”

__ADS_1


Rara merenggut kotak pedangnya dari atas alas terlebih dahulu, berjaga-jaga kalau-kalau Wira benar-bener mengambilnya.


“Kurasa kau mungkin saja mengambil pedang itu kembali, tapi kau bahkan sama sekali tidak menyentuhnya iya, kan?”


Wira sudah bangkit untuk mengemasi tikar, jadi ia tidak melihat ke arah Rara ketika menjawab, “itu adalah harapan terbesarku, agar pedang itu kembali padaku, namun aku tidak bisa menyentuhnya tanpa kau beri.”


“Kau tidak bisa, atau kau tidak mau?”


“Kutukan itu tidak akan mengizinkannya.


Hanya kau yang bisa menyerahkan pedang itu ke tanganku.”


Rara berharap laki-laki itu berkata jujur. Itu akan menghapus salah satu dari berbagai macam hal yang membuatnya cemas.


“Dan jika aku membiarkanmu memegangnya?”


“Jika itu bisa membuatmu menghilangkan lagi dari hadapanku, tidak akan,” ujar Rara sambil menggelengkan kepalanya.


Wira kelihatan begitu kecewa, hingga Rara hampir berkata, “ini ambil”. Ia hampir menolak dorongan untuk mengucapkan kalimat itu, dan tidak memahami kenapa ia memiliki dorongan semacam itu.


“Apakah kau akan bisa menghilang?”


“Jika kau memberikan kekuatan secara menyeluruh padaku dengan melepaskan klaimmu atas pedang itu, ya, jika kau sekedar membiarkanku untuk menggunakanku untuk menggunakannya, aku tetep tidak akan bisa pergi, jika kau tidak memerintahkan ku untuk melakukannya.”


Wira membuat Rara kembali penasaran mengenai kerumitan kutukan itu. “Bagaimana jika aku hanya meminjamkan pedang itu selama beberapa saat padamu, tidak untuk seterusnya, kau harus ingat... tapi kemudian aku melepaskanmu secara tidak sengaja. Apa kau akan membawa pedangku bersamamu, supaya aku tidak bisa memanggilmu kembali?


“Itu tidak mungkin, nyi. Aku bisa pergi, tapi pedang itu tidak akan mau ikut bersamaku. Hanya jika kau setuju untuk ikut bersamaku, maka baru pedang itu akan tetap berada di tanganku.”

__ADS_1


Rara menyadari kalau Wira bisa saja mengatakan apa yang ingin didengarkannya. Bisa saja Wira berbohong. Ia tidak punya cara untuk membuktikan kebenarannya hingga semuanya terlambat, dan Wira bersama pedangnya telah menghilang.


Tapi tentu saja, itu akan terjadi jika ia memilih untuk mempercayai bahwa Wira tinggal di zaman dahulu.


“Sekarang cukup dulu pembahasan ini,” ujar Rara ketika ia membuang segenggam sampah di tangannya ke dalam wadah, kemudian kembali membuang segenggam lagi.


“Dan ngomong-ngomong, aku tidak nyaman dengan panggilan nyi itu. Aku tahu itu sebuah panggilan yang menunjukkan rasa hormat, kau boleh memanggilku...Rara”


“Rara?”


Wira tertawa geli mengucapkannya. Wajah Rara merona. Bahkan walaupun sudah berusia seribu tahun lebih, Wira bisa melihat hubungan diantara nama mereka...atau, apa ada hal lain yang membuat Wira begitu geli? Rara memutuskan untuk mencari tahu.


“ aku sedang melihatmu, bukan melihat apa yang kau lakukan” tiba-tiba Wira berkata.”Dan waspadalah Rara ...aku suka melihatmu.”


Gelombang panas itu muncul kembali. Dan Rara menggerutu dalam hati. Bagaimana caranya agar ia bisa membuat Wira berhenti mengatakan hal semacam itu dan berhenti melihatnya dengan cara seperti itu?


Ia tahu ia tidak akan pernah bisa. Ia telah menetapkan tuntutannya. Tidak ada sentuhan. Tidak ada lagi yang bisa dilakukannya sekarang.


Dan lagi pula, justru dirinya sendirilah yang bersikeras agar Wira tetap bersamanya, menahan Wira disini padahal bertentangan dengan kemauan laki-laki itu...., Yah kurang lebih begitu.


Rara tidak bisa membatasi apa saja yang disukai Wira. Jadi, bagaimana caranya supaya ia bisa bertahan dengan apa yang dilakukan laki-laki itu terhadapnya?


Sepertinya ia tidak akan bisa bertahan sama sekali.


to be continued...


jangan lupa untuk like dan komentar...

__ADS_1


__ADS_2