
" Bhie, cepat nak sudah siang ini " teriak papa Bhie memanggil.
" Bhie sudah dari tadi disini, papa saja yang lama " kata Bhie.
" Ya ampun, kamu belum sisiran ? " saat melihat rambut putrinya berantakan.
" Ntar ajalah di sekolah, percuma sisiran sekarang, kan masih pakai helm, gak kelihatan juga. Buruan pa, sudah siang ini, ntar papa telat loh " kata Bhie
" Pintar banget cari alasan " kata papa Bhie
Bhientang sudah duduk di bangku sekolah menengah atas, walaupun sudah besar, sesekali Bhie diantar oleh papanya ke sekolah. Bhie tidak merasa malu ataupun minder, justru merasa bangga dan senang saat diantar, karena menurutnya itu merupakan bentuk perhatian dari papanya.
Pekerjaan sebagai seorang supir, mengharuskan untuk mengutamakan pekerjaan. Walaupun demikian Bhie tidak pernah mengeluh, karena ia tahu papanya bekerja untuk keluarga.
Sesampainya di sekolah, Bhie segera turun, melepaskan helm dan mencium tangan papanya.
" Belajar yang benar, jangan main-main " kata papa.
" Iya " jawab Bhie
" Uang untuk kebutuhanmu sudah papa siapkan ditempat biasa, cukup untuk selama papa pergi dan ingat jangan kelayapan kemana-mana. PAHAM. " papa memberi nasehati
" Iya paham. Kayak baru pertama saja " jawab Bhie.
" Hp, bawa ? " papa mengingatkan
" Bawa "
" Kunci rumah ? "
" Ada "
" Uang saku ? "
" Belum dikasih " Bhie mengadahkan tangan.
" Kirain bakalan bilang sudah " kata papa Bhie.
" Rugi aku bilang sudah " jawab Bhie.
" Nih, uang saku untuk hari ini, buat besok ada di rumah " papa sambil memberi uang.
" Kirain bakal ditambah " Bhie sambil melihat uang ditangannya.
" Sudah sana masuk, belajar yang benar " mengulang kembali pesannya.
" Iya. Papa juga hati-hati ya pa "
Bhie melambaikan tangan, ia tahu untuk beberapa hari ke depan, ia tidak akan berjumpa papanya.
Apa boleh dikata, keluarga penting tapi cari nafkah juga penting, tak ada pekerjaan tak ada uang, tak ada uang repotlah.
Itulah yang selalu dikatakan papanya Bhie, karena pekerjaannya Bhie selalu ditinggal sendiri di rumah, bukan karena tak sayang ataupun tega, melainkan untuk mencari nafkah.
Sementara itu di ruang kelas nampak rame, penuh dengan murid-murid yang bergosip, menceritakan sesuatu yang sedang hits, saling pamer pacar, pengalaman waktu pacaran, makan apa, baju apa, film apa, dan banyak lagi. Sebuah obrolan yang selalu sama dan membosankan bagi Bhie.
" Hemm, mulai lagi dech. Cerita membosankan" Bhie menggerutu.
" Bhie " Angela memanggil.
" Pagi semuanya " Bhie mencoba tetap tersenyum.
". Kamu sich, datangnya telat. Kita lagi bahas tentang cowok ganteng " kata Angela.
" Hadechh, kalian ini. Kalau aku tanya. Siapa cowok yang paling ganteng bagi kalian...? Pasti jawabannya pacar kalian, iyakan...? Pertanyaan yang jawabannya sudah pasti, sudah terlalu sering kalian ributkan " kata Bhie.
" Bilang saja, kamu irikan ? Belum punya pacar ? " ledek Nadia.
" Terserah kalian sajalah mau bilang apa. Bagiku tetap, cowok paling ganteng dalam hidupku adalah papaku, gak ada yang lain " Bhie dengan bangga.
Perkataan Bhie mengundang gelak tawa diantara teman-teman sekelasnya.
Bhie tidak malu mengatakannya, karena alasannya sudah sangat jelas, berkat papa dirinya bisa ada di dunia ini.
Ya walaupun yang mengandung dan melahirkan adalah seorang perempuan tapi tetap benihnya dari seorang laki-laki.
__ADS_1
" Kamu itu kalau diajak ngobrol, gak asyik " Angela nada mengejek.
" Terserah. Yang penting PR hari ini sudah selesai semua, terutama matematika. Aku sudah kerjain, SENDIRIAN. Kerenkan aku " Bhie membanggakan diri sendiri.
" Emang ada PR matematika ? " Angela terkejut.
" Aiisss, gelagat mencurigakan ini. Gosip saja laju, nomor satu, giliran PR lupa " gantian Bhie meledek.
" Nyontek dong, boleh ya...? Ya...? Please...? " Angela memohon.
Bhie menatap wajah Angela yang sedang memohon, tampak imut, makanya Bhie suka menggoda Angela.
" Ayolah, jangan pelit gitu. Kitakan teman " Angela terus berusaha.
Bhie tetap diam tidak bergeming.
" Aku traktir makan di kantin dech, pilih saja apapun yang kamu suka " Angela terus berusaha.
" Bener nich, apapun...???" Bhie goyah pendirian.
" Iya, apapun " kata Angela.
" Gak nyesel...??? " Bhie mengingatkan.
" Iya " Angela yakin.
" OK. Deal " akhirnya Bhie setuju.
" Yess " Angela girang.
Bhie mengeluarkan buku matematika dan memberikannya pada Angela.
Angela merupakan orang pertama yang menyapa Bhie, dan Angela pula teman akrab satu-satunya di sekolah.
Merupakan sebuah keberuntungan bisa satu kelas dan duduk sebangku pula, sedari kelas satu hingga sekarang sudah duduk di bangku kelas tiga, cukup langgeng bukan...???
Kalau dipikir kembali, hanya Angela seorang teman perempuan yang membuat nyaman Bhie saat mengobrol.
Walaupun terkadang beda pendapat tapi hubungan pertemanan Bhie dan Angela tergolong baik, dibandingkan dengan teman-teman yang lainnya.
" Oh ya, dimana...???" tanya Bhie.
" Gak sengaja sich, ketemu dijalan. Hemm tambah ganteng aja itu anak " kata Angela.
" Tambah ganteng, terus mau balikan...? " Bhie menggoda.
" Enggaklah...!!! Lagian aku kan juga sudah punya pacar. Sin juga, kemarin aja dia gandeng cewek, pasti pacarnya " kata Angela.
" Cemburu...??? " Bhie menggoda lagi.
" Apaan sich. Cemburu ? Enggaklah " Angela menyangkal.
" Biar iya, juga gak apa-apa kok. Namanya juga mantan pacar, orang yang pernah kamu cintai, orang yang pernah bertahta dihatimu, orang yang pernah kamu kagumi, kamu puja-puja dan apa lagi ya...??? Bingung aku sangking banyaknya, sampai gak tau lagi " kata Bhie.
" Menghibur apa meledek ini...??? " kata Angela.
" Keduanya " Bhie tersenyum.
" Kamu masih berhubungan baik dengan Sin ? Masih sering kasih kabar ...??? " tanya Angela.
" Iya masih. Malahan akhir-akhir ini Sin sering datang ke rumah " kata Bhie.
" Sendirian...???" tanya Angela penasaran.
" Kadang sendiri, kadang berdua dengan Nino. Katanya enggak cemburu tapi masih nanya mulu ? Masih sayang bilang saja, mau balikan...?? Aku bantuin dech, dengan senang hati tapi enggak gratis " kata Bhie.
" Enggak kok, cuma penasaran aja. Masa gak boleh " Angela beralasan.
" MAASSA " Bhie dengan nada menggoda.
" Tau ah " Angela fokus ke buku.
Angela adalah orang yang mengenalkan Sin kepada Bhie, waktu itu status Sin adalah pacar Angela.
Awal perkenalan yang kurang mengenakkan, bisa dibilang sangat menyebalkan.
__ADS_1
Angela terlahir dengan paras yang cantik, kulit putih, tinggi badan lumayan, ditambah rambut panjang yang lurus alami, membuat Angela seperti boneka hidup, menurut Bhie.
Jadi tidak heran jika banyak laki-laki yang jatuh hati pada Angela dalam sekali pandang.
* Awal perkenalan dengan Sin *
Waktu itu Bhie dan Angela masih duduk dikelas satu, pada saat itu sedang banyak-banyaknya tugas kelompok dari para guru.
Cukup menguras banyak waktu dan kalau kumpul bukannya kerjain tugas justru malah pada asyik ngerumpi.
Benar-benar membuat pusing kepala.
" Angela, jangan sibuk dengan hpmu saja, dari tadi lihat hp mulu. TUGAS nich kerjakan " Bhie sambil mengetuk buku Angela.
" Iya bentar, ini lagi balas pesan, kalau gak dibalas ntar dia marah " kata Angela.
" Siapa...??? Pacarmu...???" Bhie kesal.
Angela hanya mengangguk.
" Hadechh ( menggaruk kepala ). Sial banget sich kelompokku ini, Nadia gak hadir karena urusan keluarga, Tria juga karena ultah pacarnya, dan kamu hadir pun percuma " Bhie tambah kesal.
" Iya iya tenang aja aku kerjain bagianku. Nich lihat hp sudah aku taruh " Angela sambil meletakkan hpnya.
" Awas, kamu pegang lagi, aku coret kamu dari kelompok " kata Bhie.
" Iya bawel. Ngomel mulu nich " kata Angela.
Belum lama ditaruh, hp Angela berbunyi lagi tanda ada pesan masuk.
Bhie menatap tajam Angela, mengisyaratkan *jangan berani kamu angkat itu hp*.
Selang beberapa menit hp berbunyi kembali tanda ada pesan masuk lagi, Angela mulai gelisah, dilihatnya layar hpnya.
Hp Angela berbunyi kembali tapi kali ini bukan pesan masuk, melainkan telepon masuk.
Angela menunjukkan ke Bhie, itu benar telepon masuk.
" Cepat angkat " Bhie dengan nada kesal.
" Hallo. Iya maaf gak balas, aku lagi kerjakan tugas kelompok " kata Angela melalui hpnya.
Angela terdiam.
Nampak lawan bicaranya sedang ngomel-ngomel kesal karena pesannya tidak dibalas dan itu membuat Bhie jadi gregetan ikut kesal juga.
Tanpa pikir panjang Bhie mengeluarkan kekesalannya.
" Kalau pacarmu gak percaya, suruh aja datang kesini. Aku heran pacar lagi belajar bukannya didukung malah diganggu mulu, gak mau apa pacarnya dapat nilai bagus. Pacarmu itu BEGO atau STUPID sich. HERAN " kata Bhie.
" Bhie jangan kenceng-kenceng, dia dengar " kata Angela.
" Bodo amat. malah bagus kalau dia dengar " kata Bhie.
" Gak gitu Yang, Iya sudah, aku kirim ntar alamatnya. Bye..." kata Angela.
Angela menutup teleponnya lalu menarik napas panjang, sorot mata tajam menatap Bhie.
" Apa lihat-lihat...?? Mau marah...?? Harusnya aku yang marah. Bukan pacar yang kamu khawatirkan tapi tugas nich, mau nilaimu jelek..? " kata Bhie.
" Aku gak mau belain ya, kalau sampai dia datang betulan trus marah-marah sama kamu " kata Angela.
" GAMPANG. Tinggal aku usir, kan ini rumahku, aku yang berkuasa disini. Nich tugas cepat selesaikan, pacarmu datang selesai tugas bisa aku usir sekalian dengan kamunya " kata Bhie.
" JAHATNYA " kata Angela.
" Baru tau aku jahat...? Kamu mau lihat lagi betapa jahatnya aku...???" kata Bhie.
Angela tak menjawab lagi, ia mulai fokus pada tugas kelompoknya.
Angela mulai membuka buku, membaca dengan seksama, mencari jawaban yang sesuai.
Bhie melirik pada Angela, senang rasanya dia mulai fokus pada tugas.
Kesannya Bhie memang jahat banget tapi itu lebih baik daripada dibiarkan terus menerus, iya kalau sadar diri takutnya malah gak perduli.
__ADS_1
( Bersambung )