
Hp Bhie berdering tanda ada pesan masuk.
{ jangan lupa, kamu harus mengabulkan satu permintaanku } pengirim Sin.
{ Iya ingat, jangan aneh-aneh ya ? } Bhie membalas.
{ Nanti malam aku kabari } Sin
{ Ok } Bhie.
" Siapa Bhie ? " Bayu curiga.
" Wali kelasku, ngasih tugas di rumah, padahal aku diskors, tapi anehnya dikasih tugas " Bhie berbohong.
" Diskors! Berapa hari ? " tanya Sam.
" Gak lama cuma 3 hari " jawab Bhie.
" Temanmu yang ngajak berantem juga ?" tanya Raswan.
" Tentu saja kan, tadi aku sudah bilang dapat hukuman yang sama " jawab Bhie.
" Bos kecil, aku penasaran, lukanya masih sakitkah ? " kata Nino dengan pandangan iba.
" Sudah mendingan kok, yang diplester ini, bekas cakaran, biar gak infeksi saja " kata Bhie.
" Kalau kalian lihat tampang Bhie, waktu keluar dari ruang BP, lebih berantakan dari ini " kata Angela.
" ANGELA...!!! " Bhie meninggikan suaranya.
" Emang iya, baru sekali itu aku lihat kamu berantakan banget " kata Angela.
" Pasti tadi sakit banget ya bos kecil, pipi masih kelihatan rada bengkak " kata Nino.
" Penglihatanmu jeli banget No, tadi sempet bengkak tapi, sekarang sudah gak apa-apa. Beneran aku sudah merasa baikan kok ! " Bhie menyakinkan Nino.
" Bos kecil sudah beli plester ? Plesternya mulai rusak tuh, perlu diganti, apa mau aku belikan ?" kata Nino.
" Gak usah makasih. Tadi sudah dibelikan sama Sam, ntar habis mandi baru aku ganti " kata Bhie.
Tanpa sadar tangan Bhie menutupi plester pada bagian leher, hak tersebut disadari oleh Nino.
( Jadi bos kecil menutupi dengan plester ? Apa bos kecil khawatir ketahuan orang lain ? ) batin Nino.
Selang beberapa menit kemudian Sin dan Nino berpamitan untuk pulang duluan, yang disusul oleh Raswan, Bayu dan Angela.
Sementara Sam pulang paling terakhir, setelah makan malam. Sengaja karena diminta oleh Ram, jarang-jarang kakak beradik bisa ketemu duduk ngobrol untuk waktu yang lama.
***
Keesokan harinya sesuai perjanjian, hari ini Bhie harus mengabulkan permintaan Sin, karena ia dapat menebak dengan tepat nama papa Bhie.
Permintaannya hanya satu, tapi waktunya lama banget.
Menemani selama satu hari full
Begitulah isi pesan yang dikirim oleh Sin tadi malam.
Entah takdir atau kebetulan, seakan-akan dapat dukungan. Pagi-pagi sekali Ram sudah harus berangkat, kembali bekerja. Padahal biasanya akan ada di rumah selama 2 hari, tapi karena ada suatu hal harus berangkat lebih awal dari jadwal.
Ya mau apa lagi ? Tuntutan pekerjaan, apa mau dikata, protes pun, percuma.
" Maaf ya Nak, Papa harus kembali bekerja lebih cepat dari jadwal. Gak apa-apa kan ?" kata Ramdan kepada Bhie.
__ADS_1
" Iya gak apa-apa. Harus profesional kan " kata Bhie.
" Papa berangkat, hati-hati di rumah ya " pesan Ramdan.
" Iya. Hati-hati Pa " Bhie mencium tangan Ramdan.
***
Kini Bhie sudah berada di rumah Sin, lengkap dengan peralatan kebersihan ditangannya. Bhie menghela nafas panjang, mencoba menenangkan hati dan menghadapi kenyataan.
" Jangan bengong saja, ayo mulai bersih-bersih" kata Sin sambil tersenyum.
" Jadi aku harus menemani semua kegiatanmu seharian ini gitu ? " kata Bhie.
" He'eh " Sin menganggukkan kepalanya.
" Ini bukan menemani, tapi lebih mirip membantu meringankan pekerjaanmu ! " Bhie sedikit kesal.
" Sama saja kan, permintaanku menemani selama satu hari full, jadi ya harus mengikuti semua kegiatanku. Kebetulan banget hari ini, yang biasa bersihin rumah, gak bisa datang. Apa salahnya kalau aku yang bersih-bersih rumah " Sin menjelaskan.
" Heelleh, alasan. Trus hari ini kamu gak kerja ?" kata Bhie.
" Sengaja libur, kan, ada Nino. Jadi sayang, kita benar-benar berduaan hari ini " kata Sin sambil memeluk pinggang Bhie dengan manja.
" Perasaanku gak enak " Bhie bergumam lirih.
Pekerjaan rumah pun dimulai, dari menyapu, mengepel, mengelap perabotan rumah, kaca jendela, menyapu halaman rumah, cuci piring, cuci baju, jemur baju dan masih banyak lagi.
Tepat tengah hari Bhie duduk di dekat pintu dapur belakang, menuju tempat jemuran, meluruskan kaki sambil sesekali mengipaskan tangan karena gerah habis kepanasan menjemur baju.
" Pas banget, hari ini cuaca panas, cepat kering cucian sekalian dengan orang yang jemur ikut kering " Bhie menggerutu.
" Nih minuman dingin, biar seger lagi " Sin menyodorkan minuman botol.
" Segernya....!!!" kata Bhie.
" Segitu hausnya, sampai netes keluar tuh " Sin mengelap dengan tangannya.
" Senangkan, kamu rumah bersih, pekerjaan selesai. Enak banget hidupmu...!!! " Bhie menggerutu.
" Ya harus dibikin enak dong. Aku sudah pesan makanan, kamu mau makan sekarang ? " kata Sin.
" Aku mau mandi dulu, badanku lengket, boleh pinjem bajumu gak ? Bajuku basah " kata Bhie.
" Kamu mandi di kamar mandi dalam saja, ambil sendiri bajuku di lemari, pilih yang pas di badanmu " kata Sin.
" Ok. Aku mau mandi berendam, dinginkan badan " Bhie beranjak pergi.
" Jangan terlalu lama....!!! " kata Sin.
" Gak sampai satu jam, tenang saja " Bhie menjawab tanpa menoleh ke arah Sin.
Selang tiga puluh menit kemudian, Bhie keluar dari kamar Sin, dengan mengenakan kemeja dan celana pendek.
Sin menikmati pemandangan di depan mata dengan tatapan, antara senang dan sedikit aneh.
" Aneh ya Sin ? " Bhie memulai pembicaraan.
" Sedikit. Kenapa kamu pakai celana itu ? " kata Sin.
" Pakaianmu pada besar semua, cuma ini yang sedikit kecil, itupun setelah cari-cari dengan teliti, tapi tenang saja lemarimu gak berantakan kok " kata Bhie.
Sin kembali memperhatikan Bhie, diperhatikan tubuhnya dari ujung kaki sampai kepala. Kemeja yang dikenakannya basah oleh tetesan air dari rambut yang masih basah terurai.
__ADS_1
( Apa dia, tidak menganggap aku ini laki-laki normal ? Bisa-bisanya dia santai dengan penampilan seperti itu, di depanku ) batin Sin dalam hati.
Tanpa basa-basi Bhie segera menyantap makanan yang tersedia di meja dengan santai, serasa seperti di rumah sendiri, tanpa sungkan dan jaga tata krama.
" Habis ini mau ngapain lagi ? " tanya Bhie sambil makan.
" Nyantai di kamar, sambil nonton film atau kamu mau bersihkan atap rumah ? " kata Sin.
" Sekalian saja direnovasi, biar baru lagi. Yang benar saja, masa aku disuruh manjat ke atap " Bhie kesal.
" Ya kali saja mau ...!!! " kata Sin.
" OGAH...!!! Lagian aku heran, rumah penghuninya cuma dua orang, tapi bersihinnya bisa sampai capek banget. Ketahuan nih, jarang bersih-bersih menyeluruh " kata Bhie.
" Memang gak pernah, orang yang datang bersih-bersih cuma tiga hari sekali, itupun cuma beres-beres saja ala kadarnya " kata Sin.
" Rumah ini kayak rumahku, sepi, ditambah lagi lingkungan sini juga sepi " kata Bhie.
" Kan pada kerja Bhie, ya sepilah. Aku duluan ke kamar, kalau mau air dingin ada di kulkas " kata Sin.
" OK " jawab Bhie.
Selang beberapa saat kemudian, Bhie menyusul masuk kamar, nampak Sin sudah memutar kaset film dan duduk manis di tepi tempat tidurnya.
Bhie langsung duduk dekat Sin, hanya saja memilih untuk duduk di lantai.
" Kok duduk di bawah ? " kata Sin.
" Enakan di lantai dingin, rambutku juga belum kering, ntar kasurmu basah " kata Bhie.
" Kuku Grace, tajam juga ya " kata Sin sambil mengusap bekas luka di tangan Bhie.
" Lumayan, plesternya aku lepas pas mandi, sengaja biar cepat kering. Kalau kamu risih, aku bawa kok plesternya " kata Bhie.
" Gak usah, aku gak risih kok. Hanya saja, aku masih penasaran, kira-kira siapa ? yang kirim foto ke Grace ? apa maksudnya coba ? " kata Sin.
" Mana aku tau. Kamu sih, pacarnya banyak, pasti banyak juga yang gak suka. Mungkin, salah satu dari mantanmu, tapi yang jelas bukan Angela pelakunya " Bhie menegaskan.
" Tapi, ada bagusnya juga sih, dengan begitu, hari ini kamu jadi ada waktu denganku seharian" Sin nampak bahagia.
" Kok sebel ya dengarnya " kata Bhie.
" Kamu juga senangkan, berduaan denganku ?" Sin menggoda.
" Tau ah...!!! " Bhie memalingkan wajahnya.
Tiba-tiba hp Sin berdering, tanda ada telepon masuk. Sin keluar kamar untuk menjawabnya, supaya tidak terganggu dengan suara film di TV.
Bhie menenggak habis minuman yang dibawanya dari dapur, entah kenapa selang beberapa saat kemudian.
Bhie merasa sedikit pusing, pandangannya juga mulai rada kabur, badan juga terasa gerah, padahal jelas-jelas habis mandi dan suhu ruangan juga dingin karena ada AC.
Bhie membuka satu kancing kemeja bagian atas supaya terasa lebih dingin, tapi terasa sia-sia, Bhie tetap masih merasa gerah.
Kepala Bhie juga semakin pusing, apa yang ada di hadapannya, mulai nampak kelihatan dua dan seolah-olah bisa bergerak seperti benda hidup.
Bhie naik ke atas tempat tidur dan merebahkan badannya dengan posisi tengkurap, berharap dapat mereda.
" Bhie ! Kamu kenapa...??? " tanya Sin saat melihat gelagat aneh Bhie.
( Bersambung )
Kira-kira apa yang terjadi berikutnya ?🤔🤔
__ADS_1
Ditunggu ya teman-teman 🙏🤗