
Waktu sudah menunjukkan jam 19.00, saat Bhie duduk di meja sebuah cafe, yang sengaja di pesan.
Bhie menunggu seseorang dengan gelisah, inilah kali pertama, Bhie berinisiatif duluan untuk bertemu sang mama.
Pada akhirnya Bhie memutuskan untuk berbicara pada mamanya terlebih dahulu, sebelum mengambil keputusan berikutnya.
" Bhientang ( menyapa dengan ramah ). Mama senang sekali, saat kamu menghubungi mama, akhirnya kamu mau juga berbicara dengan mama " kata Mentari.
" Jangan senang dulu. Aku mau menanyakan sesuatu " kata Bhie.
" Tentang apa ? " Mentari duduk di depan Bhie.
" Apa suami mama bernama Nouval ? " Bhie tanpa basa-basi.
" Kamu tau darimana, nama suami mama ? " Mentari balik bertanya.
" Jadi benar ya. Kalau begitu, pasti mama mengenali wajah-wajah ini ? " Bhie memperlihatkan foto dalam hp nya.
" Ini kan ..." Mentari nampak terkejut.
" Seperti yang mama lihat dalam foto tersebut, aku mengenal mereka semua " kata Bhie.
" Kamu sengaja berteman dengan mereka ? " Mentari langsung menuduh.
" Tidak. Aku berteman dengan mereka, jauh hari sebelum mama datang kembali dalam kehidupanku. Dan mama lihat laki-laki disamping ini ( sambil menunjuk foto ). Itu adalah paman Samran Bintoro, pacarnya ( sambil menunjuk foto ). Mama kaget kan ? " kata Bhie.
" Bagaimana ??? " Mentari tidak percaya.
" Sangat adil bukan ? Saat mama pergi, meninggalkan aku, justru orang-orang yang sayang padaku datang mendekatiku, berteman denganku, menemaniku dan mereka semua, tau kenapa mama pergi meninggalkan aku. Sekarang, bagaimana menjelaskan pada mereka semua ? Terutama pada... ( sambil menunjuk foto ) " kata Bhie.
" Apa yang ...??? " Mentari benar-benar terkejut.
" Dia pernah berkata padaku, bahwa ibu tirinya anggun, seanggun ibu kandungnya. Dia begitu bangga menyandingkan ibu tirinya dengan ibu kandungnya yang sudah meninggal. Hatinya akan hancur, saat dia mengetahui, ibu yang dia banggakan adalah mama kandungku. Orang yang telah meninggalkan anaknya sendiri, untuk pergi dengan laki-laki lain, yang sekarang menjadi suami mama " kata Bhie panjang lebar.
" APA MAKSUDNYA INI...??? "
Seketika Mentari dan Bhie berbalik, melihat ke arah datangnya suara tersebut.
" Sin..." Mentari dan Bhie bersamaan.
Sin berjalan menghampiri Bhie.
" Ibu bicara apa saja sama Bhie ? Kan, aku sudah bilang, JANGAN IKUT CAMPUR dengan siapa aku berhubungan " Sin menarik tangan Bhie.
" Sin, kamu salah paham, ibu tidak..." kata Mentari.
" Mama bisa lihat sekarang, bagaimana hubungan kami ? ( sambil mengangkat genggaman tangan Sin ). Jadi, siapa yang akan mengatakannya ? Aku ...atau mama ? " kata Bhie.
" Mama ??? Kamu manggil ibuku mama ??" Sin heran.
Belum sempat menjawab, tiba-tiba datang seorang laki-laki menghampiri Mentari dan sudah bisa ditebak laki-laki tersebut adalah Nouval, ayahnya Sin.
" Sayang...!!! " Nouval menyapa Mentari.
" MAS...?? ( terkejut ). Mas, tau darimana aku kesini ? " tanya Mentari.
" Aku janjian dengan Sin di sini dan karena lihat kamu dari jauh, makanya aku datangi kamu. Sin kamu juga sudah datang. Dan ini pasti Bhientang, gimana kalian sudah bicara ? " kata Nouval.
" Ayah kenal Bhie ??? " Sin heran.
" Tentu saja. Bhientang adalah putri ibu Mentari, dari pernikahan sebelumnya, yang berarti dia adalah adik tirimu " kata Nouval.
" Adik...??? Apa itu...." Sin melihat ke arah Mentari.
" Bhientang putri ibu. Karena suatu hal, selama ini belum ibu kenalkan pada kamu dan keluarga yang lainnya " kata Mentari menjelaskan.
" Bhie, apa itu benar ??? " Sin menatap Bhie masih tidak percaya.
" Aku tidak bermaksud membohongimu, aku juga baru tau, tadi pagi dari kak Ian. Maaf Sin, itulah kenyataannya, kita... saudara tiri " kata Bhie menatap Sin.
" Enggak...!!! Aku gak percaya, ini gak benar. Kalian pasti bohong " Sin masih tetap tidak percaya.
__ADS_1
" Kamu pasti kecewa, begitu juga dengan aku Sin. Tapi begitulah kenyataannya, orang yang kamu panggil ibu adalah orang yang aku panggil mama. Satu orang yang sama, mama yang meninggalkan aku dan ibu yang kamu banggakan " kata Bhie.
" Apa yang kalian bicarakan ??? " Nouval nampak bingung dengan arah pembicaraan.
" Sejauh mana hubungan kalian ? " tanya Mentari.
" Menurut mama, sejauh mana ? " Bhie balik bertanya.
" Bhie...!!! " kata Sin lirih.
" Maaf Sin..." Bhie melepaskan genggaman tangan Sin.
Tanpa berkata lagi Bhie pergi meninggalkan tempat tersebut, air mata yang sejak tadi ditahan, kini meluncur bebas membasahi pipi Bhie.
Sementara Sin masih diam terpaku, masih belum percaya dengan apa yang barusan dia dengar.
Nouval memandang anak dan istrinya bergantian, menatap dengan pandangan bingung dan bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi ?.
Sementara Mentari hanya diam, dia sendiri juga tidak tau harus mulai dari mana,untuk menjelaskannya.
Bhie berjalan dengan gontai, tatapannya kosong, pikirannya benar-benar kacau, semua berjalan tidak sesuai dengan pemikiran awalnya, karena Sin yang tiba-tiba muncul tanpa diduga.
( Haahh. Sekarang harus bagaimana ??? ) batin Bhie dalam hati.
Air mata terus mengalir keluar, berapa kali diusap pun, tidak mau berhenti, bahkan orang-orang yang berada di sekitar mulai berbisik-bisik, memandang iba pada dirinya.
Langkah kaki terhenti, saat Bhie menabrak seseorang yang menghadang di depannya.
Bhie mundur satu langkah dan menegakkan kepalanya, melihat siapa yang ditabraknya barusan.
Wajah yang familiar, menatap dengan pandangan khawatir, yang membuat Bhie bertambah sedih dan menangis lebih kencang.
" Menangislah bos kecil, keluar kan semua kesedihanmu " Nino memeluk Bhie.
Pada akhirnya Bhie menangis sejadi-jadinya dipelukan Nino, sesekali Nino menepuk punggung Bhie dengan lembut.
Nino yang mengetahui seberapa dekat hubungan mereka, juga merasakan kesedihan dan kekecewaan mereka.
" Nino antar aku pulang " ucap Bhie lirih.
" Tentu bisa kecil " Nino menganggukkan kepalanya.
Nino mengantar pulang Bhie menggunakan mobil, sesampainya di rumah, ternyata ada yang sedang menunggu dirinya.
Sam dan Raswan sedikit terkejut melihat keadaan Bhie yang seperti habis menangis.
" Bhie...!!! Kamu kenapa ? Daritadi, aku telepon, tapi tidak kamu angkat, kamu darimana ? " Sam benar-benar merasa khawatir.
" Kamu....habis menangis Bhie ...? " Raswan juga mengkhawatirkan Bhie.
Bhie tidak menjawab, ia hanya berjalan melewati Sam dan Raswan begitu saja, yang menambah penasaran dihati mereka berdua.
Kini tatapan mata mereka beralih ke Nino, karena Bhie turun dari mobilnya, pasti tau apa yang terjadi.
" Bhie kenapa ? Pasti kamu tau, apa yang terjadi pada Bhie ? Apa yang kamu LAKUKAN PADANYA ??? " Sam bertanya pada Nino.
" Emm... itu, tadi... bos kecil...!!! Gimana... bilangnya ya..." Nino sedikit ragu dan bingung mau mulai darimana.
" CEPAT KASIH TAU, jangan bikin orang tambah khawatir " kata Raswan tidak sabar.
" Emm...itu bos kecil..." Nino masih bingung.
Belum saja Nino menyelesaikan kalimatnya, mereka bertiga dikagetkan dengan suara teriakan Bhie dari dalam rumah yang disertai dengan suara barang-barang yang dibanting.
Mereka bertiga pun bergegas lari, melihat keadaan Bhie.
Benar saja, saat mereka masuk, keadaan kamar sudah berantakan, bahkan ada beberapa barang yang pecah, sementara Bhie duduk dilantai sambil memeluk kaki.
Terdengar suara tangisan yang memilukan hati dari mulut Bhie.
Sam berjalan mendekat, dengan langkah yang hati-hati, menghindari barang-barang yang berserakan dilantai.
__ADS_1
Sam duduk di depan, menyentuh pundak Bhie dengan lembut, berlahan Bhie mengangkat kepalanya, memandang wajah Sam.
" Jangan seperti ini, kamu bisa terluka " ucap Sam lembut.
" Paman...!!! " Bhie memeluk Sam.
" Menangis seperti ini, apa ini orang yang sama? " tanya Sam.
" Apa yang harus aku lakukan ? Sekarang aku harus bagaimana ? Kenapa ? Kenapa mama begitu jahat ? Salahku...salahku dimana ? " kata Bhie sambil menangis terisak-isak.
" Ternyata benar " Sam mengusap kepala Bhie.
Tak ada yang mereka dapat lakukan, selain membiarkan Bhie menangis sepuasnya. Selang beberapa saat kemudian Bhie tertidur dengan sendirinya.
Sam membaringkan Bhie di atas kasur dengan berlahan, menyelimuti tubuhnya dan mencium keningnya.
Sam memberikan kode kepada Raswan and Nino untuk pergi meninggalkan kamar Bhie lebih dahulu, sesaat kemudian barulah Sam menyusul keluar kamar.
" Ceritakan yang kamu tau, SEMUANYA " kata Sam melihat ke arah Nino.
" Ini pertama kali, aku lihat Bhie menangis, jujur aku mengkhawatirkannya " tambah Raswan.
" Aku gak tau secara pasti, tapi dari yang aku lihat tadi, bos kecil ketemuan sama perempuan, yang aku kenal perempuan itu ibu tiri si bos " Nino menjelaskan.
" Maksudmu, si bos itu....Sin ??? " Sam menegaskan.
" Iya. Si bos adalah ayahnya juga ada disana. Namun saat mendengarkan pembicaraan mereka, aku jadi tau, kalau ibu tiri si bos, ternyata ibu kandung bos kecil " Nino menjelaskan lagi.
" Ya ampun, kok bisa ??? " kata Raswan terkejut.
" Jangankan kita, mereka semua juga terkejut mengetahui hal ini. Mereka pasti kecewa, terutama si bos dan bos kecil. Mereka baru mulai menyadari perasaan masing-masing tapi malah jadi saudara, pastilah sakit hati dan tidak terima " kata Nino.
Sam menghirup napas panjang dan menghembuskannya berlahan.
" Kenapa jadi serumit ini ? " kata Sam.
" Kalau begitu ceritanya, kasihan mereka berdua, pantas saja Bhie sampai segitunya " kata Raswan.
" Kamu tau darimana ? mereka saling menyukai? " tanya Sam.
" Dari mereka berdua, aku sadar saat di pestanya Windy. Bukannya menuduh, tapi mereka sudah menghabiskan malam bersama sebanyak 2 kali " kata Nino.
" JANGAN SEMBARANGAN BICARA " Sam meninggikan suaranya.
" Apa buktinya...??? " tanya Raswan.
" Sepulang dari pestanya Windy, mereka pulang bersama dan sampai rumah pagi hari, karena aku yang bawa motornya bos kecil. Lalu tadi pagi, saat aku menelpon si bos ternyata yang mengangkat adalah bos kecil. Walaupun begitu aku percaya, mereka tidak berbuat macam-macam, karena aku tau, si bos benar-benar sayang pada bos kecil " Nino menjelaskan.
" Sin bos mu, kenapa kamu bongkar aibnya ?" Raswan sedikit heran.
" Karena aku perduli dengan mereka " Nino menjawab dengan tegas.
" Hadechh, pusing kepalaku. Saat begini kakak Ram gak di rumah lagi " Sam menggaruk kepalanya.
" Trus sekarang gimana ? Kasihan kalau Bhie ditinggal sendirian, takutnya terjadi apa-apa " kata Raswan.
" Oh iya. Aku baru ingat, tadi aku gak izin si bos. Pasti aku dicariin. Raswan kamu ikut aku, ambil motornya bos kecil di parkiran cafe. Biar Sam yang menemani bos kecil " kata Nino.
" Tapi kuncinya, gimana ? " kata Raswan.
" Tuh pakai kunci cadangan saja, ada di tembok belakangmu " kata Sam.
Sepeninggalan mereka berdua, Sam kembali ke kamar Bhie. Diamatinya wajah keponakannya yang tertidur.
Perkataan Nino masih terngiang di telinganya, mencoba untuk menyangkal perkataannya, namun bagaimana jika mereka sudah melakukanya ? Itulah kemungkinan yang terburuknya.
( Kamu harus kuat Bhie, kamu pasti bisa melewati ini semua ) batin Sam dalam hati.
( Bersambung )
Terima kasih dukungannya dan terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.
__ADS_1