
*Cerita sebelumnya
Langkah kaki terus berjalan menaiki anak tangga, memasuki sebuah kamar dan kini berhenti di balkon kamar yang dapat melihat keramaian acara yang sedang berlangsung di bawah sana.
Windy nampak asyik berbincang dengan para tamu undangan, dengan posisi terus menggandeng tangan Sam. Sementara Raswan nampak berbincang dengan Nino, entah kapan mereka berkenalannya.
" Di bawah sana terlalu bising, terlalu ramai " kata Sin.
" Namanya juga pesta, pastilah ramai banyak orang. Apa, tidak apa-apa kita di sini ? " Bhie melihat sekeliling.
" Dulu ini kamarku dan sampai sekarang tentu saja masih kamarku " kata Sin.
" Bagaimana bisa, inikan rumah orang tua Juli dan Windy " Bhie merasa heran.
" Sewaktu kecil, ayah terlalu sibuk bekerja dan aku selalu dititipkan pada nenek. Rumah ini adalah peninggalan nenek dan hanya kami gunakan sesekali " kata Sin.
" Jadi rumah ini seperti tempat kumpul, pasti banyak kenangan. Aku baru tau, ternyata kalian dari keluarga yang berada " kata Bhie.
" Apa sekarang kamu minder ? tanya Sin.
" Aku ? Minder ? Tentu saja minder, sedikit " kata Bhie.
" Yang kaya itu orang tua kami, bukan kami. Jadi kamu gak perlu minder padaku ataupun yang lainnya " kata Sin.
" Sin, mau sampai kapan, kamu genggam tanganku ? " Bhie mengalihkan pembicaraan.
" Aku tidak mau melepaskannya " Sin menggenggam lebih erat.
" Panaslah Sin, mulai berkeringat nih terlalu lama " Bhie mencari alasan.
Mendengar perkataan Bhie, bukannya dilepaskan, justru Sin semakin menjadi. Sin memeluk Bhie dari belakang dengan tangan masih terus menggenggam erat. Posisi yang membuat Bhie sedikit kurang nyaman, takutnya ada yang memperhatikan dan timbul gosip yang tak diinginkan.
" Sin...!!! " kata Bhie lirih.
" Hem " kata Sin.
" Banyak orang di bawah, takutnya jadi gosip " kata Bhie.
Sin menarik mundur beberapa langkah tanpa melepaskan pelukannya. Bhie dapat merasakan detak jantung Sin yang berdegup dag dig dug tak karuan, begitupun dengan detak jantungnya.
Sin mencium pundak Bhie beberapa kali, awalnya terasa biasa tapi semakin lama semakin terasa aneh, ada perasaan geli yang tidak bisa dijelaskan. Saat Sin mendekatkan wajahnya di leher, tiba-tiba Bhie sedikit teriak karena kaget.
" Aaa...!!! " teriak Bhie.
" Jangan bergerak, posisinya sudah nyaman " kata Sin.
" Apa yang kamu lakukan ? Kamu gigit ya ? " Bhie menuduh.
" Bhie kamu merasakannya ? Detak jantungmu dan detak jantungku, sama-sama berdegup dengan kencang. Bahkan ada perasaan tidak suka saat kamu berduaan dengan laki-laki lain, begitu juga saat pandangan matamu mengarah pada laki-laki lainnya. Walaupun aku tau mereka hanya temanmu dan begitu juga dengan diriku " kata Sin.
" Apa, kamu barusan cemburu ? " Bhie menduga.
" Hem " Sin menganggukkan kepalanya.
" Buat apa cemburu ? Lihat posisi kita sekarang, kalau ada yang lihat pasti mereka akan mengira kalau aku pacarmu. Ayo lepaskan" kata Bhie.
" Aku masih ingin memelukmu lebih lama, 10 menit baru aku lepaskan " kata Sin.
" Baiklah 5 menit lagi ya, gak lebih " katau Bhie.
" Hemm pelit " kata Sin manyun.
" Kalau Bayu lihat kita sekarang ini, pasti dia khawatir banget dan mengira kita yang bukan-bukan. Sekarang aku jadi paham perasaan Bayu " kata Bhie.
__ADS_1
" Apa kamu senang mengetahuinya ?" tanya Sin.
" Tentu saja. Perasaan sayang Bayu padaku seperti sayang seorang kakak pada adiknya. Dimata Bayu, aku ini masih sama seperti saat pertama kali berkenalan. Masih seorang gadis kecil yang masih perlu pengawasan, perlindungan dan bimbingan dari orang yang lebih tua " kata Bhie.
" Menurutmu begitu ? " tanya Sin.
" Hem. Karena nada bicaranya sama seperti Sam, saat sedang menasehatiku kalau aku berbuat salah " kata Bhie.
" Tapi menurutku tidak begitu ? " Sin beda pendapat.
" Itu sebabnya kamu dianggap ancaman oleh Bayu " kata Bhie.
" Jadi sekarang, bagaimana perasaanmu padaku ? " tanya Sin.
" Gimana ya ? Sejujurnya aku nyaman dengan hubungan kita saat ini dan kalau dibilang suka, ada perasaan suka itu. Hanya saja aku lebih memilih hubungan kita yang seperti ini, karena aku dapat menyayangimu tanpa harus terikat dengan status dan batasan waktu. Jadi hubungan kita akan tetap baik entah sampai kapan " kata Bhie.
" Tapi aku ingin lebih " kata Sin lirih.
" Kamu sudah mendapatkan lebih, apa masih kurang ? Pacarmu lebih dari satu, mantanmu sudah tidak bisa dihitung jari, nambah yang lainnya saja, jangan aku " kata Bhie.
" Aku sayang kamu Bhie " kata Sin.
" Aku tau itu, tapi mendengar secara langsung darimu terasa aneh di telingaku " Bhie tersenyum meledek.
" Hahh, kenapa selalu gagal merayu kamu " kata Sin.
" Apa kamu lupa, aku ini teman spesial. Sudah 5 menit, ayo lepaskan " Bhie melepaskan diri dan buru-buru pergi.
" Mau kemana ? " Sin menarik tangan Bhie kembali.
" Mau ke toilet, gak boleh ikut " kata Bhie.
Selang beberapa menit kemudian Bhie keluar dari toilet, nampak Sin berdiri di tepi balkon sambil menatap ke bawah. Bhie menatap Sin, ia baru menyadari Sin memiliki badan yang cukup tegap dan punggung yang cukup lebar.
(Apa ini yang dilihat para pacar Sin ) gumam Bhie dalam hati.
" Melihat Bayu dan Angela. Mereka bersikap biasa saja seperti tidak habis bertengkar. Apa kamu juga akan pura-pura tidak mendengar apapun ? " tanya Sin.
" Memangnya aku punya hak apa ? Yang pacaran mereka, yang menjalani mereka, mereka curhat aku dengarkan, mereka minta tolong kalau bisa ya aku tolong tapi kalau mereka gak curhat ataupun gak minta tolong, buat apa aku ikut campur. Biarkan itu jadi urusan mereka, bukan urusanku " kata Bhie.
" Sama halnya dengan kita ? " tanya Sin.
" Ya sama halnya dengan kita. Aku dan kamu sendiri, aku dan Bayu sendiri. Begitu juga dengan kamu dan Bayu sendiri, kamu dan Angela sendiri. Kita gak bisa mencampur adukkan semuanya menjadi satu, karena masing-masing memiliki hubungan yang berbeda. Itu menurut pendapat pribadiku, kalau kamu punya pendapat sendiri, ya gak masalah" kata Bhie.
" Pantas saja Windy merasa cemburu denganmu, kamu lebih menggunakan akal sehat daripada perempuan pada umumnya " kata Bhie.
" Kamu curhat tentang para pacarmu, yang lebih menggunakan perasaan daripada akal sehat ya ? " ledek Bhie.
" Sialan, aku cabut pujian barusan " Sin nampak kesal.
" Emmm bicara tentang Windy, aku teringat. Windy adalah adik sepupumu tapi kenapa waktu Windy salah paham denganku, kamu justru mendatangiku, bukannya Windy ? " Bhie penasaran.
" Karena apa ya ? Mungkin karena kamu kelihatan lebih kasihan daripada Windy " ledek Sin.
" Sialan, nyesel aku tanya " Bhie kesal.
" Bercanda (mencubit pipi Bhie). Seperti yang kamu bilang karena kamu spesial " kata Sin.
" Ya terserahlah. Ayo turun, aku mau makan lagi" Bhie melepaskan tangan Sin dan berbalik pergi.
Beberapa saat kemudian Sin dan Bhie kembali berkumpul bersama yang lainnya di tempat acara.
" Kamu ke toilet mana sih, lama amat ? " Raswan protes.
__ADS_1
" Sangking gedenya rumah cari toilet aja sampai nyasar, untung ketemu Sin, jadi petunjuk arah dia. Tapi bagus kan aku lama, kamu jadi kenalan dengan Nino. Kalian ngobrolin aku kan ? " kata Bhie.
" GR, tebakanmu bener juga sih. Kita berdua memang ngobrolin kamu " kata Raswan.
" Bukan ngobrolin yang buruk kok bos kecil, jangan marah ya ? " kata Nino.
" Jadi kamu beneran manggil Bhie bos kecil ?" tanya Raswan pada Nino.
" Iya beneran, kan aku sudah bilang tadi " kata Nino.
" Aku pikir cuma bercanda, jadi kamu selalu panggil bos kecil, biar di manapun dan kapanpun ? " Raswan masih penasaran.
" Iya selalu, dimana pun dan kapanpun " kata Nino.
" Atas asar apa ? " Raswan masih penasaran.
" Karena bos kecil teman spesial si bos " kata Nino sambil menunjuk ke arah Sin dan Bhie bergantian.
" Sudah lupakan jangan dibahas lagi. Ayo Ras, temani aku ambil makanan lagi " Bhie mengalihkan pembicaraan.
Saat mengambil makanan Bhie dan Raswan bertemu dengan Bayu dan Angela yang hendak ambil minuman.
" Hai kalian, nempel banget sih, mentang-mentang pacaran selalu berdua, jaga perasaan kita yang jomblo dong " kata Raswan.
" Kamu yang jomblo, kenapa aku yang harus jaga perasaanmu ? " kata Bayu.
" Namanya juga pacaran wajarkan, bukannya akan aneh kalau mereka gak nempel, iyakan ?" kata Bhie membela Bayu.
" Ini baru teman yang pengertian. Ehhh...?? Bhie lehermu kenapa itu ? " Bayu menyadari sesuatu.
" Leherku ? Kenapa memangnya ? " tanya Bhie.
" Sini, coba aku lihat. Ehhh merah loh Bhie, sakitkah ? " kata Raswan.
" Masa sich ? Gak terasa apa-apa kok, biasa aja" kata Bhie.
" Mungkin digigit serangga tapi Bhie gak sadar" kata Angela.
" Mungkin juga sih, tapi serangga apa yang gigit sampai merah gede gini ? " Raswan berfikir.
" Kayak bekas c*pang ? iya gak sih ? " Bayu curiga.
" Iya juga sih ? " kata Raswan.
" C*pang ? C*pang apaan sich ? " tanya Bhie.
" Bhie...!!! Kamu beneran gak tau c*pang itu apa? " kata Raswan.
" Setahuku, c*pang itu sejenis nama ikan " kata Bhie.
Pernyataan Bhie mengundang gelak tawa diantara teman-temannya yang membuat Bhie menjadi tambah bingung, apakah ada yang salah dengan perkataannya barusan.
" Aku bener kan, c*pang itu nama ikan " kata Bhie.
" Iya bener kok, gak salah, memang ada ikan ****** " Raswan menahan tawanya.
" Hadechh, kayaknya memang digigit serangga deh. Kamu yang kasih tau Yank, c*pang yang dimaksud itu apa " pinta Bayu pada Angela.
" Baiklah. Sini aku bisikkan " Angela mendekat di telinga Bhie.
Angela berbisik di telinga Bhie, menjelaskan maksud dari c*pang yang mereka bicarakan. Mata Bhie melebar mendengar penjelasan dari Angela, kini ia sadar pantas saja tadi mereka menertawakannya.
(Bersambung)
Maaf ya teman-teman ilustrasi fotonya pakai gambar anime 🙏, soalnya kalau pakai foto artis takut kenapa-kenapa.
__ADS_1
Semoga tidak mengecewakan, terima kasih sudah mampir membaca 🙏🤗.