Zona Nyaman Sebuah Hubungan

Zona Nyaman Sebuah Hubungan
Bab 23


__ADS_3

Suara dering telepon, membangunkan Bhie dari tidur pulasnya, dengan meraba-raba Bhie mencari sumber suara tersebut.


Tanpa melihat Bhie langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.


" Hallo " Bhie masih setengah sadar.


Seketika Bhie langsung tersadar sepenuhnya, saat mendengar suara dari panggilan tersebut. Dengan cepat Bhie mengguncang tubuh Sin, yang masih tertidur agar terbangun.


" Bangun Sin ! Telepon dari Nino, ada yang mau dikatakan, PENTING !!! " Bhie terus mengguncang tubuh Sin.


" Hemmm " Sin menggeliatkan badan.


" Sin !!! Bangun !!! Nich cepat bicara " Bhie menempelkan hp ke telinga Sin.


" Iya. Kamu duluan aja, satu jam lagi aku nyusul" Sin menjawab panggilan telepon.


" Tentang kerjaan ya ? " Bhie menduga.


" Begitulah dan harus aku " Sin membuka mata.


" Kalau begitu, cepat bangun dan mandi sana !" kata Bhie.


" Hemmm. Malas bangun, mau disini saja " Sin memeluk Bhie dengan manja.


" Iiihhh !!! Cepat bangun dan mandi. Ntar telat loch " kata Bhie.


" Kita m*ndi bareng aja...!!! " Sin tersenyum.


" Ide bagus. Tapi OGAH...!!! Aku mau mandi di luar saja " Bhie hendak berdiri.


" Aku aja yang di luar, kamu pakai kamar mandi dalam aja. Tapi....beri aku sesuatu dulu...??? " Sin menarik tangan Bhie.


Bhie menatap wajah Sin, yang memberi kode untuk mencium dirinya.


( Manja banget ) batin Bhie dalam hati.


Bhie mendekatkan wajahnya, lalu mencium kening Sin seraya berkata.


" Selamat pagi Sin " kata Bhie menyapa.


" Seharusnya panggil sayang dan ciumannya bukan di kening " Sin protes dengan wajah cemberut.


" Sayang...??? Terserah akulah...!!! " Bhie bergegas pergi menuju kamar mandi.


Setelah selesai mandi, berpakaian lengkap dan rapi. Sin dan Bhie segera bergegas untuk pergi.


Selang beberapa saat kemudian, mobil sudah berhenti di depan rumah Bhie.


" Maaf ya, aku langsung antar kamu pulang. Seharusnya kita sarapan dulu, tapi waktunya gak sempat " kata Sin.


" Iya, aku apa-apa, aku ngerti kok. Sudah sana kasihan Nino, nunggunya kelamaan " kata Bhie.


Sebelum turun dari mobil, Sin mengecup bibir Bhie dengan lembut. Bhie bersikap tenang, ia mulai terbiasa dengan sikap Sin yang tiba-tiba manja.


Bhie segera keluar dari mobil dan melambaikan tangan, Sin balas melambaikan tangan dan segera pergi meninggalkan rumah Bhie.


" Perutku lapar, keluar cari sarapan dululah " Bhie bergumam sendiri.


Bhie keluar rumah dengan motor dan lengkap dengan helm di kepalanya. Setelah berkeliling mencari sarapan yang diinginkannya, akhirnya Bhie berhenti di sebuah warung yang cukup ramai dengan pembeli.


Saat sedang menunggu antrian, pandangan mata Bhie, tiba-tiba tertuju pada sosok yang dikenalnya, diseberang jalan raya.


Bhie mengamati dari kejauhan dengan perasaan yang sedikit heran dan penasaran.


( Itu kan xxxx dan Juli ? Mereka saling kenal ? ) batin Bhie dalam hati.


Karena dari seberang jalan tentu saja pembicaraan mereka tidak terdengar oleh Bhie. Namun dari sikapnya nampak akrab, bahkan saat Juli mau pergi, cium tangan segala.


Hal tersebut menambah penasaran di hati Bhie dan menerka-nerka punya hubungan apa mereka ???.


Bhie mengambil hp dan mencoba untuk menelpon Juli, namun sia-sia, karena nomor Juli sedang tidak aktif. Beberapa kali dicoba pun, sama tetap tidak aktif.


" Kenapa tidak aktif ? Apa ganti nomor ya, si Juli ? Coba aku tanya kak Ian. Emmm ke rumahnya kak Ian ajalah, pasti jam segini sudah siap-siap buka. Untung tadi sempat ambil foto mereka berdua, siapa tau kak Ian juga kenal xxxxxx" Bhie bergumam sendiri.


Selang beberapa saat kemudian, Bhie sudah berada di tempat Ian dan benar saja sudah bersiap-siap untuk buka.


Karena melihat Bhie yang tiba-tiba datang, akhirnya jam buka ditunda sementara waktu.


" Ada apa Bhie ? Kok tiba-tiba datang tanpa kasih kabar dulu ? Trus kenapa, tangan dan lehermu banyak plester gitu ? Dan kenapa gak sekolah ? " Ian bertanya tanpa henti.

__ADS_1


" Ceritanya panjang kak, intinya hari ini aku gak sekolah, aku diskors selama 3 hari, gara-gara berantem " kata Bhie.


" BERANTEM ??? Kamu, bisa juga berantem ?" kata Ian meledek.


" Itu gak penting. Oh ya kak, aku mau tanya. Juli ganti nomorkah ? Soalnya aku hubungi nomornya gak aktif " tanya Bhie.


" Iya Juli ganti nomor, karena HP-nya hilang. Memangnya ada apa ? Penting ya ? " kata Ian.


" Emm, gini kak, aku mau tanya sesuatu sama Juli, tentang seseorang. Apa hubungan mereka, soalnya aku penasaran, tadi aja Juli sampai cium tangan segala " Bhie menjelaskan.


" Cium tangan ??? Siapa ??? " Ian mode kepo.


" Ini nih kak ( memperlihatkan foto dari hp ). Tadi aku sempat foto mereka, tapi gak terlalu jelas karena aku dari seberang jalan. Mungkin, kak Ian juga kenal " kata Bhie.


Ian meraih hp Bhie dan mengamati dengan seksama orang yang ada di dalam hp tersebut.


" Ini sih, aku juga kenal Bhie " Ian memberikan hp pada Bhie.


" Benarkah ??? Apa hubungan mereka ??? " Bhie setengah berteriak.


" Reaksimu berlebihan Bhie ! Memang ada apa ? " Ian sedikit heran.


" Kasih tau saja, aku ingin tau...!!! " Bhie tak sabar menunggu.


" Ini tante xxxxxxx istrinya om xxxxxx " kata Ian.


" Om xxxxxx ? Siapa itu ? " Bhie bingung.


" Om xxxxxx ayahnya xxx " kata Ian.


" JADI...??? " Bhie benar-benar syok.


" Tante xxxxxxx ibunya xxx. Lebih tepatnya ibu tiri " Ian menjelaskan.


Mendengar penjelasan Ian, membuat kepala Bhie dipenuhi dengan berbagai pertanyaan dan perasaan yang campur aduk tak karuan.


( Istrinya om xxxxxx ? Ibu tiri xxx ? xxxx ? ) batin Bhie dalam hati.


Tiba-tiba pandangan mata Bhie menjadi buram, semakin buram dan gelap gulita.


BRUUUKKK ( Bhie terjatuh di lantai )


Ian mengangkat tubuh Bhie dan membaringkannya di sofa, walaupun sedikit panik, Ian berusaha untuk tetap tenang.


Saat Bhie membuka mata.


Sebuah tepukan halus terasa di pipi sambil memanggil nama dirinya.


" Bhie... Bhie... bangun "


Berlahan Bhie mulai membuka mata, awalnya buram namun setelah beberapa saat mulai nampak jelas, pemandangan yang tak asing.


" Akhirnya, kamu sadar juga Bhie " Ian merasa lega.


" Kak Ian..." Bhie masih sedikit linglung.


" Aku kaget banget, kamu tiba-tiba pingsan. Apa kamu sakit Bhie ? " Ian khawatir.


" Aku tidak sakit kak " Bhie mencoba untuk duduk.


" Ini minum dulu ( menyodorkan air minum ). Tunggu aku telepon Juli " kata Ian.


" JANGAN KAK...!!! Jangan telepon Juli " Bhie melarang.


" Kenapa ? Tadi kamu syok banget mendengar tentang xxxxxxx, memangnya ada apa ? Kamu kenal dengan tante xxxxxxx ? tanya Ian.


Bhie tidak segera menjawab, ada keraguan di dalam hatinya untuk memberitahu Ian tentang kebenarannya. Akankah percaya tau justru sebaliknya ???.


" Kenapa Bhie ? " tanya Ian.


" Yang kakak sebut tante xxxxxxx itu....adalah... xxxxxx " Bhie dengan suara sangat lirih.


" APA !!! SERIUS ??? " Ian benar-benar terkejut.


Bhie hanya menganggukkan kepalanya.


" Astaga...!!! Kok bisa ??? Jadi ...??? " Ian berusaha mencerna dengan cepat.


Bhie hanya terdiam.

__ADS_1


" Tapi kenapa, baru ketahuan sekarang ? ( merasa janggal ). ASTAGA. Ini benar-benar aneh, bagaimana mana bisa ??? " Ian masih tidak percaya.


" Kak Ian syok juga kan ? " kata Bhie.


" TENTU SAJA. Selama ini aku pikir, dia itu tanpa anak, karena gak mengenalkan ataupun bawa anak. Jadi heran aja tiba-tiba ...., apa yang terjadi ??? " kata Ian.


" Aku juga tidak tau kak, aku bingung harus menjelaskannya darimana, tapi aku khawatir..." kata Bhie.


" Khawatir tentang ??? " tanya Ian.


" Tentang mereka semua. Akankah mereka menerima? Bisakah sikap mereka sama seperti sebelumnya ? Ataukah, mereka akan berubah, berbalik membenciku ? Aku harus bagaimana kak Ian ? Aku bingung ! " Bhie mulai menangis.


" Aku juga tidak tau. Aku juga masih mencerna yang terjadi " Ian mengusap kepala Bhie.


Bhie mulai menangis sejadi-jadinya dipelukan Ian, dada Bhie terasa sakit mengetahui kebenaran ini.


Kenapa harus dia ? Kenapa bukan orang lain ? Kenapa harus dengan ayahnya ? Kenapa harus mereka ?


Kenapa ? Kenapa ? Kenapa ?


Hanya itulah yang terus berputar di kepala Bhie saat ini.


Bagaimana menjelaskannya ?


Apakah mereka bisa menerima kenyataan ini ?Sementara Bhie sendiri masih tidak percaya.


Setelah keadaan mulai tenang Bhie menceritakan semuanya pada Ian. Awal perkenalan, bagaimana hubungan mereka dan bagaimana dengan perasaannya sekarang ini.


Mendengar cerita dari Bhie, kini Ian mengerti apa yang menjadi kekhawatiran Bhie sat ini. Sangat beralasan dan masuk akal, siapapun orangnya pasti akan sangat syok dan tidak percaya dengan kebenaran ini.


" Pasti, kamu merasa tidak adil, tapi kamu harus menghadapi kenyataan ini. Cepat atau lambat kebenaran ini pasti akan terungkap dan kalian harus menerima kenyataannya " Ian menasehati.


" Mungkin aku bisa menerima tapi bagaimana dengan ( tak menyebutkan ) pasti akan lebih syok mengetahuinya " kata Bhie.


" Jadi kamu lebih mengkhawatirkan perasaan... ( tak menyebutkan ) " kata Ian.


" Em. Pasti akan kecewa melebihi diriku " kata Bhie lirih.


Ian benar-benar tak habis pikir, ia merasa heran bercampur kagum pada Bhie, yang justru lebih memikirkan perasaan kecewa orang lain dibandingkan dengan perasaannya sendiri.


( Hatimu terbuat dari apa Bhie ? Bisa-bisanya kamu mengkhawatirkan perasaan orang lain daripada perasaanmu ? ) batin Ian dalam hati.


Ian memeluk tubuh Bhie, sambil sesekali mengusap kepalanya. Mencoba memberi ketenangan dan semangat, hanya itu yang saat ini Bhie butuhkan.


Tidak perlu kata-kata yang diucapkan, cukup diam di sampingnya, menemani dalam kesedihannya.


" Kak Ian " panggil Bhie.


" Ya " jawab Ian.


" Bisakah, kak Ian merahasiakan ini dulu ? Sampai aku siap mengungkapkan kebenaran ini pada semuanya, bisakan ? " Bhie pandangan memohon.


" Baiklah, aku akan berusaha, tapi kamu juga harus kuat menerima ini, jangan berbuat aneh-aneh ya ??? JANJI...??? " kata Ian.


" Maksudnya aneh-aneh itu...bunuh diri gitu ?" kata Bhie.


" Salah satunya itu " kata Ian.


" Aku masih cukup waras kak, aku tidak sebodoh itu " kata Bhie.


" Hanya memperingatkan. Kalau mau curhat, datang saja, aku akan mendengarkannya, jangan sungkan ya " Ian mengusap pundak Bhie.


" Terima kasih kak Ian, kakak benar-benar baik padaku " Bhie memeluk Ian.


Saat sampai rumah Bhie merebahkan badannya di atas kasur, pikirannya terus melayang entah kemana.


( Apa yang harus aku lakukan ? ) itulah yang ada dibenak Bhie.


.


.


.


( Bersambung )


Ceritaku ini bersambung berurutan ya teman-teman kalau teman-teman lewatkan 1 bab maka akan terasa gak nyambung ceritanya.


Silahkan memberi kritik dan saran agar ke depannya tulisan saya semakin baik, terima kasih dukungannya 🙏🤗.

__ADS_1


__ADS_2