Zona Nyaman Sebuah Hubungan

Zona Nyaman Sebuah Hubungan
Bab 27


__ADS_3

* Didalam rumah Bhie.


" Mamamu sudah pergi, tidak apa-apa, dia sudah pergi " Sam menepuk-nepuk pundak Bhie.


" Paman... kenapa... kenapa mama jahat padaku? apa... salahku ? Aku... harus bagaimana ? Kasihan... Sin..." ucap Bhie.


Tiba-tiba badan Bhie lunglai, beruntung Sam sigap memegang tubuhnya, sehingga tak jatuh ke lantai.


Sam membaringkannya di kursi sofa.


" Bhie... sadar... bangun..." Sam menepuk-nepuk pipi Bhie.


" Bagaimana bisa Sam ? Aku baru tau, tante Mentari mamanya Bhie " kata Bayu.


" Aku juga baru tau tadi malam, itupun dari Nino. Aku belum tanya langsung pada Bhie, sudah keduluan kakak Mentari datang " kata Sam.


" Bhie pasti syok banget " Angela menggosokkan minyak angin pada Bhie.


" Apa yang mereka bicarakan tadi ? " tanya Sam.


" Meminta Bhie putus hubungan dengan Sin. Memangnya... sejak kapan mereka menjalin hubungan ? " kata Angela.


" DASAR COWOK ITU benar-benar harus diberi PELAJARAN " Bayu mengepalkan tangannya karena kesal.


" Belum tentu mereka ada hubungan seperti yang dimaksud. Kalau iya, harusnya aku tau " kata Sam.


" Dulu aku sempat tanya. Bhie mengakui kalau mereka saling suka, karena mereka berteman. Suka bukan berarti cinta dan harus pacaran. Begitu dia bilang. Jadi aku rasa... mereka memang tidak pacaran " kata Angela.


" Mungkin belum pacaran, semoga saja benar begitu, kalau sudah pacaran...akan lebih..." Bayu tak melanjutkannya.


" Semoga saja begitu " kata Sam.


" Lihat... lihat, Bhie sudah sadar " kata Angela.


" Pelan-pelan..." Sam membantu Bhie duduk.


" Minum dulu..." Bayu menyodorkan air minum.


Bhie meminum sedikit air yang diberikan, lalu mengamati wajah teman-temannya.


" Aku tidak apa-apa, maaf... membuat kalian khawatir " ucap Bhie lirih.


" Bhie, aku tau... ini waktu yang tidak tepat, tapi... aku ingin mendengar penjelasan darimu. Apa...hubunganmu dengan Sin ??? " kata Sam menatap wajah Bhie.


" Jelaskan Bhie...!!! " imbuh Bayu.


" Kami... masih berteman " ucap Bhie.


" Tuch kan, sudah aku bilang " kata Angela.


" Bagaimana perasaanmu padanya ? " Sam bertanya lagi.


" Aku... suka dan nyaman bersamanya. Sin... baik padaku, dia selalu mendengarkan keluh kesahku tentang mama, sama sepertimu Sam. Akhir-akhir ini perasaan yang aku rasakan berbeda dan aku gak tau kenapa... " Bhie memberi penjelasan.


" Kamu sayang padanya ? " tanya Sam.


" Sayang " jawab Bhie.


" Jantungmu berdebar, saat bersamanya ? " tanya Sam.


" Iya " Bhie mengangguk.


" Kamu takut kehilangan dia ? " tanya Sam.


" Tidak " Bhie menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Apa yang kamu takutkan ? " tanya Sam.


" Aku takut... membuat Sin... bertambah kecewa" jawab Bhie.


Sam, Bayu dan Angela, mereka bertiga saling pandang.


" Sekarang pasti Sin kecewa sekali. Jika aku... memutuskan hubungan dengannya... itu... akan membuat Sin... lebih kecewa lagi... dan... aku... gak mau itu terjadi " sambung Bhie.


" Apa kamu... cinta... dia...? " tanya Sam pelan.


" Entah... mungkin... " jawab Bhie lirih.


" Apa kamu ingin jadi pacarnya ? " Bayu ikut memberikan pertanyaan.


Mendengar hal tersebut Bhie tidak segera menjawab, dirinya sendiri juga bingung dengan perasaannya. Apakah cinta yang dihatinya, sama seperti suka pada lawan jenis ?


( Apa... aku ingin jadi pacar Sin ? Apa... aku beneran cinta yang seperti itu ? Sebenarnya... apa... mauku ?) batin Bhie bergejolak.


" Aku... menyayangi Sin, tapi aku tidak ingin terikat status dan batasan waktu, supaya hubungan kita tetap baik, entah sampai kapan " ucap Bhie lirih.


" Jadi begitu... perasaanmu yang sebenarnya. Sekarang aku paham " kata Bayu tersenyum.


" Kamu tidak ingin terikat status karena status bisa berakhir kapan saja, dan bisa menghancurkan hubungan baik. Jadi... kamu memilih tetap di zona nyaman sebagai teman. Apa aku benar ? " sambung Bayu.


" Em " Bhie menganggukkan kepalanya.


" Kamu benar-benar Bhientang yang spesial " Bayu menepuk pundak Bhie dengan lembut.


Sam dan Angela saling memandang, tidak memahami maksud dari perkataan Bayu.


Ian dan Juli pun datang.


" Bagaimana keadaanmu...? " Ian mendekati Bhie.


" Seperti yang kalian lihat. Hp sengaja aku matikan dulu. Terima kasih sudah datang menjengukku " kata Bhie.


" Kalian telat. Baru saja tante Mentari dan om Nouval, pergi dari sini " kata Bayu.


" Benarkah...??? " Juli terkejut.


"Jadi... semuanya sudah tau kebenarannya ? " Ian mengarahkan pandangan pada Bhie.


" Hem, begitulah " ucap Bhie dengan wajah muram.


" Mereka memintamu apa ? " tanya Ian.


" Putus hubungan dengan Sin dan aku menolaknya " kata Bhie.


" Hemm... pasti berat untukmu " Juli bersimpati.


" Apa rencanamu sekarang ? " tanya Ian.


" Aku akan bicara dulu dengan Sin, aku ingin tau... apa pendapatnya dan... bagaimana baiknya. SENDIRIAN " kata Bhie.


" Apa kamu yakin Bhie...? " Angela khawatir.


" Menurutku itu yang benar, bertanya langsung pada Sin " kata Bhie dengan jelas.


" Dengan tabiat Sin. Apa kamu yakin, mau bicara sendirian ? " Bayu juga khawatir.


" Bhie sudah benar. Masalah ini tentang mereka berdua, jadi hanya mereka berdua yang menyelesaikannya. Apapun keputusan yang kamu ambil, kamu harus ingat, kamu tidak sendiri. OK " kata Ian memberi semangat.


" Em ( menganggukkan kepalanya ). Aku tidak sendirian. Terima kasih " Bhie memeluk Ian.


" Bagaimana dengan kak Ram ? Apa harus diberitahu ? " kata Sam.

__ADS_1


" Jangan dulu, nanti pulang, baru aku ceritakan pada papa " kata Bhie.


" BTW Sam, kamu harus menjelaskan hal ini pada Windy, kamu tau kan, Windy itu orangnya bagaimana " Juli mengingatkan Sam.


" Em, baiklah " jawab Sam.


" Baiklah apa ...??? " Juli sedikit meninggikan suaranya.


" Baiklah kakak Juli " Sam sedikit merasa kesal.


" Adik pintar " Juli menepuk pundak Sam.


Semua orang yang ada, tersenyum melihat pemandangan kakak dan calon adik ipar begitu akrab.


Bhie benar-benar bersyukur, ia dikelilingi teman-teman yang baik dan perduli padanya. Semua kejadian selalu memiliki hikmah tersendiri, tergantung diri kita, apakah dapat menyadarinya.


( Aku... menjadi sepupu mereka sekarang, walau sepupu tiri ) batin Bhie dalam hati.


***


Pada malam harinya, sekitar jam 19.00, Bhie datang ke rumah Sin, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.


Nino tampak terkejut, ketika membukakan pintu.


" Bos kecil...!!! " Nino terkejut melihat Bhie.


" Hai...!!! " Bhie melambaikan tangan.


" Ingin bertemu si bos ? " Nino langsung bertanya.


" Em, Sin ada kan ? " Bhie melangkah masuk.


" Ada di kamarnya. Emmm... tapi... bos kecil.." Nino nampak ragu.


" Tapi kenapa ? " Bhie penasaran.


" Bos kecil lihat ajalah sendiri " Nino enggan menjelaskan.


" Kamarnya dikunci gak ? " tanya Bhie.


" Tidak. Aku akan pergi, supaya kalian bisa bicara dengan tenang. Kalau perlu apa-apa telepon saja, aku akan datang " Nino berpamitan.


" OK " jawab Bhie.


Nino bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut, karena ia tahu, mereka butuh privasi untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.


( Semoga semuanya berakhir dengan baik ) Nino berdoa dalam hati.


Bhie membuka pintu kamar Sin dengan berlahan, ruangan kamar nampak remang-remang, hanya ada cahaya lampu tidur yang menyala.


Bhie melangkah masuk, baru beberapa langkah, kaki tersandung sesuatu yang membuatnya terjatuh.


" BUUKKK " Bhie terjatuh ke lantai


" Aauuww... kesandung apa aku...? " Bhie merintih.


" Bhie... apa itu kamu...??? " Sin tiba-tiba bersuara.


" Iya ini aku...! " jawab Bhie.


( Bersambung )


Maaf teman-teman bab kali ini pendek 🙏


Terima kasih teman-teman yang sudah mendukung novelku ini semoga terhibur 🤗

__ADS_1


__ADS_2