
" Bagaimana Bhie ? " Ramdan bertanya pada putrinya.
" Beri kamu waktu, aku ingin membicarakan hal ini dengan Raswan dulu, bagaimana baiknya " jawab Bhie.
" Baiklah kalian bicarakan dulu berdua. Tapi, tidak boleh terlalu lama memberikan jawabannya " kata Ridwan.
" Setuju. Lebih cepat lebih baik " imbuh Ramdan.
" Aku sudah tidak sabar gendong cucu..." kata Ridwan tersenyum.
" Benar-benar. Nanti kita bisa ajarkan permainan waktu kita muda dulu " Ramdan gak kalah hebohnya.
Ya ampun...!!! Belum ada persetujuan untuk menikah, sudah main membicarakan cucu saja.
Tidak ada kata-kata yang bisa dikeluarkan, Bhie dan Raswan yang memahami orang tua masing-masing, hanya bisa menggelengkan kepalanya, saat melihat tingkah orang tuanya.
Dengan alasan ingin berbicara berdua, akhirnya Bhie dan Raswan, kini bisa duduk berdua di taman yang tak terlalu jauh dari rumah makan.
Mereka duduk bersebelahan, entah kenapa ada perasaan canggung diantara mereka, padahal biasanya mereka saling lempar candaan dan sesekali sedikit main fisik.
" Hadechh, kenapa jadi canggung ya...!!! " Bhie memulai pembicaraan.
" Aku benar-benar gak nyangka Bhie, orang yang dijodohkan denganku itu adalah kamu " kata Raswan.
" Apalagi aku. Kamu dari dulu sudah diberitahu. Lahh aku... baru kemarin. Bisa bayangkan betapa syoknya aku " kata Bhie.
" Dunia kita ini luas banget, tapi ternyata jodoh yang aku tunggu-tunggu selama ini... ada di dekatku " Raswan menatap Bhie dengan pandangan lembut.
Entah kenapa, selang beberapa detik kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.
Entah apa yang lucu...??
" Sudah cukup dramanya. Terus sekarang gimana ? " tanya Bhie.
" Entahlah...!!! " Raswan mengangkat kedua tangannya.
" Ras... kamu mengenalku kan ...??? Kamu tau betul, aku itu orangnya gimana. Apa kamu yakin? " tanya Bhie.
" Kamu masih... ada perasaan dengannya ?? " tanya Raswan.
" Bohong kalau aku bilang tidak. Walau sekarang, kami sudah saling menerima kenyataan " Bhie paham dengan pertanyaan Raswan.
" Aku tau, pasti sulit juga bagi kalian. Jangan dilupakan, cukup kamu kenang. Kita jalani saja dulu " Raswan menggenggam tangan Bhie.
" Em ( menganggukkan kepalanya ). Setidaknya aku tidak perlu berpura-pura di depanmu " Bhie membalas genggaman tangan Raswan.
" Jadi...??? " tanya Raswan.
" Aku ingat, kamu pernah bilang. Menikah tanpa pacaran pasti akan menyenangkan. Karena menurutmu itu romantis. Jadi... ayo kita menikah saja... !!! " kata Bhie.
Raswan terdiam sambil menatap wajah Bhie. Antara percaya atau mimpi, masih dalam proses mencerna.
Diluar dugaan justru Bhie yang mengajak menikah lebih dulu, air mata keluar dari sudut mata Raswan, tanpa ia sadari.
" HEI...!!! Kenapa kamu malah menangis ??? " Bhie mengusap pipi Raswan.
" Barusan, kamu melamarku Bhie, aku terharu " ucap Raswan.
" MELAMAR JIDATMU...!!! " Bhie memukul kening Raswan.
" AAUUWW...!!! SAKIT BHIE...!!! (mengusap-usap keningnya). Kamu beneran Bhientang yang ku kenal " Raswan tersenyum.
" Jadi...??? " Bhie mengulang pertanyaan Raswan sebelumnya.
" Ayo kita menikah. Bhientang jadilah istriku " kata Raswan sambil mengeluarkan kalung berliontin bentuk hati.
" Bukannya melamar itu pakai cincin ya ? " Bhie meledek Raswan.
" Awalnya, mau buat cincin, tapi... kan gak tau ukurannya. Jadi, amannya kalung saja. Sini aku pakaikan " kata Raswan.
Entah sengaja atau apa, Raswan memakaikan kalung, bukan dari belakang melainkan dari depan.
Kini posisi mereka sangat dekat bahkan Bhie dapat merasakan Raswan sama gugupnya dengan dirinya.
Lamunan Bhie selesai saat Raswan memeluk dirinya seraya berkata.
" Terima kasih, telah memberiku kesempatan. Aku akan berusaha melakukan yang terbaik " Raswan mengeratkan pelukannya.
" Mari kita berusaha sama-sama " Bhie mengusap punggung Raswan.
__ADS_1
Keputusan Bhie untuk menikah dengan Raswan disambut bahagia oleh Ramdan dan Ridwan. Karena memang itulah harapan dari perjodohan ini.
Terutama Ridwan, tak kuasa membendung air mata, sangking senangnya. Kini Bhie mengetahui sikap Raswan menurun dari ayahnya
Dengan mempertimbangkan situasi, kondisi dan kenyamanan kedua belah pihak keluarga, akhirnya memutuskan pernikahan akan dilangsungkan tahun berikutnya.
Dan sebagai tanda pengikat, akan diadakan acara lamaran terlebih dahulu secara sederhana, cukup keluarga dan beberapa teman dekat sebagai tambahan.
Serasa mulus tanpa hambatan dan rintangan, namun siapa sangka protes keberatan justru muncul dari teman-teman terdekat, saat hendak mengundang ke acara lamaran.
Saat itu Bhie dan Raswan sengaja mengumpulkan mereka pada satu tempat untuk mempermudah menyampaikannya. Raswan yang memilih tempat, sebuah cafe, biasa mereka nongkrong bareng.
" APPA ??? MENIKAH...??? "
Begitulah reaksi Bayu, Angela, Ian dan Juli, saat mendengar kabar tersebut. Bahkan Bayu hampir tersedak minumannya.
" JANGAN BERCANDA. Apa itu benar Sam ? " Bayu mengarahkan pandangan pada Sam yang juga ikut menemani Bhie.
" Aku saja kaget dengarnya. Kakak Ram sendiri yang bilang, jadi sudah pasti itu benar " Sam melirik Bhie.
" Aku benar-benar tidak menyangka akan secepat ini. Lalu kapan acaranya ? " tanya Angela.
" Minggu depan, baru lamaran dulu " kata Bhie.
" Tunggu... tunggu... tunggu... gimana ceritanya, kalian bisa...??? Selama ini kan, kalian tidak pernah pacaran ??? Atau kalian ??? " Juli menduga-duga.
" ATAU APA ??? Jangan menuduh, aku tidak seperti itu ya..." Raswan tersinggung.
" Bukan menuduh, aku hanya heran. Kenapa tiba-tiba lamaran ? " kata Juli.
" Jangan-jangan... selama ini... kalian menutupi hubungan kalian berdua ? " tanya Ian.
" Tidak juga " Bhie menggelengkan kepala.
" Karena dijodohkan " kata Sam.
" Paman...!!! " Bhie menyikut Sam.
" Memang iya, dijodohkan. Tapi... kita yang memutuskan. Iyakan Bhie...!!! " Raswan mencari dukungan.
" Bhie, yang benar saja. Masa iya kamu mau sama model beginian, pikirkan lagi deh " Bayu sambil menunjuk Raswan.
" Apa maksudnya model beginian ?? " Raswan tidak terima dikatain.
" Hem, betul banget. Aku setuju dengan Bayu " Juli menambahi.
" Masa iya, aku punya ponakan kamu " gumam Sam.
Pada akhirnya mereka berempat Sam, Bayu, Juli dan Raswan malah sibuk berdebat mengutarakan pendapat masing-masing. Mau dilerai pun, percuma, mereka tidak akan mendengarkannya untuk saat ini.
" Kamu sudah memikirkan ini dengan baik ? " Ian bertanya pada Bhie.
" Sudah kak " jawab Bhie.
" Kamu yakin ? " Ian meragukan.
" Aku yakin. Ini cara yang terbaik " jawab Bhie tegas.
" Baguslah kalau kamu sudah yakin, aku harap ini benar-benar keputusan yang terbaik buatmu" Ian mengusap kepala Bhie.
" Terima kasih kak Ian " jawab Bhie.
" Kakakmu... sudah kamu beritahu ? " tanya Ian.
" Kakak Sin, orang pertama yang aku beritahu. Jangan ditanya, reaksinya sama dengan mereka " Bhie menunjuk ke arah biang keributan.
" Biarkan saja mereka ribut, asal tidak saling hantam saja " kata Ian.
" Masih khawatir juga ??? " Bhie meledek.
" Haduchh pusing aku. Mereka gak mau dengar perkataanku. Kalian jangan diam saja, ayo lerai" Angela sudah mencoba tapi gagal.
" Biar saja, nanti capek juga berhenti sendiri. Mending duduk makan " Bhie bicara dengan santai.
Beruntung cafe dalam keadaan sepi pengunjung dan pemilik kenal baik dengan Ian jadi, keributan mereka hanya dianggap candaan oleh sang pemilik.
* Saat memberitahu Sin.
Jam kerja sudah selesai, Bhie bersiap-siap untuk pulang, namun sebelum itu Bhie sengaja menemui Sin di ruangannya.
" Kakak Sin, boleh aku masuk ? " Bhie meminta izin.
__ADS_1
" Hai Bhie, masuklah. Sudah jamnya pulang ya " memperhatikan jam.
" Kita belum boleh pulang bos, kerjaan masih numpuk " Nino mengingatkan.
" Hadechh sial. Gak pernah selesai " Sin mengeluh.
" Apa aku ganggu ? " tanya Bhie.
" Tidak. Ada apa ? Tumben ? " tanya Sin.
" Emmm... kakak Sin... aku... mau menikah " kata Bhie.
BRUUUKKK
Suara buku terjatuh dari tangan Nino, sangking terkejutnya mendengar berita tersebut. Baik Sin dan Nino sama-sama mengeluarkan ekspresi tidak percaya.
" Menikah ??? Dengan Siapa ??? " Sin mendekat pada Bhie.
" Dengan Raswan " ucap Bhie lirih.
" RASWAN...!!! " Sin dan Nino bersamaan.
" He'eh Raswan " Bhie mengulangi.
" KOK BISA dengan Raswan bos kecil ? " Nino belum percaya.
" Mendadak sekali, jangan-jangan...??? " Sin mulai menduga-duga.
" Dia sudah ngelakuin apa, sama bos kecil ? " Nino menarik tangan Bhie.
" Beritahu aku, biar aku hajar dia...!!! " Sin menarik tangan Bhie.
" Apa bos kecil terpaksa ??? " Nino menarik tangan Bhie lagi.
" STOOPP HENTIKAN...!!! " Bhie berteriak.
Sepi sunyi tanpa suara, semuanya diam, pandangan Sin dan Nino hanya terpaku pada Bhie yang nampak kesal, setelah ditarik kanan ditarik kiri, sudah seperti tarik tambang.
Bhie masih nampak kesal dengan tangan berkacak dipinggangnya serta pandangan mata yang lebar.
" Nikahnya masih tahun depan, jadi... JANGAN MIKIR YANG ANEH-ANEH ! " Bhie menjelaskan.
" Trus, kenapa tiba-tiba dengan Raswan ? " Sin masih protes.
" Ayah Raswan temannya papa dari waktu masih muda dulu, trus ada niatan jadi besan, gitu deh " Bhie menjelaskan lagi.
" Dijodohkan maksudmu ??? " tanya Sin.
" Terpaksa dong...??? " sambung Nino.
" Memang dijodohkan, tetapi gak terpaksa kok " Bhie menjelaskan lagi.
" TRUS KENAPA MAU...??? " Sin dan Nino bersamaan.
" Apa salahnya, Raswan baik " jawab Bhie.
" HANYA ITU...??? " Sin dan Nino bersamaan.
" TRUS MAU APA LAGI ??? ( meninggikan suara). Minta batu berlian segede batu kali ???" Bhie beneran kesal.
" Bukan itu bos kecil, maksudku apa bos kecil sudah memikirkan dengan baik. Ini pernikahan loh, bukan sekedar pacaran " Nino mengingatkan.
" Trus kenapa memangnya ? Aku juga tau pernikahan itu bagaimana " jawab Bhie.
" Nino bereskan pekerjaan. ADIKKU SAYANG kita perlu bicara panjang lebar " Sin menarik tangan Bhie.
" Tapi bos...??? " Nino tak sempat protes.
Sin terus berjalan di depan sambil menarik tangan Bhie, bahkan ia sampai tak menghiraukan pandangan orang-orang yang dilewatinya, terutama para pegawai yang lainnya.
Tak banyak yang bisa Bhie lakukan selain terus mengikuti langkah kaki Sin.
( Mati aku... bakalan ditanya habis-habisan ) gumam Bhie dalam hati.
.
.
.
( Bersambung )
__ADS_1
Terima kasih sudah mampir membaca, silahkan memberi kritik dan saran agar tulisan saya semakin baik kedepannya 🙏🤗