Zona Nyaman Sebuah Hubungan

Zona Nyaman Sebuah Hubungan
Bab 12


__ADS_3

*Cerita sebelumnya


Tiba-tiba Sin mencium bibir Bhie, walaupun ini bukan yang pertama kalinya tapi tetap saja Bhie terkejut dengan tindakan Sin. Namun kali ini Bhie merasa ada yang berbeda, bukan hanya sekedar mencium yang biasa. Sin mencium dan mengulum serta menghisap dan memainkan lidahnya. Hal tersebut membuat Bhie benar-benar kaget dan sesak napas.


" Sudah lebih baik kan ? " Sin mengusap pipi Bhie.


" Kamu membuatku sesak napas " kata Bhie memukul dada Sin.


" Tapi lihat hasilnya, kamu tidak jadi menangis kan " kata Sin sambil tersenyum.


" Kamu ini ...!!! " Bhie kesal dan malu.


" Kamu tidak perlu malu menangis di depanku. Mamamu memang tidak bisa seperti dulu, tapi biar bagaimanapun dia tetap mamamu. Paling tidak kamu tau mamamu hidup dan baik-baik saja " kata Sin.


Perkataan Sin ada benarnya, biar bagaimanapun mama tetaplah orang yang melahirkannya ke dunia ini, biar status berubah jadi istri orang lain tapi tetap saja status mama tidak bisa dirubah.


" Cobalah untuk berdamai dengan keadaan mamamu. Tidak harus sekarang, kalau tidak bisa sekaligus, cobalah berlahan-lahan pasti bisa " kata Sin.


" Hemm, mendengar kata-kata barusan keluar dari mulutmu terasa aneh di telingaku tapi cukup menenangkan hatiku. Akan aku pikirkan" kata Bhie.


" Lain kali kalau mau curhat tentang mamamu ke aku saja, jangan ke cowok di taman tadi, bisa-bisa kamu dituduh selingkuh lagi ? " Sin mengingatkan.


" Maksudmu Sam ? Astaga tidak mungkin " Bhie tertawa.


" Apa yang kamu tertawakan ? dan kenapa kamu bilang tidak mungkin ? semua bisa terjadi" kata Sin.


" Jelas tidak mungkin, karena Sam itu adalah pamanku. Dia adiknya papaku, hanya saja dari ayah yang berbeda. Memang banyak yang tidak tau, karena aku memang tidak mau memanggilnya paman " Bhie menjelaskan.


" Lega dengarnya " kata Sin tersenyum.


" Kenapa kamu terlihat senang gitu mendengarnya " Bhie merasa heran.


" Emm tidak apa-apa, cuma lega saja " kata Sin.


" Sin, ini jam berapa ? " tanya Bhie.


" Jam 8 malam " jawab Sin.


" Jam 8 malam. Pantas aku merasa lapar, dari siang tadi aku belum makan " kata Bhie.


" Sebelum aku antar pulang, kita mampir cari makan dulu " kata Sin.


" Iya. Tapi sebelum pulang, boleh numpang mandi dulu, biar gak kelihatan habis nangis" kata Bhie.


" Baiklah. Kamu mandi di kamar mandi dalam, biar aku mandi di kamar mandi luar. Tuh disana ada handuk " kata Sin sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.


Setelah beberapa saat Sin dan Bhie sudah selesai mandi. Saat keluar kamar bertepatan dengan Nino yang baru saja masuk rumah.


" Tumben bos, jam segini ada di rumah ? Loh kok ? " Nino terlihat heran melihat Bhie.


" Hai Nino " Bhie menyapa.


" Bos kecil kenapa disini ? dan kenapa keluar dari kamar si bos ? " tanya Nino.


" Itu karena, aku habis tidur sama Sin " jawab Bhie.


" APA...??? " Nino teriak karena terkejut.


" Kenapa ? Ada yang salah ? " Bhie bingung.


" Bos kecil gak apa-apakan ? Ada yang sakit ? Nyeri ? Atau perlu obat ? " Nino terlihat panik.


" Kamu ini ngomong apa sich ? Cuma tidur, emangnya bisa terluka, sampai harus perlu obat " kata Bhie.

__ADS_1


" Kan bos kecil sendiri yang bilang habis tidur samma...." Nino tak melanjutkan.


Bhie masih bingung dengan yang dimaksud Nino, sementara Sin hanya tersenyum-senyum menikmati tontonan gratis.


" Bos melakukannya ??? " Nino melihat arah Sin.


" Menurutmu ? " Sin balik bertanya.


" Emmm sedikit gak yakin tapi..." kata Nino ragu.


" Yuk Bhie, kita cari makan dulu, aku akan ajak kamu makan di tempat yang spesial menurutku, dijamin pasti kamu puas makan. Yuk pergi " Sin menarik Bhie.


" Bos kecil, kabari aku kalau kamu perlu obat ya? " kata Nino.


" Obat untuk apa sih ? Aku baik-baik saja kok. Pergi dulu, bye Nino " Bhie melambaikan tangan.


Saat di dalam mobil Bhie masih memikirkan perkataan Nino, apa maksudnya dari sakit, nyeri dan obat.


(Apa ada, aku salah ngomong ke Nino ?) batin Bhie dalam hati.


Bhie mengingat kembali kalau-kalau ada perkataannya yang kurang tepat.


" Sin, apa aku ada salah bicara sama Nino ? Kenapa sampai Nino panik gitu ya ? Sampai-sampai Nino berfikir aku perlu obat ? " Bhie masih bingung.


" Kamu beneran gak tau ? " tanya Sin.


" Kalau aku tau, aku tidak bertanya " kata Bhie.


" Coba kamu ingat, saat Nino bertanya kenapa disini ? dan kenapa keluar dari kamar ?. Apa jawabanmu ? " Sin mengulang pertanyaan Nino.


" Emmm. Aku jawab habis tidur sama...!!! Astaga ...!!! " Bhie menepuk jidat sendiri.


" Sudah paham sekarang ? " Sin tersenyum.


Sin hanya tersenyum melihat kepanikan Bhie.


" Dan kamu sudah tau apa yang Nino maksud, kenapa kamu tidak menyangkalnya ? Malah membuat Nino semakin curiga. Kamu sepertinya senang melihat keadaan ini ? " Bhie kesal.


" Tentu saja aku senang, aku menikmatinya. Lagipula kamu sendiri yang mengakuinya aku habis tidur sama Sin. Aku mau menyangkal bagaimana ? " kata Sin.


" Kamu ini temanku bukan sih ?? " Bhie tambah kesal.


" Masih bertanya tentang kita ?? " Sin menggoda.


" Tau ah " kata Bhie.


Beberapa saat kemudian mereka berhenti di sebuah tempat makan tenda pinggir jalan, biarpun cuma kaki lima tapi pelanggannya banyak, terlihat dari antriannya yang cukup panjang. Sebelum turun Sin mengenakan jaket pada Bhie untuk menutupi seragamnya.


Sin dan Bhie duduk bersebelahan, karena ramai pengunjung, tentu saja harus berbagi meja. Bhie melihat sekeliling.


(Benar-benar ramai, pasti makanannya enak) batin Bhie dalam hati.


" Aku sering kesini sama Nino, bisa dibilang ini tempat favoritku, aku suka makanan disini. Asal tau saja, kamu cewek pertama yang aku ajak kesini " kata Sin.


" Oh ya ? Emm aku tau, kamu pasti gengsi ya ajak pacarmu makan di pinggir jalan gini ? " Bhie menebak.


" Aku tidak gengsi tapi mana ada cewek yang mau makan pakai tangan langsung di depan pacarnya " kata Sin.


" Helleh cuma alasanmu saja itu " Bhie mengejek.


Tiba-tiba hp Sin berbunyi tanda ada telepon masuk, Sin berdiri dan berjalan sedikit menjauh dari keramaian. Sesaat kemudian Sin kembali bersamaan dengan pesanan makanan.


" Dari Grace ??? " Bhie menduga.

__ADS_1


"Bukan. Tapi yang lainnya " kata Sin.


" Emm pasti malam ini gilirannya kamu ketemuan sama dia ya ? Wahh jadwalmu padat ya ? " Bhie meledek.


" Dan gara-gara siapa, jadwalku hari ini kacau, hah....??? " Sin mengingatkan.


" Ya ya ya maaf. Emm kalau para pacarmu tau, kamu sama aku malam ini, gak bisa aku bayangkan betapa murkanya mereka padaku. Cewek kalau lagi cemburu serem " kata Bhie sedikit teringat pada Windy.


" Banget. Sudah lupakan. Kita makan saja, aku sudah lapar " Sin mengalihkan pembicaraan.


" Mari makan. Selamat makan " kata Bhie.


***


Sesampainya di rumah Bhie, waktu menunjukkan jam 23.50 sebentar lagi tengah malam, rumah Bhie nampak gelap gulita tak ada satupun lampu yang menyala.


" Rumahmu gelap sekali ? " kata Sin.


" Tentu saja. Tak ada orang di rumah, biasa papaku belum pulang " kata Bhie.


" Kamu cukup berani ya, tinggal sendirian ? " kata Sin.


" Sudah biasa. Baiklah aku akan turun, kamu langsung pulang saja " kata Bhie.


Sin menarik tangan Bhie, niatnya ingin mencium Bhie. Namun dengan cepat tangan kiri Bhie menutup mulut Sin. Bhie tersenyum sambil menggelengkan kepalanya berlahan.


" Aku baik-baik saja, terima kasih sudah menemaniku " kata Bhie.


Nampak sedikit kecewa di wajah Sin, sebagai gantinya sebelum keluar mobil, Bhie mencium pipi kiri Sin.


Dengan cepat Bhie berjalan menjauh dari mobil, jantungnya berdegup tidak karuan, wajahnya serasa panas seperti terbakar.


Begitu juga dengan Sin yang berada di dalam mobil, wajah kecewa kini tergantikan dengan senyuman. Sin menyentuh pipinya, terasa hangat dan nyaman. Padahal hanya cium pipi saja tapi sudah senang bukan main.


Saat masuk kamar, Bhie menjatuhkan badannya di atas kasur dengan wajah terbenam di bantal. Jantungnya masih saja tidak karuan, Bhie benar-benar merasa malu. Bisa-bisanya Bhie mencium Sin hanya karena melihat wajah muramnya.


" Astaga Bhientang, apa yang kamu lakukan ? Ingat Bhie, kamu dan Sin berteman, hanya berteman jangan dibawa perasaan. Sin sudah punya pacar, hanya teman " Bhie menasehati diri sendiri.


Tiba-tiba ada pesan masuk di hp Bhie.


'Cepat tidur' pengirim Sin.


Bhie tersenyum melihat isi pesan dari Sin dan ada pesan masuk lagi.


'Selamat tidur dan mimpi indah'


" Astaga, nyuruh cepat tidur tapi dia kirim pesan terus " kata Bhie.


Bhie mengetik hp untuk membalas.


'Sudah mau tidur, hati-hati dijalan'


Begitulah isi balasan Bhie, karena ia tau Sin masih dalam perjalanan pulang, jarak rumah Sin dan Bhie cukup jauh butuh waktu sekitar 20-30 menit, kalau jalanan lancar tidak banyak kendaraan.


Bhie meletakkan hpnya dan segera bangkit untuk mengganti bajunya. Bhie melepaskan jaket dan mengamatinya sambil tersenyum-senyum sendiri, tercium dengan jelas bau parfum yang Sin kenakan.


Bhie suka bau parfum Sin, terasa begitu lembut, sangat enak, tidak terlalu menyengat tapi tetap harum.


Tanpa sadar Bhie mencium jaket Sin, menghirup dalam-dalam bau parfum yang melekat dijaket. Bau yang selalu sama, seperti bau yang menunjukkan ciri khas seorang Sigit Nouval.


( bersambung )


Mohon dukungannya teman-teman terima kasih 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2