
Di dalam mobil, Bhie hanya diam tak bersuara, begitu juga dengan Sin, ia hanya terus mengemudi entah tujuannya mau kemana, Bhie tidak berani bertanya.
Bhie sadar berita mau nikah, pasti cukup membuat diri Sin terkejut, apalagi selama ini tidak ada kabar ataupun desas-desus tentang hubungan Bhie dengan siapapun.
Lama berkendara menyusuri jalan raya tanpa bicara, akhirnya Sin memberhentikan mobilnya dipinggir jalan.
" Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu ? " Sin memulai bicara.
" Sudah " jawab Bhie.
" Kenapa harus dia ? Gak ada lainnya ? " Sin masih tidak percaya.
" Yang dijodohkan papa, dia. Mana ada pilihannya " kata Bhie.
" Tapikan....??? " Sin urung melanjutkannya.
" Dari awal, Raswan sudah menerima perjodohan ini, bahkan jauh sebelum dia melihat orang yang akan dijodohkan dengannya. Saat dia tau orang itu adalah aku, dia masih teguh dengan pendiriannya. Raswan tahu... bagaimana diriku dan dia tidak mempermasalahkannya " Bhie menjelaskan.
" Benarkah ??? " tanya Sin.
" Raswan bilang, jangan dilupakan, cukup kamu kenang. Itu... yang membuat aku yakin, setidaknya aku tidak perlu berpura-pura di depan Raswan " Bhie menjelaskan lagi.
" Hemmm benar-benar menyebalkan " ucap Sin dengan wajah cemberut.
" Kenapa harus laki-laki itu ??? Apa tidak ada laki-laki yang lainnya, yang lebih gentle gitu ? " sambung Sin dengan kesal.
" Kenapa ??? Raswan cukup ganteng, dia gentle menurutku, bahkan dia memberiku kalung. Lihat... cantik kan... " Bhie memperlihatkan kalung di lehernya.
{ kira-kira seperti ini }
" Cuma kalung begitu, aku bisa membelikanmu satu set " Sin meledek.
" Benarkah ??? " Bhie nada menggoda.
" Tentu saja, KECIL " Sin menganggap remeh.
" Baiklah. Kalau begitu, hadiahkan padaku saat pernikahanku nanti ya kak. Aku mau yang segede jari kelingkingku dan ditambah batu permata, pasti kelihatan cantik " ucap Bhie tersenyum.
" Da...sar kamu ya...!!! " Sin tidak bisa komentar.
" Perempuan matre wajar, apa boleh buat " mengangkat kedua tangannya.
" Kamu ini...!!! " Sin mencubit kedua pipi Bhie.
" Em...em...em...em... sa...kit " Bhie meronta.
" Tapi aku masih kesal. Kenapa Raswan yang dapetin kamu " Sin masih tidak terima.
" Harusnya kakak Sin gitu...? " kata Bhie.
" Tentu saja. Harusnya orang yang jadi suamimu itu, lebih dalam segala hal dariku. Ini tidak, wajah standar, pekerjaan belum ada, yang benar saja...!!! " Sin benar-benar kesal.
" Lebih dalam segala hal darimu ??? Tinggi sekali standar adik iparmu kak ??? MANA ADA. Jahat sekali jadi kakak...!!! "kata Bhie.
" Haruslah...!!! Kamu kan, adikku...!!! " kata Sin.
" Emmm... ya lah... suka-suka kakak saja " kata Bhie.
" Mama, sudah kamu kabari ? " Sin mengalihkan pembicaraan.
" Belum. Biar papa saja yang memberitahunya. Kakak Sin kan tau, aku masih belum bisa menerima mama sepenuhnya " kata Bhie.
" Kamu masih benci ? " tanya Sin.
" Tidak. Hanya masih sedikit sakit saja. Kakak sendiri ? " Bhie bertanya balik.
" Sejak kejadian itu... aku hanya fokus bekerja, jadi... selama itu... aku belum bertemu mereka lagi, telepon saja tidak ada, paling ayah cuma telepon Nino " Sin menjelaskan.
__ADS_1
" Jadi... kakak mau hadir... pas lamaranku nanti ? " tanya Bhie.
" Baiklah. Sekalian aku mau interogasi itu Raswan. Berani sekali dia...!!! " Sin memiliki niat tersembunyi.
" Hemmm... tau ah..." kata Bhie.
***
Berita tentang Bhie yang mau menikah, sudah sampai ditelinga Mentari, melalui via telepon dari Ramdan.
Tak ada respon keberatan dari bibir Mentari, hanya saja ia ingin mendengar langsung dari putrinya sendiri.
" Anak ini, kenapa tiba-tiba sekali ? " gumam Mentari.
" Ada apa ? " tanya Nouval.
" Bhientang, mau menikah. Sebentar lagi akan diadakan lamaran " kata Mentari.
" Benarkah ? Tiba-tiba sekali, ada apa ya ? " Nouval tidak percaya.
" Entahlah. Aku mau dengar langsung dari Bhientang " kata Mentari.
" Apa mungkin, ada hubungannya dengan Sin ? Apa anak itu sudah diberitahu ya ? " Nouval bertanya-tanya.
" Mungkin sudah " Mentari menduga.
" Anak itu juga, setelah insiden. Sekarang hanya fokus pada pekerjaan sampai tak ada waktu mengunjungi orang tua sendiri " kata Nouval.
" Siapa yang ditiru ? " Mentari meledek.
" Memangnya, aku begitu ... ? " Nouval tidak merasa.
" Hemmm.... tau ah...." kata Mentari.
***
Tidak ada persaingan khusus menjelang hari lamaran, karena memang cuma diadakan sederhana antar keluarga saja.
" Kakak Sin. Habis ini masih ada kerja ? " Bhie menanyakan saat jam kerja sudah usai.
" Memang ada apa ? " tanya Sin.
" Temani aku... nemuin mama " ucap Bhie lirih.
" Sekarang ??? " Sin bertanya lagi.
" He'eh " Bhie menganggukkan kepalanya.
" Boleh, aku temani " kata Sin.
Sin segera bangkit dari duduknya.dan segera pergi dengan menggandeng tangan Bhie. Saat di depan, mereka berpapasan dengan Nino dan Andika yang sedang mengecek barang yang baru datang.
" No, kamu urus sisanya. Aku mau menemani Bhie ketemu mamanya " kata Sin.
" Baik bos " jawab Nino.
" Bye Nino. Duluan mas Dika " Bhie berpamitan.
" Haahh... ( menghembuskan napas dengan kasar ). Kebiasaan nih si bos " kata Nino.
" Mereka akrab banget ya mas, biar dibilang kakak adik, gak bakalan orang percaya " kata Andika.
" Memang iya. Sayang harus menerima jadi kakak adik, terpaksa " kata Nino tanpa sadar.
" Hem... terpaksa...??? " Andika sedikit heran.
" BAIKLAH kita selesaikan dulu pekerjaannya. Besok... semua urusan... kamu yang selesaikan. JANGAN GANGGU AKU DAN SI BOS kalau tidak penting banget. MENGERTI !!!" kata Nino menjelaskan.
" Baik mas " jawab Andika.
__ADS_1
***
Sementara di tempat ketemuan, sudah duduk berkumpul, Mentari, Nouval, Sin dan Bhie. Mereka semua diam dengan pikiran masing-masing.
" Mama mau bicarakan apa ? " Bhie memulai pembicaraan.
" Kamu sudah yakin, dengan keputusanmu ? " tanya Mentari.
" Apa aku perlu jawab, besok kan, lamaran " jawab Bhie.
" Dengan siapa ? " Mentari pura-pura tidak tau.
" Mama sudah kenal kok. Namanya Raswan, anaknya Om Ridwan teman lama papa. Mendiang ibunya juga teman mama kan " kata Bhie.
" Mereka beneran mewujudkannya ( bergumam ) yang benar saja " kata Mentari.
" Aku tidak perlu menjelaskan lagi, mama bisa menilainya sendiri " kata Bhie.
" Sin, kamu sudah lama tidak mengunjungi kami. Sesibuk itukah pekerjaanmu ? " Nouval mengalihkan pembicaraan.
" Begitulah, seperti yang ayah dengar dari Nino. Aku sibuk mau buka cabang baru lagi " jawab Sin.
" Kalian sengaja, datang berdua ? " tanya Nouval.
" Iya. Sekarang aku karyawan kakak Sin " jawab Bhie.
" Begitu " kata Nouval.
" Bhie masuk mengikuti prosedur yang berlaku, bukan jalur khusus bahkan awalnya ia tidak tau, siapa pemiliknya ( menjelaskan ). Masih ada yang perlu dibicarakan lagi Bhie ? " Sin mengarahkan pandangan ke Bhie.
" Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Kami permisi " Bhie berpamitan.
" Kalian...??? " tanya Mentari.
" Kami sudah saling menerima " jawab Sin.
Mentari dan Nouval, hanya bisa menyaksikan kepergian mereka tanpa bertanya lebih lanjut, walaupun mereka sudah menegaskan saling menerima.
Tapi... kalau melihat sikap mereka, mana ada yang akan percaya.
( Apa Bhientang, sengaja menerima perjodohan ini, sebagai pelariannya ??? ) gumam Mentari dalam hati.
Mentari kembali teringat saat Bhie tiba-tiba menelpon dirinya dan menanyakan keberadaan Sin.
* Saat itu satu Minggu setelah insiden, percakapan lewat telepon.
" Mama tau, kemana Sin pergi ".
" Sin pergi ? Kemana ? " Mentari balik bertanya.
" Aku yang bertanya disini, kenapa mama balik tanya ".
" Mama tidak tau, hubungi saja hpnya " kata Mentari.
" Kalau bisa, sudah aku hubungi. Sin menghilang tanpa kabar, ini sudah seminggu. Teman-teman yang lain, tidak tau pergi kemana. Aku pikir mama tau ".
" Bhientang " ucap Mentari.
" Semua ini salah mama. Sekarang Sin pergi, entah bagaimana keadaannya, padahal kami hanya butuh memahami dan menerima kenyataan. Tapi mama, tidak mau mengerti hal itu, sekarang Sin pergi meninggalkan aku, sesuai keinginan mama "
" Bhientang " ucap Mentari.
Tut...Tut...Tut...
Bhie memutuskan panggilan begitu saja, Mentari hanya terdiam sambil menatap hp yang sudah tak bersuara lagi.
Sementara Bhie di dalam kamar menangis sejadi-jadinya sambil memeluk bantal. Ia sudah tidak tau lagi, bagaimana caranya mencari keberadaan Sin. Bhie hanya bisa menangis untuk mengeluarkan sesak di dalam dadanya.
( Bersambung )
__ADS_1
Terima kasih teman-teman sudah mampir membaca 🙏🤗.