
Keesokan hari sesuai dengan permintaan Bhie. Pagi-pagi sekali mereka berdua sudah berada di taman, tak jauh dari rumah tempat tinggal Sin.
Mereka berdua duduk di bangku taman, setelah beberapa menit berjalan mengelilingi taman.
" Hemmm... udaranya segar banget " Bhie menghirup napas panjang.
" Kita datangnya kecepatan deh, matahari terbit masih lama " kata Sin.
" Helleh, bilang saja masih ngantuk " ledek Bhie.
" Demi dirimu nih...!!! " jawab Sin.
" Kakak..." Bhie melihat ke arah Sin.
" Hem " jawab Sin.
" Kakak tidak apa-apa, aku menikah ? " tanya Bhie.
" Kenapa ? Apa kamu ragu, menjelang harinya ?" tanya Sin.
" Tidak. Aku hanya ingin tau saja. Apa yang kakak rasakan sekarang ini ? " kata Bhie.
" Apa yang aku rasakan sekarang ini ? Hemm... aku pengen bawa kamu kabur. Sejujurnya aku masih kesal, kenapa si Raswan yang dapetin kamu... " kata Sin.
" Jadi, karena orang itu Raswan, kakak kesal ? Kalau orang lain, tidak kesal dong ? " tanya Bhie.
" Ya tergantung sih. Kalau dia lebih dari aku, mungkin aku tidak kesal " jawab Sin.
" Hemmm... mulai lagi deh...!!! " kata Bhie.
" Kamu mengkhawatirkan aku...??? " Sin menggoda Bhie.
" Hem ( sambil menganggukkan kepalanya ). Dulu kakak memiliki banyak pacar, setiap malam selalu bergilir, tapi sekarang, kakak hanya fokus pada pekerjaan, jadi aku pikir...?? " Bhie enggan melanjutkannya.
" Aku masih menyukaimu " kata Sin.
Sin dan Bhie terdiam, mereka hanya saling memandang satu sama lainnya.
" Bohong, jika aku katakan tidak. Sama halnya dengan dirimu yang berusaha, aku pun juga berusaha. Hanya saja kamu lebih dulu menemukan jalannya, sementara aku masih mencari jalan yang sesuai dengan diriku " kata Sin.
" Tapi kakak masih suka perempuan kan ? " tanya Bhie.
" TENTU SAJA ( menjitak kepala Bhie ). Aku masih normal ya...!!! " kata Sin sedikit kesal.
" Auwww.... SAKIT...!!! ( mengusap kepala ). Setelah kakak kembali, aku belum pernah lihat kakak jalan sama perempuan lainnya, makanya aku punya pikiran menyimpang " Bhie menjelaskan.
( Sialan dia mengerjaiku...!!! ) gumam Sin dalam hati.
" Kenapa ??? Malu ya...??? Tapi aku seneng loh, dengar kakak masih menyukaiku..." Bhie meledek.
Diam sesaat.
" Karena aku juga begitu " Bhie menatap serius.
" Raswan tau hal ini, makanya... dia nyuruh aku, untuk membicarakannya denganmu sebagai Bhientang " sambung Bhie.
Bhie tersenyum.
" Ja... di... ??? " Sin terbata.
" Jadi sekarang, yang di hadapanku ini, hanya Bhientang seorang, bukan adikku ? " tanya Sin.
" Hem ( menganggukkan kepalanya ). Hari ini hanya ada Bhientang dan Sigit Nouval, bukan sebagai adik ataupun kakak " jawab Bhie.
Seketika itu juga, Sin memeluk tubuh Bhie dengan erat, Bhie membalas pelukannya, seperti biasa masih terasa nyaman dan hangat.
***
Pada malam harinya, Bhie merebahkan badannya di atas kasur sambil memperhatikan ke sekeliling kamarnya yang sudah nampak rapi dengan hiasan bunga yang tak pernah layu.
( Kamarku sudah kayak taman bunga aja nih, tapi gak ada harumnya ) gumam Bhie dalam hati.
Tok... tok... tok...
__ADS_1
Suara pintu diketok, buru-buru Bhie bangkit dan membukanya.
" Papa, ada apa ? " tanya Bhie.
" Cepatlah tidur, besok kamu harus bangun pagi-pagi sekali " kata Ramdan.
" Iya...!!! " jawab Bhie.
" Putri papa beneran sudah dewasa " Ramdan mengusap kepala Bhie lalu beranjak pergi.
( Apa maksudnya coba...??? ) gumam Bhie karena tidak paham.
Bhie meraih hp nya, mencari kontak Raswan. Ia sudah tidak sabar menceritakan apa yang terjadi hari ini.
{ Percakapan di hp antara Bhie dan Raswan }
" Menungguku...??? " Bhie memulai pembicaraan.
" Hem... GR. Gimana, sudah kamu bicarakan ? "
" Katanya tidak menunggu, tapi langsung tanya ?" Bhie meledek.
" Penasaran saja "
" Iya. Sudah aku selesaikan kok " kata Bhie.
" Trus gimana reaksinya ? "
" Ya begitulah. Perasaan itu masih ada, tapi...??? " ucap Bhie.
" Tapi...??? "
" Dia akan berusaha mengalihkannya dan menerima sepenuhnya. Jadi diantara kita, benar-benar sudah selesai, hanya ada hubungan kakak dan adik " Bhie menjelaskan.
" Syukurlah. Sekarang kamu jadi lega kan ? "
" Hem, begitulah. Makasih ya Ras, kamu sudah mau menerimaku " kata Bhie.
Bhie belum menjawab sudah terputus.
" Ras...??? Hallo Ras ...??? Kenapa ni anak ??? " Bhie merasa bingung.
*Sementara itu di dalam kamar, Raswan membenamkan wajahnya di atas bantal, tak kuasa menahan rasa senangnya.
Padahal hanya mendengar suara melalui via telepon, tapi senangnya bukan main.
( Makasih ya Ras, kamu sudah mau menerimaku. Astaga terdengar manis sekali ) gumam Raswan dalam hati.
*Bhie kembali merebahkan badannya di atas kasur, pikirannya kembali pada kejadian hari ini.
Pada saat itu.
Sepulang dari taman, Sin dan Bhie memutuskan untuk mencari sarapan dan menikmatinya di rumah Sin, sambil nonton film dari kaset DVD.
" Aku menonton film ini tapi... aku tidur di tengah film. Kali ini aku akan tonton sampai akhir " kata Bhie.
" Apa kamu yakin...??? " Sin menggoda.
"Tentu saja. Aku ingat film ini yang kita tonton, saat pertama kali ke rumah ini, kamu menghiburku, saat aku sedih " Bhie bercerita.
" Masih ingat rupanya...!!! " kata Sin.
" Iyalah ingat, gak mungkin lupa " jawab Bhie.
Mereka pun menikmati sarapan sambil menonton, tak banyak pembicaraan saat makan, selesai sarapan hanya perlu mengumpulkan ke dalam kantong plastik dan lempar ke tong sampah. Selesai tidak perlu cuci piring segala.
" Bhie, sini duduk sebelahku " Sin menarik tangan Bhie.
" Ini bagian pas aku mulai tidur ya...? " Bhie mengingat.
" Begitulah. Waktu itu kamu tidur di pundakku, seperti ini " Sin menarik kepala Bhie untuk bersandar ke pundaknya.
" Iya aku ingat. Kamu tau Sin, apa yang waktu itu aku pikirkan...??? " kata Bhie.
__ADS_1
" Apa...??? " tanya Sin.
" Waktu itu, aku berharap punya kakak, hanya dengan bersandar gini aja sudah terasa nyaman " kata Bhie.
" Sialan...!!! Jadi, kamu sendiri biang keladinya " Sin menjitak kening Bhie.
" Aauuww... SAKIT...!!! " teriak Bhie.
" Harapanmu terkabul. Sekarang, aku beneran jadi kakakmu kan...!!! Pakai memohon yang aneh-aneh sih " Sin benar-benar kesal.
" Waktu itu kan, sedang sedih... wajarlah " Bhie membela diri.
" Harusnya, kamu berharap dapat suami aku. Kan, bagus " kata Sin.
" Siapa yang mau...!!! Waktu itu pacarmu banyak pakai banget, mantanmu... berjejer sampai gak bisa dihitung pakai jari. Yang benar saja...!!! " jawab Bhie.
" Hemmm.... Iyakah...??? Perasaanku... biasa saja deh, gak banyak-banyak amat pacarku " Sin menyangkal.
" Hemmm... tau...ah. Maling mana ada yang ngaku " kata Bhie.
" Tapi... aku ingat loh... ada yang pernah bilang... aku ini memang ganteng, makanya banyak perempuan yang jatuh hati padaku " Sin tersenyum-senyum.
" Hem, iyalah, wajahmu memang ganteng. PUAS...!!! " Bhie kalah debat.
" Kalau tidak ganteng, mana mungkin kamu suka aku " Sin mencium bibir Bhie.
"Sin...!!! " Bhie mendorongnya berlahan tubuh Sin.
" Hari ini, hanya ada Bhientang dan Sigit Nouval. Hanya ada hari ini, tidak ada besok dan seterusnya. Hanya hari ini, jadilah Bhientang spesialku " kata Sin.
Sin kembali mencium bibir Bhie dengan lembut dan berlahan. Bhie sangat sadar dengan apa yang dilakukannya saat ini, tapi Bhie juga tidak bisa membohongi perasaannya.
Pada akhirnya mereka tidak fokus pada filmnya.
Hanya hari ini, tidak ada besok dan seterusnya. Hanya hari ini menjadi Sin dan Bhie, melakukan apa yang ingin dilakukan dan menyelesaikan urusan yang harus diselesaikan.
Saat sore hari tiba, maka berakhirlah sudah menjadi Sin dan Bhie yang dahulu, kini kembali Sin dan Bhie, kakak beradik yang terhubung karena pernikahan orang tua mereka.
" Saat aku keluar dari rumah ini, maka aku akan kembali menjadi Bhientang adikmu " kata Bhie.
" Dan aku akan menjadi Sigit Nouval, kakakmu " kata Sin.
" Segala hal yang dahulu biarkan dan cukup kita akhiri sampai di sini. Melangkah bersama-sama ? " Bhie mengulurkan tangan.
" Terima kasih untuk hari ini. Ayo, kita lakukan bersama-sama " Sin menggenggam tangan Bhie.
Sin dan Bhie saling menatap, saling menyakinkan diri sendiri, urusan terdahulu akan berakhir, kita akan menjalani hubungan yang baru.
Satu langkah awal untuk mengakhiri dan memulai, satu langkah awal yang mengubah segalanya, demi kebaikan bersama dan satu langkah awal menuju hubungan yang lebih baik lagi.
" Satu... dua... tiga..."
Sin dan Bhie menghitung bersama. Dalam ucapan tiga, mereka melangkah bersamaan yang diiringi dengan suara tawa keduanya.
Berakhir sudah hubungan yang terdahulu, benar-benar berakhir untuk selamanya. Ada perasaan lega di hati mereka masing-masing.
" Baiklah. Sekarang, kakak Sin, antar aku pulang, ntar kalau dapat omelan dari papaku, setidaknya ada kakak mendampingiku " kata Bhie.
" Gampang, aku tinggal pamitan pulang saja " jawab Sin.
" Kakak...!!! " Bhie cemberut.
" Sudahlah, yuk... pulang " kata Sin.
.
.
.
( Bersambung )
Maaf ya teman-teman 2 bab berikutnya akan menjadi bab terakhir 🙏🤗.
__ADS_1