Zona Nyaman Sebuah Hubungan

Zona Nyaman Sebuah Hubungan
Bab 29


__ADS_3

* Kembali saat setelah kelulusan.


Setelah tamat SMA, Bhie tidak berniat melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah dan hal tersebut memancing perdebatan panjang antara Bhie dan Ramdan ( papanya ).


" Jadi kamu, beneran tidak mau kuliah ? " tanya Ramdan.


" Sudah aku bilang berkali-kali, Bhie tidak mau kuliah. Aku gak minat, aku mau langsung cari kerja " kata Bhie dengan yakin.


" Memangnya kenapa ? Apa kamu khawatir, papa tidak mampu membayar kuliahmu ? " tanya Ramdan.


" Bukan begitu, kan, aku sudah bilang, gak niat kuliah. Namanya gak niat dipaksa kuliah, malah buang-buang uang " kata Bhie.


" Haduuh. Kamu ini kan, cukup pintar. Sayangkan, kalau tidak lanjut kuliah ? " Ramdan terus memaksa.


" Pintar, gak harus kuliah juga Pa " Bhie memberi alasan.


" Haaiiss, kamu ini...!!! " Ramdan kehabisan akal.


" Daripada papa maksa kuliah, mending uangnya papa tabung saja, untuk mahar mama baru " Bhie asal bicara.


" Mama BARU...??? SIAPA yang mau cari mama baru ??? " Ramdan kesal.


" Mama baru buatku lah Pa...!!! " Bhie menggoda sang papa.


" Papa nikah lagi maksudmu ? " kata Ramdan.


" He'eh " Bhie menganggukkan kepalanya.


" PAPA TIDAK MINAT " Ramdan tegas.


" Loch...!!! Kenapa ??? Papa sudah lama menduda, sudah saatnya menikah lagi. Lagian, bosanlah Pa, rumah ini selalu sepi, hanya kita berdua. Cari janda yang ada anaknya Pa, tapi anaknya harus masih kecil, biar aku jadi kakak. Keren nich dipanggil kakak, biar gak saingan dengan kakak Sin " Bhie bicara panjang lebar.


" Kita sedang membahas kuliahmu. Kenapa jadi membahas tentang papa " Ramdan menjewer telinga Bhie.


" Haduch... papa...sa... sakit... sakit ...!!! " rintih Bhie.


" Jangan bicara sembarangan. Papa tidak berniat menikah lagi, jadi... jangan berharap mama baru. Terus, kalau tidak mau kuliah, kamu mau kerja dimana ? " tanya Ramdan.


" Ya cari dululah. Terserah kerja dimana, yang penting dapat kerja, tapi... rencananya aku mau lamar kerja di pertokoan, ya... semacam mini market gitulah " kata Bhie.


" Kamu ini...!!! Benar-benar keras kepala " Ramdan kehabisan kata-kata.


" Aku ini anaknya RAMDAN BINTORO. Apa boleh buat, sudah keturunan...! " Bhie mengucapkan dengan bangga.


Ramdan hanya bisa menggelengkan kepalanya, benar-benar buah jatuh tepat di bawah pohonnya.


Papa dan anak, sama-sama keras kepala, jika punya keinginan, maka akan sangat susah untuk bisa dirubah.


Sesuai dengan keinginannya, setelah ijazah keluar, Bhie melamar pekerjaan dibeberapa tempat, berdasarkan lowongan yang didapat sebelumnya.


Kesabaran Bhie benar-benar diuji, ternyata masuk dalam dunia orang kerja itu, banyak rintangan dan saingan.


Setelah melalui rangkaian proses lamar kerja dibeberapa tempat, akhirnya Bhie diterima kerja, di sebuah swalayan yang cukup besar dan memiliki beberapa cabang.


Tentu saja Bhie senang, harapan masuk dunia kerja kini sudah tercapai, walaupun harus magang terlebih dahulu, sebelum menjadi pegawai tetap.


Tetap saja bahagia dari sekian banyak pelamar pekerjaan, Bhie menjadi salah satu yang terpilih diterima kerja.


Dalam masa magang, Bhie benar-benar banyak belajar, mendapatkan ilmu baru, ilmu yang berbeda, yang tidak ia dapatkan semasa waktu sekolah dulu.


Dalam dunia kerja benar-benar praktek secara nyata bukan hanya sekedar teori tulisan saja.


Otak dan tangan benar-benar harus bekerja dengan baik, kalau dipikir. Helleh... kerja di toko apa susahnya ? Cuma angkat-angkat barang, susun-susun barang, mengecek persediaan barang, enteng ngomongnya, yang ngelakuin belum tentu.


Sesampainya di rumah Bhie merebahkan badannya di atas kasur, badannya benar-benar letih sekali. Hari ini ada pengiriman barang yang tidak kira-kira jumlahnya, berhubung masih pegawai magang, mana boleh protes, harus patuh dengan atasan.

__ADS_1


" Hadechh, capeknya. Cari uang itu benar-benar susah " Bhie bergumam sendiri.


" Baru tau, cari uang itu susah ? " Ramdan tiba-tiba muncul.


" Eh... Papa di rumah " Bhie terkejut.


" Kayaknya, capek banget, sudah diketok berapa kali, sampai tidak dengar " kata Ramdan.


" Begitulah Pa. Tapi tidak apa-apa, karena akhirnya, aku... akan jadi pegawai tetap " kata Bhie.


" Baguslah, kerja yang rajin ya...!!! " Ramdan mengusap kepala putrinya.


" Oo iya. Di rumah gak ada makanan, papa pasti lapar " kata Bhie.


" Papa sudah beli, ayo.. kita makan. Kamu pasti lapar juga kan " kata Ramdan.


" Coba... ada mama baru di rumah, kita gak perlu beli makanan di luar. Papa yakin gak mau cari istri...??? " kata Bhie menggoda sang papa.


" Daripada papa yang cari istri. Kenapa tidak kamu saja yang cari suami, biar kamu tidak perlu kerja " Ramdan balik menggoda putrinya.


" Ha...ha...ha...ha..." Bhie tertawa yang dibuat-buat.


* Sementara di tempat lain.


Nino sibuk mengurusi tumpukan berkas-berkas penting yang memenuhi meja kerjanya, kalau dilihat cuma baca-baca tulisan saja, tapi bisa bikin pusing kepala.


Nino memeriksa daftar pegawai baru dari salah satu cabang, wajahnya nampak senang saat melihat satu nama yang begitu familiar.


( Benar-benar kejutan, si bos harus lihat ini ) batin Nino dalam hati.


***


Seperti biasa sebelum membuka swalayan, semua pegawai sibuk mempersiapkan diri untuk tugas masing-masing.


Tak dirasa, kini sebulan sudah Bhie menjadi pegawai tetap, ditambah masa magang 3 bulan, totalnya 4 bulan sudah dia bekerja.


Namun pagi ini, ada yang tak biasa. Tiba-tiba saja semua pegawai di suruh berkumpul dulu, ada yang mau datang katanya.


( Siapa yang datang ? ) batin Bhie dalam hati.


Alangkah terkejutnya Bhie saat melihat 2 orang familiar, masuk dan diperkenalkan sebagai pemilik dari toko swalayan dari tempatnya bekerja.


( Apa-apaan ??? Ini mimpi atau apa ??? ) gerutu Bhie dalam hati.


Sangking begitu terkejutnya, Bhie sampai tidak konsen dengan apa yang disampaikan di depan, sampai ia disenggol teman sebelahnya.


" Hei, Bhie kamu dipanggil ke depan tuh "


" HAH APA ??? SIAPA ??? " Bhie sadar.


" Kamu dipanggil mas Dika "


" Habis ini, kamu ikut ke ruangan saya " kata mas Dika.


" Baik mas " jawab Bhie.


Entah kenapa, tiba-tiba perasaan Bhie gak enak, ditambah lagi dengan tatapan mencurigakan dari pegawai-pegawai yang lainnya.


( Hadechh mati aku ) gumam Bhie dalam hati.


Saat memasuki ruangan yang dimaksud, benar-benar membuat gugup, jantung berdegup dengan cepatnya, serasa sudah mau copot dari tempatnya.


Sementara 2 orang yang berada di dalam, sudah menunggunya dengan wajah yang riang dan senyum lebar di bibirnya.


" Bos kecil apa kabar ? " Nino langsung menyapa dengan lembut.

__ADS_1


" Aku baik, kalian apa..." kalimat Bhie terpotong.


Belum saja Bhie menyelesaikan kalimatnya, Sin menghampiri dan langsung memeluk tubuh Bhie.


Nino memalingkan wajahnya, rasanya sedikit malu melihat adegan tersebut, terlebih lagi ada orang lain lagi di ruangan tersebut, yaitu Andika yang lebih dikenal dengan mas Dika.


" Kakak apa kabar ? " kata Bhie saat pelukan sudah terlepas.


" Aku baik. Aku kangen sekali denganmu " Sin mengusap pipi Bhie.


" Kakak kurusan ya. Nino juga, kalian sibuk apa sampai kurus gini ? " kata Bhie.


" Ngatain orang, kamu sendiri juga kurusan " Sin membalas perkataan Bhie.


" Tidak perlu heran, Bhientang adalah adiknya si bos " Nino memberitahu pada Andika.


( Bhientang, adiknya pemilik swalayan ini ? ) gumam Andika dalam hati.


" Kalau begitu, saya izin keluar. Sebentar lagi toko akan buka " Andika berpamitan.


" Baiklah " jawab Nino.


Setelah Andika keluar dari ruangan, mereka kembali melanjutkan percakapannya.


" Bagaimana bisa, kamu jadi pegawai di sini ? " tanya Sin penasaran.


" Tentu saja, karena ada lowongan. Tapi... aku beneran tidak tau, kalau kakak pemiliknya " kata Bhie.


" Bos kecil tidak mencari tau dulu ? " tanya Nino.


" Enggak ( menggelengkan kepalanya ). Cuma ada lowongan, terus aku masuk ngikutin prosesnya dan sekarang aku sudah pegawai tetap " kata Bhie bercerita.


" Bos kecil hebat, padahal kalau tanpa proses pun bisa loh " kata Nino.


" Enak saja MANA BOLEH. Tapi sekarang akan ada yang beranggapan begitu deh " kata Bhie.


" SIAPA yang berani ngatain gitu ? Tinggal aku pecat saja, selesai " Sin dengan nada santai.


" Ini nih, contoh bos seenak jidat, pecat pegawai. Kakak mau buat aku tambah buruk di mata pegawai lainnya ? " ujar Bhie.


" Tenang saja, itu tidak akan terjadi. Bos kecil masuk dengan adil, mengikuti prosedur yang berlaku, bukan karena kekuasaan orang dalam. Bos kecil diterima, karena bos kecil memang layak untuk dipilih " Nino menjelaskan.


" Iya sih, tapi... nanti aku bakal ditanya panjang lebar, apa hubunganku dengan kalian " kata Bhie.


" Itu tidak perlu. Aku sudah meminta Andika untuk menjelaskan pada pegawai lainnya, kalau kamu adikku " kata Sin.


" HAH...!!! APA...??? " Bhie meninggikan suaranya karena terkejut.


" Memang iya, kamu adikku. Biar saja mereka pada tau, itu lebih baik " kata Sin.


" Kakak....!!!! " Bhie dengan wajah memelas.


" Mulai sekarang, mohon kerja samanya bos kecil " kata Nino.


" Nino, kamu gak lucu...!!! " Bhie tambah cemberut.


" Siapa yang melucu, bos kecil... " Nino serius.


" TAU AH...!!! Aku mau kerja...!!! " Bhie beranjak pergi.


.


.


.

__ADS_1


( Bersambung )


__ADS_2