
* Cerita sebelumnya.
" BUUKKK " Bhie terjatuh di lantai.
" Aauuww... kesandung apa aku..??? " Bhie merintih.
" Bhie... apa itu kamu...??? " Sin tiba-tiba bersuara.
" Iya, ini aku " jawab Bhie.
Sesaat kemudian lampu menyala menerangi ruangan kamar tersebut. Betapa terkejutnya Bhie melihat keadaan kamar.
Yang banyak berserakan botol bekas minuman dan pembungkus makanan dimana-mana dan ada juga beberapa makanan yang masih utuh belum dibuka.
" ASTAGA. KAMU HABIS MERAMPOK TOKO MANA SIN...??? " Bhie bangkit dari lantai.
Dengan cepat Sin menghampiri Bhie dan memeluk erat-erat tubuh Bhie, tanpa sadar air mata Sin jatuh membasahi pipi.
Bhie membiarkan Sin memeluk dirinya, sesekali Bhie mengusap punggung Sin, setelah puas Sin melepaskan pelukannya.
" Sudah puas...??? " Bhie tersenyum.
" Aku seperti mimpi melihatmu di sini, aku pikir, kita tidak bisa bertemu lagi " kata Sin.
" Kalau begitu, jangan bangun dulu. Kita nikmati saja mimpi ini lebih lama " Bhie menirukan gaya bicara Sin.
" Bhie...!!! Ibu dan ayah sudah menemuimu kan ? " Sin memulai pembicaraan.
" Em ( menganggukkan kepala ). Ayahmu sudah mengatakannya padaku. Sepertinya, kamu juga sudah diberitahu. Bagaimana keputusanmu ? " Bhie memandang Sin.
" Kamu sendiri bagaimana ? " Sin balik bertanya.
Bhie sedikit heran, dengan pertanyaan Sin.
( Apa om Nouval... tidak memberitahunya ? ) batin Bhie dalam hati.
" Apa yang ayahmu, katakan padamu ? " tanya Bhie agar jelas.
" Ayah hanya memastikan perasaanku padamu" jawab Sin.
" Hanya itu ...??? " Bhie heran.
" Iya. Memangnya ayahku, bicara apa padamu ?" kata Sin.
" Mama dan ayahmu, memintaku putus hubungan denganmu " kata Bhie.
" Lalu apa jawabanmu ...??? " tanya Sin.
__ADS_1
" Tentu saja aku menolaknya ( dengan tegas ) karena kamu spesial buatku " jawab Bhie.
" Bhie..." kata Sin.
" Aku tau perasaanmu padaku bagaimana, dan.. tak diragukan lagi, kamu benar-benar sayang padaku, kamu menghargaiku dan semua itu tulus. Aku juga sayang padamu Sin " Kata Bhie.
Bhie berhenti sejenak.
" Jadi... bisakah kamu menerimaku sebagai adikmu...??? Kakak...!!! " sambung Bhie.
Mendengar perkataan Bhie, Sin hanya diam terpaku.
Apa yang dikatakan benar, kini mereka kakak beradik karena pernikahan orang tua mereka.
Dalam hal ini tidak ada yang salah, baik Sin, Bhie, maupun orang tua mereka. Yang ada hanyalah cinta datang disaat yang tidak tepat.
" Aku tidak mau putus hubungan denganmu, karena aku memilih menjadi adikmu, dengan begitu, aku bisa terus menyayangimu sampai kapan pun sebagai keluarga " kata Bhie.
" Menurutku itu lebih baik daripada aku putus hubungan dan meninggalkanmu " sambung Bhie.
Sin terdiam sambil memandang wajah Bhie yang tertunduk menghadap ke lantai.
( Bhie menerima kenyataan ) gumam Sin dalam hati.
" Baik. Tapi... kamu harus memanggilku kakak Sin " Sin mencoba untuk tersenyum.
" Malam ini temani aku menonton film. Seharian ini aku kebanyakan tidur, jadi... aku mau begadang sampai pagi dan aku tidak mau sendirian " kata Sin.
" BOLEH. Tapi... makanan di sana, semuanya untukku " Bhie sambil menunjuk tumpukan makanan ringan.
" Tentu saja. Aku bisa meminta Nino membelikan lagi, jika masih kurang " Sin dengan nada sombongnya.
" KEREN...!!! " Bhie mengacungkan jempolnya.
Pada akhirnya, mereka menerima kenyataan bahwa mereka kakak dan adik, itu lebih baik daripada memutuskan hubungan dan berpisah.
Walaupun demikian hubungan Bhie dan mamanya belum juga membaik, Bhie belum bisa memaafkan sepenuhnya atas perbuatan mamanya di masa lalu.
Mungkin nanti...??? Lain waktu jika hati Bhie sudah tidak dipenuhi dengan sakit hati dan kebencian.
***
Beberapa bulan kemudian
Rumah Bhie nampak ramai dengan orang berlalu lalang, sibuk dengan kegiatan masing-masing, mempersiapkan acara pernikahan.
Yaapps bener banget.
__ADS_1
Hari ini adalah hari pernikahan Bhientang dengan......?????
JENG....JENG...!!!
KOK BISA....????
" Bhie bangun nak..." Ramdan mengguncang tubuh putrinya.
" Emmm " Bhie menggeliat.
" HEI... BANGUN...!!! " Ramdan mengulangi.
" Emmm... Bhie ... ba-ngun " Bhie menguap.
Bhie menggosok-gosok mata, kemudian diraih hpnya dan melihat jam.
Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi dan hal tersebut justru membuat Bhie sedikit kesal.
" Yang benar saja, jam segini sudah dibangunin, ini masih terlalu pagi pa..." Bhie protes.
" Memang iya. Hari ini, hari pernikahanmu, memangnya kamu tidak bersiap-siap dandan yang cantik " kata Ramdan.
" Acaranya jam 10 pagi pa, emangnya mau dandan bagaimana sampai 5 jam. Aku mau tidur lagi..." Bhie hendak merebahkan badannya.
" Eeehhh...!!! TIDAK BISA...!!! Sudah bangun, mau tidur lagi, TIDAK BOLEH...!!! " Ramdan menahan putrinya.
" Bhie masih ngantuk pa... semalam kurang tidur..." Bhie memberi alasan.
" Salah sendiri tidak tidur cepat. SANA MANDI...!!! Sebentar lagi orang salon akan datang. Ini hari pentingmu, jangan buat kesalahan, CEPAT MANDI...!!! " Ramdan menegaskan.
" IYA...!!! ( malas berdebat lagi ). Hari pernikahan ya ...??? Justru karena ini hari penting, semalam susah tidur. Apa... si xxxxxx juga ya...??? " Bhie senyum-senyum sendiri.
.
.
.
( Bersambung )
Maaf teman-teman bab kali ini pendek lagi 🙏 karena jika saya sambung ceritanya akan sangat panjang.
Silahkan teman-teman menebak, kira-kira dengan siapa Bhie akan menikah ??? 🤔🤔🤔
Saya tegaskan kembali teman-teman cerita saya berurutan jadi akan terasa gak nyambung jika terlewat 1 bab.
Terima kasih atas dukungan teman-teman 🙏🤗🤗
__ADS_1