Zona Nyaman Sebuah Hubungan

Zona Nyaman Sebuah Hubungan
Bab 16


__ADS_3

*Cerita sebelumnya


Angela berbisik di telinga Bhie, menjelaskan maksud dari c*pang yang mereka bicarakan. Mata Bhie melebar mendengarkan penjelasan dari Angela, kini ia baru sadar pantas saja tadi mereka menertawakannya.



" Paham kan, sekarang ? " tanya Angela.


" Hem, paham " Bhie menganggukkan kepalanya.


" Kalian bicarakan apa sih ? seru banget ? " Sam tiba-tiba muncul entah darimana.


" Ini loh Sam, kita lagi bahas tentang..." kata Raswan.


" Jangan dikasih tau...!!! " Bhie memotong pembicaraan.


Bayu membisikkan sesuatu pada Sam, yang membuat Sam tidak tahan juga untuk tidak tertawa.


" Astaga Bhie. Kamu beneran baru tau ? " Sam meledek.


" Tertawalah kalian sampai puas " Bhie kesal.


" Gak apa-apa, anggap saja nambah pengetahuan. Bhie kamu ini beneran masih kecil ya...!!! " kata Sam.


" Ya ledek saja terus " Bhie tambah kesal.


Berdasarkan yang dijelaskan Angela, kini Bhie baru menyadarinya, kalau tanda merah dilehernya ini beneran c*pang dan pelakunya adalah Sin.


(Pantas saja tadi terasa sakit) pikir Bhie dalam hati.


Tapi ada bagusnya baru mengetahuinya, dengan begini teman-teman jadi percaya kalau tanda merah disebabkan oleh gigitan serangga.


" Bhie nanti kamu pulang sama siapa ? " tanya Sam.


" Pulang sendiri lah, kan aku bawa motor " kata Bhie.


" Iya juga ya, gak bisa sama-sama karena beda arah " kata Raswan.


" Ceritanya kalian mengkhawatirkan aku nich?" goda Bhie.


"Tak perlu khawatir, aku akan mengantar bos kecil sampai rumah " kata Nino tiba-tiba datang.


" Yang benar ? " kata Sam dan Raswan bersamaan.


" Tentu saja " kata Nino.


" Gak perlu. Aku yang akan menemani Bhie pulang sampai rumahnya " kata Bayu.


" Sudah jangan debat. Aku akan pulang bareng Nino saja, lagipula Bay, kalau kamu antar aku dulu, kamu mutar-mutar di jalan, bisa sampai subuh baru sampai rumahmu " kata Bhie.


" Tapi Bhie ...??? " kata Bayu.


" Pilihan yang terbaik titik " Bhie menegaskan.


" Aku setuju dengan Bhie, menurutmu Sam ?" Raswan melihat ke arah Sam.


" Harusnya aku yang antar Bhie pulang, tapi aku sudah janji mau bermalam di sini. Yang penting Bhie aman sampai rumah, terserah dengan siapa " kata Sam.


" Dasar tukang pamer ...!!! " Raswan pergi karena kesal.


" Jangan macam-macam dengan Windy " Bayu memperingatkan Sam.


__ADS_1


" Kalian kenapa Sih ? " Sam merasa bingung.


" Ck...ck...ck....!!! Dasar gak peka. Ayo Nino kita pergi makan dengan Sin dan lainnya " Bhie menarik Nino menjauh.


" Heii...!!! Kalian...!!! " Sam masih bingung.


Malam semakin larut suasana pesta semakin meriah, semua tamu undangan nampak menikmati jalannya acara. Waktu sudah menunjukkan pukul 01.10 , saat acara pesta ultah Windy berakhir. Para tamu undangan sebagian sudah pada pulang, tinggal orang-orang yang cukup dekat saja yang masih bertahan.


Setelah berpamitan dengan Windy dan Sam, Bhie juga memutuskan untuk pulang. Janjiannya pulang bareng Nino tapi kenyataannya, justru duduk manis di dalam mobil bersama Sin.


" Kamu kenapa ? Gak suka pulang denganku ?" Sin memecahkan keheningan.


" Bukan. Hanya kasihan pada Nino, harus bawa motorku. Kamu ini cukup tega juga ya ??? " Bhie menyindir Sin.


" Lebih kasihan lagi kalau kamu yang bawa motor sendirian, ini sudah lewat tengah malam. Jadi Nino adalah pilihan yang pas " kata Sin.


" Hem, alasanmu saja itu. Tapi ngomong-ngomong Nino mana ? kok gak kelihatan ? " Bhie menoleh ke belakang.


" Aku suruh pulang duluan ke rumah, karena aku mau menunjukkan suatu tempat ke kamu" kata Sin.


" Tunggu dulu, kenapa baru bilang sekarang ?" Bhie protes.


" Sengaja. Dengan begini mau gak mau, kamu jadi setuju. Tempatnya masih rada jauh, kamu bisa tidur sebentar kalau mengantuk. Nanti aku bangunkan kalau sudah sampai, ada selimut di belakang biar gak dingin " kata Sin.


" Kamu benar-benar sudah menyiapkan ya, sampai ada selimut segala " kata Bhie.


" Anggaplah seperti itu " kata Sin.


" Memangnya kita mau kemana ? " tanya Bhie.


" Melihat matahari terbit " kata Sin.


" Baiklah. Kalau gitu aku mau tidur, kamu gak apa-apa aku tinggal tidur ? " tanya Bhie.


Bhie merapatkan selimutnya, menyandarkan kepalanya dan mulai menutup mata. Sin sesekali melirik untuk melihat, apakah Bhie sudah benar-benar tidur apa belum. Setelah beberapa saat Bhie sudah nampak tertidur, suara napasnya juga mulai terdengar pelan dan teratur. Pandangan Sin kembali fokus ke jalanan, mengemudi saat malam walaupun jalanan sepi dari kendaraan lainnya tapi tetap saja harus waspada.


Sesampainya di tempat tujuan, nampak Bhie masih tidur dengan pulasnya. Sin menatap wajah Bhie, diperhatikannya dengan seksama.


(Masih imut saja) batin Sin.


Sin mengusap kepala Bhie dan membelai rambut Bhie yang terikat.


" Kamu ini benar-benar tidak waspada, biar bagaimanapun aku ini normal " kata Sin lirih.


Sin menggandeng tangan Bhie menuntunnya berjalan, keadaan masih gelap gulita, mereka harus hati-hati dalam melangkah dengan bantuan cahaya senter dari hp.


Terdengar suara deburan ombak yang semakin lama semakin jelas, yang menambah udara semakin terasa dingin. Dan benar saja, tak lama kemudian mereka di tepi pantai yang sepi banget, karena hanya ada mereka berdua.


" Bukannya kita mau melihat matahari terbit, kenapa malah ke pantai ? Bhie bingung.


" Melihat matahari terbit dari pantai ini cukup bagus, tidak banyak orang tau pantai ini, makanya sepi " kata Sin.


" Tentu saja sepi, ini masih pagi-pagi buta dan pantai ini juga jauh dari pemukiman. Astaga dinginnya " Bhie merapatkan selimutnya.


" Ayo duduk di sana " Sin menarik Bhie menuju sebuah batang kayu yang tergeletak.


Mereka duduk bersebelahan, memandang pantai yang masih gelap gulita. Bhie membuka selimut yang dikenakannya dan menutupkan ke badan Sin.


" Dengan begini kita sama-sama hangat " kata Bhie tersenyum.


" Aku pikir kamu tidak mau berbagi denganku" ledek Sin.


" Ini pertama kalinya, aku pergi ke pantai pagi-pagi buta hanya untuk melihat matahari terbit dan dengan pacar orang pula " kata Bhie.

__ADS_1


" Kamu benar-benar pintar merusak suasana, jangan bawa-bawa pacar lagi. Aku hanya ingin menikmati momen ini cukup aku dan kamu " Sin melingkarkan tangannya di pinggang Bhie.


" Perlu digaris bawahi karena terpaksa " Bhie mengingatkan.


"Biarkan saja yang penting sekarang aku bisa berduaan denganmu lebih lama. Emmm nyamannya " Sin menyandarkan kepalanya di pundak Bhie.


" Tidurlah sebentar, pasti kamu juga mengantuk" kata Bhie.


" Bhie " kata Sin.


" Hem " kata Bhie.


" Apa kamu sudah bertemu lagi dengan mamamu ? " tanya Sin.


" Belum. Kenapa ? Kok tiba-tiba tanya tentang mamaku ? " kata Bhie sedikit terkejut.


" Aku hanya penasaran, bagaimana rupa mamamu. Pasti mamamu cantik sama sepertimu " kata Sin.


" Tentu saja cantik, kan perempuan " kata Bhie.


" Aku juga tau itu. Kamu tau Bhie, pertama kali aku ke pantai ini, datang bersama ibuku, pantai ini menjadi tempat piknik rahasia. Ibuku ingin sekali melihat matahari terbit dari pantai ini tapi sayang keinginannya tidak terwujud " kata Sin.


" Kenapa ? " tanya Bhie.


" Karena sepulang dari pantai ini, kami mengalami kecelakaan dan merenggut nyawa ibuku. Butuh waktu sangat lama untuk datang kembali ke pantai ini dan hari ini aku datang untuk pertama kalinya " kata Sin.


" Apa hari ini ??? " Bhie tidak melanjutkannya.


" Bukan. Bukan hari kecelakaannya. Aku hanya ingin bersamamu lebih lama dan aku teringat pantai ini, makanya aku ajak kemari, sekalian mewujudkan keinginan ibuku yang belum terwujud " kata Sin.


" Apa kamu iri padaku ? karena aku masih memiliki mama ? " tanya Bhie.


" Tidak. Aku hanya ingin mengatakan kamu harus berdamai dengan mamamu, sudah terlalu lama kamu simpan sakit hatimu itu. Jika kamu simpan lebih lama lagi akan menjadi penyakit di hatimu dan itu berdampak tidak bagus untuk dirimu " kata Sin.


" Entahlah Sin, aku bingung harus berbuat apa. Jika aku menerima mama kembali itu akan sangat tidak adil bagi papa dan pasti akan menyakiti papa. Dalam hal ini papa adalah orang yang paling tersakiti, seperti yang kamu tau, sampai sekarang papaku tidak menikah lagi, itu karena hati papa benar-benar hancur " kata Bhie.


" Apa kamu pernah bertanya pada papamu ? Bisa saja papamu tidak menikah lagi, itu karena kamu, takut kalau kamu tidak bisa menerima orang lain untuk menjadi mama sambungmu. Kamu tau Bhie, ada kalanya lebih baik berpisah dari pada bersama tapi saling menyakiti. Dengan berpisah mereka tidak akan saling menyakiti lagi, walaupun saat berpisah, mereka juga tersakiti. Sakit di awal untuk kebahagiaan yang akan datang di masa mendatang " Sin menjelaskan.


" Enggak terlalu paham " Bhie masih mencerna.


" Pikirkan saja, nanti juga paham, intinya kamu harus berdamai dengan mamamu. Mamamu juga tersakiti dalam hal ini, bukan hanya dirimu saja. Dan kalau papamu menikah lagi, kamu harus menerima dengan baik, karena tidak semua ibu tiri itu jahat " kata Sin.


" Sok tau ...!!!! " kata Bhie.


" Tentu saja tau, karena setelah 1 tahun ibuku meninggal, ayahku menikah lagi. Ibu tiriku sangat baik, wanita yang anggun, seanggun ibuku " kata Sin.


" Berarti kamu beruntung, tapi Sin kasusmu dan kasusku itu berbeda, mana bisa disamakan. Aku tidak pernah membayangkan papa menikah lagi, aku tidak berani bertanya, bahkan aku tidak memberitahu papa kalau mama datang menemuiku " kata Bhie.


" Jadi papamu gak tau ? " tanya Sin.


" Enggak, kan aku gak cerita. Aku takut kalau aku cerita nanti papa akan khawatir dan mengganggu pikiran papa, kan bahaya bagi pekerjaan papa " kata Bhie.


" Kamu mau menderita sendiri ? " tanya Sin.


" Enggaklah, buktinya aku cerita ke kamu dan Sam. Sekarang aku juga baik-baik saja, walaupun mama menyakitiku tapi aku punya papa dan kalian yang menyayangiku, itu juga keberuntungan " kata Bhie.


" Termasuk diriku ? " tanya Sin.


" Iya termasuk Sigit Nouval yang ada di sampingku sekarang ini " kata Bhie sambil tersenyum.


( Bersambung )


Bagi teman-teman yang mau memberi kritik dan saran dipersilahkan, agar ke depannya tulisan saya lebih baik lagi, terima kasih 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2