
* Cerita sebelumnya.
" TAU AH...!!! Aku mau kerja " Bhie beranjak keluar.
Seperti dugaannya setelah keluar dari ruangan, Bhie menjadi pusat perhatian para pegawai, merekapun mulai berbisik-bisik membicarakannya.
( Hemmm, benarkan, dugaanku ) gerutu Bhie dalam hati.
Pembicaraan para pegawai makin menjadi kala Sin dan Nino terus menempel dengan alasan hanya ingin membantu pekerjaan.
Bhie benar-benar dibuat pusing dengan kelakuan mereka berdua, mau marah gak bisa, karena biar bagaimanapun mereka adalah atasannya, ditahan kok nyesek ya ???.
Seharian kerja jadi gak tenang, pengen rasanya cepat berakhir tapi... dalam hati Bhie sedikit senang melihat Sin sudah baik-baik saja dan dapat tersenyum kembali.
Bhie kembali teringat saat terakhir, dirinya bertemu dengan Sin.
Setelah mereka saling menerima kenyataan dan memutuskan untuk menjadi kakak beradik.
* Kala itu
Sesuai permintaan Sin, sepanjang malam, mereka menghabiskan waktu bersama dengan menonton film.
Pengennya sepanjang malam, namun kenyataannya di pertengahan film, Bhie sudah tertidur dan saat terbangun ia mendapati sepucuk surat.
Bukan hanya Sin yang pergi, bahkan Nino juga ikut serta. Tidak ada yang tau, kemana mereka pergi dan keberadaan mereka.
Bahkan saat Bhie memberanikan diri bertanya kepada mamanya sekalipun, hasilnya sama saja. Ditambah lagi nomor hp mereka tidak bisa dihubungi juga.
Hingga suatu hari Bhie dapat sebuah paket tanpa nama pengirim saat kelulusannya. Saat membuka paket tersebut, berisikan sebuah gaun cantik yang bukan gaya Bhie banget dan sebuah surat.
{foto gaun saya ambil dari Google
Bhie tersenyum lebar saat membaca surat tersebut, kini ia tau siapa pengirimnya. Bhie meraih gaun cantik seraya berkata.
" Kakak sengaja meledek aku ya ...! ( Bhie tersenyum ). Setidaknya sekarang aku tau, kamu baik-baik saja dan sudah menerimaku sebagai adikmu " gumam Bhie.
* Kembali ke tempat kerja Bhie saat ini.
Bhie akhirnya bernapas lega, kini sudah saatnya jam pulang. Seharian ini benar-benar serasa sangat panjang dan sangat melelahkan hati.
( Akhirnya selesai hari ini, saatnya pulang ) gumam Bhie dalam hati.
" Bhientang " panggil Andika.
" Iya mas, ada apa ? " Bhie berbalik badan.
" Kamu beneran adiknya bos Sigit ( Sin ) ? Bukannya aku ragu, hanya saja..." Andika berbicara pelan.
" Penasaran ? " Bhie menebak.
" Iya. Mas Krisna ( Nino ) juga nampak segan denganmu " kata Andika.
" Hemmm. ( menarik napas panjang sejenak ). Aku menjadi adik, karena pernikahan orang tua kami, mamaku dan ayahnya Sin, menikah sudah dari bertahun-tahun yang lalu. Tapi selama ini aku tidak pernah tau, kalau Sin pemilik dari swalayan ini. Karena pada dasarnya hubunganku dengan mamaku, memang sedikit kurang baik " Bhie menjelaskan.
" Jadi begitu, pantas...!!! " kata Andika.
" Pantas tidak mirip, ya mas ??? " kata Bhie.
" Begitulah..." kata Andika.
" Jadi... mas gak perlu sungkan, perlakukan aku sama seperti pegawai yang lainnya. Saat bekerja ya hanya ada pegawai dengan atasan, yang keluarga itu cuma orangnya saja, urusan pekerjaan dan uang itu lain ceritanya " kata Bhie.
" BHIE...!!! Ayo pulang. Aku sudah gak sabar mau ketemu Om Ram " Sin memanggil.
" Duluan ya mas Dika " Bhie berpamitan.
__ADS_1
Andika memandang kepergian Bhie dengan perasaan kagum.
( Dia benar-benar dewasa, pantas saja bos Sigit dan mas Krisna begitu perduli dengannya ) gumam Andika dalam hati.
Sesampainya di rumah Bhie, mereka duduk berbincang-bincang dengan Ramdan, saling menanyakan kabar karena sudah lama tidak bertemu.
Tidak berapa lama kemudian Bhie ikut bergabung dengan membawa teh dan sedikit camilan biskuit.
" Kalian berdua sudah lama tidak main ke sini. Pasti sibuk ya, dengan pekerjaan kalian ? " tanya Ramdan.
" Begitulah om, kami sedang mengurus cabang di luar kota " jawab Sin.
" Papa tau. Ternyata kakak Sin pemilik swalayan tempatku bekerja. Jadi mereka berdua ini atasanku " kata Bhie.
" Oh ya... bagus dong " kata Ramdan.
" Bagus apaan...!!! bikin stress iya...!!! " kata Bhie.
" Ya baguslah. Kalian bisa lebih akrab lagi sebagai kakak beradik, buktikan walaupun saudara tiri tapi, bisa akur dan saling menghargai " Ramdan menasehati.
" Iya om. Awalnya saya juga terkejut, waktu Nino memberi tau, kalau Bhie bekerja di swalayan. Saya pikir Bhie akan kuliah dulu " kata Sin.
" Sudah om suruh kuliah tapi, dia tidak mau, tetap kekeh mau kerja. Sekarang baru dia rasa, capeknya kerja " kata Ramdan.
" Namanya juga gak niat, mau di apa...??? " jawab Bhie.
" Tapi, bos kecil kerjanya bagus kok om, dari sekian pelamar, bos kecil satu-satunya perempuan yang diterima " sambung Nino.
" Benarkah...? Jadi, cuma dia sendiri yang perempuan ? " tanya Ramdan.
" Seangkatan lowongan kemarin Pa " Bhie menjelaskan.
" Ohh gitu. Kirain cuma kamu sendiri perempuan. Ayo, diminum tehnya " Ramdan mempersilahkan minum.
***
Pada malam harinya, saat Bhie sedang asyik menonton siaran TV. Tiba-tiba saja Ramdan mematikan TV, seraya berkata.
" Bhie, Papa mau bicara " kata Ramdan.
" Papa lihat, selama ini, laki-laki yang datang ke rumah, tidak ada yang kamu kenalkan sebagai pacar ? " kata Ramdan.
" Memang tidak punya pacar. Ehh... tunggu... apa maksudnya ini ??? " Bhie mulai curiga.
" Papa ingin mengenalkan seseorang padamu " Ramdan berterus terang.
" Jangan bilang...??? " Bhie menduga-duga.
" Papa ingin menjodohkanmu " kata Ramdan jelas.
" MENJODOHKAN ??? " Bhie meninggikan suaranya.
" Sewaktu muda dulu, papa punya teman bermain yang sangat akrab, seperti saudara sendiri. Lalu, kami membuat janji, kalau kami punya anak nanti, kita akan menikahkannya, supaya bisa menjadi keluarga yang sebenarnya" Ramdan menjelaskan.
Mendengar penjelasan dari sang papa, Bhie merasa seperti pernah dengar cerita yang sama, tapi sayangnya Bhie tidak mengingatnya siapa dan dimana ia pernah mendengarnya.
" Papa sengaja memberitahu kamu sekarang ini, toh selama ini, kamu juga tidak pernah pacaran " kata Ramdan.
" Kalau... aku punya pacar... gimana ? " Bhie mencari alasan.
" Kalau kamu punya pacar, papa akan mempertimbangkannya, kalau kamu mau cari sekarang, JANGAN...!!! " kata Ramdan.
" Emm... ini sih... melarang namanya..." Bhie protes.
" Kalau baru mau cari pacar, sama saja bohong. Besok malam, kita akan ketemuan dengan temannya papa itu dan kalian bisa saling kenalan " kata Ramdan.
" Papa... sudah bertemu, dengan dia ? " tanya Bhie.
" Calon jodohmu itu...??? Sudah. Waktu dia kecil dulu. Kalau sekarang, baru mau lihat besok, pas ketemuan " kata Ramdan.
PLEETTAAAKKK...!!!
__ADS_1
Serasa ada yang memukul jidat Bhie dengan keras. Bagaimana mungkin, mau menjodohkan anak sendiri tapi... diri sendiri belum lihat sosok calon mantunya ?.
( Hadechh, benar-benar dehh ) gumam Bhie dalam hati.
***
Keesokan malam sesuai dengan kesepakatan, mereka janji akan bertemu di sebuah rumah makan, yang sudah ditentukan. Sepulang kerja, Bhie bergegas pergi dengan sangat terburu-buru dikarenakan sudah terlambat.
Dengan setengah berlari Bhie menuju rumah makan tersebut, sangking terburu-burunya, Bhie sampai tidak sadar penampilannya berantakan tidak karuan.
" Maaf Pa, telat...! " Bhie dengan napas yang tersendat-sendat.
" Haaiiss, kamu ini...!!! " Ramdan menggerutu.
" Di tempat kerja, ada pengiriman barang, jumlahnya lumayan, jadi... pada telat pulang " Bhie merapikan penampilannya.
" Ini temanya papa, namanya Ridwan " Ramdan memperkenalkan.
" Saya Bhientang. Maaf terlambat Om " kata Bhie.
Bhie mengulurkan tangan dan kemudian mencium punggung tangan Ridwan. Memang begitu, tata krama untuk menghormati orang tua.
" Bhientang sudah besar ya, tambah cantik " puji Ridwan.
" Terima kasih " Bhie tersenyum.
" Ada yang lebih terlambat lagi. Tuh lihat... " Ridwan menunjuk ke arah yang dimaksud.
Jari telunjuk Ridwan, mengarah pada seorang laki-laki, yang sedang berjalan. Bhie merasa laki-laki tersebut nampak seperti orang yang dikenalnya, hanya saja nampak sedikit berbeda, karena potongan rambut yang pendek.
Awalnya hanya mirip tapi... saat semakin dekat, lebih dekat dan ternyata itu memang dia. Bhie hanya bisa tersenyum-senyum sendiri untuk menahan tawa, begitupun laki-laki yang ada dihadapannya sekarang ini.
Ramdan yang juga mengenalinya, menatap wajah putrinya, untuk memastikan kalau yang dilihatnya ini, memang orang yang sama.
" Ini putramu, Ridwan ...??? " tanya Ramdan.
" Kenalkan ini putraku, Raswan " Ridwan memperkenalkan.
" Kalau Raswan, aku sudah kenal lama, dia ini loh sering datang main ke rumah " kata Ramdan.
" Om Ram... " Raswan mencium punggung tangan Raswan.
" Kami sudah berteman lama Om, iyakan Ras " kata Bhie.
" Iya. Jadi... teman ayah itu Om Ramdan " kata Raswan.
" Begitulah. Takdir memang membawa kita jadi besan Ram, bahkan anak-anak kita sudah saling mengenal, tanpa kita yang mengenalkan" kata Ridwan.
" Sepertinya begitu, kalau jodoh tidak kemana. Akhirnya jadi juga kita besanan " kata Ramdan.
Nampaknya mereka tidak bisa menyembunyikan rona bahagia di wajah kedua sahabat ini.
Sementara itu yang muda-muda ini hanya bisa saling melempar senyuman antara percaya atau mimpi.
" Karena mereka sudah saling kenal, bagaimana kalau kita tentukan tanggalnya " Ridwan mengutarakan idenya.
" Boleh juga..." kata Ramdan.
" Jangan dulu ayah. Biarkan kami saling kenal dulu, lagipula kita belum mendengar keputusan Bhie " Raswan memotong pembicaraan.
" Iya juga ya, ayah sampai lupa, sangking senengnya. Jadi... bagaimana Bhientang ? " kata Ridwan memandang Bhie.
Bhie tidak langsung menjawabnya, kini Bhie jadi teringat. Dulu Raswan pernah berkata gak bisa dan gak boleh pacaran.
Raswan sudah menerima perjodohan ini dari awal, karena dia menghargai dan percaya dengan pilihan orang tuanya, walaupun dia sendiri belum pernah ketemu dengan orang yang dijodohkan sebelumnya.
Bhie juga ingat, dirinya pernah meledek Raswan, dengan mengatakan sangat aneh dan seperti tidak mungkin. Tapi... Raswan tetap yakin dan percaya, kalau hal tersebut adalah pilihan yang terbaik untuk dirinya.
.
.
__ADS_1
.
( Bersambung )