
Sekarang ini di dalam mobil, Bhie bersandar di pundak Sin. Pikirannya masih melayang pada pertemuan barusan. Bhie menarik napas panjang dan menghembuskan pelan-pelan.
" Kamu kesal ??? " tanya Sin.
" Entahlah kak, kirain bakalan dikasih hadiah atau apa gitu. Ehhh... cuma ditanyain, yakin apa enggak " Bhie cemberut.
" Kecewa gak dapat hadiah ceritanya ??? " Sin meledek.
" Paling enggak, kasih uang kek seikat gitu, kan, lumayan bisa nambahin tabungan " kata Bhie.
" Astaga kamu ini, mengharap uang ke salon, perawatan. Lah ini nambahin tabungan " kata Sin.
" SALON ??? PERAWATAN ??? Cuma lamaran, gak usah berlebihan. Kayak gak tau aku saja !!!" Bhie tambah kesal.
" Besok harinya kan ??? " Sin tersenyum lebar.
" Hemm... ( tatapan curiga ). Men-cu-ri-ga-kan. Pasti ada udang dibalik tepung terigu ini ??? " kata Bhie.
" Tepat sekali. Bakal aku potong-potong, aku jadikan adonan bakwan " kata Sin.
" Hemmm terserahlah. Ayo cari makan dulu, aku lapar... tapi bungkus saja, makan di rumah dengan papa " kata Bhie.
" Baiklah kita cari makanan " kata Sin.
Bhie hanya tersenyum melihat Sin, saat di tempat kerja, dia adalah atasannya, tapi di luar jam kerja dia kembali hanya Sin saja.
Tak ada jabatan, tak ada atasan dan pegawai, tak perlu jaga sikap, cukup menjadi diri sendiri. Walau terkadang terdengar bisik-bisik gunjingan beberapa pegawai yang meragukan hubungan mereka.
***
Keesokan hari acara lamaran Bhie berlangsung dengan lancar tanpa ada hambatan, rona bahagia terpancar di wajah kedua orang tua ( Ramdan dan Ridwan ).
Bhie memandangi cincin di jari manisnya, lamaran sekaligus tukar cincin.
( Raswan benar-benar menyiapkan semuanya ) gumam Bhie dalam hati.
" Gak usah dilihatin terus, gak bakalan lepas " ledek Sam.
" Paman meledekku ya...??? " kata Bhie.
" Bhie selamat ya !!! " Angela memeluk Bhie.
" Belum nikahan kali, sudah selamat saja " jawab Bhie.
" Bener belum nikah. Kamu masih ada waktu panjang untuk berfikir lagi. Semoga saja berubah pikiran " kata Bayu.
" Hemm, bener banget. Semoga kamu dapat pencerahan trus berubah pikiran " imbuh Juli.
" Semoga saja begitu " Sin tiba-tiba ikut gabung bicara.
" Tuch kan... kakakmu saja setuju. Baiknya kita apakan ya...??? " kata Bayu.
" Kita hajar dulu, gimana ...??? " Sin tersenyum sinis.
" Boleh tuh...!!! " Juli ikutan setuju.
" Jangan lupakan aku..." Sam juga ikutan.
" Hei... hei... hei...!!! Kayaknya, ada... yang aneh dech... Sejak kapan kalian semua jadi kompak gini ??? " Bhie curiga.
" Jangan lihat aku begitu....!!! Aku gak ikutan " Ian menyangkal.
" Sejak kapan ya...??? Em... Entahlah...!!! " kata Sin.
" Kita sebagai kakak sepupu, harus memastikan dulu, apakah Raswan benar-benar orang yang tepat untukmu. Iyakan Jul...??? " kata Bayu.
" Yaps bener banget. Sebagai kakak yang baik harus begitu " jawab Juli.
" Kakak yang baik apaan, bercanda ya ...!!! ( tiba-tiba datang ). Hai Bhie... Maaf datang terlambat" Windy memeluk Bhie.
" Windy. Terima kasih sudah datang " ucap Bhie.
" Gaunmu cantik, kamu juga cantik " puji Windy.
" Terpaksa....!!! " ucap Bhie.
" Sesekali Bhie, tampil anggun " kata Angela.
" Pakai baju apapun tetap cantik di mataku " Raswan tiba-tiba ikut bergabung.
" Terima kasih Raswan " Bhie tersenyum.
" Sama-sama sayang " Raswan dengan nada sok manja.
__ADS_1
Windy dan Angela kompak " Cie...Cie..."
Kelompok laki-laki kompak " Huuueekkk "
" Jangan dekat-dekat....!!! " Sam menarik Bhie menjauh sedikit.
" Baru tunangan, belum sah ! " Sin menambah jarak.
" Berani mendekat lagi...!!! " imbuh Bayu.
" Tamat riwayatmu...!!! " Juli tak mau kalah galak.
" Bhie.... Tolong aku.... " Raswan memasang wajah memelas.
" Apa boleh buat, mereka punya kuasa sebagai kakak " Bhie pura-pura tidak perduli.
" Wahhh ! Kamu tak dapat dukungan sob " Ian meledek Raswan.
" Ya ampun... !!! Kamu benar-benar sendirian " Windy menambahi.
" Kamu jahat juga ya Bhie ... " kata Angela.
" Mungkin, kalau giliran Windy, Juli bakalan lebih jahat lagi " Bhie tersenyum menggoda Windy.
" Kak Juli...??? Jangan bercanda...!!! " jawab Windy.
Sam, Sin, Bayu dan Juli, kompak memberi tekanan batin kepada Raswan. Aneh bin ajaib, sebelum acara mereka semua nampak tenang, tidak menunjukkan ekspresi mencurigakan.
Jadi... ini rencana mereka, mengintimidasi setelah acara selesai ? Apa semua kakak bersikap begitu ? Entahlah ....!!!.
***
Biasanya orang kalau sudah lamaran dan tukar cincin, mereka akan mengurus segala keperluan untuk pernikahan berdua.
Dari urusan yang penting, sampai segala hal tambahan pernak-perniknya, kalau dibuat daftar, akan panjang pakai banget sangking banyaknya yang harus diurusi.
SIAPA BILANG BERDUA....????
" Apa-apaan ini kak...??? " Bhie heran dengan kedatangan Sin.
" Hari ini kalian mau cari baju kan ? " tanya Sin.
" Rencananya sih gitu, makanya izin gak masuk kerja, mumpung Raswan ada waktu juga " kata Bhie.
" Hari ini, kemanapun kalian pergi aku akan mengikuti. Ayo... naik ( menarik Bhie ) dan kamu Raswan... duduk di belakang " Sin memberi perintah.
" Baik kak " Raswan mengiyakan tanpa protes.
( Hemmm.... bakalan cari perkara ini ) gumam Bhie dalam hati.
Dan benar saja, kemanapun mereka pergi, Sin selalu mengikuti dan terus menempel pada Bhie. Bahkan tak memberi sedikitpun kesempatan untuk Raswan bicara berdua saja.
Awalnya ingin beli baju jadi, tapi... karena yang diinginkan tidak sesuai. Al hasil pergi ke penjahit deh dan bisa ditebak, tempat jahit baju, Sin yang menentukan.
" Disini tempat jahit langganan keluarga, tak perlu diragukan lagi kwalitasnya. Di tempat ini juga menyediakan kainnya, jadi... kita sudah gak perlu repot-repot ke toko kain lagi. Ayo masuk...! " Sin menarik tangan Bhie.
Bukan hanya itu saja, beberapa saat kemudian, datanglah segerombolan manusia yang tak terduga, atas undangan Sin tentunya.
( Hadechh... kakak Sin... benar-benar dah... cari perkara ) gumam Bhie dalam hati.
" Kakak Sin...!!! " Bhie melihat ke arah Sin.
" Lebih keren, kalau kita seragam " Sin dengan wajah tanpa dosa.
" Siapa yang mau bayar...? " Bhie berbisik.
" AKU LAH. Siapa lagi...!!! " Sin dengan bangga.
" Benar juga, kalau baju kita seragam, pasti lebih bagus " Raswan setuju ide Sin.
" Warna pink, kesukaanku " kata Angela.
" Yang benar saja, cowok juga pink gitu ? " Sam protes.
" Cowok warna hitam saja, terlihat gagah " kata Juli melirik ke arah Ian.
" Terserah kalian saja " Ian tak mau ikut memilih.
" Warna putih saja..." usul Bayu.
" JANGAN...!!! " larang Angela.
" Kenapa ...??? " tanya Bayu.
__ADS_1
" Warna putih kan, untuk pengantinnya " kata Angela.
" Aku tidak memilih putih. Aku dan Raswan sudah memilih warna cokelat tua. Yang ini cantik kan...!!!" kata Bhie sambil memperlihatkan pilihannya.
" Kebayamu juga cokelat gitu ? " tanya Windy.
" Kebaya tetap putih, dalamnya setengah putih dan cokelat, kombinasi gitu " jawab Bhie.
" Kalau begitu, kita pilih pink saja, cukup aku dan Angela " kata Windy.
" Boleh tuchh... " Angela sepakat dengan Windy.
" Ini bukan seragam namanya ... " Juli protes.
" Aku suka putih..." Bayu masih kekeh dengan pilihannya.
" Hitam saja, warna netral " kata Sam.
" Hitam... memangnya pemakaman...! " bantah Bayu.
" Gak juga. Gagah tau, tampak wibawa " kata Juli.
Maka timbullah perdebatan diantara mereka tentang warna. Calon pengantin saja cepat memilih, tapi... pengiringnya malah sibuk.
Pada akhirnya setelah perdebatan panjang, pilihan jatuh pada warna hitam untuk setelan jas laki-laki dan kebaya pink untuk perempuannya.
Bayu hanya cemberut, karena dia kalah suara.
" Kita yang mau menikah, mereka yang repot " kata Bhie.
" Tidak apa-apa, kalau giliran mereka yang menikah, kita pasti ikut repot juga " Raswan menyemangati.
" Iya juga sih, ini baru baju. Bagaimana dengan yang lainnya ??? " Bhie sedikit mengeluh.
" Itulah gunanya kakak disini... siap membantu " Sin membanggakan diri.
" Jangan lupakan aku. Aku sudah dapat amanah, untuk mendampingi kalian berdua " sambung Sam.
" Hemmm... iyalah... men-dam-pi-ngi " Bhie dengan nada meledek.
" Jangan harap, kamu bisa berduaan " Sam berbisik pada Raswan.
" Ayo Bhie, kamu duluan yang diukur " Sin menarik Bhie.
Hanya urusan baju saja, menghabiskan waktu seharian. Gimana yang lainnya, bisa nguras waktu dan tenaga nih.
Sesuai dengan perkataan Sam yang dapat amanah mendampingi, benar-benar dilaksanakan dengan baik.
Semua urusan yang mencakup Bhie dan Raswan, selalu didampingi secara bergantian oleh paman ( Sam ) dan sang kakak ( Sin ). Kayak gak rela, kalau cuma berdua, walau kadang urusan sepele.
Setelah disibukan dengan segala sesuatu urusan persiapan pernikahan, akhirnya hari yang telah ditentukan pun tinggal sepekan lagi.
Ada perasaan senang, perasaan sedikit lega, perasaan was-was, khawatir bercampur aduk menjadi satu, padahal intinya cuma satu yaitu gugup.
Entah kenapa, pulang kerja hari ini, Raswan datang menjemput Bhie. Dan aneh bin ajaib, diperbolehkan pula sama Sin, biasanya kalau Raswan datang jemput, langsung diusir.
" Khusus hari ini. Kamu diperbolehkan jemput Bhie " kata Sin.
" Terima kasih kakak... " jawab Bhie.
Sin mengusap kepala Bhie, setelah itu berbagai dan berjalan masuk ke dalam swalayan. Pemandangan yang sudah biasa bagi Raswan, jadi... ia tak menyimpan rasa curiga ataupun yang aneh-aneh.
" Kita gak langsung pulang, aku mau ngajak kamu ke suatu tempat " kata Raswan.
" Boleh, tapi... nanti singgah makan ya, aku rasa lapar " kata Bhie.
" Iya. Nanti kita cari makan. Papa ada di rumah ? Kalau ada sekalian kita belikan makanan " kata Raswan.
" Belum pulang kayaknya, paling besok pagi, kalau gak nanti tengah malam " kata Bhie.
" Ya udah. Naik...! " kata Raswan.
Beberapa saat berkendara, Raswan menghentikan motornya di depan sebuah rumah, yang nampak cukup asri, terawat dengan baik, halaman cukup luas, bahkan ada taman bunga beserta dengan kolam kecil untuk pelihara ikan.
" Ini... rumahmu Ras... ? " tanya Bhie.
" Bukan, tapi... rumah kita " kata Raswan.
" HAH KITA...??? Bercanda ya ...??? " Bhie tak percaya.
" Yuk masuk...!!! " Raswan menarik tangan Bhie.
( Bersambung )
__ADS_1