
*Cerita sebelumnya.
" Hemm. Terima kasih Sin. Tapi gak ada maksud apa-apa kan ini ? " Bhie curiga.
" Bawel. Lagian yah, kapan aku datang bertamu, kamu siapin suguhan ? " kata Sin.
" Hem, tamu apaan. Tapi Nino perasaan kamu ini nurut banget sama Sin, mau aja disuruh-suruh. Sudah macam bos dan anak buah beneran " kata Bhie.
" Si bos memang majikan aku " kata Nino.
" HAH...??? Masa sih ...??? " Bhie gak percaya.
" Iya beneran, semacam tangan kanan gitu " kata Nino.
" Ooo gitu. Tapi ngomong-ngomong kenapa aku jadi ikutan dipanggil si bos kecil ? " tanya Bhie.
" Itu, karena bos kecil, teman yang spesial si bos " kata Nino.
" Teman spesial ! Martabak kali spesial " kata Bhie.
" Kenapa, kamu gak suka disebut teman spesial? " tanya Sin.
" Emm. Terserah kalian sajalah. Tapi aku heran deh. Nino itu kan badannya tinggi, kulitnya putih dan wajahnya juga ganteng, tapi kenapa yang banyak pacar justru kamu Sin ? Apa coba yang dilihat dari kamu ? (melihat Sin). Sepintas saja Nino sudah menang banyak (gantian melihat Nino) " kata Bhie.
" Dengar ya Bhie. Walaupun ada Luna Maya dan Nikita Willy di depanku, aku tetap milih kamu " kata Sin.
" Tentu saja kamu milih aku. Walaupun kamu milih mereka belum tentu mereka milih kamu, kan mereka gak kenal sama kamu " kata Bhie.
" Haahh. Sialan ternyata gak mempan " gerutu Sin.
Sin sedikit kesal dengan jawaban Bhie, sementara Nino tertawa dengan riang. Bhie masih bingung.
(memangnya ada yang lucu ?) batin Bhie.
" Bos kecil memang spesial, baru kali ini rayuan bos gak mempan, padahal cewek lain akan tergoda " kata Nino.
" Aaa, paham sekarang, jadi kelebihanmu merayu. Maaf ya Sin, rayuanmu gak mempan karena aku teman spesial kalian " kata Bhie tersenyum lebar.
" Bos kecil hpmu " kata Nino sambil menunjuk.
Bhie melihat layar hp dan tertera nomer baru. Bhie tidak memperdulikannya karena malas bicara dengan pemilik nomer yang menelponnya.
" Kok gak diangkat Bhie ? " tanya Sin.
" Salah orang. Ini nomer sudah nelpon aku beberapa kali, sudah aku jelasin salah orang tapi dia gak percaya. Sudahlah cuekin aja " Bhie meletakkan hpnya.
" Bos kecil, tangan bos kecil kenapa ? " tanya Nino saat melihat tangan Bhie.
" Ohh ini, gak sengaja kena silet waktu ketemuan sama si Juli " kata Bhie.
" Juli ??? Sepupunya si bos ??? " kata Nino.
" HAH ??? Sepupu ??? Yang benar ??? " Bhie terkejut.
" Aku kira si bos sudah cerita ke bos kecil. Belum ya ? " kata Nino salah tingkah.
" Hem, dia sepupuku " Sin membenarkan.
" Haaiiss, jadi karena dia sepupumu, makanya waktu itu kamu gak kenalkan ke aku ? " kata Bhie.
" Tentu saja bukan " sangkal Sin.
" Itu karena bos takut kalau bos kecil pacaran sama Juli. Juli itu kan ceweknya juga banyak" kata Nino.
" Juli ??? Ceweknya banyak ? Gak salah ? " Bhie tidak percaya.
" Tentu saja, si bos masih kalah banyak " kata Nino.
" Kalau cewekmu berapa No ? " tanya Bhie.
__ADS_1
" Satu saja sudah ribet ngurusnya bos kecil, apalagi mau nambah. Enggak deh " Nino menggelengkan kepala.
" Emmm, Nino memang cowok setia. Aku masih penasaran deh, kamu umur berapa sih No ? " tanya Bhie.
" Tahun ini aku 27 dan aku lebih tua 5 tahun dari si bos " kata Nino.
" Kalau kamu 27 dikurang 5 berarti Sin sekarang umur 22. Emmm, kamu awet muda ya No, padahal jarak umur kita lumayan jauh, tapi kamu kelihatan seperti seumuran dengan Sin. Bayu juga seumuran dengan kamu berarti ? " Bhie menoleh ke arah Sin.
" Kira-kira seperti itu " kata Sin.
" Berarti, kamu juga kuliah sekarang ? " Bhie bertanya pada Sin.
" Tidak. Aku lebih suka langsung bekerja " kata Sin.
" Ohh gitu, bekerja apa ? " tanya Bhie.
" Bos kecil gak tau ? Si bos kan..." Nino terhenti karena Sin melototinya.
" Bos apa ??? " tanya Bhie.
" Kita berdua kerja di toko semacam mini market " kata Sin.
" Dan seperti yang aku bilang tadi, si bos atasanku karena jabatannya yang lebih tinggi daripada aku " Nino menjelaskan.
" Aaa begitu, pantas saja Sin selalu mentraktir. Emm memang beda ya, orang yang sudah bekerja dengan orang yang masih menerima jatah dari orangtua. Pasti kalian bangga karena sudah ada penghasilan sendiri. Jadi pengen cepat lulus dan bekerja " kata Bhie.
" Bos kecil gak niat kuliah ??? " tanya Nino.
" Enggak ah, aku mau cari kerja aja, kasihan papa kalau harus bayar kuliahku juga. Lagian sekarang ini banyak kok sarjana nganggur, pendidikan tinggi biasanya mengincar pekerjaan yang tinggi juga, al hasil terlalu banyak milih malah gak kepilih akhirnya pengangguran dech " kata Bhie.
" Simpel banget pemikiranmu ? " kata Sin.
" Ngatain, dirimu sendiri juga kan langsung bekerja " kata Bhie.
" Menurutku bos kecil ada benarnya juga, orang yang berpendidikan tinggi akan gengsi jika dapat pekerjaan rendahan, karena tidak sesuai dengan ijazahnya " kata Nino.
" Yaapps bener banget itu maksudku " kata Bhie.
" Nino sarjana ?? Jangan khawatir No, roda kehidupan terus berputar, kalau terus berusaha
aku yakin suatu saat nanti kamu juga akan jadi bos. Amin " kata Bhie.
" Amin, terima kasih bos kecil " kata Nino.
" Hei..hei...hei...!!! Harusnya kamu memuji aku, kenapa jadi Nino ? " protes Sin.
" Buat apa ? barusan kamu sudah memuji dirimu sendiri keren, kamu mau dengar apa lagi? " kata Bhie.
" Paling tidak katakan sesuatu, barusan kamu juga menyemangati Nino, kenapa aku tidak " Sin masih protes.
" Diantara kita bertiga jabatanmu yang paling tinggi, apalagi yang kamu cemburukan ? " kata Bhie.
" Tapi aku juga mau dengar kamu menyemangatiku " kata Sin lirih.
" Hemm baiklah. Sin yang paling baik, besok-besok traktir lagi ya ...!!! " kata Bhie sambil tersenyum.
" Bhie...!!! " kata Sin.
Nino tersenyum melihat keakraban bosnya dan Bhie. Senyuman yang sebenarnya, senyuman yang tak dipaksakan, senyuman yang tak dapat dilihat bersama wanita lainnya kecuali saat bersama Bhie.
(Ya hanya saat bersama bos kecil, bos tersenyum dengan hatinya) batin Nino dalam hati.
***
*Keesokan harinya saat di sekolah.
Entah kenapa saat jam pelajaran sedang berlangsung, tiba-tiba saja Bhie dipanggil oleh wali kelas untuk menghadap tapi anehnya di ruang BP.
(Emangnya aku buat kesalahan apa ?) batin Bhie.
__ADS_1
' Tidak perlu bingung, masuklah ada seseorang yang ingin berbicara padamu '
" Tapi bu, saya tidak berbuat kesalahan ? " kata Bhie.
' Memang tidak ada. Masuklah dan bicarakan baik-baik '
Bhie yang masih bingung dengan keadaan, hanya mengikuti, apa yang disuruh wali kelasnya. Saat Bhie masuk ke ruang BP, di dalam ada seorang wanita dengan rambut panjang tergerai dan pakaian yang cukup modis. Bhie mengamati wanita tersebut, nampak familiar, namun Bhie tidak mau menduga-duga.
" Ibu siapa ?? Dan ada perlu apa dengan saya ?" Bhie langsung bertanya tanpa menyapa.
' Hallo Bhientang. Akhirnya kita bisa bertemu '
Bagai tersambar petir di tengah hari yang panas, dada Bhie terasa amat sakit, sakit yang tidak bisa dijelaskan antara kekecewaan bercampur amarah tapi tidak dipungkiri ada rasa kerinduan yang disertai banyak pertanyaan.
Bertahun-tahun yang lalu, wajah wanita inilah yang selalu diharapkan untuk kembali, wajah yang selalu dibayangkan, selalu dirindukan saat siang dan malam. Tapi saat semua sudah tidak diharapkan lagi, justru sekarang muncul dihadapan mata.
' Bhientang tidak merindukan mama ? '
" Bhientang nya mama sudah tidak ada, dia sudah mati bertahun-tahun yang lalu, bersamaan dengan kepergian mama bersama dengan laki-laki itu. Kalau mama pikir dengan datang ke sekolah akan mendapatkan simpatiku, maka mama salah. Satu sekolah ini tau, bagaimana hubunganku dengan papa. Jadi jangan pernah berfikir untuk mendapatkan simpati disini " kata Bhie.
' Mama hanya ingin melihatmu dan ini cara mama untuk menemuimu. Beri mama kesempatan '
" Kesempatan untuk apa ? " kata Bhie.
' Kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita '
" Hubungan apa ? Hubungan yang mana ? Hubungan yang mama maksud itu, sudah mama putus sendiri. Kalau memang mau memperbaiki, kenapa baru sekarang ? Kenapa mama tidak datang, saat aku masih berharap ? Mama yang pergi dan sekarang mama kembali seolah-olah tidak terjadi apa-apa ? Dengan mama datang sekarang ini, mama bukan memperbaiki tapi mama... " Bhie tidak melanjutkannya
' Bhientang '
" Kalau mama datang untuk minta maaf karena meninggalkan Bhientang, Bhientang maafkan. Tapi untuk menerima mama kembali ? Bhientang belum bisa ma, maaf " kata Bhie.
Bhie berbalik dan pergi meninggalkan mamanya sendirian, Bhie tak kuat berlama-lama menatap mamanya. Karena jika semakin lama maka tangisnya pasti akan pecah dihadapan mamanya dan itu tidak Bhie inginkan.
" Kamu menangis Bhie ? " tanya Angela.
" Kapan kamu lihat aku menangis, emangnya kamu cengeng " Bhie menutupi.
" Matamu berkaca-kaca, kupikir kamu menangis. Trus kenapa tadi dipanggil wali kelas ? " tanya Angela.
" Tidak penting cuma masalah tugas " Bhie berbohong.
" Eeehhh. Siapa wanita itu cantik banget " Angela menunjuk.
" Mana aku tau " Bhie berbohong.
" Emmm, wanita itu wajahnya kok rada mirip kamu ya Bhie ? " kata Angela.
" Haaiiss hanya karena sedikit mirip trus kamu berpendapat wanita itu mamaku ? " Bhie meninggikan suaranya.
" Hei, kenapa kamu marah ? Aku tidak bilang dia mamamu kan ? " kata Angela.
" Bodo ah " Bhie kesal.
" Heii, Bhie, tunggu aku " kata Angela.
Bhie dan Angela kembali ke dalam kelas, belajar seperti biasa. Sekuat apapun Bhie mencoba untuk fokus pada pelajaran tapi tetap saja pikirannya terus melayang pada mamanya.
" Haahh sial, gak bisa fokus " Bhie menggerutu.
" Ada apa Bhie ? " tanya Angela.
" Tidak apa-apa hanya kurang paham aja dengan materinya " alasan Bhie.
" Oh kirain " kata Angela.
Pada akhirnya, sampai pelajaran terakhir Bhie tetap tidak bisa fokus dan pelajaran hari ini cuma serasa angin lewat, berlalu begitu saja.
( bersambung )
__ADS_1
🤗🤗🤗