
Saat pulang sekolah Bhie sudah janjian dengan Juli untuk bertemu di tempat kak Ian. Awalnya Bhie mau dijemput tapi Bhie menolak dan lebih memilih datang sendiri dan ketemuan di tempat tujuan saja, lebih menghemat waktu menurutnya.
Sesampainya di tempat, tertera tulisan *sedang istirahat* terpasang, digantungan pintu. Karena sudah janjian tanpa ragu Bhie segera mendorong pintu dan masuk ke dalam. Ini adalah tempat usaha sekaligus tempat tinggal kak Ian.
" Kak Ian " Bhie teriak memanggil.
Tidak ada jawaban, saat Bhie ingin memanggil untuk kedua kalinya, tiba-tiba Bhie mendengar suara samar-samar. Bhie mencoba mencari tahu darimana sumber suara tersebut.
Bhie berjalan berlahan sambil mendengarkan dengan seksama, semakin lama semakin jelas, sumber suara berasal dari balik pintu yang tidak tertutup rapat.
Alangkah terkejutnya Bhie dengan pemandangan yang ada dibalik pintu tersebut. Bhie segera berbalik pergi, namun karena terlalu buru-buru, Bhie menabrak meja peralatan kerja kak Ian dan berhamburan di lantai.
PRANG...!!! suara benda jatuh.
( Astaga pakai nabrak lagi ) gerutu Bhie dalam hati.
Bhie membereskan kekacauan yang ia perbuat, sangking paniknya, Bhie tidak sengaja menyentuh ujung silet yang membuat jarinya terluka dan bersamaan dengan itu muncul Juli dan kak Ian.
" Hai Juli. Hai kak Ian. Maaf gak sengaja " Bhie senyum yang dipaksakan.
" Astaga Bhie. Jarimu terluka " Juli bergegas menghampiri Bhie.
" Kena silet " kata Bhie.
Juli mengambil beberapa lembar tisu dan membungkus jari Bhie yang terluka, supaya darahnya berhenti menetes.
" Sini aku obati lukanya " Ian membawa kotak P3K.
" Lukanya cukup dalam, darahnya banyak banget " Juli sedikit panik.
" Aku kehabisan kasa steril. Bisa kamu beli ? " kata Ian.
" Ok, aku pergi beli " kata Juli.
Juli segera bergegas pergi membeli kain kasa, sementara Ian mulai membereskan kekacauan yang Bhie perbuat dan itu benar-benar membuat Bhie merasa malu.
" Kamu melihatnya kan ? " tanya Ian pada Bhie.
Bhie hanya menganggukkan kepalanya karena Bhie tau apa maksud dari pertanyaan Ian barusan.
" Sesuai yang kamu lihat, begitulah hubungan kami, pasti kamu merasa... " kata Ian.
" TIDAK KAK. Aku hanya kaget saja. Tadinya aku mau pergi, karena panik malah nabrak. Maaf ya kak sudah ganggu " Bhie merasa bersalah.
" Kenapa kamu minta maaf ? " kata Ian.
" Karena membuat berantakan " Bhie bicara lirih.
" Ini hanya peralatan, bisa diberesin, tapi lihat jarimu, jadi terluka. Bhie, boleh minta sesuatu?" kata Ian.
" Apa kak ? " tanya Bhie.
" Tolong rahasiakan, apa yang kamu lihat tadi, bahkan dari Juli. Kamu paham kan maksudku?" kata Ian.
" Iya kak. Aku janji gak cerita sama siapa-siapa. Hanya saja kak Ian, jangan minta ganti rugi untuk peralatan kakak yang aku berantakin ya. Aku gak punya banyak uang untuk ganti, pasti harganya mahal " kata Bhie.
" Tenang saja, gak ada yang rusak, jadi gak perlu beli baru " kata Ian sambil tersenyum.
" Maaf rada lama, apotiknya rame " Juli tiba-tiba datang.
" Maaf ya Jul, jadi ngerepotin kamu " kata Bhie.
__ADS_1
" Makanya lain kali hati-hati, emangnya meja segede itu gak kelihatan, bisanya ditabrak " kata Juli.
" Namanya juga musibah, sini kain kasanya biar aku balut lukanya " kata Ian.
Bhie memperhatikan Ian yang sedang mengobati luka dijarinya, nampak seperti seorang ahli walaupun Ian seorang laki-laki, namun sikap dan tutur katanya benar-benar lembut.
( Kak Ian, benar-benar baik, aku jadi malu ) kata Bhie dalam hati.
" Nah, sudah selesai. Untuk sementara jangan kena air dulu ya " kata Ian.
" Makasih kak " kata Bhie.
" Oh ya Bhie. Shampo dan kondisioner yang kamu minati, kalau mau beli sama kak Ian saja. Di pasar jarang ada walaupun ada biasanya mahal " kata Juli.
" Benarkah ??? " kata Bhie.
" Kamu ke sini karena itu ??? " tanya Ian.
" Iya kak, aku berencana mau beli tapi tanya dibanyak toko, gak ada yang jual. Makanya aku tanya Juli " kata Bhie.
" Eceran jarang ada, biasanya dijual sepaket. Kalau kamu minat kebetulan aku habis belanja jadi banyak stock " kata Ian.
" Boleh kak ??? " kata Bhie.
" Khusus buatmu. Boleh " kata Ian.
" Asyik. Kak Ian memang baik " kata Bhie.
" Girang banget, padahal cuma shampo aja " Juli mengusap kepala Bhie.
" Hem, Juli. Hentikan. Rambutku kasar dan kusam gini aja pada suka ngusap, apalagi nanti kalau sudah lembut dan mengkilat. Pada nempel kali ya sama aku " Bhie GR sendiri.
" Hemm, menghayal berlebihan " Juli menarik hidung Bhie.
" Semoga saja nempel satu trus gak bisa lepas" kata Ian.
" Semoga saja " imbuh Juli.
" Jangan dong ...!!! Bisa repot aku " kata Bhie.
" Kenapa ??? " Juli dan Ian bersamaan.
" Jelas repot kalau gak bisa lepas, apalagi kalau aku harus ke kamar mandi. Kan malu ? " kata Bhie.
Ian dan Juli tertawa mendengar penjelasan Bhie. Beda yang dimaksud, beda juga yang dipahami. Entah benar-benar tidak paham atau hanya sekedar pura-pura, tapi penjelasan barusan bikin orang yang mendengarnya cukup terhibur.
*Saat pulang dari tempat Ian
Bhie sengaja cepat pulang, walaupun. sebenarnya bisa saja sedikit lama nongkrong di tempat kak Ian.
Tapi mengingat kejadian barusan, Bhie masih sedikit merasa malu. Lagipula waktu istirahat juga sudah selesai, kalau kelamaan kasihan pelanggan, nunggunya kelamaan.
Hari ini cuaca benar-benar panas, cukup membuat orang mandi keringat. Bhie melihat sekeliling, mencoba mencari tempat untuk makan dan sekalian bisa berteduh sebentar.
" Hemm, makan apa ya hari ini ? (bicara sendiri) Nah itu dia, makan mie ayam bakso saja trus minum es teh, pas banget " kata Bhie.
Bhie segera masuk ke sebuah warung dan memesan makanan beserta minuman yang ia kehendaki. Setelah menunggu beberapa saat pesanan pun datang.
Saat masih meracik saos, Bhie dikejutkan dengan sebuah sapaan yang familiar.
" Hai Bhie " Sin menyapa.
__ADS_1
" Hai Sin. Hai juga Grace " Bhie menyapa balik.
" Karena kalian sudah saling kenal. Keberatan kita gabung duduk sini ? " tanya Sin.
" Duduk saja " jawab Bhie.
" Kamu bilang ini tempat bakso favoritmu, kamu juga Bhie ? Kalian sering datang bersama? " Grace curiga.
" Aku gak tau kalau ini tempat bakso favorit Sin, tadi kebetulan saja lapar trus lihat ada warung ya sudah aku masuk dech " Bhie cepat menyangkal.
" Emangnya, kamu darimana ? Ini kan berlawanan dari arah rumahmu ? " tanya Sin.
" Dari tempat kak Ian, janjian sama Juli " kata Bhie sambil menunjuk arah tempat kak Ian.
" Jarimu kenapa Bhie ??? " Sin terkejut melihat jari yang tertutup plester.
" Gak sengaja kena silet, waktu di tempat kak Ian tadi " Bhie menjelaskan.
" Coba aku lihat, kok kelihatannya cukup parah sampai dibalut kain kasa segala " Sin sambil memegang tangan Bhie.
Sin memegang tangan Bhie cukup lama karena penasaran dengan luka dijarinya. Bhie melirik Grace, nampak sorot matanya mulai berubah tanda tak suka.
" Lukanya cukup dalam, makanya pakai kain kasa rada banyak, supaya darahnya berhenti tapi sekarang sudah gak apa-apa, kan sudah diobati kak Ian " kata Bhie sambil melepaskan pegangan tangan Sin dengan berlahan.
" Bisanya kena silet sampai segitunya " Sin merasa heran.
" Kecelakaan bisa terjadi kapan saja, dimana saja dan dialami siapa saja, termasuk aku. Cepat makan pesananmu dah datang tuh " Bhie mengalihkan pembicaraan.
" Pas banget, aku sudah lapar " kata Sin.
" Yank, ini soasnya kok susah keluar ya ? " kata Grace.
" Coba sini aku tuangin, gini tekan pelan-pelan tapi yang kuat " kata Sin.
" Ohh gitu, makasih yank " kata Grace.
Entah itu betulan atau hanya pura-pura saja tapi dari gerak-gerik, sikap Grace sengaja ingin menunjukkan betapa romantisnya hubungan mereka. Sekaligus menunjukkan bahwa Grace adalah pacar Sin.
Bhie punya mata dan pas banget duduk di depan mereka, tentu saja melihat semua tingkah mereka dan mendengar semua perkataan mereka dengan sangat jelas.
Bhie berusaha makan dengan cepat bukannya cemburu tapi karena tidak nyaman dengan tatapan Grace yang seolah-olah anggap Bhie adalah pengganggu yang perlu dilenyapkan. Walaupun gak sengaja ketemuan tapi tetap saja canggung.
Tiba-tiba hp Bhie berbunyi, tanda ada pesan masuk dan saat Bhie melihatnya, ia sedikit heran dengan pengirimnya.
[Sengaja makan cepat ya ?] begitulah isi pesannya dan pengirim adalah Sin.
Bhie membalas pesan [Sudah tau, jangan tanya].
Saat hp Sin yang gantian berbunyi Bhie melirik Sin dan hal itu membuat Grace curiga.
" Hp kalian gantian bunyi, kalian saling kirim pesan ya ? " Grace mencurigai.
" Ini pesan dari Nino. Nino mengingatkan janjian nanti malam jangan sampai telat " kata Sin berbohong.
" Janjian apa ? " tanya Grace.
" Urusan cowok, kamu gak akan paham " kata Sin.
" Iya dech " kata Grace.
Bhie tersenyum melihat kebohongan yang dibuat Sin dan anehnya Grace percaya gitu aja lagi. Kasihan Nino dijadikan sasaran kebohongan dan Sin santai lagi bicaranya, seakan-akan sedang bicara yang sebenarnya.
__ADS_1
( bersambung )
Maaf teman-teman ceritanya terpotong 🙏, ditunggu kelanjutannya ya 🤗