Zona Nyaman Sebuah Hubungan

Zona Nyaman Sebuah Hubungan
Bab 9


__ADS_3

*Cerita sebelumnya


Bhie tersenyum melihat kebohongan yang dibuat Sin dan anehnya Grace percaya gitu aja lagi. Kasihan Nino dijadikan sasaran kebohongan dan Sin santai lagi bicaranya seakan-akan sedang bicara yang sebenarnya.


Akhirnya habis juga makanan di mangkuk Bhie, begitu juga dengan makanan di mangkuk Sin. Inginnya duluan ehh malah bersamaan.


(Sengaja Sin nich) gerutu Bhie dalam hati.


" Yank aku mau ke toilet dulu " kata Grace.


" Makananmu belum habis tuh ? " kata Sin.


" Aku sudah kenyang. Tunggu aku ya ! " kata Grace.


" Ok " kata Sin.


Sin melihat ke arah Bhie dan mendekatkan wajahnya.


" Apa...??? " bentak Bhie.


" Kamu gak ke toilet juga ? " tanya Sin.


" Ngapain ? Jadi bodyguard pacarmu ? " ledek Bhie.


" Biasanya cewek itu, kalau habis makan, pasti ke toilet dulu untuk melihat penampilannya. Ada yang nempel atau gak, terutama area gigi dan wajahnya " kata Sin.


" Ha ha ha ha (tertawa yang dibuat-buat). Sudah biasa ya, jadi hafal dengan kebiasaan itu ? Aku bukan pacarmu jadi aku gak perlu jaga penampilan di depanmu. Lagian bukan gayaku. Ya sudah, aku duluan ya. Selamat menunggu " kata Bhie meledek.


" Bhie. Biar aku yang bayar " kata Sin.


" Ok. Terima kasih Sin, kamu memang temanku yang paling pengertian. Bye bye " Bhie melambaikan tangan.


Sesampainya di rumah, Bhie merebahkan badannya di atas kasur, saat mata mulai mengantuk, tiba" dikejutkan dengan suara hp yang berdering tanda ada telepon masuk.


Bhie melihat layar hp, nampak nomor baru yang tidak ada dalam daftar. Bhie mengangkatnya kalau-kalau itu telepon penting.


" Hallo " Bhie menjawab telepon.


Terdengar sebuah jawaban, suara yang sudah sangat lama tidak terdengar, suara yang begitu halus, suara yang familiar dan suara yang ingin dilupakan.


Setelah sekian lama kini suara itu terdengar kembali dan Bhie sudah tau siapa pemilik dari suara yang di dengarnya saat ini.


*Percakapan di telepon*


" Mama tau darimana nomer hpku ? " kata Bhie.


' Apa kabar nak ? '


" Gak usah basa-basi, ada perlu apa ? " kata Bhie.


' Mama kangen anak mama, pengen tau kabarnya '


" Terdengar sangat lucu dan aneh di telingaku. Buat apa mama merindukan aku, bukannya mama yang pergi ? Setelah bertahun-tahun pergi, sekarang bilang kangen ? Yang benar saja, mama sedang membuat lelucon ? " kata Bhie.


' Bhientang '


" Sudahlah ma, aku baik-baik saja sekarang. Kami sudah bahagia berdua tanpa mama. Jangan pernah usik kehidupanku. Aku capek mau istirahat " kata Bhie.


Tanpa menunggu, Bhie memutuskan telepon tersebut, nampak air mata menitik keluar membasahi pipi. Mendapat telepon dari mamanya membuat Bhie kembali teringat saat Bhie ditinggal pergi oleh mamanya.


*Pada saat itu


Bhie menunggu di depan pintu gerbang sekolah dasar tempatnya bersekolah. Seperti biasa Bhie menunggu sampai mamanya menjemput.


Biasanya Bhie dijemput dengan berjalan kaki dikarenakan, mereka hanya memiliki satu motor dan itu dipakai oleh papa Bhie bekerja.


Tapi kali ini, ada pemandangan berbeda, Bhie melihat mamanya keluar dari sebuah mobil dan pakaian mamanya nampak lebih bagus dari biasanya. Seperti biasanya Bhie segera berlari menghampiri mamanya dan mencium tangannya.

__ADS_1


" Mama (teriak Bhie) Mama lama sekali datangnya, Bhie sudah keluar dari tadi. Itu mobil siapa ma ? " tanya Bhie.


" Sayang mulai hari ini, kamu berangkat dan pulang sekolah sendiri ya " mama berucap lembut.


" Loh kenapa ? Mama sibuk ya ? " tanya Bhie.


" Soalnya mama mau pergi bekerja dan tempatnya jauh sekali " kata mama.


" Pergi bekerja ? Terus Bhientang ? " tanya Bhie.


" Bhientang di rumah sama papa, jadi Bhientang gak boleh nakal, selalu dengarkan papa. Bhientang pintarkan ? " kata mama.


" Bhientang mau ikut mama " Bhie merengek.


" Bhientang tidak bisa ikut mama, tempat kerja mama jauh sekali lagi pula Bhientang kan harus sekolah " kata mama.


Tiba-tiba ada suara teriakan seseorang dari dalam. mobil memanggil nama mamanya Bhie.


" Mama harus pergi sekarang, Bhientang jangan nakal ya. Mama sayang Bhientang " kata mama.


Mama mencium kening Bhie, setelah itu ia berdiri, kemudian berbalik dan meninggalkan Bhie.


" Mama tunggu ma...!!! Bhientang mau ikut mama. Mama jangan pergi ....!!! " Bhie merengek.


Namun rengekan Bhie tidak dihiraukan, mamanya tetap terus berjalan tanpa berbalik lagi. Bhie berlari mengejar mamanya, namun terlambat mamanya sudah masuk ke dalam mobil yang mengantarnya tadi.


Sebelum kaca mobil ditutup, Bhie melihat seorang laki-laki menyetir mobil tersebut. Bhie memukul-mukul pintu mobil tersebut sambil terus memanggil mamanya.


Bahkan saat mobil mulai berjalan menjauh Bhie berlari mengejarnya tapi usahanya sia-sia, mobil tersebut terlalu cepat. Sampai akhirnya Bhie jatuh tersungkur karena kaki kecilnya sudah tidak mampu berlari lagi.


Bhie menangis tersedu-sedu di tengah jalan, sambil terus memanggil mamanya. Sebuah usapan lembut terasa dikepala Bhie, yang membuat Bhie malah tambah kencang menangisnya.


" Papa. Ma...mama...pe..per...pergi " Bhie menangis tersedu-sedu.


Dalam perjalanan pulang, Bhie terus menangis dalam gendongan papanya, sementara papanya hanya diam tak bicara sepatah katapun.


*Kembali pada saat ini.


Bhie membuka mata tampak sekeliling gelap, dengan meraba-raba Bhie mencari saklar lampu. Lampu menyala, Bhie memperhatikan jam yang menunjukkan 06.30 malam.


(Pantas gelap, sudah malam rupanya) batin Bhie.


Bhie menyalakan lampu rumah, kemudian bergegas untuk mandi. Tak lupa sebelum mandi Bhie membungkus jarinya yang terluka dengan plastik supaya tidak terkena air. Selang beberapa menit kemudian Bhie keluar dengan pakaian lengkap dan handuk yang melilit membungkus rambutnya.


Saat masuk ke kamar, Bhie dikejutkan dengan suara telepon, sebelum mengangkatnya Bhie memperhatikan siapa yang meneleponnya. Nampak nama Sin tertera dilayar hp.


" Hallo " jawab Bhie.


Baru satu kaliamat menyapa, Bhie menjauhkan hpnya dari telinga, karena kaget dengan nada suara Sin yang terdengar sedang kesal.


Dengan cepat Bhie berlari ke ruang tamu untuk membuka pintu dan benar saja Sin sudah berdiri di depan pintu dengan raut wajah yang kesal.


" Hai Sin " Bhie tersenyum.


" Hai Sin. Kamu ngapain saja ? Aku telepon dari tadi gak diangkat, aku khawatir tau " mengeluarkan kekesalannya.


" Maaf, tadi aku mandi, lihat nich masih ada handuk dikepalaku " Bhie menunjuk ke arah kepalanya.


" Emangnya habis darimana, jam segini baru mandi ? " tanya Sin.


" Ketiduran dan baru bangun " jawab Bhie.


" Tapi, kenapa matamu sembab gitu ? kayak habis nangis ? " tanya Sin.


" Mungkin karena kelamaan tidur. Kamu datang naik apa, mobilmu gak ada ? " Bhie melihat sekeliling.


" Diantar Nino. Dia aku suruh beli makanan dulu, pasti kamu laparkan, belum makan " kata Sin.

__ADS_1


" Tau aja " Bhie tersenyum.


" Sini aku keringkan rambutmu. Tanganmu kan lagi sakit, jarang-jarang loh aku mau melakukannya " kata Sin.


" Hemm. Baiklah. Kebaikan, rugi kalau ditolak " kata Bhie.


Bhie duduk membelakangi Sin, sementara Sin mulai menggosok-gosok rambut Bhie. Ada perasaan geli dalam hati Bhie, karena ini pertama kalinya ada orang lain yang membantunya mengeringkan rambut.


Bhie teringat waktu masih kecil, dulu papanya selalu mengeringkan rambutnya tapi gak bisa mengikat dengan rapi.


" Kenapa tersenyum gitu ? Seneng ya ? " goda Sin.


" Aku jadi teringat waktu kecil. Papa yang mengeringkan rambutku dan kalau sudah selesai papa hanya bisa menyisirnya saja " kata Bhie.


" Oh ya ?? " kata Sin.


"Emmm, karena papa gak bisa mengikat rambutku dengan rapi, beberapa kali mencoba hasilnya tetap sama saja. Karena hal itulah akhirnya aku minta potong rambut jadi pendek, dengan gitu papa gak perlu mengikat rambutku. Kau tau Sin waktu kecil rambutku panjang sampai pinggang, baru tebal lagi. Tetangga sampai iri kalau melihat rambutku karena anak-anak mereka rambutnya tidak sepertiku " Bhie bercerita.


" Kalau sebelumnya rambutmu panjang, trus yang bantu mengikat siapa ? Apa mamamu ?" tanya Sin.


Saat Sin menyebut *mamamu* ada perasaan nyutt dalam hati, walau sesaat tapi terasa amat sakit.


" Iya mamaku. Sebelum mama pergi meninggalkan aku dan papa " Bhie berkata lirih.


" Sorry Bhie, aku gak tau, kalau...." kata Sin.


" Mamaku belum mati kok, beliau masih hidup, hanya saja bahagia dengan keluarga barunya " Bhie buru-buru memotong pembicaraan.


" Hemm baiklah. Sini aku sisir rambutmu, tapi ngomong-ngomong rambutmu harum deh. Kamu ganti shampo ? " kata Sin.


" Iya aku ganti shampo, gimana kamu suka dengan baunya ? " tanya Bhie.


" Hemm. Baunya lembut, tidak terlalu menyengat tapi kok mirip, bau samacam aroma terapi ya ? " kata Sin.


" Mungkin, karena shampo herbal kali ya, tapi aku suka. Rambutku jadi lembut dan mengkilat" kata Bhie.


" Akhirnya, kamu jadi lebih perduli dengan penampilanmu, permulaan yang bagus " kata Sin.


" Haaiiss kamu ini seperti papaku saja " kata Bhie.


" Ogah banget jadi papamu, aku lebih milih jadi suamimu, lebih keren " Sin memuji diri sendiri.


" Narsis banget. Siapa juga yang mau jadi istrimu, selirmu loh banyak tiap hari ganti, bergilir kunjungan " Bhie meledek.


" Kok gak enak didengar ya ??? " kata Sin.


Bhie hanya tersenyum melihat raut wajah cemberut Sin. Bersamaan Nino datang dengan membawa bungkusan ditangannya.


" Wahhh. Bos berdua romantis banget " kata Nino.


" Romantis jidatmu. Matamu rabun ya ? " kata Bhie.


" Mataku normal bos kecil. Lihat aku ada bawa martabak spesial " kata Nino.


" Wuuiihh enak tuh " Sin melirik Bhie.


" Terima kasih Nino, Nino memang yang paling pengertian " kata Bhie.


" Terima kasihnya sama si bos. Bos yang suruh aku beli, tentu saja pakai uangnya si bos " kata Nino.


" Hemm. Terima kasih Sin. Tapi gak ada maksud apa-apa kan ini ??? " Bhie curiga.


" Bawel. Lagian yah, kapan aku datang bertamu, kamu siapin suguhan ??? " ledek Sin.


" Hemm. Tamu apaan...!!! " kata Bhie.


(bersambung)

__ADS_1


Maaf teman-teman harus terpotong 🙏, ditunggu kelanjutannya ya 🤗.


__ADS_2