Zona Nyaman Sebuah Hubungan

Zona Nyaman Sebuah Hubungan
Bab 34


__ADS_3

Bhie memperhatikan ke sekeliling rumah, saat masuk ke dalam, ruangan masih kosong, tidak ada perabotan satupun yang terpajang.


Aroma cat bahkan masih ada tercium begitu kuat, tanda masih baru, lantai pun seperti habis di pel.


" Rumah ini baru selesai direnovasi, perabotan sengaja belum dibeli, takutnya tidak sesuai dengan seleramu. Bagaimana menurutmu ? " Raswan memandang Bhie.


" Ras...!!! " ucap Bhie lirih.


" Aku tau, kamu sayang pada papamu, tapi... gak ada salahnya punya rumah sendiri " Raswan berkata dengan lembut.


" Yang punya ide ini siapa ? " tanya Bhie.


" Tentu saja Ayah, rumah ini berada di tengah antara rumahmu dan rumahku, cukup adil kan ?" kata Raswan.


" Aku gak bisa komentar apa-apa, kamu menyiapkan segalanya untukku. Beruntung ya... jadi aku " kata Bhie.


" Anggaplah begitu. Di rumah ini, kita bisa berduaan tanpa gangguan ( sambil mendudukkan Bhie di lantai ). Lurus kan, kakimu ( memberi perintah ). Naahh gini kan, nyaman " Raswan tiduran di pangkuan Bhie.


Bhie senyum-senyum melihat tingkah manja Raswan.


( Mimpi apa ini anak ? Duchh... sial... kenapa kelihatan tambah ganteng saja...) gumam Bhie dalam hati.


Bhie memalingkan pandangannya, gak kuat hati jika diteruskan memandang wajah Raswan, ditambah situasi sepi hanya berdua gini, jadi muncul pikiran fantasi lainnya.


" Ras...! " Bhie memulai pembicaraan.


" Hem..." kata Raswan.


" Apa... kamu tidak marah, dengan sikap kakak Sin dan yang lainnya ? Maksudku ? Kamu tahulah...! " Bhie tidak melanjutkannya.


" Sikap kasar mereka ? " Raswan menebak.


" Hem " Bhie menganggukkan kepalanya.


" Aku sengaja membiarkannya " kata Raswan.


" Maksudmu ??? " Bhie heran.


" Mereka bersikap seperti itu, karena mereka akan kehilangan waktu untuk bersamamu. Waktu mereka hanya sampai saat kita menikah. Setelah kita menikah, kebersamaan kalian akan berbeda, karena statusmu yang menjadi istriku" Raswan menjelaskan.


" Jadi...??? " kata Bhie.


" Pada akhirnya aku yang menang, aku yang menjadi suamimu ( bangga diri ). Kamu akan menghabiskan waktumu bersamaku, selama sisa hidupmu. Sementara mereka bisa bebas denganmu, hanya tinggal beberapa hari lagi. Kasihan mereka kan ...!!! " Raswan menjelaskan lagi.


" Waaahhh...!!! Kamu licik juga ya...!?!! " kata Bhie.


" Bhie... boleh aku minta sesuatu ? " tanya Raswan.


" Katakan " jawab Bhie.


" Bicaralah pada Sin. Selesaikan urusan kalian yang belum terselesaikan " kata Raswan.


" Maksudmu ??? " Bhie tidak paham.


" Bicara dengan Sin, sebagai Bhie. Hanya Bhie, bukan sebagai adiknya " Raswan menjelaskan.


" Tapi Ras... " ucap Bhie.


" Kalian harus bicara, sebagai Sin dan Bhie. Dengan begitu, hati kalian tidak akan ada beban lagi " kata Raswan.


" Tapi...??? " ucap Bhie.


Bhie terdiam, dirinya ragu, kalau harus menghadapi Sin hanya sebagai Bhie. Bagaimana jika dirinya tidak bisa mengendalikan perasaannya lagi...???


" Tidak apa-apa, kan aku yang minta ( menyakinkan Bhie ). Selesaikan, sebelum hari pernikahan kita. OK " kata Raswan.


" Kamu benar-benar memberiku kejutan " kata Bhie.


" Karena aku adalah Raswan dan aku beruntung, mendapatkan Bhientang spesial yaitu dirimu " kata Raswan.


Seketika Raswan bangkit dari tidurnya dan untuk pertama kalinya Raswan mencium kening Bhie.


Walau Raswan bukan orang pertama yang menciumnya, tapi... tetap saja ada perasaan deg... deg... deg...


" Cari makan yuk, aku lapar " kata Raswan.


Seketika lamunan Bhie langsung buyar.


" Hem, ayo...! " jawab Bhie.


Entah kebetulan atau apa, saat masuk ke rumah makan, bertemu dengan Sam dan Windy, sesaat kemudian di susul Juli dan Ian.


Mereka berempat memang sudah janjian mau makan bareng dan pas banget Bhie dan Raswan datang. Akhirnya mereka duduk bareng deh.

__ADS_1


" Kebetulan yang menyenangkan " Windy tersenyum lebar.


" Kenapa, bisa sama dia ? " Sam bertanya pada Bhie.


" Kalian habis darimana ? " tanya Juli mengarah pada Raswan.


" Dari tempat kerja, kakak Sin sibuk, gak bisa antar pulang " jawab Bhie.


" Baiklah, tohh cuma hari ini saja kalian bisa bertemu langsung. Karena mulai besok, kalian berdua dilarang bertemu, sampai tiba hari pernikahan kalian " Sam menjelaskan.


" HAH...??? " Raswan terkejut.


" Istilahnya, apa itu... em...em... aku lupa " kata Juli.


" Dipingit " Ian membantu Juli.


" Nah itu dia, dipingit " kata Juli.


" Pantas tadi kakak Sin bersikap baik ( baru menyadari ), jadi ini alasannya " kata Bhie.


" Begitulah kira-kira. Kakakmu pasti diberitahu oleh papamu " kata Sam.


" Ya ampun... kalian ini, selalu ada cara menindas Raswan. Kalau begitu, sekalian sita hp Bhie untuk sementara waktu " kata Windy.


" IDE BAGUS...!!! " Sam dan Juli kompak bersamaan.


" Jangan...!!! ( buru-buru melarang ). Kita akan kerepotan sendiri menghubungi Bhie, kalau sampai gak pegang hp " Ian memperingatkan.


" Iya juga ya... " Windy menganggukkan kepalanya.


" Kok aku gak diberitahu ...??? " ucap Raswan melihat ke arah Bhie.


" Aku juga baru tau ini, mungkin nanti " jawab Bhie.


" GAK USAH pegangan ( menarik tangan Bhie ). MAKAN...!!! " Sam meninggikan suaranya.


" Bibi Windy...!!! " Bhie memasang wajah memohon.


" Kalian sebentar lagi menikah, hanya seminggu gak ketemu. DAH...!!! MAKAN...!!! " kata Windy dengan lembut.


Bhie cemberut mendengarnya, gagal sudah untuk mendapatkan dukungan dari Windy.


Dan benar saja, apa yang disampaikan oleh Sam, pada keesokan harinya, saat Ramdan sudah di rumah. Bhie dilarang keluar dari rumah, jika tidak ada kepentingan dan kalau mau pergi harus didampingi seseorang.


Katanya dipingit, tidak boleh keluar rumah kalau tidak ada perlu, dalam bayangan Bhie, bakalan sepi sunyi karena sendirian di rumah terus. Tapi ternyata kenyataannya rumah malah selalu rame, ada saja yang datang silih berganti.


Semakin mendekati hari H rumah semakin rame, kegiatan segala macam berhubungan dengan persiapan acara. Sementara Bhie hanya duduk manis mengawasi tanpa membantu apapun.


Dua hari sebelum hari H Bhie, dikejutkan dengan kedatangan Ian bersama rekan wanitanya, lengkap dengan tas berisikan peralatan dan segala macam, yang Bhie tidak tau apa gunanya.


" Apaan ini kak ? " Bhie bertanya pada Ian.


" Hari ini, kamu akan perawatan lengkap, dari ujung rambut sampai kaki, badanmu juga akan dilulur seluruhnya " Ian memberitahu.


" Kak Ian yang bayar ??? " tanya Bhie.


" Anggaplah begitu, apa kamu senang ? " jawab Ian.


" Tentu saja senang, rejeki ini rugi kalau ditolak. Terima kasih " Bhie memeluk Ian.


" Ajak ke kamarmu, aku akan menunggu di luar" kata Ian.


Sementara Bhie melakukan perawatan di kamar. Ian dan Ramdan duduk berbincang-bincang di ruang tamu.


" Mau juga tuh anak perawatan, kemarin-kemarin kalau disuruh, susah banget, selalu menolak " kata Ramdan.


" Dia gak bakalan nolak kalau sudah datang, apalagi dibilang gratis gak bayar " kata Ian.


" Salahnya Om juga sih, Bhie begitu " kata Ramdan .


Selang beberapa jam, datang Sin dan Nino dengan bungkusan berisi makanan.


" Kalian datang juga " Ramdan terkejut melihat kedatangan mereka berdua.


" Iya Om. Gimana, Bhie sudah selesai ? " Sin bertanya pada Ian.


" Masih di dalam, mungkin sebentar lagi " jawab Ian.


" Ini aku ada bawa makanan, tadi beli di jalan " Sin meletakkan di meja.


" Sengaja beli !!! Bhie yang minta kan ? " Ramdan menebak dengan tepat.


" Begitulah Om " Sin tersenyum malu-malu.

__ADS_1


" Dasar anak itu, mentang-mentang punya kakak main suruh-suruh saja. Kamu juga, jadi kakak terlalu baik, jadi manja adikmu kan " kata Ramdan.


" Itulah gunanya kakak kan, Om " ucap Nino.


" Hah... kamu sama saja. Kalian berdua selalu manjain Bhie. Cari pacar sana..!!! biar gak dimanfaatkan terus sama..." kata Ramdan.


" Papa... jangan hasut para kakakku dong...!!! " Bhie tiba-tiba muncul.


" Ehh... yang diomongin datang. Siapa yang menghasut ? " Ramdan beralasan.


" Itu barusan. Pas banget aku lapar " Bhie langsung membuka bungkusan.


" Pelan-pelan Bhie... " kata Sin.


" Aku lapar lah kak, dari siang aku belum makan. Padahal cuma perawatan, tapi... lama banget sampai ngantuk-ngantuk " kata Bhie.


" Kalau begitu, aku duluan. Mau antar temanku balik " Ian berpamitan.


" Makasih Ian, sudah bantuin Om " kata Ramdan.


" Sama-sama Om " jawab Ian.


" Bye... kak Ian " Bhie melambaikan tangan.


" Wahhh... kulit bos kecil berseri-seri " Nino memuji.


" Biasanya kelihatan kusem gitu ? Tapi... bener sih, memang kelihatan beda dan aku suka baunya harum, seperti harum bunga " kata Bhie.


" Telan dulu itu makanan di mulut. Kebiasaan nih " Ramdan memperingatkan.


" Lapar Pa... " jawab Bhie.


" Kalian ngobrol saja dulu, Om mau keluar sebentar ada urusan " kata Ramdan berpamitan.


Setelah Ramdan pergi.


" Kakak bagaimana toko, ramai ? " tanya Bhie.


" Kenapa ? Sudah kangen kerja lagi ? " Sin menggoda Bhie.


" Cuma tanya saja. Bosanlah kak di rumah, gak ngapa-ngapain. Pengen keluar jalan-jalan gitu " kata Bhie.


" Kemana ??? " tanya Sin.


" Pantai kek, taman kek, kayaknya seru " kata Bhie.


" Pantai terlalu jauh, mana boleh. Besok aja deh kita jalan ke taman terdekat, gimana ? " kata Sin.


" Boleh, tapi... pagi-pagi sekali ya ? Aku mau lihat matahari terbit, dari taman dekat rumah kalian kayaknya keren " kata Bhie.


" Baiklah " Sin mengiyakan.


" Hadechh tanda-tanda aku harus kerja sendiran ini " Nino bergumam.


" Tentu saja, semua urusan kamu tangani " Sin memberi perintah.


" Kalian benar-benar bos yang kejam. Diajak jalan-jalan kek sesekali " Nino cemberut.


" Sabar ya Nino ( menepuk lengan Nino ). Kalau kamu ikutan, kerjaan jadi kacau, kasihan karyawan lainnya.


" Bos kecil, tidak menghibur " Nino cemberut.


" Hanya dirimu, yang bisa diandalkan " kata Bhie.


" Tentu saja, karena Krisna, yang terbaik " membanggakan diri.


" Setelah aku...!!! " Sin tak mau kalah.


" Iyalah, setelah kakak Sin " Bhie malas berdebat.


Mereka pun tertawa.


.


.


.


( Bersambung )


Silahkan memberi kritik dan saran, agar tulisan saya ke depannya menjadi lebih bagus lagi.


Terima kasih atas dukungan teman-teman 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2