
*Cerita sebelumnya*
" Bagaimana kamu kenal Angela ? " tanya Bayu.
" Bukannya tadi malam kamu jalan dengan Angela ? " kata Bhie.
" Kalian lihat ? " tanya Bayu.
" Tentu saja, kita lihat. Apa kamu gak tau kalau aku satu sekolah dengan Angela ? " kata Bhie.
Bayu pun terkejut mendengar perkataan Bhie.
" Aku belum tau banyak tentang Angela, aku juga baru kenal dengan Angela " kata Bayu sedikit malu.
" Ohh gitu. Pantas " kata Bhie.
# BAYU...!# Tiba-tiba ada seseorang memanggil. Bayu menghampiri orang yang memanggil dirinya, selang beberapa menit Bayu kembali menghampiri Bhie.
" Maaf Bhie, aku harus pergi ada urusan dengan temanku " kata Bayu.
" Kamu gak kenalin aku sama temanmu itu ? " tanya Bhie.
" Gak usah, kamu gak perlu kenalan sama temanku itu " jawab Bayu.
" Kenapa ? " Bhie protes.
" Karena kamu teman spesialku. Aku pergi dulu ya, bye..." Bayu pun pergi.
" Apa-apaan Bayu ini. Teman spesial ? Lucu sekali " Bhie menggerutu.
Sesampainya di rumah, Bhie memikirkan kembali perkataan Bayu tentang Sin ( berakhir di tempat tidur ? ) itulah perkataan yang selalu terngiang di telinga Bhie.
( Kalau memang itu benar, apa iya semu pacarnya dia tiduri ? ) itulah yang dibenak Bhie sekarang ini.
Bhie mencoba mengingat kembali saat-saat Sin datang berkunjung ke rumahnya. Saat Sin berkunjung sendirian selalu datang setelah jam 7 malam dan selalu pulang jam 9 malam.
Sementara saat berkunjung dengan Nino, saat datang dan pulang jamnya gak tentu. Dan kalau datang sendirian harinya kebanyakan pada hari rabu.
" Perasaanku aja kali ya ? Hemm, apa sebaiknya aku tanyakan saja sama Sin. Aku pikir sendirian malah bikin penasaran, tapi kalau aku tanya, mau mulai dari mana pembicaraannya ?. Pasti nanti Sin bakal balik tanya, aku tau darimana dan lagi apa iya Sin mau jawab pertanyaanku ? Haahhh, sial " Bhie berbicara sendiri.
" Apa yang sial ? Bicara sendiri ntar disangka stress loh " papa tiba-tiba muncul.
" Papa. Sejak kapan berdiri di situ ? " Bhie kaget.
" Baru saja. Kenapa ? Setress masalah pelajaran ? Coba cerita sama papa " kata papa.
" Gak ada apa-apa kok pa, cuma lagi mikir sesuatu aja tentang temanku " kata Bhie.
" Kenapa dengan temanmu ? " tanya papa.
" Emmm. Itu pa, temanku ribut hanya gara-gara seorang perempuan. Semacam saingan " kata Bhie.
" Wahh masalah serius itu, biarkan saja mereka ribut, bila perlu berkelahi saja untuk menentukan pemenangnya " kata papa.
" Bukannya nanti malah perempuannya yang besar kepala, sok cantik direbutin 2 laki-laki. Kayak gak ada yang lainnya saja sampai kelahi segala pula " kata Bhie.
" Ini nich yang salah pemahaman. Kamu mandangnya dari sisi perempuan, kalau dari sudut pandang laki-laki beda lagi " kata papa.
" Aku gak paham pa ? " Bhie bingung.
" Gini ya nak. Seorang laki-laki itu jika ribut karena perempuan, bukannya laki-laki itu cinta atau suka yang terlalu sama perempuan itu, melainkan karena ada gengsi. Apalagi kalau laki-laki itu ada pesaing, itu justru membuat dia merasa lebih tertantang lagi untuk mendapatkan perempuan itu dan ada kebanggaan tersendiri kalau sampai menang. PAHAM " penjelasan papa.
" Emmm... enggak sepenuhnya paham, tapi pa. Apa iya gengsi laki-laki setinggi itu ? sampai rela berkelahi hanya karena perempuan ? " tanya Bhie lagi.
" Tentu saja, Karen itu menyangkut harga diri seorang laki-laki " kata papa.
" Harga diri ? Seorang laki-laki ? " Bhie masih mencerna.
" Kalau kamu gak paham itu wajar karena kamu perempuan. Tapi ngomong-ngomong, apa perempuan itu adalah kamu ? " tanya papa.
" Tentu saja bukan pa, kenapa papa berpikir perempuan itu aku ? Ada-ada saja " Bhie membantahnya.
__ADS_1
" Loh, memangnya kenapa, anak papa ini kan juga perempuan. Jadi dari sekian laki-laki yang pernah datang ke rumah, yang mana pacarmu ?" tanya papa.
" Gak ada satu pun " jawab Bhie.
" Hemm. Trus ada yang kamu taksir gak diantara mereka semua ? " papa bertanya lagi.
" Gak ada pa. Semuanya teman, kok kayaknya papa pengen banget aku punya pacar ? " kata. Bhie penasaran.
" Papa hanya penasaran saja, temanmu yang datang ke rumah selalu laki-laki, teman perempuan cuma teman sekolah saja. Saat kamu kumpul dengan teman-temanmu, kamu terlihat seperti laki-laki. Apalagi kalau kamu pakai topi dibalik, haduch sudah tidak bisa dibedakan. Terkadang papa lupa kalau kamu perempuan " kata papa.
" Papa keberatan, aku berteman dengan laki-laki ? " tanya Bhie.
" Tidak. Papa tidak melarang, kamu mau berteman dengan siapapun, bahkan bila temanmu itu merokok, peminum atau pembuat onar, papa gak masalah. Yang terpenting, kamu jangan sampai terpengaruh. Papa kasih kamu kepercayaan, jadi kamu harus jaga kepercayaan itu, jangan sampai kamu langgar. Bila kamu langgar akan ada konsekwensinya. Mengerti...???" kata papa.
" Iya mengerti " kata Bhie.
" Bagus itu baru anak papa. Ngomong-ngomong papa lapar dan papa mau nasi goreng. Kamu yang beli ya " kata papa.
" Sendirian ???" tanya Bhie.
" Tentu saja kamu sendiri, papa mau ke rumah pak RT sebentar, urusan rukun RT. Atau kamu saja yang ke tempat pak RT ? " kata papa.
" Ogah, urusan RT gak paham. Sini uangnya aku yang beli, kasih lebih pa, sekalian isi bensin " kata Bhie.
" Sering keluyuran nih kamu, makanya boros bensin " kata papa sambil mengeluarkan uang.
" Itu sudah jelas, bosan lah pa, di rumah gak ada teman " kata Bhie.
" Hati-hati jangan ngebut " pesan papa.
" Iya " kata Bhie.
*Sesampainya di tempat nasi goreng langganan*
" Pakde pesan nasi gorengnya 2 " kata Bhie.
" Nunggu, gak apa-apa ? "
" Masuk dulu "
Saat masuk ke dalam Bhie menjumpai wajah yang tak asing lagi, tanpa pikir panjang Bhie langsung menghampiri dan menyapanya.
" HAI NINO " Bhie mengagetkan Nino.
" Astaga bos kecil, hampir tersedak nich " kata Nino.
" Sorry. Tumben makan sendirian ? " tanya Bhie.
" Mana ada sendirian, sama si bos juga kok " jawab Nino.
" Ohh sama Sin. Trus mana Sin ? " tanya Bhie.
" Keluar, tadi terima telepon " kata Nino.
" Kok gak ketemu diluar ? "kata Bhie.
" Nah itu si bos datang sama temannya " kata Nino sambil menunjuk kearah Sin.
" Hai Bhie ( melambaikan tangan ). Kamu mau makan juga ? " kata Sin.
" Hai Sin. Iya nich papa pengen nasi goreng. Ehh sorry duduk gih ( hendak berdiri ). No, geser dikit sebelahan dong " kata Bhie.
" Santai, duduk aja " Sin mendudukkan Bhie kembali.
" Yaahh si bos gak ridho banget bos kecil mau sebelahan sama aku " protes Nino.
" Eh Jul. Ayo duduk, udah dipesankan kok. Oh ya Bhie, kamu sudah pesan ? " kata Sin.
" Sudah, tinggal tunggu aja " kata Bhie.
Bhie memperhatikan orang yang disebelah Nino, tampak seperti temannya Bayu tadi siang. Bhie memperhatikan dengan seksama dan yakin itu merupakan orang yang sama.
__ADS_1
( Ternyata dia juga kenal Sin. Dia berteman dengan Sin dan juga berteman dengan Bayu. Apa dia sama denganku ?? ) kata Bhie dalam hati.
" Hai Bhie, kenapa melamun ? " Sin menyenggol Bhie.
" Ahh, enggak kok. Cuma mengingat sesuatu aja, wajah temanmu kayak pernah lihat " kata Bhie berbisik.
" Wajah pasaran, banyak yang mirip " Sin juga berbisik.
" Kamu gak kenalkan ke aku ? " Bhie masih berbisik.
" Gak perlu. Kamu gak perlu kenalan sama dia " Sin juga masih berbisik.
" Kenapa ? " protes Bhie berbisik.
" Gak penting " Sin tersenyum.
" Hemm dasar " kata Bhie.
" Hem Hem. Bos dan bos kecil kenapa saling berbisik ? Hemm mencurigakan ? " Nino menatap curiga.
" Emmm apa Nino cemburu, aku cuekin ? " goda Bhie.
" Tentu saja, ada kita berdua disini dan kalian bicara bisik-bisik. Bicarakan apa sih ? " tanya Nino.
" Membicarakan ? RA-HA-SI-A " Bhie tersenyum.
Nino tambah manyun mendengar ucapan Bhie dan bersamaan itu pesanan nasi goreng siap.
" Ini pesanannya sudah jadi "
" Ini uangnya pakde, makasih ya " kata Bhie.
" Sama-sama, salam buat bapakmu ya "
" Iya pakde. Pesananmu sudah jadi, aku duluan ya. Bye Sin, bye Nino " Bhie berpamitan.
" Bhie, kirim pesan kalau dah sampai rumah " kata Sin.
" Ok " jawab Bhie.
" Hati-hati bos kecil " kata Nino.
Bhie tidak menjawab, ia hanya melambaikan tangannya dan segera pergi.
\*\*\*
Bhie duduk di sebuah kursi, dalam ruangan potong rambut khusus laki-laki yang sudah tutup. Wajahnya benar-benar kesal mengingat kejadian tadi sore, sudah jatuh ketimpa tangga pula. Itulah pepatah yang tepat buat Bhie untuk situasi saat ini dan bukan hanya satu tangga tapi banyak tangga.
Bagaimana tidak. Lagi santai jalan, tiba-tiba nyasar sebuah bola entah darimana, nimpuk kena jidat. Tidak cukup sampai disitu, bola yang mental jatuh mengenai tangga kayu dan sialnya ada kaleng cat yang terisi. Bisa ditebak kejadian selanjutnya kaleng cat tumpah mengenai Bhie yang tepat berada dibawahnya.
Sialnya lagi kena sebagian rambut dan parahnya setelah dicuci, catnya gak hilang sepenuhnya, ada bercak-bercak hijau di sebagian rambut.
Untung saja pelaku yang menendang bola, mau bertanggung jawab. Pelakunya adalah Juli, tidak lain dan tidak bukan orang yang pernah Bhie jumpai belum lama ini.
" Gimana kak Ian, bisa dibersihkan ? " tanya Juli.
" Susah nih, catnya mulai mengering, potong saja rambutnya sedikit " kata Ian sambil memperhatikan rambut Bhie.
" Sayang banget kalau dipotong, sudah lama aku panjangin nih, susah payah aku rawat " kata Bhie.
" Gak banyak kok, cuma ujung-ujungnya saja " kata Ian.
" Iya dech terpaksa, tapi jangan potong banyak-banyak ya kak " pinta Bhie.
" Iya, serahkan padaku. Walaupun aku biasa potong rambut laki-laki, spesial malam ini untukmu saja, itupun hanya karena Juli yang minta " kata Ian.
" Tentu saja dia yang bertanggung jawab. Gara-gara dia nendang bola asal, jadi aku yang kena sialnya. Sudah kena bola, kesiram cat dan harus dipotong pula rambutku. Lihat nich jidatku, masih merah kena bola tadi " kata Bhie sambil memperlihatkan.
" Iya maaf, aku kan bertanggung jawab, kurang apalagi ? " Juli kesal.
" Untung aja kamu kenal Sin dan Bayu, kalau enggak, aku pukul dulu baru aku maafin " kata Bhie.
__ADS_1
( bersambung )