Zona Nyaman Sebuah Hubungan

Zona Nyaman Sebuah Hubungan
Bab 17


__ADS_3

Dengan berlahan langit mulai nampak terang, matahari mulai terbit memancarkan sinarnya, memberi kehangatan bagi alam beserta para penghuninya.


Matahari terbit nampak terpantul dipermukaan air laut, yang menambah keindahan bagi yang memandangnya.


Sin dan Bhie memandang ke depan, menikmati pemandangan alam yang menakjubkan dan momen ini menyentuh hati mereka mewakili harapan di hari yang baru.


" Cantik dan hangat, iya kan Sin ? Sin ? " kata Bhie.


Karena tidak ada jawaban Bhie menoleh ke arah Sin dan ternyata ia tertidur. Bhie memperhatikan wajah Sin yang tertidur, nampak bulu mata yang cukup panjang bagi seorang laki-laki serta lentik alami, alis yang tebal, hidung mancung dan bibir yang kemerahan. Bhie mencium kening Sin dengan lembut agar tak mengganggu tidurnya.


" Kamu memang ganteng, pantas saja banyak perempuan yang jatuh hati padamu. Tidurlah, kamu pasti capek " ucap Bhie lirih.


Bhie kembali mengarahkan pandangannya ke depan, matahari dengan berlahan mulai naik, hanya suara deburan ombak, angin bertiup sepoi-sepoi dan sesekali ada suara burung liar yang berkicau. Suasana yang benar-benar membuat hati tenang dan nyaman.


Sin yang tak benar-benar tidur nampak tersenyum dengan tindakan dan ucapan Bhie barusan. Hatinya berbunga-bunga karena pada akhirnya Bhie mengakui kalau dirinya ganteng dimatanya.


Awalnya hanya ingin menutup mata sebentar tapi pada akhirnya jadi tertidur betulan. Sin mulai bangun karena sinar matahari mulai terasa panas, berlahan Sin membuka mata nampak sekeliling sudah terang benderang.


" Selamat pagi " Bhie menyapa.


" Emm, berapa lama aku tidur ? " tanya Sin.


" Lumayan lama. Kamu pasti capek banget, tidurmu cukup pulas, bahuku sampai mati rasa" kata Bhie.


" Benarkah ? Tapi aku merasa nyaman " Sin tersenyum.


" Hem, padahal cuma duduk, bisa pegal juga badan " Bhie meregangkan badan.


" Apa kepalaku seberat itu ? " Sin memeluk Bhie dari belakang.


" Tentu saja, buktinya bahuku mati rasa " Bhie meledek.


" Hemm " Sin cemberut.


" Bercanda, gitu aja cemberut " Bhie tertawa.


Dengan cepat Sin memutar badannya menjadi posisi berhadapan dan mencium bibir Bhie. Bhie yang terkejut sempat mundur selangkah karena gerakan spontan, namun badannya ditarik kembali mendekat oleh Sin.


Kini pandangan mata mereka saling bertemu, mereka saling menatap sambil tersenyum malu-malu.


Bhie sadar, apa yang mereka lakukan saat ini sudah melewati dari batas garis pertemanan. Bhie juga sudah mengetahui bagaimana perasaan Sin kepada dirinya, namun untuk merubah status hubungan maka jawabannya tidak.


Sin memiliki begitu banyak pacar dan deretan mantan yang tak terhitung, semua orang yang kenal Sin tau itu.


Tapi tidak ada yang pernah bertanya pada Sin, kenapa ia melakukan itu semua ? apa maksudnya ? dan kenapa ? Hanya Sin seorang yang tau jawabannya.


Kini mereka saling berpandangan kembali dan kemudian tertawa bersamaan, entah apa yang mereka tertawakan.


" Sudah mulai siang, pulang yuk " Bhie memulai pembicaraan.


" Kamu milikku sekarang, rasanya aku gak mau pisah " Sin sedikit cemberut.


" Aku milik papaku, jangan asal klaim aja. Ayo pulang, aku sudah lapar " kata Bhie.


" Tunggu Bhie " Sin menarik tangan Bhie.


" Apalagi ...??? " kata Bhie.

__ADS_1


" Aku ingin melihatmu mengurai rambut " Sin menarik ikat rambut Bhie.


" Apaan sich gak jelas, biasanya juga ikat rambut " kata Bhie.


"Aku gak tahan lihatnya, bikin gemes " Sin sok manja.


" Jangan sok manja, gak cocok dengan tampangmu " ledek Bhie.


" Mulai dari sekarang kamu akan sering melihatnya. Ayo pulang, nanti aku suruh Nino belikan makanan sekalian buat kamu " kata Sin.


Setelah perjalanan yang cukup lama akhirnya sampai juga di depan rumah Bhie, nampak Nino sudah datang lebih dahulu dengan bungkusan plastik tergantung di motor.



" Cepat banget datangnya, nunggu lama ya ?" tanya Bhie.


' Gak juga bos kecil, ini aku belikan makanan, semoga sesuai selera bos kecil " kata Nino.


Tatapan mata Nino tak sengaja mengarah ke titik merah pada Bhie.


" Terima kasih Nino, maaf sudah ngerepotin kamu " Bhie mengambil makanan dari tangan Nino.


" Ahh, ya bos kecil, sama-sama " kata Nino.


" Kamu mau singgah dulu Sin ? " Bhie basa-basi.


" Gak usah aku langsung pulang saja. Jangan lupa dimakan sampai habis, nanti aku kabari kalau sudah sampai rumah " kata Sin.


" OK " Bhie menganggukkan kepalanya.


" Aku pulang ya, bye...!!! Ayo No...!!!" kata Sin.


" Hati-hati " kata Bhie sambil melambaikan tangan.


Saat mengendarai mobil pikiran Nino masih melayang pada titik merah yang barusan dilihatnya, kemudian Nino kembali teringat dengan kejadian tadi malam.


( Perasaan tadi malam posisi merahnya disamping, kenapa sekarang pindah ke depan? Semua itu jangan-jangan ulah si bos, apa iya si bos sudah ???) batin Nino dalam hati.


Nino segera menggelengkan kepalanya, membuang jauh-jauh pikiran negatif yang terlintas di kepalanya. Sikap Nino tersebut disadari oleh Sin tapi ia hanya diam pura-pura tak menyadarinya dan terus melihat ke arah jalan.


*Beralih pada Bhie


Sementara itu Bhie merebahkan badannya di atas kasur, badannya terasa sedikit capek, mata mulai berat sebab kurang tidur tapi sayangnya perut juga lapar, dari pagi belum terisi makanan sedikitpun. Bhie bangkit dari tidurnya, menarik handuk bergegas untuk mandi dulu supaya lebih segar di badan.


Kebiasaan setiap orang setelah mandi bersih, pastilah berdiri di depan cermin untuk merapikan penampilannya. Alangkah terkejutnya Bhie melihat titik-titik merah yang ada di lehernya.


" Astaga apaan ini ??? " Bhie terkejut.


Bhie mencoba mengingat kembali apa yang terjadi pada dirinya. Bayangan kejadian di rumah Windy dan kejadian saat berada di pantai, terlintas dalam pikiran Bhie. Setelah ingat Bhie segera menutupinya dengan plester luka.


" Kenapa merah banget sich bekasnya, jangan-jangan tadi Nino lihat lagi. Pantesan Sin nyuruh aku ngurai rambut, jadi ini tujuannya. Cepet hilang gak ya bekasnya ??? " Bhie bergumam.


Bhie keluar kamar menikmati makanan yang Nino belikan, Bhie melihat ke sekeliling rumah nampak sepi tak ada orang lainnya. Selama ini hanya Bhie dan papanya Bhie saja di rumah ini, itupun dalam sebulan bisa dihitung jari dapat mengobrol layaknya papa dan anak.


Bhie teringat dengan ucapan Sin.


Bisa saja papamu tidak menikah lagi, itu karena kamu, takutnya kalau kamu tidak bisa menerima orang lain untuk menjadi mama sambungmu.

__ADS_1


" Apa yang Sin katakan itu benar ya ? Kalau iya, berarti yang lebih kasihan itu adalah papa, bukan aku. Haahh " Bhie menghembuskan nafas panjang.


***


Keesokan harinya Bhie menjalani rutinitas di sekolah dengan biasa, awalnya nampak biasa namun saat jam istirahat pertama.


Tiba-tiba saja sebuah tamparan mendarat di pipi Bhie, yang dilakukan oleh Grace.


" PLAAKKK....!!!!"


Bhie yang terkejut hanya terdiam sambil menatap Grace dengan tatapan bingung dan heran, sementara Grace menatapnya dengan pandangan marah, nampak jelas dari sorotan matanya yang melebar.


" Apa kamu salah minum obat ? " kata Bhie sambil memegang pipinya yang terasa sakit.


" Kamu pantas menerimanya, itu ganjaran untukmu " kata Grace.


" Aku punya salah apa sama kamu ? tanya Bhie.


" Aku putus sama Sin. Pasti itu gara-gara kamu, Sin mutusin aku tepat setelah dia menghabiskan malam dengan kamu, kamu ngaku aja dech, kamu ada hubungan kan sama Sin dan kamu gak suka kalau Sin lebih sayang aku, IYA KAN ??" Grace bicara tanpa henti.


Belum saja Bhie menjawab perkataan Grace, Grace menarik rambut Bhie dengan kuat. Bhie yang tak terima dengan perlakuan dan tuduhan Grace, tentu saja membalasnya.


Al hasil mereka berdua pun saling jambak dan memukul, sementara teman-teman yang lainnya tidak ada yang berusaha melerai malahan ada yang menyoraki memberi semangat, sudah macam tontonan pertarungan kayak di TV.


Pada akhirnya keributan dihentikan dengan paksa saat ada guru yang datang, karena mendengar suara gaduh keributan perkelahian. Kini mereka berdua duduk di ruang BP dengan penampilan yang berantakan. Bhie nampak lebih parah, baik di wajah dan tangannya ada bekas cakaran dikarenakan kuku Grace yang sedikit panjang.


Drama belum selesai, sampai di ruang BP, kini Bhie dihadapkan dengan omelan orang tua Grace yang datang melihat kondisi anaknya. Walaupun sudah coba ditenangkan oleh guru BP tapi tetap saja orang tua Grace masih mengomel.


" Kamu ini anak perempuan, gak di didik orang tuamu ? menyerang anak orang lain sudah kayak preman dijalanan yang tidak berpendidikan. Aduhh lihat wajah cantik putriku, sampai memar-memar gini " Ibu Grace berbicara tanpa henti.


Bhie memalingkan wajahnya, kini dia tau darimana sikap Grace yang bicara tanpa henti itu, ternyata keturunan dari sang ibu.


" Anak tante yang nyerang duluan, aku yang dituduh " Bhie bergumam lirih karena kesal.


" Berani ya kamu bergumam jawab ? Bukannya minta maaf " Ibu Grace kembali meninggikan suaranya.


" Harap tenang Bu " kata guru BP.


Tiba-tiba saja, pintu terbuka dan nampak seorang wanita berambut panjang terurai dan berpakaian modis, masuk ke ruangan BP. Semua mata tertuju ke arah wanita tersebut, termasuk juga dengan Bhie.


" Maaf saya datang terlambat. Saya Mentari, mamanya Bhientang " Mentari memperkenalkan diri.


" Jadi anda mamanya. Lihat apa yang sudah putri anda lakukan pada putriku. Bagaimana anda mendidiknya ??? " Ibu Grace mengomel lagi.


" Begini Bu Mentari. Bhientang dan Grace terlibat perkelahian, menurut anak-anak yang menyaksikan Grace duluan yang menyerang Bhientang, lalu Bhientang membalas dan akhirnya terjadilah keributan mereka " guru BP menjelaskan.


" Kalau begitu Grace yang salah. Dalam hal ini putri anda menyerang putri saya lebih dahulu " kata Mentari.


" Putriku menyerang pasti ada alasannya " Ibu Grace melakukan pembelaan.


" Udahlah Bu, jangan ribut " ayah Grace menenangkan istrinya.


" Gak bisa pak, aku gak terima " Ibu Grace masih kesal.


" Jadi ibu mau tanya dihadapan orang tua kalian. Apa yang kalian ributkan ? Ayo jawab !" guru BP melihat bergantian ke arah Grace dan Bhie.


Bhie melirik ke arah Grace yang nampak gelisah dan ragu untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya. Tentu saja Bhie paham dengan kegelisahan Grace, mana bisa mengaku hanya gara-gara cowok.

__ADS_1


( Bersambung )


Bagi teman-teman yang mau kritik dan saran dipersilahkan, agar ke depannya tulisan saya semakin lebih baik lagi, terima kasih 🙏🤗.


__ADS_2