2 BIL

2 BIL
BAGIAN 24


__ADS_3

   Ini sudah sore,tadi Ibam telpon katanya Sajad ngajak jalan,dia mau keliling desa ,pengen mengenal lebih lanjut desa tempat tinggal sang pujaan hatinya yang sudah mampu membuat dia jatuh hati,itu semua perkataan Ibam,ngga' tau deh apa benar itu berasal dari Sajad atau cuma karangan dari Ibam semata,aku hanya pasrah dan mengiakan ajakan Ibam.


"Kita jalan kaki aja dehh..."


"Kalian mau kan?Aku Ibam dan Sajad sedang ada di luar Rumahku hendak keluar seperti yang telah di utarakan Ibam tadi


"Biar lebih bisa menikmati udara sore hari di desa kami"


"Yaaaa...."Aku menatap mereka berdua antusias,aku juga rindu dengan jalanan didesa ini ,yang penuh dengan kenangan yang sangat indah


"Terserah pada yang mulia ketua aja ,aku sih slalu nurut,


ngga' tahu tuh sama calon Taaruf  yang ketua pilih ,yang sekarang berdiri disampingku ini"Ibam mencibir terlihat seperti orang yang syirik


"Kamu....ya..mulutnya kayak mulut cewek "


"Satu lagi .."Aku memberi tatapan tajam pada Ibam


"Kamu hutang penjelasan tentang bagaimana Abi bisa secepat ini tahu,kita duduk dulu disana"Aku menunjuk sebuah tempat yang ada di depan Rumahku ,dan di sana terdapat serambi yang biasa kami sekeluarga tempati untuk menikmati sejuknya angin .


  Sajad dan Ibam mengikuti langkahku ,kemudian duduklah kami di sana


"Sekarang mulai ceritanya"Aku melipat kedua tanganku,menatap Ibam dengan sinis


"Sebenarnya sih..aku iri sama dia,kenapa ketua malah milih dia ,bukannya aku yang selama ini sangat dekat dengan ketua"


"Niatnya biar dia di marahin Abi ,ya...lebih parahnya di hajar gitu,ngga' apa_apa kan,biar usahanya lebih terlihat sulit,soalnya dia terlihat beruntung ,dengan mudahnya bisa membuat ketua ,menjatuhkan pilihan dengan mudah,dan sekarang lihat ,bukannya mendapat amarah dan hajaran malah Abi suka sama dia ,ketua nerima lagi tanpa fikir panjang"Ibam meluapkan semua isi hatinya


"Ibam,tadi kan aku udah jelasin ,bahwa Sajad udah lama mengutarakan keseriusannya,sebenarnya aku akan memberi dia kepastian jika kami udah lulus dari fakultas,yaaa...karena Abi udah terlanjur tahu dan tidak mungkin Abi membiarkan anaknya mempunyai hubungan apapun itu di luar pernikahan,akupun menerimnya ,ini udah lama kok aku pertimbangin"Aku berhenti bicara dan menunggu respon Ibam ,Sajad terlihat hanya bisa mendengar semua penjelasanku.


" YA.....MAAF"Ibam menunduk kepalanya


"Seharusnya aku tahu ketua memang bukanlah orang yang grasak _grusuk dalam menentukan pilihan ,pasti ketua sudah mempertimbangkan semua ini ,maaf aku hanya iri sama dia dan berharap akulah yang ada di posisi dia"Ibam bicara pelan


"BISA AJA KAMU..."!Aku menoyor kepala Ibam


"Sudahlah ...sekarang udah clear kann.."Aku menepuk bahu Ibam,dan dia mengangguk patuh


"Aku malah kefikiran ,karena ini terlihat begitu mudah,aku takut kehilangan ini semua"Sajad memberi tatapan penuh arti,kami berdua mengerti maksud perkataannya


"Ayoo....lah kamu sudah di beri kesempatan oleh ketua,gunakan hal ini dengan baik"


"Kalau aku mendapatkan hal yang kamu dapat ini maka aku akan pergunakan dengan baik ,walaupun aku akan berakhir dengan kekecewaan tapi aku rela"


"Jadi walaupun nanti kamu berakhir dengan kecewa ,kuharap kamu faham akan hal itu ,dan tidak terlalu menuntut pada ketua"


"Aku menyukai mu karena aku tahu kamu akan rela melakukan apapun demi kebahagiaan dia"


"SEMANGAT...OKE"Ibam menepuk bahu Sajad


"Tadi katanya iri ,sekarang malah memberi semangat"Aku menggerutu sendiri


"Sekarang kita jalan aja rasa sedih nya kita singkirin dulu,yuuukkk...kita nikmati udara sore desa kita yang sudah lama sangat aku rindukan ini"


"AYOOO..."Kami berteriak bersamaan


"HAA..HAA...HA..."Kami tertawa bersamaan menertawakan kami yang terlihat kompak


"Coba ada Irfan dan Roy pasti bakal lebih rame"Aku teringat kedua temanku


"Kalau nanti kalian ingin meresmikan dengan tunangan...... kita undang mereka ya...?Ibam menatap kami dengan antusias,sambil melangkahkan kaki kami menyusuri jalanan desa yang dihiasi dengan warana hijaunya pepohonan dan semilirnya angin yang terasa sejuk


  Aku terdiam ,masih ragu untuk menjawab iya,jujur tujuanku masih tetap sama ,aku akan melakukan apapun supaya bisa dekat dengan keluarga Hadi termasuk jika harus bertunangan dengan Sajad aku akan melakukan itu.


"Tentu saja kita pasti akan segera meresmikannya,nunggu keluarga Sajad setuju  iya kan Sajad?


"Iaaa...."Sajad mengangguk ragu karena melihat sikapku tadi yang terlihat sekali kalau aku meragukan ini


"Ada apa?


"Apa sekarang kamu merasa menyesal"Aku menatap mata Sajad yang terpancar keraguan disana


"Kenapa kamu bisa bicara seperti itu Sakina Nabila"Sajad terlihat marah


"Tadi kamu menunjuk kan hal itu,itu terlihat jelas Sajad"Aku membalas kesal


"Asal kamu tahu ....sesuatu yang tidak pernah aku sesali dalam hidupku adalah mencintaimu"Perkataan Sajad membuatku bungkam


"HAAHHH"Sajad menghembuskan nafasnya


"Ini tentang hatiku,sekilas tadi dia egois,dia bilang dia ingin sepenuhnya memiliki hatimu"


"Dari tadi aku berusaha menasehatinya agar tidak egois"Sajad makin terlihat ngelantur


"Apaan sih kamu LEBAYYYY"Aku tersipu,Sajad tersenyum melihat tingkahku


"AKRHHHHHH...Bener yaaa...kata orang ,yang katanya jika ada  perempuan dan laki_laki berduaan ,maka ketiganya adalah syetan,dan sekarang aku terlihat seperti syetan yang sedang menghantui kalian"Ibam menggerutu


"Kamu jangan mulaiii jailnya ya...dasar sotoy..."Aku menimpuk kepala Ibam dengan Tas yang aku jinjing


  Kami melangkahkan kaki kami sambil sesekali membicarakan apa aja yang aku dan Ibam lewati di desa ini ,hingga tanpa sadar kami sekarang berada tepat di depan Rumah yang dulu kami jadikan markas ,aku dan Ibam terdiam ,sedang Sajad hanya menatap kami dengan tatapan penasaran.


   Tanpa sadar aku dan Ibam berbalik menghadap kearah Rumah itu,terlihat masih sama tidak berubah sama sekali,dengan warna cat yang sama letak kursi di depan rumah juga masih sama ,tidak terlihat ada rumput liar yang menghiasi terlihat seperti Rumah yang masih berpenghuni,namun terlihat kosong karena tidak ada pergerakan manusia di sana,saya yakin keluarga Bilal pasti sudah membayar seseorang untuk membersihkan Rumah ini ,bahkan aku sangat merindukan Rumah ini.

__ADS_1


  "Rumah siapa....?Suara Sajad memecah lamunan ku dan Ibam,


Sajad menunggu jawaban kami


"Haaahhhhh"Aku menghembuskan nafasku bersamaan dengan Ibam juga


"Kaliannn...kenapa...?Sajad bertanya lagi dengan rasa penasarannya


"Ini tempat tongkrongan kami"


"Kami sering menyebutnya markas"Ibam menjelaskan


"Tongkrongan.....


"Markas.....


"Hehhh...... Ibam sejauh mana kamu bercerita tentang aku "Aku memberi tatapan mematikan pada Ibam,karena heran Sajad seperti sudah mengetahui tentang rumah ini


"Sejauh_jauhnya ,sampai kebiasaan ketua yang jelek daaaannn...."Ibam berhenti


"Dan tentang dia....orang yang saat ini masih menguasai hatimu"Sajad meneruskan ucapan Ibam,wajahku berubah suram ketika di ingatkan pada dia,aku langsung merasa sesak,aku langsung memalingkan mukaku dan membelakangi Sajad dan Ibam


"Sudahlah....kita teruskan jalan_jalan kita aja jangan membahas yang lain"Suaraku bergetar aku berusaha sekuat tenaga menahan rasa sesakku,aku juga tidak akan menunjukkan rasa sedihku lagi .


Rasa sedihku yang ada karena dia


aku ingin menghapusnya,dan menghilangkannya tanpa jejak


   Kami meneruskan perjalanan kami  ,bercerita segala hal yang kami lewati bersama di desa ini ,dan dengan penuh pengertian Ibam slalu melewatkan cerita tentang Bilal ,dan tidak menyebutkan namanya.


 


  


  Semua berlalu dengan cepat,Abi tidak mengijinkan kami untuk menunggu kelulusan kami ,dia menyuruh kami untuk segera bertunangan ,dan setelah lulus kami di suruh langsung menikah,begitulah Abi ,dia tidak pernah ingin anaknya menyentuh pergaulan yang tidak di perbolehkan oleh Islam


   Pertemuan kedua keluarga berjalan dengan baik ,kedua orang tua Sajad menerimaku dengan tangan terbuka ,sedang kakak dari Sajad tidak terlihat sama sekali ,kedua orang tua Sajad bercerita sekilas tentang dia yang katanya juga sudah bertunangan dan pernikahannya segera di laksana kan ,setelah kakaknya Sajad menikah maka mereka akan merencanakan pernikahan kami selanjutnya ,saat ini kakaknya Sajad yang sudah aku tahu namanya itu sedang berada di luar negri.


  


  Acara pertunangan berjalan dengan lancar ,kami mengadakan acaranya di kota ,acara sangat meriah banyak sekali kolega bisnis keluarga Hadi yang hadir,menurut Sajad sihhh...ini tidak sebanding dengan acara pertunangan kakaknya dulu,sampai _sampai di siarkan secara live di salah satu stasion Televisi,saat ini ada sih yang meliput acara kami ini tapi tidak di siarkan secara live


   Seperti janji Ibam dia menyuruh Irfan dan juga Roy untuk hadir di acara kami ini,mereka bertiga ikut membantu acara ini sehingga mereka terlihat sangat sibuk.


   Dan satu hal yang aku sadari ,keluarga Hadi tidak seburuk yang aku kira ,kedua orang tua Sajad beserta keluarga lainnya sangat Ramah dan sangat menerimaku,walau pun notabene nya aku berasal dari desa ,yaa.....walaupun aku bukan termasuk pada golongan ekonomi menengah kebawah tapi kekayaan Abi ku patut juga di perhitungkan dengan beberapa hektar tanah yang Abi miliki serta fasilitas pendidikan di desa kami yang juga di kuasai Abi ,tapi tetep ajakan aku ini berasal dari desa,tentunya mereka pasti menginginkan menantu yang lebih tinggi status sosialnya.


Mereka sangat baik hangat ramah selalu tersenyum terlihat sangat baik,membuatku berteriak sendirian "APA BENAR YANG AKU LAKUKAN INI"


  Aku benar_benar dilema di satu sisi aku tidak bisa meredam kebencianku pada anak pertama mereka MUBARAK HADI,di sisi lain setiap saat rasa kemanusiaanku slalu menasehatiku untuk menghentikan ini semua,namun maaf hati nurani aku tidak bisa mundur ,setiap saat ingatanku tentang perbuatan Mubarak Hadi ,anak mereka semakin jelas di ingatanku,kebencianku semakin nyata padanya,aku tidak peduli lagi pada orang_orang yang ada di samping dia ,yang aku mau hanya membuat dia hancur sehancur_hancurnya.


   Pesta meriah sudah berakhir ,Abi dan Umi sudah kembali kedesa ,begitu pula dengan kedua sahabatku Irfan dan Roy mereka sudah kembali ke luar negri setelah selama 2 minggu ini slalu menggangguku dengan segala keinginan mereka yang tidak pernah bosan untuk jalan mengelilingi kota dan mengunjungi setiap tempat _tempat yang menyenangkan yang ada di kota.


aku masih tinggal di rumah Bibiku,setelah resmi menjadi tunangan Sajad,tidak ada yang berubah ,hanya Sajad jadi lebih perhatian,dia selalu menjemput dan mengantarku pulang,dan kami jalan saat malam minggu seperti biasa peraturan Bibiku,sebelum jam 11 harus ada di Rumah.


    Kami hampir lulus ,seperti mahasiswa lain nya ,kami di tugaskan untuk menjadi anak magang di salah satu perusahaan untuk menunjang nilai kami di kampus ,dan kebetulan aku kebagian magang di perusahaan Hadi ,Sajad agak.tidak suka,selama ini dia memang seakan mencegahku untuk dekat dengan kakaknya ,dan memang kakaknya yang memegang perusahaan Hadi ini .


   Namun aku berusaha memberi keyakinan pada dia bahwa aku bisa menjaga diri dengan baik dan dia tidak perlu khawatir,disini aku hanya menjadi anak magang ngga' mungkin kan kakaknya itu yang selaku penguasa di perusahaan itu bakal melirik padaku .


  Tapi hati kecilku sih ingin agar Si Mubarak ini melirikku agar tujuanku segera tercapai namun aku harus lebih sabar karena,aku harus lebih hati_hati,Mubarak bukanlah orang bodoh yang bisa dengan mudah di tipu,aku akan berusaha mendapat nilai terbaik agar aku bisa direkrut dan bisa menjadi pegawai tetap di perusahaan


   Dan disinilah aku sibuk mondar kesana kemari ,melayani perkataan senior,ini sangat menyenangkan ,aku suka bekerja seperti ini ,disini aku di tugaskan untuk membantu pekerjaan sekretaris ,sang penguasa memiliki 2 sekretaris yang satu sibuk mengikuti dia kemanapun dia pergi dan yang satu lagi yang stay di kantor,dan bekerja mengurus segala sesuatu yang ada di perusahaan ,dan sekarang aku menjadi asisten sekretaris ,Alhamdulillah mba' MAULI sangat baik,dia perempuan yang sangat baik menempatkan dirinya sebagai senior dan bertindak sesuai dengan pekerjaannya memberiku bimbingan yang sangat berguna dia mempunyai nama lengkap MAULIA HARIZ


 


"Nabila hari ini Bos besar akan ada disini ,jadwalnya sedang kosong di luar ,biasanya sih kalau dia disini ,kesibukan kita makin bertambah,kita saling membantu ya!"Mba' mauli bicara dengan tegas


"TENTU SAJA ...saya akan melakukannya dengan baik"Aku bicara dengan antusias aku sungguh bersemangat.


  Kami duduk sambil memeriksa Berkas dan jadwal Bos,sambil menunggu kedatangannya


"Emmm..ngomong_ngomong Nabila bukannya kamu tunangan dari adiknya Bos ,apa kamu akrab dengan Bos"?Mba' Mauli bertanya ,dia menatapku sambil memutar_mutar pulpen yang ia pegang,Mba' Mauli terlihat sangat cantik dengan Rambut yang sangat lurus hitam tidak ada gelombang di rambutnya ,sepertinya dia tidak suka mencatok rambutnya seperti wanita di luaran sana.


"Saat pertunangan dia ada di luar negri ..dan kami ..cuma dua kali saja  bertemu ,tidak banyak yang bisa kami bicarakan ,dia orang yang sangat sibuk"Aku berbicara santai


"Iaaa...dia memang orang yang sangat sibuk,dan sangat ambisius,aku kagum padanya"Mba' Mauli bicara sambil tersenyum,aku mengernyit,satu yang aku sadari Mba' Mauli sepertinya menyukai penjahat itu"Ohhhh...Mba' Mauli kamu tidak pantas menyukai dia ,Mba' terlalu baik, sedang dia....bagaikan Serigala berbulu domba"Aku bergumam sendiri.


  Suara derap langkah menghentikan pembicaraan kami,secara bersamaan kami melihat kearah suara itu,dan ternyata itu si Bos yang baru kami bicarakan,dia berjalan begitu gagah wajahnya begitu tampan dan tegas,Aura kesombongan memancar di setiap gerakan nya di sampingnya ada  seorang perempuan yang juga berpakaian resmi dengan rambut yang di ikat rapi , dia mengikuti  langkah si Bos agak tergesa karena langkah si Bos yang agak lebar .


     Setelah tahu bahwa itu pak Bos aku dan Mba' Mauli buru_buru berdiri dan menunduk.


     Aku tidak tahu apakah kakak Sajad ini mengetahui tentang aku yang magang disini atau tidak,namun yang pasti Sajad sudah tahu,kayaknya tidak mungkin dia tidak menceritakan ini pada keluarganya.


   Aku dan Mba' Mauli masih menunduk ,setelah orang itu melewati kami baru kami mengangkat wajah kami,kami melihat punggungnya ,tiba_tiba dia menghentikan langkahnya.


"MAULI"Terdengar dia memanggil Mba' Mauli,suaranya penuh dengan aura sok penguasa


"Ia...pak"Mba' Mauli langsung menjawab


"Perempuan disamping mu itu ,apa dia anak magang tahun ini?Aku langsung tersedak ludahku sendiri,sama sekali tidak menduga bahwa aku akan dia perhatikan


"Ia....pak "Sekali lagi Mba' mauli menjawab


"Suruh dia menghadap,

__ADS_1


saya tungu di ruanganku"Dia mengeluarkan titahnya.


Dia berlalu melangkah menuju ke ruangannya


"Nabila ...tadi kamu sudah denger kan"


"Sana segera menghadap sana ..."Mba' Mauli mendorongku pelan,menyuruhku menghadap ke Bos


"Tok...tok..tok...."Aku mengetuk pintu ruangan Bos


"Masuk..."Setelah mendengar perintah masuk ,aku langsung membuka pintu ruangan itu,mataku langsung di sajikan dengan pemandangan ruangan yang begitu luas dengan dinding tembok yang berwarna Hitam dan Abu_abu terlihat beberapa barang_barang yang terlihat sangat mewah,Aku agak menganga karena luasnya ruangan ini yang sama persis dengan Rumah Bibi ku yang sekarang aku tinggali,bahkan menurutku ini lebih luas.


  "Silahkan duduk di sofa"Itu suara perintah dari Mubarak Hadi yang sekarang adalah Bosku,sepertinya dia sedang memeriksa sebuah berkas dan menandatanganinya,didepan nya ada Mba' SANIA,yang tadi jalan mengikuti si Bos ,dialah sekretaris yang mendampingi Si Bos kemana_mana.


"Sudah semua..?Si Bos berbicara dengan mba' Sania


"Sudah pak...."Mba' Sania menjawab


"Kalau begitu keluarlah"Si Bos menyuruh Mba' Sania keluar ,Mba' Sania pun keluar,dia sempat tersenyum padaku dan aku membalasnya


   Si Bos berdiri dan dia melangkah kearahku dan duduk di Sofa yang ada di depanku,dia menatap kearahku


"Ada motif tertentu sehingga memutuskan untuk magang disini"?Si Bos bertanya tanpa basa_basi dulu, dia menatapku sinis ,terpancar kecurigaan di wajahnya,sudah kuduga dia bukan orang yang bodoh yang dengan mudah di kibuli,aku harus lebih hati_hati dalam bertingkah dan berbicara


   "Bapak sedang menanyakan tentang motif apa ya....?


"Apa tentang .....motif baju saya yang sangat indah ini "Aku menunjuk bajuku berusaha polos dan bercanda


"Kamu jangan berusaha ngelawak ya..."


"Ingat ....walaupun kamu tunangan dari anak keluarga Hadi,tapi saya akan tetap memperlakukan kamu seperti anak magang lain nya jangan berharap lebih"Si Bos terlihat murka


"Maaf pak....."


"Saya cuma berusaha untuk mencairkan suasana"Aku menjawab sambil menunduk


"Sekarang kamu bilang apa motif kamu sebenarnya?Si Bos berusaha menahan amarahnya yang tersulut


"Sebenarnya sihhhhh....!


"Motif saya ,saya ingin menjadi orang yang sukses seperti anda pak"Aku menjawab dengan tenang,aku berusaha membuang rasa takut dan gugupku


" Dan bisa mandiri bekerja keras dan berhasil mencapai keinginan saya yang ingin merajai dunia Bisnis"Aku menjawab dengan tegas


"SOK KAMU YA...."


"Sudahlah motif dan tujuanmu itu sudah terbaca dengan kamu bertunangan dengan adikku dan bekerja disini"Si Bos meremahkan ucapanku


"Hahhhhh"Aku mendengus kesal


"Apa maksud anda?Senenarnya aku tahu arah pembicaraannya,pasti dia mencurigaiku sebagai gadis yang hanya menginginkan uang dan jabatan


"Ya....pasti semua karena Uang dan Jabatan  ...iya kan....?Si Bos makin terlihat meremehkanku


"Maaf pak sepertinya anda sudah melewati batas,saya ini masih anak magang ,belum bekerja disini,nanti saat saya bekerja disini,anda bisa menanyakan semua tentang motif dan tujuanku"


"Lagi pula semua tentang penempatan anak magang ,kampus yang memutuskan,bisa_bisa nya Bapak menuduh saya sembarangan"Aku meluapkan emosiku nafasku naik turun ini sungguh membuatku agak murka,aku tahu dia pantas curiga dengan semua ini ,tapi aku tidak terima jika di tuduh menjalin hubungan hanya karena Uang.


" Sebaiknya Kalau tidak ada hal penting lagi saya permisi pak"Aku berdiri dan menunduk kan kepala pertanda rasa hormatku,setelah itu aku melangkah keluar ,tanpa menoleh kearahnya.


   Aku sudah di luar pintu,aku menoleh menatap pintu Ruangan yang baru aku datangi"Dasar Bos arogan"Aku menggerutu di depan pintu itu


     "MOTIF ,TUJUAN....."


"EHHHHH,cari tahu aja sendiri"


"Terserah ya kamu berpendapat apa tapi tujuanku tidak akan berubah


"TAHTA,UANG EHHHH.....semua itu tak penting bagiku,ngga' di bawa mati juga"


"Bagaimana Nabila?Suara Mba' Mauli menghentikan gumaman dan umpatan ku


"Ohhh....iya Mba' "Aku berjalan dan menduduki tempat dudukku tadi


  Aku terdiam sebentar


"Bagaimana Si Bos"?Mba' Mauli mengulang pertanyaannya


"Bagaimana....."Aku menatap Mba' mauli


"Ohhh....si Bos?Aku baru ngeh,aku masih agak shok sebenarnya.


"Iaa....."Mba' Mauli terlihat penasaran


"Dia cuma mengarahkan aja tadi,dan bilang katanya akan memperlakukanku seperti anak magang lainnya"Aku menjawab dengan menyampaikan salah satu ucapan Bos tadi,aku memang bukan orang yang terbuka,aku biasanya akan terbuka pada temanku yang memang benar_benar tahu tentang diriku


"Dia....perhatian kannn...!Mba' Mauli tersenyum ceria


"Yaa....sangat perhatian hingga terasa ingin mencekikku"Itu jawabanku dalam hati


"Ia...Mba' Boss sangat baik"Terpaksalah aku ia in dari pada Mba' Mauli makin kepo ....


☀☀☀☀☀☀☀

__ADS_1


 


  


__ADS_2