2 BIL

2 BIL
BAGIAN 34


__ADS_3

"Aku menginginkan putri satu_satunya di keluarga ini"Perkataan Bilal sukses membuatku terperangah.


"Putri satu_satunya ....."Aku terdiam mencerna kalimat Bilal


"Maksudnya kamu ingin aku"


"IYA...."Bilal menjawab sambil menaikkan dagunya


"Buat apa kamu menginginkan aku?


"Apa kamu ingin aku jadi pelayan gitu,sebagai bayaran hutang ini?


"Bukan....."Bilal menggeleng


"Lebih tepatnya aku ingin mengambil Sakina Nabila Fatahillah untuk kujadikan pendampingku"Bilal dengan suara dominasinya


"HAHHH......HA..HA"Aku menekan tawaku tegas,memasang wajah yang begitu mencemooh


"Pendamping......?


"Kamu udah gila,udah ngga' waras...saraf lho ,?


"Itu tidak mungkin terjadi"Abi dan Umi ikut terkejut mendengar perkataan Bilal,aku melotot pada Bilal


"Ngeselin kamu itu"


"Ya.....begitulah aku"Bilal menaik turunkan alisnya menatapku licik


"Benar.....kamu ingin anak saya ini menjadi_____"Lihat Abi dia bagai di tawarin harta karun terlihat langsung sumringah


"Abi....Abi tidak boleh terlena dengan ucapan nya"Sunguh ini tidak mungkin


"Tapi..Abi lebih suka kamu sama Bilal ini walau dia agak bandel tapi Abi lebih milih dia dari pada tunanganmu itu"


"Iya....Abi ....Abi bener ,walau bandel nya Agak tidak enak di dengar"aku


memutar bola mataku malas


"Dia itu udah punya istri Abi,tidak usah di denger ucapannya"


"Apa.....jadi kamu sudah punya istri tapi kamu masih ingin anakku menjadi pendampingmu"Abi terlihat kaget


"Rasaiiiin tuhhh....."Aku seperti mendapat dukungan,itu sedikit menambah rasa percaya diri


"Hehhh.....pria kurang belaian,cari perempuan lain sana,aku ora sudi menjadi pendamping kamu dan menjadi orang kedua..."Aku bicara sinis


"Itu semua tersreah kalian,disini.aku hanya memberi syarat"Bilal masih terlihat tenang dia seakan tidak terpengaruh pada ejekanku


"Lalu apa yang akan lakukan jika kami tidak memenuhi syarat itu"


"Tentu seperti yang dari awal saya bilang,yaitu mengosongkan lahan"


"Hari terakhir kapan?


"Heh....hehh...heh."Bilal terkekeh


"Ini hari terakhirnya Nona,Ha_ri_i_ni"


"Jadi______"Amarahku mulai memaksa untuk keluar,dari tadi menahannya


"Ngga' nyangka kamu tega.....Bilal"Nafasku mulai ngos_ngosan karena emosi


"Kenapa...kamu malah mengincar pesantren,tidak kah jika kamu mengambil Rumah kami ini  sudah lebih dari cukup untuk membuat kami menderita"


"Karena kami sangat mengenal kalian,makanya kami menggunakan pesantren"


"Abi ayolah......biar aku menghubungi Barak,dia pasti akan langsung mengurusnya"Aku menohon pada Abi yang saat itu menunduk sedih"


"Tapi....Nak...."Abi terlihat meragu


"Emmmm______"


"HENTIKAN........"Bilal berteriak tegas


    "Sudah saya bilang saya tidak ingin materi ,untuk pembayaran hutang ini"Bilal mengetatkan rahangnya,menatapku tajam


"Kamu kenapa sihh...Bilal"


"Apa...sihh.....salahku?


"Lagi pula ini tidak mungkin Bilal,kamu sudah menikah,aku tidak mungkin menyakiti perempuan lain,dan aku juga sudah bertunangan"Air mataku mulai tergenang


"Aku tidak peduli.....kalau kalian tidak memenuhi syaratku,detik ini juga kami akan mengosongkan lahan itu dengan paksa"


"Sudah....hentikan perdebatan ini"!Abi mulai bicara tegas


"Tuan....Abimana silahkan keluar dari Rumah kami"


"Kami akan langsung menuju ke pesantren untuk mengosongkannya"Abi mengusir Bilal,aku melihat Abi terpukul dan Umi ku hanya bisa menunduk dan menangis


"Tapi....Abi...."Aku berusaha menghentikan Abi


"Sudahlah....Nak....,tidak perlu berdebat panjang,apapun itu hasilnya tetap sama....iya...kan Tuan Abi mana?Abi menatap Bilal dengan raut terluka


"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu"


"Bereskan berkasnya kita pulang"Bilal dan temennya itu bergegas


"Aku bertanya dalam hati,Bilal terlihat ngotot tadi begitu menginginkanku,tapi saat di suruh pulang dia biasa aja,tidak kecewa atau marah_marah gitu"Aku menggerutu dalam hati


"Lho ...kok aku malah kecewa sih.....Bilal menyerah dan tidak memaksa,seharusnya kan kalau di TV_TV gitu,kalau jaminannya ngga' mau bakal di paksa gitu,atau di seret"


"Astagfirloh jadi kemana_mana fikiranku,Nabila fokus....fokus ini tentang pesantren,jangan fikirin yang lain"Aku berperang dengan batinku


Tapi bagaimana dengan Barak Astagfirloh, kepalaku pusing


   Aku lihat Bilal dan temannya selesai bergegas,kemudian dia berdiri hendak pergi


"Kalau begitu kami permisi dulu,kami juga akan langsung ke lokasi untuk memantau"Setelah itu Bilal berbalik,Abi terduduk lesu


   Aku bingung harus bagaimana,gimana ini,lalu apakah aku harus menerima tawaran ini,haruskah aku tega membuat perempuan lain terluka,lalu bagaimana dengan Barak,dia akan marah ohhh....salah bukan marah lagi tapi aku yakin Barak akan murka jika aku melakukan


"Astagfirloh"fikiranku buntu,tidak ada sama sekali dalam otakku,Bilal sudah melangkahkan kakinya,dia terlihat biasa,namun dia sudah membawa semangat kami


"ARKKKKKHHH. ...."Aku berteriak kesal


"Tidak....tidak...pesantren adalah hidup Abiku,jiwa Abi ada di sana,tidak mungkin ini terjadi,aku benar_benar tidak menyangka Bilal tega,tidak_tidak...."Aku masih berperang di batinku


"TUNGGUUUU......"Aku berteriak menghentikan langkah Bilal dan temannya itu


"Tunggu jangan pergi dulu"Nafasku naik turun,aku begitu emosi


"Kalian duduk lagi,kita diskusikan lagi"Aku menggerakkan tanganku meminta dengan sangat untuk mereka kembali duduk


Bilal dan temannya sudah duduk dengan manis di sofa kami


"Apa tidak ada cara lain?


"Tidak..."Bilal menjawab singkat


"Tidakkah kamu memikirkan istri ka____"


"Kalau kamu masih mau berdebat lebih baik saya pulang dulu,pilihannya hanya iya atau tidak,tentang yang lain aku yang akan


mengurus semuannya"Bilal memotong ucapanku dan bicara dengan tegas,aku mulai menangis air mataku mengalir dengan deras,aku menghapus air mataku,aku teringat sesuatu ,mungkin hal ini bisa membuat Bilal menghentikan ini


"Dengar....."Aku memberi Bilal tatapan tajam


"Aku tidak akan berdebat lagi,dan akan menunduk patuh padamu tanpa menyela "


"Aku....hanya ingin persetujuan dari kedua orang tua kita"Aku tersenyum sinis pada Bilal,aku yakin ini pasti berhasil,karena Mamanya Bilal yaitu Tante Raisa sangat membenciku


"Heh...hehh...heh.."Bilal terkekeh


"Katanya tidak mau berdebat,tapi nyatanya,kamu sedang mencari gara_gara dan alasan untuk berdebat"


"Tapi baiklah,kamu akan dapatkan itu semua"


"Pertama karena kedua orang tua kamu,ada di sini,jadi kedua orang tuamulah yang akan di tanyakan dulu"


"Bagaimana Abi....."Abi menatapku dia mendekat dan menggenggam tanganku,lalu mengambil tangan Umi


"Menurut Umi bagaimana?Abi menatap Umi,aku menunggu dengan sabar jawaban Umi ,yang saat ini basibnya sama denganku,mata sembab hidung merah,suara sudau sangat parau


"Ini semua kebahagiaan anak kita"


"Jadi Umi mengikuti apapun keputusanmu Nak..."Umi meletakkan kepalaku didadanya


"Jangan terlalu berkorban banyak,masalah pesantren,kita urus itu nanti


"Umi benar nak....masalah pesantren,kita pikirkan nanti,Bilalkan memberi dua pilihan ,mengosongkan pesantren dan kalau tidak mau begitu dia menginginkan kamu nak....."


"Tapi.....bagaimana nanti keadaan santri pesantren kita Abi"


"Kita akan cari solusinya nanti"


"Jadi apaun keputusanku,kalian akan setuju"


"Ia....nak"Mereka membelai kepalaku   bersamaan


"Kamu denger sendiri kan...."


"Jadi keputusan mereka ada padaku "


"Sekarang giliran orang tuamu"


"Itu juga soal gampang,mereka sama seperti orang tuamu kok,keputusan ada di tanganku juga"

__ADS_1


"AKU TIDAK PEDULI,AKU INGIN MENDENGAR LANGSUNG DARI MULUT MEREKA"Aku bicara agak berteriak


"OKE.....OKE....Santuy.....girl.."Bilal mencoba menenangkanku,dia mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Ayahnya


"Loud speaker"


"Woww....woww...sekali lagi Santuy girl"


"Ye...ye..ye..."Aku mencibir Bilal,dia malah menatapku sinis


"Halo....Bilal.."Itu benar suara papanya Bilal


"Ohh..iya...Ayah ...bisa Ayah kerumah Abi"Kebiasaan seenaknya saja manggil Abiku dengan panggilan Abi juga


"Bawa Mama juga...."


"Ia....Ayah segera kesana"


"Ya...sudah cepetan Yah....menantumu udah ngga' sabar nih  ....ketemu Ayah"!Bilal tesenyum menggodaku,aku memutar bola mataku memberinya tatapan malas


"Sudah selesai,sekarang kita tunggu mereka datang"


"Tidak ada pertanyaan mengapa dari ayahmu"


"Ayah sudah tahu"Bilal menjawabku enteng


"Apa....Ayahmu sudah tahu,terus dia ngijinin kamu yang katanya menginginkanku itu"


"Tentu....memang kenapa Ayah akan menolak"


"Oke.....aku tidak kaget kalau Om Faizal yang setuju,lalu Mama kamu,apa dia tau tentang semua ini"?


"Kamu sudah tidak sabar ya.....,tunggu aja...sebentar lagi mereka bakalan ada disini"Ngeselin banget sih....Bilal


"Aku benci kamu Bilal"


"Aku mencintai mu Bila"


"Kamu Brengsek,nyebelin,penghianat"Aku memaki Bilal


"Kamu baik ,kamu cantik,youare my everything"Apaan sih Bilal,dia tidak malu apa,bicara begitu di depan Abi sama Umi,dan juga temennya itu,aku melirik Abi dan Umi,mereka terlihat biasa walau terlihat seperti menahan,sialnya aku seperti terpengaruh,aku merasa panas dingin dan aku yakin wajahku mulai memerah


  Deru suara mobil terdengar dari sini,pasti itu kedua orang tua Bilal,aku sedikit deg_deg kan ,udah lama aku tidak bertemu mereka ,sejak kepergian Bilal


  "Ting_...tong__...."


"Biar aku yang menyambut mereka"Bilal melangkah kearah pintu dan membukanya


  Tampak wajah Om Faizal muncul di balik punggung Bilal dan di susul Tante Raisya,mereka masih tampak muda,Om Faizal makin tampan dengan wajah dewasanya begitu pula Tante Raisya,tentu saja Bilal mewarisi semua yang bagus dari kedua orang tuanya,hidung mancung Ayahnya,pipi dengan Rahang tegas namun Bibir dan dagunya mirip dengan Tante Raisya,makin menambah ketampanan Bilal,aku mengakui itu semua,aku tidak akan munafik tentang betapa menariknya wajah Bilal.


  "Assalamu alaikum"


"Waalaikum salam"Kami menjawab salam Om Faizal bersamaan,kami saling berjabat tangan,dengan aku yang mencium tangan mereka tanda hormatku pada yang lebih tua


"Ayo....duduk Yah....Ma"


"Yang tuan Rumah siapa.....yang tamu siapa"Aku bergumam kecil,namun Bilal mendengarnya


"Sebentar lagi kan jadi Tuan rumah"Aku memutar bola mataku


"Bagaimana.......apa sudah ada kesepakatan?Om Faizal memulai pembicaraan


"Calon menantu Ayah ini ingin mendengar langsung pernyataan  persersetujuan Ayah tentang rencanaku yang ingin menjadikannya pengantin wanita"Aku kaget mendengar pernyataan Bilal yang sangat membuatku malu ,aku melotot pada Bilal,dia hanya membalasku dengan tersenyum


"Apa kehadiran Ayah ...tidak cukup untuk membuktikan persetujuan ini"


"Tidak aku ingin mendengar langsung dari kalian"Itu suaraku


"Baiklah ....dengar baik_baik"


"Saya....Faizal Abimana menyetujui keinginan anakku yang akan menikahi Sakina Nabila Farahillah"Om Faizal berbicara tenang,aku melihat pada matanya,tidak ada kegugupan yang aku tangkap,dan aku yakin dia tidak bohong


"Dan sekarang Tante Raisya"Bilal mengangguk pada Mamanya


"Saya Raisya Abimana menyetujui hubungan Bilal dengan Sakina Nabila Fatahillah"Aku juga melihat pada Tante Raisya,aku tidak menangkap kebohongan disana


"Bukannya Tante Raisya membenciku?Aku menanyakan sesuatu tentang masa lalu


"Bukannya Tante Raisya sangat tidak menyukaiku?


"Lalu apa...ini KENAPA..KENAPA kalian menyetujuinya


"Aku berharap pada Tante"Aku menghampiri Tante Raisya yang memang ada di pinggir sofa


"Kita ini wanita Tante,aku tidak mungkin menyakiti wanita lain,aku mohon Tante nasehati Bilal,bawa dia kejalan yang benar,dia sekarang lagi tersesat Tante"Aku menggenggam Tangan Tante Raisya dan bersimpuh di hadapannya,aku menatap Tante Raisya dengan mata yang dipenuhi dengan air mata.


"Cklek...."Terdengar bunyi kedipan kamera,aku melihat kearah bunyi itu,dan nampak senyum jail yang saat ini begitu membuatku kesal.


"Pemandangan yang indah ,menantu bersimpuh pada ibu mertuanya"Aku melotot pada Bilal sambil menggerak_gerakkan bibirku terlihat seperti orang sedang mengomel


"Tante.."Aku menghadap Tante Raisya lagi dan merengek padanya


   aku berdiri  dan kembali ketempat tadi aku duduk,semua diam,mereka seperti menunggu apa yang aku ucapkan .


"AKU JUGA INGIN PERSETUJUAN DARI RiSTA"Aku bicara sambil mengangkat daguku,aku masih mencari solusi


Bilal berdiri"Apa dia mau menjemput Rista"Aku tersenyum memikirkan usahaku yang sebentar lagi berhasil.


"SEGERA KOSONGKAN LAHANNYA"Bilal bicara lantang


"Kita pulang AYah....Mama.."Mereka semua berdiri hendak pergi,aku melongo tidak menduga sama sekali


"TUNGGU"Aku berteriak histeris


"Oke....Baiklah....aku setuju "


"Dan lakukan apa yang kamu ingin itu penghianat brengsek"Aku menatap sinis pada Bilal,emosiku memuncak,Bilal memang brengsek,aku sangat membencinya


"Bagus.....kenapa tidak dari tadi"Bilal menyeringai senang


  Lalu Bilal merogoh ponselnya dan menelfon seseorang


"Kalian segera kesini,pengantin wanita perlu di rias"


"Di rias ...apa maksudnya?


"Sekarang juga kita menikah"


"Ap___Ahhh....tidak mau kamu sudah gila,lihat di tanganku masih ada cincin di jari manisku,CIN_CIN TUNANGAN,Yang berarti aku masih terikat"Aku menunjukkan jari yang terdapat cincin itu


  Bilal melangkah mendekatiku,mengambil tanganku dan mengeluarkan cincin itu dari jariku,lalu dia memandangi cincin itu,aku tersenyum miring,menandakan kemenanganku karena berhasil membuatnya bungkam


"TIDAK BERGUNA"Bilal melempar cincin itu dengan keras,aku tersentak kaget menutup mulutku tidak menyangka akan hal itu, tidak tahu apa akan patah


"Setelah sampai langsung masuk tidak usah memencet bel"Bilal melempar ponsel ke sofa,dia sangat kesal,aku menatapnya ngeri


   "Tapi ini terlalu cepat Bilal"


"Apa lagi kalau kedua pengawalku nanti kembali kesini,aku yakin pasti mereka akan mencegahnya sekuat tenaga"


"Diamm....dan ikuti semua perintahku"Bilal menatapku penuh intimidasi,tidak berubah ,slalu memaksakan keinginannya


  Hanya satu yang kuharap sekarang kedua pengawalku,aku yakin mereka akan bisa mengatasi ini ,mungkin dengan cara kekerasan,pura_pura menculikku,lalu menghubungi Bosnya terserahlah aku benar_benar tidak mungkin menuruti kemauan Bilal,bagaimana dengan Rista apa yamg ada di fikiran mereka sehingga mereka semua menyetujui ini,aku juga tidak habis fikir Tante Raisya juga dia malah sekarang berubah.


   Aku hanya diam saat para perias datang dan mulai meriasku,memakaikanku sebuah gaun panjang berwarna putih gading dengan hijab berwarna senada menutup sampai dada dengan hiasan kecil di kepalaku yang menyerupai mahkota yang melingkar penuh di dahiku.


"Hahh....."Aku terdiam sambil menghela nafasku,memandang wajah yang ada di cermin


"Aku begitu sakit saat Bilal meninggalkanku,namun aku berusaha bangkit hingga aku bisa menghadapi semuannya dengan mudah ditambah hadirnya Sajad dalam hidupku namun aku sudah menghianatinya dan sekarang aku juga akan menghianati kakaknya


   Walau ada dendam ku pada Barak tapi sungguh tidak ada keinginanku menghianati semua kepercayaannya,bertunangan dengan Barak merupakan pasrah hidup yang aku jalani walau disana terselip keinginan menghancurkan semua miliknya,tak diduga Barak malah mengajukan suatu hal yang sangat aku inginkan


   Menikah dengan Bilal,kecurangan Bilal yang menggunakan pesantren untuk mengikatku,membuatku muak ,dia seenaknya pergi dan dengan mudah menggapaiku dengan sekali memetikkan jari


  Aku pasrah juga,aku terima,tapi yang paling aku benci akan hal ini,yaitu adanya hati  lain yang akan tersakiti,aku adalah perempuan yang sangat benci jika ada seorang wanita tersakiti dan aku tidak ingin menjadi wanita yang menyakiti wanita lain,dan ya.....aku akan menjadi orang ke tiga,haruskah aku bahagia dan tersenyum


   Aku menunggu duduk menungu riasan selesai


"Tok ....tok ...."Suara ketukan pintu,menatap kearah pintu,mereka tersenyum ,sudah kuduga,mereka tidak mungkin  tidak terlibat,aku tahu dan mengenal kekompakan mereka


"Saya permisi Nona"Sang perias undur diri karena memang sudah selesai  dan mengerti bahwa kami ingin bicara


"Hahhh...."Menghembuskan nafas


"Duduk kalian semua...."Di depanku ada sofa duduklah mereka disana,mereka tersenyum nyengir salah tingkah


"Ketua sangat cantik"Ibam memuji,hanya menatap malas


"Walau ngga' di rias ketua tetep cantik kok"Roy menimpali


"Kami juga ingin menikahi ketua"Irfan ngaco


"Ia....ketua kami mau,kami rela menjadi yang kedua yang ketiga dan yang keempat"Berdiri kesal sulit melangkah  karena gaunnya namun tetap berusaha,menuju ke belakang mereka dan mengambil benda empuk namun cukup untuk meluapkan emosi


  "Mau.....hah..."


"Bhuuuuk....bhhuuuuk...bhuuuukkk"Memukul kepala mereka penuh emosi


"Mau jadi yang kedua dan ketiga  hahhh"


"Aww......awww.....ampun ketua"Meringis semua menghalangi dengan tangan,pukulan masih brutal tidak ingin berhenti,bikin kesel....bikin emosi


"Enak......aja....ora sudi aku"


"Nikahin aja tuhhh...gedebong pisang"Menatap nyalang,deru nafas menggebu,Rambut semuanya acak_acak kan.


"Ketua sangat liar....."Menggerutu semua ,hanya di hati tidak berani,ketua selalu bisa mengintidasi kami

__ADS_1


   Agak lega ,menumpahkan emosi dan mereka menjadi wadah,hati terasa plong,kembali duduk di tempat,mereka membenahi baju dan merapikan rambut,tidak lucu jika ada di pernikahan namun tampang acak_acak kan.


"Maafkan kami ketua"Ibam mulai bicara


"Aku tidak akan banyak nanya,aku juga salah dan aku juga tidak jujur"


"Maaf....."Menatap penuh penyesalan


"Ketua tidak salah kami pantas mendapatkan itu"Semua luruh kelantai ,menggenggam tangan,bersimpuh.


"Kami sangat menyayangi ketua"Semua menggenggam,sehingga tangan terlihat menggumpal tinggi


"Oke ....baiklah ,ini hari pernikahan tidak boleh ada air mata"mengusap mata kasar,acara menangis dan marah_marah nya pun selesai ,aku sangat menyayangi mereka ,dan tidak bisa marah dalam waktu lama


  Sebelum kami bersiap untuk keluar dari ruangan ini ,masuk lagi seseorang yang sudah pasti ada di pihak mereka semua, RAHIMA YUSUF, "Kak Hima...."panggilku


dia tersenyum salah tingkah, lalu ia mendekat dan memeluk ku


   Aku duduk kembali dan kak Hima duduk di depan ku"Apa Paman Hilal tidak bisa membantu semua ini "?


"Maaf Nabila. ..."Kak Hima menunduk lesu sambil menggenggam tanganku


"Tidakkah kalian ini terlihat seperti sedang bersekongkol "Aku menatap mereka curiga, namun mereka hanya menggeleng lemah


  "Baiklah jangan di bahas lagi, sekarang aku sudah pasrah, aku akan melakukan pernikahan ini, apa kurang nya kalian semua yang aku sayangi ada di sini di samping ku,seharusnya bahagia ku lengkap"Aku mengangkat daguku dan melangkah keluar Kak Hima menuntunku dia tersenyum salah tingkah, aku sadar dia pasti sudah di bujuk oleh Bilal,dan dia terbujuk apa lagi yang mesti aku lakukan semua sudah terjadi sekarang aku pasrah.


   Kami melangkah bersama ,


aku keluar dengan langkah gontai  bersama indahnya gaun yang aku gunakan,di bawah tangga sudah berdiri pria yang akan mengikatku dengan pernikahan,ternyata dia juga berhias    


   Bilal menggunakan jaz yang berwarna senada denganku begitu juga celananya ,hal itu malah menambah pesonanya


  Hatiku belum berubah,Bilal masih menjadi penguasa di hatiku,dan aku benci mengakui itu apakah aku harus senang bahagia,Astagfirloh aku bingung, seandainya ini terjadi di saat Bilal belum mencampakkanku,maka ini merupakan hidup yang paling baik semasa aku hidup


  Dia  tersenyum kearahku,aku diapit oleh sahabatku yang merupakan sahabat Bilal juga, lalu mengulurkan tangannya padaku,kekuatan mata Bilal yang slalu mampu menghipnotisku,tanganku terulur menyambut tangan Bilal


"Belum Halal ......"Suara datar dan sinis menyeruak,tangan pria lain menyambut tanganku,pria yang memang tidak berdosa jika memegang tanganku dan pria itu Abiku,Bilal tersenyum salah tingkah,dia lupa kalau dia berada di Rumah yang di kuasai Abiku


"Rasainnn......wleeee"Aku mengatai Bilal dan meleletkan lidahku kearah nya, semua hanya bisa geleng_geleng melihat tingkah kami


  Abi merangkul ku membawaku melangkah menuju kearah pintu keluar Rumah ini,membuatku mengernyit penuh tanda tanya


"Anak Abi sangat cantik"Abi makin mengeratkan rangkulannya


"Memang acaranya di mana Abi"?


"Acaranya di pesantren,kamu akan menikah disana"!


"Maaf ....karena Abi kamu menikah dengan cara seperti ini"


"Ngga' apa_apa Abi,lagi pula Bilal juga udah janji ,membebaskanku setelah ini,dan menjalankan apa yang mau aku lakukan"


"Memang apa sihh....yang mau kamu lakukan Nak"


"Abi tenang aja aku bisa mengatasi ini semua'


"Namun tetap hindari bahaya"


"Oke...Abi"


  Kami semua menaiki mobil dan mobil segera meluncur menuju ke pesantren,disana aku dan Bilal akan menikah,pasrahhhh.....hanya itu yang bisa aku lakukan ,demi Abiku,orang yang paling aku sayangi.


    Sampailah kami di pesantren,dari luar sudah terlihat ada hiasan yang menempel pada seluruh dinding pesantren,aku tidak merasa aneh jika dalam sekejap semua sudah siap dalam beberapa jam,pastinya santri disini ikut membantu


   Kami semua menuju lapangan di bawah di alasi dengan karpet mewah lapangan terlihat begitu indah ,tidak ada panggung hanya sebuah pelaminan berwarna putih ,dominan putih ,dengan hiasan kain yang bergelantungan berwarna senada dengan apa yang kami pakai ,bunga putih ,pilar penyangga berwarna  putih ,kursi pelaminan juga putih.


  Ini terlihat bagus di padu dengan apa yang kami kenakan.


Bilal duduk di depan sebuah meja disana sudah ada seperangkat alat sholat, perhiasan lengkap kalung cincin anting dan juga gelang,terlihat sangat indah dan mahal,melihat ini semua aku jadi meragukan persiapan pernikahan ini seperti sudah lama di rencanakan,segampang itukah Bilal melakukan ini,ahh....mungkin ini karena pekerja Bilal yang sangat profesional


   Aku duduk menunduk di samping Bilal ,di depan kami sudah ada Abi dan bapak penghulu,para ustadz pembina pesantren yang kira_kira berjumlah 10 orang ,mereka ada dua di samping Abi dan penghulu dan juga Paman Hilal ayahnya Kak Hima.         


       Aku ada dalam rangkulan Umi dan dan Tante Raisya mereka mengapitku sambil terus mengelus bahu dan punggungku seakan memberiku kekuatan sedang disamping Umiku ada Bibi ku dan Kak Hima


     sedang Om Faizal  ada di samping Bilal,dan ketiga temanku Ibam ,Roy ,dan Irfan yang ikut duduk di belakangku dan seterusnya ada beberapa santri yang menemani mereka


  Disaksikan oleh semua santri dan para Ustadz pesantren ini ,Bilal menyambut uluran tangan Abi,dia mewalikan sendiri pernikahan ini tanpa mewakilkan pada penghulu sedang penghulu  mempersiapkan semua surat_surat yang di perlukan untuk kami tanda tangani nanti setelah acara Akad selesai


   mereka saling mengenggam tangan pertama Abi mulai


"Saya nikah kan dan kawinkan engkau MUHAMMAD BILAL ABIMANA BIN FAIZAL ABIMANA  dengan Putri kami SAKINA NABILA FATAHILLAH BINTI ABIZAR FATAHILLAH Dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan seperangkat perhiasan lengkap emas sebesar  99 gram di bayar tunai " Suara Abi terdengar tegas bercampur haru.


"Saya terima Nikah dan kawinnya SAKINA NABILA FATAHILLAH BINTI ABIZAR FATAHILLAH Dengan mas kawin tersebut di bayar tunai"Disusul jawaban Bilal yang ia jawab dengan lancar.


  "Bagaimana.....para saksi...sah"


"SAHHHHHH......."Semua menjawab serempak,dalam hati kecilku menangis haru ,menjadi istri dari Bilal keinginanku ,sudah ada sejak aku kecil,kami berdua tidak bisa di pisah


   Namun saat ini ada Rista diantara kami,tak taulah bagaimana reaksinya jika mengetahui hal ini,aku pasrah saja jika nanti Rista bakal mencakar_cakarku  ataupun menjambak rambutku,aku ikhlass ,seharusnya seperti itulah jika kita menjadi orang ketiga dalam rumah tangga


  Aku menyambut tangan Bilal dan mencium nya lalu Bilal mencium keningku,aku kira dia bakal menjauh,Bilal meletakkan kedua tangannya di pipiku,lalu dia mengatakan sesuatu agak pelan tapi aku bisa mendengarnya


"Sekarang kamu milikku ,dalam genggamanku"Bilal tersenyum menyeringai


"Dengan terpaksa brengsekkk...."Aku membalas ucapannya dengan sinis,Bilal hanya tersenyum,


    Aku juga  tidak ingin semua orang tau tentang keributan kami tadi jadilah kami tersenyum salah tingkah.


   Setelah itu kami saling menyematkan cincin ke jari kami masing-masing, dan mungkin cincin ini akan di pertanyakan nanti sama Barak,Astagfirloh sekali lagi aku sudah menghianati seorang pria


   Aku berdiri lalu Abi menghampiriku dan menuntunku menuju ke pelaminan ,sampai kepelaminan aku duduk dengan antengg...


  Di depan ku terlihat Om Faizal menggandeng Bilal dia menuntun Bilal menuju kearah pelaminan,sampailah di pelaminan dan duduk dengan sumringah di sampingku


"Semua Santri patah hati"Bilal berbisik di dekat telingaku,suara tabuhan rebana menghiasi mereka melantunkan sholawat mengiringi  acara ini .


"Apa hubungannya semua santri yang patah hati dengan pernikahan ini"


"Sebab wanita idaman mereka sudah ada yang mengikatnya"


"Siapa wanita yang kamu maksud?


"Aku orang nya....."


"Waahhh....istriku memang jenius"Bilal mencubit pipiku


"Ihh....nyebelin..ah...sakit tau...."Aku mengusap_ngusap pipiku.


"Yahh......aku sadar sih....kalau aku memang mempesona"


"Ya.....ya....dan semua itu sekarang milikku yang sihhh " Aku mrengut dan menatap Bilal malas


"Lihat khalil ...suaranya mencerminkan,pria yang begitu tersayat pilu ,patah dan nyeri  di ulu hati"


"Khalilll......"?Aku mengetnyit ,iya aku sadar sekarang itu suara khalil pantas terasa familiar,dari tadi aku hanya mendengarkan tanpa melihat kearah mereka.


   Tatapanku langsung mengarah ke grup Banjari santri itu


"Ia.....benar itu Khalil " Grup Banjari itu duduk di tempat kamu tadi saat melaksanakan akad,Khalil melantunkan sholawat dengan suaranya yang begitu merdu dia memang slalu juara dalam hal ini


"Jangan gitu juga menatap dia,aku cemburu"


"Hahhh"Aku menghembuskan nafasku,ada apa ini,sunguh aku tidak ngerti


"Kalian ......sudah akur?Bertanya dengan tegas


"Akur.....nama siapa tuh"


"A_ku...serius"Aku menajamkan tatapanku


"Dimana....kedua pengawalku?Aku teringat mereka,yakin pastinya ada sesuatu hingga,mereka begitu lama meninggalkanku di Rumah,ini semua karena aku melihat Khalil ,aku curiga,karena tadi Khalil lah yang mengajak mereka untuk memantau tempat pelatihan Silat.


"Tenang saja .....mereka kami buat sibuk ....dengan tempat pelatihan milik  Ali Ramadhan itu,setelah acara selesai....mereka akan segera pulang .


"Selain,penghianat brengsek dan ********,ternyata kamu juga penipu ulung"


"Teimakasihhh......."Bilal meletakkan tanganya di dada berlagak sopan dan menunduk hormat,aku menatapnya malas.


  Kak Hima dan keluarganya menghampiri ku ,Bibi Fatimah memelukku dan mengucapkan selamat, kemudian paman Hilal dan terakhir Kak Hima " Kamu bahagia ya....maaf kak Hima tidak bisa mendukung mu"Aku menggeleng memperlihatkan bahwa aku baik-baik saja,mereka juga mengucapkan selamat pada Bilal dan dengan sopan Bilal juga membalas semua ucapan mereka.


"Maaf sekali lagi Nak ,kami harus segera pulang "Aku menatap mereka kecewa.


"Paman mu masih banyak urusan di kota"Aku tersenyum ,kalau sudah bilang masalah paman ,aku faham ini semua pasti karena sebuah pekerjaan


"Nggak  apa-apa Bi...sudah hadir saja merupakan kebahagiaan untukku ,mengingat pernikahan ini yang terburu-buru "Mereka semua tersenyum


"Kak Hima...."Aku berharap Kak Hima akan tinggal, tapi ternyata dia juga pamit


"Maaf juga Nabila, aku kerja sama orang jadi tidak bisa ngatur sesuai keinginan ku"


"Nggak apa-apa lah Kak Hima,tadinya sih aku berharap Kak Hima tinggal ,hadir kesini menurut ku


Sudah lebih dari cukup "


"Kalau begitu kami pamit ya..."


"Ya...."Aku mengangguk ,sekali lagi Kak Hima memelukku kemudian mereka pergi.


  Acara berjalan sekitar empat jam,di mulai dari akad jam sembilan dan acara selesai tepat jam 12 ,adzan dhuhur kami semua di tuntun untuk sholat berjamaah,aku masuk keruangan khusus yang di sediakan untukku membersihkan diri dan melaksanakan sholat


  Seorang santri membantuku,dia gadis yang manis ,namun ada sorot mata yang menggangguku dia seperti mempunyai perasaan padaku,dan karena dia perempuan satu yang aku yakini ,perasaan itu adalah benci


"Siapa nama kamu?Aku bertanya


"Hah....a..e...nama ku"


"Ya....nama kamu,masa....aku nanya nama dari baju yang baru kamu lepas itu"Gadis itu seperti ingin tertawa,sikap judes nya mampu aku hilangkan, namun ia berusaha tetap mendatarkan mukanya

__ADS_1


"NAMAKUUUUU..................


  


__ADS_2