
Kami memasuki daerah yang di penuhi pepohonan hijau dengan udara yang begitu sejuk 3 jam perjalanan kita hampir sampai pada tujuan kita yaitu desa tempat tinggalku
Aku kesini terakhir kali waktu itu bersama Ibam dan Sajad,saat Abi marah_marah karena aku dikira pacaran sama Sajad,dan setelahnya akupun bertunangan dengan Sajad namun aku memutus hubungan itu secara sepihak.
"Jadi saat tidak ada Barak ,dirumah itu kamu di temani mereka berdua?Abi tiba_tiba mengungkit rasa keberatannya tentang aku yang tinggal satu atap dengan Barak padahal kami belum Halal.
"Abi......mereka itu tidur di luar ,ada Rumah kecil yang memang di siapin sama Barak"
"Tapi tetap saja ,laki_laki itu punya Nafsu walaupun lebih kecil dari perempuan tapi ,tidak ada malu dalam Nafsu mereka,sehingga kebanyakan Nafsu pria sulit di kekang"
"Abi....yaAllah...mereka tidak akan berani"Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal,sungguh aku merasa risih,dengan ucapan Abi yang begitu frontal
"Ohh.....jadi kalau mereka berani maka mereka akan____
"Abi ...jangan gitu ahh....mereka baik kok..."Aku berusaha membela kedua pengawalku,dan di depan kedua pengawalku duduk gelisah,mereka hanya diam mendengarkan perdebatanku dengan Abi
"Ya.....ya....mereka baik memang,tapi Abi yakin mereka ada rasa tertarik sama kamu"
"CIIIIIIITTTTTT"Tiba_tiba mobil mengerem mendadak membuat kepalaku mencium kursi yang ada di depanku.
"Lihat .....Abi benerkan?Mobil masih berhenti,aku mengusap dahiku yang sedikit nyeri
"Abiiii....jangan diterusin ahhh....mereka tuh cuma kaget mendengar prasangka Abi"
"Jalan lagi Hamba.....ngga' usah di denger omongan Abi"Aku menyuruh Hamba untuk menjalankan mobil kami
"Mereka itu orang_orang nya Barak Abi,mereka tidak akan berani tertarik padaku,jangankan tertarik ,melirik saja mereka tidak berani"
"Terserah kamu dehhh....Kina ,kalau kamu tidak percaya,tapi Abi tidak merasa hawatir sihh....aku yakin mereka sangat menghormati kamu ,kalau tidak kamu tidak akan merasa senyaman ini dan begitu akrab dengan mereka".Aku sekilas melirik pada kedua pengawalku"Masa iya sihh ...mereka tertarik padaku"Terlihat di mataku,dan bisa aku simpulkan kayaknya Hamba terpengaruh pada ucapan Abi,aku lihat ada sdikit keringat di pelipisnya,hingga gerakan tenggorokannya yang menelan ludah salah tingkah,"Hahhh.... aku tahu sihh....memang banyak orang yang menyukai,bahkan Barak yang brengsek itu mengaku dia tertarik padaku saat pertama kali melihatku dan itu waktu umurku masih delapan tahun,Barak memang aneh,tapi kalau Hamba,hal itu tidak masuk dalam fikiranku,dari awal tidak banyak yang kami bicarakan,pasti hanya soal keselamatanku dan memang Hamba lebih sering menemaniku dari pada Kak Adz yang kadang menemani Barak .
Aku rasa karena banyak sekali pria yang aku patahkan hatinya sehingga aku harus menerima dengan iklash pria yang ada di hatiku ,malah mencampakkanku bagaikan sampah yang tidak berguna.
"ASSALAMUALAIKUM UMIIII...."Aku langsung berlari menghambur kepelukan Umi,di depan teras Umi sudah stanby menungguku sejak tadi memberi kabar bahwa kami sudah ada di dekat Rumah kami
"Aku kangen Umi...."Dekapan hangat yang slalu aku dapatkan dari Umi,aroma Umiku yang dari dulu tidak berubah,kecupan hangatnya di pucuk kepalaku,seperti meluapkan segala rasa lelah dan suntuk yang aku alami selama berada di kota
Ketiga pria yang menemaniku tadi sudah ada di belakangku menunggu kami yang sedang mengadakan sesi temu kangen
"Ayo....masuk kedalam ,malu diliatin tetangga ..nanti dikira Nabila bawa dua anak sekaligus dan tidak tahu siapa Bapaknya"Sontak Umi melepas dekapannya mendengar ucapan Abi,sedang aku sudah mengerti maksud Abi yang menyingung kedua pengawalku
"Dua......anak.. .."Umi mengernyit penasaran
"Ia....nih di belakang Abi ,dua anak Nabila"
"Ihhh....Abi...."
"Jangan dengerin Abi,_ Umi"Aku mrengut mendengar ocehan Abi,dan kulihat kedua pengawalku itu memasang wajah biasa aja,namun aku yakin mereka menahan senyuman mereka
"Mereka berdua pengawalku Umi"Aku buru_buru menjelaskan pada Umi
"Ohhh....pengawal yang kamu ceritain itu ya...?Aku memang pernah cerita sama umi tentang kedua pengawalku ini
"Merangkap sebagai anak juga Umi"Abi masih aja ketus,Abi memang agak usil
"ABIII....."Aku berteriak merajuk
"Mau di sebut apa coba kalau bukan anak,kerjaan mereka cuma ngikutin kamu "
"Ya....pengawal itu namanya Abi,BO__DY___GUARD"
"Ya .....terserahlah Abi...masuk...."Abi pun masuk kedalam Rumah kami ,diikuti aku dan Umi dan tentu saja kedua pengawalku yang dari tadi hanya diam menerima semua ucapan Abi tanpa mau membalasnya.
"Abi kenapa kok manyun dari tadi,emang terjadi sesuatu"?Umi bertanya sambil kami melangkah
"Biasa Mi...Abi ngamuk karena tahu aku serumah sama kedua pengawalku itu"
"OHHHH...."Umi hanya membentuk bibirnya seperti huruf tanda dia faham akan alasan Abi yang ngamuk,dari dulu sampai sekarang masalah bukan mahrom selalu menjadi perselisihanku dengan Abi dari awal aku dekat dengan Bilal ,Sajad hingga sekarang dengan Barak,masalah itu masih ada diantara Aku dan Abi.
Tempat ini banyak berubah ,saat terakhir aku disini,berpamitan untu berhenti dari perkumpulan pencak silat yang memberi warna indah pada hubunganku dan Bilal ,karena banyak sekali kenangan manis yang terjadi
Di belakangku sudah ada kedua pengawalku,yahhh....Abi memang benar mereka berdua selalu mengkuti kemanapun aku melangkah,hingga aku disini di tempat perkumpulan pencak silat
Aku berjalan menyusuri tempat ini aku ingin menemui khalil,sudah lama kami tidak bertemu sejak aku pindah ke kota ,aku melewati tiap kelas yang saat ini sedang mendengar kan tentang teori dalam pencak silat
Aku memandang keseluruhan tempat ini sambil melangkah,hingga tatapanku beralih pada wajah kedua pengawalku yang seperti tertarik pada tempat ini,maklum mereka kan jago dalam ilmu bela diri,jadi aku yakin mereka memahami apa yang terjadi di setiap kelas serta tentang pelajaran yang sedang di pelajari para murid disini.
Rasa antusias itu terlihat jelas di muka mereka berdua,aku rasa kalau kali ini aku kabur dari pengawasan mereka aku yakin bisa lepas ,tapi....sekali lagi rasa belas kasih yang ada di jiwaku mencegah itu semua,aku tidak mau mereka kehilangan pekerjaan mereka,bagaimanapun itu aku terus di kawal atau di biarkan sendiri,tetap saja bersama dengan Barak adalah pilihanku,tidak ada yang memaksaku
Ruangan itu terbuka,dan diatas pintu dinding yang paling ata tertulis jelas RUANG SILAT,tempatnya lebih besar,tapi nama ruangannya belum berubah,disinilah kami semua anggota geng yang kami beri Nama NO COMENT dulu mendaftar sebagai anggota baru di perkumpulan ini .
"Asslamu alaikum"Aku langsung mengucap salam,kelihatannya Khalil sedang sibuk dengan beberapa berkas yang ada di tangannya,dan saat mendengar salam dia langsung mengangkat kepalanya sambil menjawab salamku
"Waalaikum__salam"Khalil agak terbata setelah tahu bahwa aku yang ada di depannya
"Nabila........"
"Masuk.....masuk ....."Khalil terlihat sekali dia kaget akan kedatanganku,aku juga melihat rasa kaget itu segera berubah menjadi tatapan penuh pertanyaan karena ada dua orang cowok yang ikut masuk bersamaku,Khalil menatapku menuntut jawaban
"Kenalkan....mereka berdua..emmmm apa ya?Aku masih mengarang dalam otakku mau menyebut mereka apa,mau bilang mereka Bodyguard ku,aku agak tidak nyaman kalau didesa terlihat seakan aku ini sombong.
"Oya......kenalkan mereka berdua adalah suamiku"
"Heeehhh......"Aku lihat wajah khalil yang pias pucat campur kaget sebenarnya waktu bicara tadi aku agak terkekeh sendiri,ngga' tahulah kalimat itu meluncur sendiri dari mulutku .
"Kenalkan Nama ku HAMBALI HASAN,saya pengwalnya Nona Nabila"Khalil menyambut tangan Hamba ,Khalil terlihat salah tingkah ada semburat malu di wajahnya karena terlihat seakan dia percaya pada omonganku
"Dan saya ADZAN HASAN,saya juga pengawal dari Nona Nabila"Khalil dan kak Adz pun berjabat tangan
"Kamu ini Nabila ,tidak berubah ,masih aja jahil"Khalil menatapku malu,aku hanya terkekeh mendengar gerutuannya
"Sudah ayo...silahkan duduk"Kamipun duduk ,aku duduk di single sofa sedang kedua Bodyguardku duduk di sofa sebelahku,kami berada didepan Khalil dan di batasi meja
"Sudah lama tidak bertemu,Alhamdulillah sekarang kamu sudah berhijab"
"Iya....Alhamdulillah beginilah aku sekarang"
"Aku dengar tentang hubungan kamu dan Bilal"
"Sudah jangan di bahas ...maless..."
"Lagi pula...aku sudah move on dan sekarang aku sudah bertunangan dengan orang kota"Aku mengangkat jariku dan menunjukkan cincin yang tersemat di jariku
"Tahu Bilal bakalan ninggalin kamu seperti ini,aku waktu itu tidak akan menyerah, dan terus berjuang ,aku rela walaupun harus menjadi tempat pelarian bagi kamu Nabila"
"Khalill...."
"Maaf Nabila...aku terbawa perasaan"
"Jadi mereka___"
"Ya....mereka pengawalku,orangnya tunanganku"
"Kamu sedang di incar"?Ya pastinya Khalil curiga,dia tau kemampuanku dalam ilmu bela diri walaupun ngga' sampai lulus dari perkumpulan ini ,tapi kalau hanya untuk melawan preman tentu aku bisa.
"Biasa sihh...tunanganku itu banyak yang tidak suka tentu karena kesuksesannya jadi dia takut ada musuh yang macam_macam sama aku"
"Ohh....."Khalil hanya mengangguk
"Lalu kabar Ibam.....bagaimana"Aku melupakan hal ini,terakhir aku ketemu Ibam saat di rumah Bibiku,yang saat itu juga aku ketemu Bilal,dan berlalu sejak dua bulan yang lalu hingga Barak memutuskan untuk mempercepat pernikahan kami,sungguh ini semua karena Bilal,karena aku bertemu dengannya Barak cemburu dan tergesa _gesa dalam pernikahan kami.
"Ibam masih dikota"
"Iya aku tahu itu,yang sering aku lihat udah stay didesa kayaknya Irfan sama Roy,kemarin aku bertemu mereka"
__ADS_1
"Kayaknya mereka sibuk dengan usaha orang tua mereka"Aku sudah tahu itu semua,aku memang tidak bisa ngobrol seperti dulu karena ruang gerakku di batasi oleh Barak,bahkan ponsel yang di kasih Barak terhubung dengan ponsel Barak sendiri,hingga ingin melihat kabar teman_temanku melalui sosial media aja di larang,aku memang selalu berurusan dengan pria yang posesif tingkat tinggi
Dan tentang kabar Irfan sama Roy,aku dengar semuanya dari Ibam waktu terakhir kami bertemu di Rumah paman.
"Ibam sedang melakukan Taaruf"
"O....iya....,!
"Dengan gadis kota...."?
"Ya....dia sepupuku anaknya Bibi Fatimah...."
"Ya....aku tahu Bibi Fatimah,adiknya Umi kamu iya ....kan?
"Ia....."Aku menjawab singkat
"Ahhh....udah moveon dia ya...."
"Iya.....maksud kamu move on dari aku iya kan?
"Iya ...dari siapa lagi,kamu kan terkenal dengan rekormu,yang membuat hampir semua cowok di kelas kita waktu itu patah hati,karena kamu sendiri yang menerima tanda klaim dari Bilal waktu itu"!
"Ngga' usah di bahas yang itu,aku terlihat kayak bucin banget,malu aku"
"Apaan ....yang paling bucin diantara kita tuh Bilal ,aku kalah telak,tapi ngga' nyangka juga ,Bilal malah_______"Khalil berhenti karena melihat aku yang hanya diam saja,dan aku yakin dia melihat mataku yang berkaca_kaca mendengar penuturannya,aku wanita kuat,namun saat di singgung mengenai Bilal,aku langsung lebay,aku benci hal ini.
"Maaf......"
"Ngga' apa_apa,aku hanya sedikit sensitif ini"Aku menatap keatas berusaha menghalau air mataku,agar tidak jatuh
"Sudahlah.....tadi kan aku udah bilang kalau aku udah move on"
"Ya...maaf dehhh......"
"Khalil ,kamu juga tidak berubah,tetap yang paling sopan diantara kita"
"O....IYA...kalian berdua Bodyguard ya...kan?Khalil beralih membahas pada kedua pengawalku yang dari tadi hanya menjadi pendengar
"Pastinya kalian ahli dalam bela diri"
"Tentulah.....kalau ngga' ahli mereka tidak akan jadi karyawannya Tunanganku"
"Sombong amat.....kayak kamu aja yang punya tunangan di dunia ini"
"Ya......aku tidak bermaksud begitu"Aku pura_pura kesel di hadapan Khalil
"Kalau kalian mau ....kalian bisa ikut aku berkeliling,soalnya sudah waktunya aku ,mengamati setiap kelas,mungkin nanti kalian berdua sebagai bodyguard bisa membagi pengalaman kalian pada anggota perkumpulan ini"
"Bolehkah.....?Kak Adz,merespon dengan antusias ucapan Khalil,aku benarkan.....mereka sangat suka pada ilmu bela diri,pastinya mereka juga menyukai tempat ini yang merupakan tempat para anggota belajar Ilmu bela diri.
"Loh.....memang siapa yang bakal ngelarang
"Kami disini hanya seorang pengawal biasa jadi yang berhak memutuskan sesuatu hanya Nona kami"Aku tersenyum kecil mendengar ucapan Hamba,dia tidak tahu apa kalau ditinggal mereka malah membuatku merasa bebas
"Kalian ikuti Khalil saja ....."
"Disini tempat tinggalku,jadi kalian tidak perlu menghawatirkan keadaanku"
"Tapi....Nona..."
"Sudahlah......"
"Aku ikut senang jika kalian bisa membagi pengalaman kalian pada semua anggota pencak silat disini"
"Kami antar pulang dulu Nona,nanti kami kesini lagi..."
"Astagfirloh...."Aku menepuk jidatku mendengar para pengawalku ini ingin memastikan keamananku
"Terserah....deh...."Akupun menyerah
"Nanti beneran kalian kesini lagi kan...."
"Lagian kamu Nabila ,kenapa kok buru_buru,kamu kan bisa ikut kami juga"
"Tadi.....Umi nitip sesuatu buat dia masak,dan aku udah janji juga mau bantuin dia . ...."
"Ohhh......"
"Ngga' usah hawatir nanti aku suruh mereka kesini lagi"
"Oke....sipppp...."Kamipun saling berjabat tangan lalu melangkah pulang.
Dalam perjalanan pulang tadi kami sudah membeli pesenan Umi,dan aku sekarang sedang berada di dapur membantu Umi memasak,dan kedua pengawalku sekarang pasti sedang bersama khalil,tadi kami masih berdebat saat Hamba bilang dia akan disini untuk menjagaku,mereka memang suka berlebihan ,mereka sudah tahu kan kalau disini adalah tempat kelahiranku,dan aku sedang di rumah kedua orang tuaku,jadi bahaya menurutku minim akan terjadi,dan satu lagi aku merasa aman berada disini.
Akhirnya mereka menurut dan merekapun pergi meninggalkanku dan sekarang mereka pasti sedang sibuk mengamati dan mungkin melatih,aku tahu mereka sangat tertarik pada perkumpulan yang di pimpin oleh Ali Ramadlan,yang memang mengajarkan tentang ilmu bela diri di sana.
Aku senang melihat itu semua,aku mengerti rasa ketertarikan mereka pada ilmu bela diri.
Selama ini mereka begitu tulus menjagaku,tidak pernah mengeluhkan sikapku yang kadang terlalu merepotkan mereka.
"Dimana Barak nenemukan kedua bersaudara itu,mereka memang Bodyguard yang sangat bisa diandalkan,memberiku pengawak seperti mereka merupakan hadiah yang paling istimewa yang di berikan Barak padaku"Aku tersenyum sambil memotong sayur,aku dan Umi memasak untuk makan siang kami.
"Ting.....tong....."Bunyi suara Bel.....
Umi hendak beranjak,namun aku mencegahnya
"Biar aku saja Umi"Aku melangkah menuju pintu Rumah depan dan membuka pintunya aku berusaha tersenyum ramah,setelah melihat orang yang ada di depan pintu Rumahku ini
"Seorang pria dengan pakaian formal dengan jaz hitam di tubuhnya dan dengan kemeja putih yang ada di balik jaz hitam itu tanpa dasi.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
"Bapak Abimana ada di Rumah"
"Abi......ngga' ada sih pak...."
"Jam segini Abi ada di pesantren
Kalau penting anda bisa temui Abi disana"
"Saya tidak tahu pesantrennya di mana!Baru kali ini ada yang tidak tahu pesantren Abi
"Memangnya Bapak dari mana?Aku bertanya ,Setelah yakin bahwa orang ini bukan berasal dari sini,karena hanya orang luar yang tidak tahu pesantren Abi
"Apa bisa di hubungin saja,biar saya tunggu disini"
"Ohh....iya...boleh pak,kalau begitu silahkan duduk "Aku mempersilahkan pria ini duduk di kursi teras yang memang kadang di pakai untuk berbincang dengan tamu
"Kalau begitu saya permisi dulu,sekalian saya buatin minum"Kami pun saling mengangukkan kepala tanda permisi.
Dan disinilah Abi sekarang di teras dudduk berhadapan dengan tamu yang tadi mencarinya,setelah tadi aku hubungi ponselnya Abi langsung pulang kerumah
Aku melihat Abi dan orang itu berbicara,saat ini aku berada didalam Rumah duduk di sofa ,karena keadaan kaca yang transparan jadi aku bisa melihat gelagat dari kedua oranh yang ada di teras itu,yaitu Abi dan tamunya.
Apakah aku tidak salah lihat,aku melihat Abi begitu tegang ketika mendengar perkataan orang itu,sebenarnya apa yang tejadi,aku jadi ikut gelisah.
Tamu tadi terlihat sedang menelfon seseorang,kemudian Abi dan Tamu yang entah siapa namanya yang ingin aku singkirkan dari rumahku ini karena telah membuat Abi muram.
Setelah menelfon ,mereka berdua diam,seperti sedang menunggu sesuatu,dan Abi terlihat mempersilahkan tamu itu untuk meminum minuman yang tadi aku buat.
Sekitar tiga puluh menit,Abi dan tamu tadi terdiam,aku masih setiap duduk di sofa sambil pura_pura menonton Televisi,sebenarnya aku ingin kesana dan bertanya pada Abi,kenapa dia bisa gelisah seperti itu,namun aku menahannya,Abi termasuk orang yang tidak suka di ganggu jika sedang menerima tamu
__ADS_1
Ada sebuah mobil masuk kepekaranganku,mobil itu berhenti, tak lama setelah itu ada seseorang yang keluar dari mobil itu ,seorang pria,dengan pakaian formal juga,namun pria ini berdasi lengkap dengan jaz berwarna biru Navy namun aneh ternyata pria itu,memakai celana jeanz ,hidungnya begitu mancung,bibir nya agak tebal namun kecil,dia memakai kaca mata hitam,aku bisa melihat dengan jelas pria itu,namun aku tidak terlihat dari luar,karena itulah gaya dari kaca di rumahku
Pria itu melangkah mendekati Abi dan Tamu tadi ,sambil melepas kaca matanya,dan mata itu terlihat sangat familiar,dengan tatapan mata yang begitu jelas
"Tunggu.....dulu...bukankah itu Bilal si penghianat itu ya......"Aku sunguh kaget "Ngapain dia ....?Apa Bilal ada hubungannya dengan muramnya Abi.?
"Dan.....oookrrhh.....sial banget Bilal sangat tampan dan mempesona"
"Astagfirloh......aku tuhh....terlalu biasa di kelilingi pria Tampan,tapi kenapa sihh.....hanya Bilal yang mampu membuat hatiku terpesona"
"Dan.....Asragfirloh.....mereka terlihat bergegas,mungkin pertemuannya sudah selesai.....yahhh....Bilal pergi dehh.....padahal aku masih belum puas menatap dia"
"Tapi ....arkkhhh...ternyata aku salah mereka masuk kesini"
"Astagfirloh ....aku harus pura_pura konsentrasi pada apa yang aku tonton"
"HAAHHH....HAHH...HAH LUCU"Aku tertawa agak lebay,aku kalau ngeliat orang kayak aku nihhh...mungkin udah muntah,aku terkekeh kecil saat mereka semua udah di Ruang Tamu,sedang aku di didepan Televisi yang berada disamping kursi ruang tamu namun agak di belakag nya,Televisi memang sengaja di letakkan membelakangi kaca,jadi saat masuk dan berjalan menuju Ruang tamu,mereka berpapasan denganku,kedua Tamu Abi itu,mengangguk sopan padaku,aku membalasnya dengan senyum salah tingkah .
"Nabila..."Suara Abi memanggilku
"Bisa panggilin Umi kesini"Abi bicara pelan tapi tegas,namun tersirat nada sedih
"Ohhh....iya Abi"Aku bergegas melangkah kearah kamar Umi,karena dari tadi dia memang ada disana,sedang istirahat,setelah pekerjaan Rumahnya selesai
Tak lama ,kami sudah ada di Ruang tamu,melangkah pelan dan ragu,kalau sudah di pangil begini Umi sudah paham bahwa ada yang tidak beres
Umi pun duduk di sofa panjang yang di tempati Abi,karena aku merasa tidak ingin mengganggu,aku berbalik hendak meninggalkan Ruang tamu .
"Nabila..kamu duduk juga"Hahh....jantungku langsung berdetak tidak karuan,dengan lemas akupun ikut duduk disamping Umi,karena memang masih muat,aku menggenggam tangan Umi berusaha menyalurkan kekuatan.
"Abi ingin mengatakan sesuatu pada kalian_____"Abi berhenti suaranya seperti tercekat di tenggorokannya
"Abi sekarang lagi terlilit hutang yang sangat besar"
"APAA...."Aku dan Umi berucap bersamaan kami sangat kaget
"Hutang apa Abi,kenapa tidak ngomong sama aku aja..."Aku ngga' habis fikir akan Abi,bukankah udah jelas ,anaknya bertunangan dengan pria yang begitu kaya,kok bisa Abi punya hutang.
"Jangan bilang kalau Abi punya hutang sama orang yang ada di depan kita ini?Tatapan kami semua langsung tertuju pada Bilal,aku lihat tamu tadi yang sekarang duduk di samping Bilal dia terkekeh sambil menutup mulutnya.
Dan aku lihat Bilal membslasnya dengan menatap pria itu dengan tatapan tajamnya
"Ia......Kina"Abi menjawab lesu
"Astagfirloh Abi....kok bisa sihh...."
"Apa Abi tidak tahu kalau Tunangan anak Abi ini,lebih kaya ...dari pria yang ada di depan kita ini"Aku mengoceh,agak sombong sedikit,biarlah sekali_kali.
"Hutang ini.....sudah sejak lama,sebelum kamu bertungan dengan tungannya itu"Abi menjelaskan
"Ya.....sudah____berapa hutang Abi,biar aku langsung menghubungi Barak"
"Tidak usah sombong Nona"Bilal terlihat marah,aku tahu dia tersinggung dengan ucapanku
"Aku tidak sombong ,aku berbicara ke_nya_ta_an"
"Apa kamu tidak pernah mendengar berita,kalau perusahaanku,sudah sama levelnya dengan perusahaan milik tunanganmu itu"
"Sorry....aku tidak tahu itu,soalnya aku tidak peduli pada kesuksesan orang yang tidak aku ketahui dan aku pahami,pusat hidupku hanya untuk orang yang aku sayangi"Aku mencibir dan langsung merubah wajah Bilal menjadi merah padam,ya aku tahu dia marah ,aku sengaja meremehkan dia.
"Kamu____"Bilal menatapku tajam
"APA....."Aku tak mau kalah dan membalas tatapan nya tanpa rasa takut sama sekali
"Hahh....."Bilal menghempaskan nafasnya berusaha menghalau emosinya
"Saya tidak mau berdebat,sekarang kalian katakan ,kapan kalian bisa melunasinya"
"Ohh....jangan khawatir kami akan segera melunasinya"Aku mengambil ponselku yang sedari tadi ada di meja Televisi,lalu mulai memilih sebuah nomor dan ingin segera menghubunginya
"Hentikan...Kina..."Abi menghentikan pergerakan tanganku
"Abi.....kenapa?
"Tunanganmu itu masih merupakan calonmu Kina,jadi Abi tidak mau di bilang mengambil kesempatan.
"Tapi....Abi..."
"Hentikan Kina!
"Abi_____"
"Lalu Abi akan melunasinya dengan apa?Air mata udah ada di pelupuk mataku
"Kenapa Abi tidak mau menghubungi tunanganku,aku yakin dia tidak akan keberatan"Aku menatap Abi penuh arti sedang Umi dari tadi hanya menunduk dengan tangannya yang masih ada dalam genggamanku
"Berapa hutang Abi ku"Aku mengingat tentang tabunganku,mungkin bisa untuk melunasi hutang ini
"Ini....semua tertera disitu"Tamu pria tadi membrikan sebuah berkas padaku
"Astagfirloh......"Aku menutup mulutku terkejut melihat jumlah nominal yang ada di berkas itu
"Apa yang akan terjadi kalau kami tidak bisa melinasi hutang ini"?
"Tentu saja kami akan mengeluarkan paksa dan menghancurkan semua bangunan yang ada di tanah itu"
"Kenapa Abi menggunakan surat Tanah pesantren Abi"
"Abi terpaksa,waktu itu Abi memerlukan banyak biaya Abi ingin memperbesar pesantren,mereka tidak mau surat Tanah Rumah ini,mereka ingin surat Tanah yang lebih lebar,dan mereka menganjurkan tanah pesantren itu,Abi khilaf sampai lupa kalau Abi mempunyai hutang,karena dulu Faizal Abimana masih berhubungan baik dengan Abi"
"Dan aku yang mengingatkan Ayahku akan uang yang ia pinjamkan pada orang tuamu,danAyah sudah menyerahkan tanggung jawab itu pada saya"Bilal menjelaskan dengan detail
"Kenapa kamu menerima tanggung jawab ini,karena aku iya ..kan?
"Belum puas kamu sudah mencampakkanku,dan sekarang kamu ingin mengincar keluargaku,apa kamu ingin melihatku hancur ....hahhh?Aku bicara dengan nada emosi,deru nafasku memburu dadaku sesak,aku tidak menyangka sama sekali Bilal setega
"Abi.....di kota aku punya Rumah,itu semua hasil dari kerja kerasku sendiri Abi,itu bukan dari Barak"Aku mengingat Rumah yang aku beli,dan masih aku cicil dan di tambah dengan Rumah ini,aku kira itu cukup untuk membayar hutang ini,
"Namun kita juga harus mengorbankan Rumah kita ini Abi,aku rasa dua Rumah itu mampu membayar semua hutang ini,tanpa perlu menyita pesantren"
Pesantren itu adalah perjuangan Abi ,di mulai dari bangunan kecil,hingga sekarang menjadi sebesar ini,masalahnya Abi kebanyakan menerima santri yang tidak mampu membayar,jadi pesantren Abi ini,menganut sistem gratis,belajar dalam pesantren tanpa perlu memikirkan pembayaran iuran tiap bulan ,ngga' nyangka Abi bisa terlilit hutang sebesar ini,padahal,semua biaya biasanya diatasi dari hasil pertanian yang Abi punya
Dan sayang semua tanah yang Abi gunakan itu,dia sewa .....dan semua tanah itu milik keluarga Abimana.
"Bagaimana....?
"Menurut saya itu semua lebih dari cukup"
"Hehh....hehh...hehh"Bilal terkekeh dia terlihat meremehkanku
"Sayang......aku tidak menginginkan materi untuk pelunasan hutang ini"
"Banyak orang....yang punya hutang pada keluargaku melebihi Abimu ini,namun karena aku menginginkan sesuatu yang ada di keluargamu"
"Sayang_sayang .....pala lho peyang"Aku mencibir ucapan sayang Bilal
"Memang apa yang anda inginkan....?Sebenarnya apa yang diinginkan Bilal dari keluarga,aku yakin dia tidak mungkin menginginkan tanah pesantren,yang merupakan tempat dia juga menimba ilmu agama.
"Aku menginginkan putri satu_satunya keluarga ini"......
😲😲😲😲😲😲😲😲😲😲😲😲😲
__ADS_1