2 BIL

2 BIL
BAGIAN 28


__ADS_3

     Harinya sudah tiba ,dimana aku menjadi tunangan dari pria yang sangat aku benci,namun aku harus tersenyum demi penawaran yang diajukan Mubarak padaku,sepertinya besarnya niat dari tujuanku melebihi besarnya cintaku pada orang yang menyayangiku.


    Abi tidak banyak bicara ,dia langsung terdiam ketika dia menanyakan tentang alasanku menghianati Sajad"Dia laki_laki baik Kina ,kenapa kamu menghianatinya ,Abi sungguh kecewa padamu"Aku menunduk di hadapannya


   "Aku jatuh cinta Abi,Aku mencintai dia,Barak mampu membuatku melupakan orang yang sudah meninggalkanku"Aku bicara dengan lirih,Abi langsung diam dan tidak mengeluarkan suara lagi.


   "Maaf Abi ,aku sudah membohongimu"Aku bicara sendiri dalam hati.


   Acara yang begitu mewah dan meriah,semuanya hadir Irfan ,Roy dan juga Ibam,mereka menatapku tetap dengan penuh tanda tanya,walaupun berkali_kali aku bilang pada mereka bahwa aku sedang katuh cinta namun mereka tetap memasang wajah tidak percaya.


     Sajad dan kedua orang tuanya juga hadir ,mereka terlihat seperti tamu ,dan agak menjauh dari kami,aku juga melihat pancaran kekecewaan di mata msma dan juga papanya Sajad,namun aku terus bertahan menahan semuanya,ketidak senanganku karena sudah memberi rasa sakit pada orang lain.


    Mantan tunangan dan juga kedua orang tuanya juga hadir mereka juga terlihat kecewa,tapi satu hal yang aneh menurutku,semua orang seakan tidak mempertanyakan semua ini,kalau aku menjadi mantan tunangan Barak mungkin aku tidak akan hadir di acara ini,namun semua orang tersenyum bahagia disini,mereka seakan terbungkam tidak bisa bicara


   Aku yakin ini semua terjadi karena pengaruh Barak pada mereka semua,mungkin Sajad tidak akan mampu di pengaruhi oleh Mubarak Hadi kakaknya,namun dia terpengaruh oleh keadaan ku yang terlihat bahagia ,aku sudah membungkam Sajad dengan sikapku


  Acara pemasangan cincin sudah di laksanakan,dan____masalah cincin dari Sajad waktu kami bertunangan,sudah aku lepas,namun aku tidak membuangnya biarlah ini menjadi bentuk penghargaan yang aku persembahkan pada Sajad,lebih mengenaskannya aku lihat Sajad masih setia memakai cincin tunangan kami,aku melihat nya saat dia saling mencengkram kerah dengan kakaknya,Sajad yang begitu baik,begitu tulus ,slalu menghargaiku melebihi apapun namun dengan gampangnya aku campakkan dan lebih memilih kakak nya.


     Setelah pemasangan cincin semua menyalami kami memberi ucapan selamat,mantan tumangan Mubarak terlihat tenang dan tersenyum manis ketika menyalami Barak


"Selamat ya...."Ucapnya suaranya agak di perhalus,dia mencium pipi kiri dan kanan Barak,lalu dia menghampiriku


"Selamat ya....."Aku menyambut uluran tangannya,"Awww....."Aku meringis pelan dia menggenggam tanganku dengan keras,dan dia memberiku tatapan sinis,aku melirik Barak,dan mantan tunangan Barak ini melakukan hal yang sama,namun Barak sibuk bicara dengan pria yang di salaminya,setelah itu dia berlalu berlagak tenang"Dasar.....munafik"Aku menggerutu sendiri,Barak melihat kearahku"Ada apa?Tanyanya di telingaku"ngga' apa_apa kok"!Aku menjawab santai"jangan cemburu"!Barak berbisik lagi"Terseraaahhhh___"Aku membalas tidak perduli pada penilaian Barak


   Dan tiba giliran Sajad ,dia masih memasang wajah sinis ,Sajad mengulurkan tangannya disertai dengan ucapan selamat dan Barak  langsung menyambutnya,setelah jabatan tangan mereka terlepas,tanpa diduga Sajad mengangkat tangan kirinya dan memperlihat cincin tunangan kami dulu,dia mendekatkan jari nya ke muka Barak lalu beralih ke mukaku "Tidak akan terlepas sampai kapanpun"Ucapannya yang sinis,aku harap Barak tidak terpengaruh,agar tidak lebih menyulut emosi Sajad


"Cuma satu, kalau pasangan harusnya kan 2 cincin___"Barak berhenti,kuharap lagi dia tidak menambah perkataannya dan kulihat Sajad tidak terpengaruh namun dasar laki_laki brengsek,dia belum bisa menutup mulutnya


"Asal kamu tahu,pasangan cincin kamu itu,udah terlantar di tanah tidak berharga"Waahhhh......sungguh rasanya pengen aku ulek tuhhh....si Mubarak brengsek,seharusnya dia diam dan mengalah saja,walau bagaimanapun disini dia memang salah,aku melihat kearah Sajad,tidak terelakkan lagi ,kilatan amarah sudah muncul di wajahnya,dia menatap kakaknya dengan tatapan ngeri


  Namun tidak kuduga Sajad malah melakukan hal di luar nalar,dia mendekatiku dan menarikku membawa tubuhku kedalam rengkuhannya,semua terdiam dan melihat kearah kami,aku tahu itu kadang menjadi hal yang wajar di gunakan untuk mengucapkan selamat namun tidak bagiku,karena slama ini,hubunganku dan Sajad paling jauh cuma saling menggenggam tangan.


   Aku tersentak kaget dengan kelakuan Sajad,aku melihat Barak mengepalkan tangannya,mungkin dia tidak akan menduga Sajad berani melakukan hal ini,dia saja tidak aku ijinkan untuk menyentuhku,lalu dengan seenak hati adiknya menyentuhku,aku hanya diam,sebenarnya aku tertawa dalam hati karena sudah membuat wajah Barak merah seperti api membara.


   Sekali lagi aku di kagetkan dengan keadaan Sajad tubuhnya bergetar dan aku merasakan bahuku basah"Astagfirloh Sajad menangis"Begitu berpengaruhnya aku pada Sajad aku baru menyadarinya,aku sudah menghancurkan dia.


    Aku merasakan saat Sajad menghapus air matanya lalu Sajad melepas rengkuhannya


"Aku belum menyerah,aku akan tetap menggunakan kesempatan yang sudah kamu berikan padaku"Sajad menatapku penuh arti,dia terlihat sangat tampan ,aku rasanya ingin berteriak di hadapannya bahwa perempuan di dunia ini bukan hanya aku ,tapi kenapa dua bersaudara ini begitu ingin nya memilikiku,bahkan mereka sudah tahu tentang hatiku yang sudah terikat pada satu nama


    "Tersenyumlah karena senyummu merupakan senyumku juga"Sajad mengulurkan tangannya dan mengusap pipiku seperti yang slalu dia lakukan"Dasar keras kepala"Barak bicara berbisik di dedekat Sajad sambil pura_pura tersenyum ,karena acara ini memang dari awal sudah di pantau oleh kamera"Aku tidak mungkin melepaskan dia"Sajad tersenyum pada kakaknya itu ,dan  berlalu tanpa memperdulikan perkataanya"Emang enak di cuekin"Aku bersorak dalam hati


    Barak menatapku"Jauhi dia,ingat kamu sudah berjanji padaku"Barak memperingatiku "Penuhi dulu tujuanku maka aku akan duduk manis,dan tersenyum bahagia di sampingmu,sebelum semuanya terwujud jangan harap kamu bisa mengaturku"Aku dengan berani membalasnya,terlihat dia sangat marah,biar dia tau rasa ,emang dia kira semua orang bisa ia pengaruhi apa?Buktinya dia di lawan oleh adiknya sendiri .


   Acara sudah selesai ,para tamu sudah hilang dari tadi menyisakan aku dan Barak dan juga keluarga kami,selama di kota Abi sama Umi tinggal bersamaku ,tidak seperti dulu saat mau bertunangan dengan Sajad mereka tinggal di rumah Bibi ,namum kali ini mereka memilih menemaniku di rumah Barak,dimana Barak juga ada di sana,tentu saja mereka marah_marah pas tahu pertama kali,namun aku berhasil meyakinkan mereka bahwa aku bisa menjaga diri.


   Saat ingin memasuki mobil aku berpapasan dengan teman_temanku,mereka menghampiriku"Kapan kita bisa ngumpul lagi....kami merindukanmu ketua"Ibam bicara penuh kerinduan,namun aku hanya bisa menatapnya dengan mata penuh dengan permintaan maaf.


   "Kami tidak akan menanyakan mengenai alasan ketua lagi,tapi kami ingin ngumpul kayak dulu  ...."Irfan menambahkan"


"Kamu ngga' rindu padaku Nabila?Kak Hima memelukku dia meneteskan air mata merasa kehilangan"Aku kesepian di rumah sendirian"


"Maaf aku ngga' bisa"Aku menjawab,


Setelah keputusan untuk menerima tawaran Barak ,kebebasan ku langsung terampas,Barak memberiku pengawalan ketat,takut aku akan kabur,padahal dia sudah mengikatku dengan janji yang ia berikan.


    Terlihat Barak mendekati kami,dia langsung membuka pintu mobil dan menyuruhku masuk,masuklah aku dan duduk di mobil,namun ternyata Barak berhenti dia tidak langsung masuk,dia menatap kearah teman_temanku"Dia sekarang milikku"Seperti itulah ucapan Barak,terkesan dingin dan mengerikan,aku kadang bergidik saat melihat kilatan amarahnya,dan ucapan Barak sukses menyulut amarah Ibam,dia hendak meninju Barak ,namun Barak mampu menangkisnya,Barak  hendak melayangkan tinjunya pada Ibam,buru_buru aku mencegahnya dengan bicara penuh dengan ancaman


"SUDAH HENTIKAN ,AKU INGIN PULANG SECEPATNYA OKE ....."Ucapanku agak sinis .


    Sebelum mobil tertutup aku dan Ibam sempat saling menatap,Ibam terlihat kacau,aku bisa melihatnya di balik tatapannya itu


"Maaf....maaf......maaf ,hanya itu yang mampu aku bisikkan dalam hatiku


  Dimobil kami hanya diam,hingga sampai di depan rumah,Barak membuka suaranya


"INGAT.....Jangan keluar tanpa pengawal,sekarang kamu sudah menjadi milikku"Barak menatapku penuh ancaman


"Ya.....ya....ya...aku nurut"


"Tapi ingat aku ingin secepatnya,kamu menepati janji yang kamu berikan


"Jangan hawatir...aku ingat itu semua"


"Ayoo....masuk dan jangan lupa senyumnya,tadi senyum buatanmu itu hilang saat di depan mereka"Barak menyinggung hal tadi,memang tadi aku sempat ingin menangis saat melihat Ibam,karena selama ini Ibam merupakan tempat yang paling nyaman untukku menumpahkan rasa sedih dan duka yang aku alami,jadi aku sempat terpengaruh namun aku bisa menahannya dengan baik


💔💔💔💔💔💔💔


  Keesokannya kami langsung ke kantor ,tidak ada kata liburan bagi kami,lagi pula kami mau ngapain kalau tidak bekerja,tiba di kantor kami langsung di sambut dengan senyuman para karyawan,tidak ada yang mencibirku dan menghinaku ,bahkan suara bisik_bisik munafik aja tidak ada,seharusnya aku senang tapi agak janggal aja,selama aku kerja disini memang tidak ada yang dekat denganku,hanya Mba' Mauli namun sekarang dia sudah menjauhiku karena,masalah aku yang menggantikan Mba' Sania yang sebenarnya Mba' Mauli ingin menjadi pengganti Mba' Sania ,namun Barak malah memilihku.


   Sebelum masuk keruangan, kami berpapasan dengan Mba' Mauli dia tersenyum pada Barak ,namun saat tatapan nya beralih padaku dia tersenyum kecut,akupun berlalu tanpa mau memikirkan hal itu,sejak peristiwa aku yang menggantikan Mba' Sania dia memang sudah merubah sikapnya padaku yang dulunya ramah dan akrab sekarang saling menyapa pun tidak,kami kembali menjadi dua orang asing yang seakan tidak pernah mengenal.


"Barak....aku ke toilet dulu ya...."Barak mengangguk dan dia langsung memasuki Ruangannya.


   Aku duduk menenangkan diri di dalam toilet duduk di atas kloset wc,terasa menyakitkan di tatap dengan begitu ngeri oleh orang yang dulu begitu respect padaku,terasa menyesakkan dada,aku ingin dia berubah sangat berubah dari suka langsung membenciku,di tambah lagi sekarang aku malah bertunangan dengan orang yang ia suka


  "Kamu lihat tadi asisten pak Barak"Ada suara yang tiba_tiba terdengar


"Ia dia sangat cantik,walau berhijab tetap terlihat modis dan cantik"Hah .....aku kaget mendengar respon temen dari salah satu karyawan disini itu,kayaknya tadi temennya itu bicara bernada sinis deh...kok malah di balas dengan memuji aku


  "Ia.....cantik ,tapi kelakuannya,aduhhhh...."Tenyata ada satu lagi perempuan yang menyahut mereka


"Iya....kok bisa sihh....pak Barak mau sama dia"


"He...ehh...."

__ADS_1


"Lebih kasian nya lagi adik nya pak Barak,aku lihat waktu di pesta,dia terlihat menyedihkan...."


"Apa bagusnya perempuan itu,dia perempuan dari desa juga"


"Kalau saya sih jadi adik nya pak Barak udah saya tampar hingga dia malu di depan semua orang"


"Katanya ...sih..adiknya pak Barak itu temenya dia waktu kuliah,trus mereka pacaran dan bertunangan,lalu dia kerja disini,ehhh....lihat sasaran empuk,pak Barak yang lebih sukses dari tunangannya dia rayu"


"Ngomong_ngomong dia ngerayu pake' apa sihh....kok bisa nge gaet dua laki_laki dari keluarga Hadi"?


"Mungkin dia nyerahin tubuhnya kali...


Jaman sekarang mana ada laki_laki,yang tidak melakukan hal seperti itu di luar pernikahan"


"Iaa ....mungkin servisnya,memuaskan mereka berdua ,membuat mereka ke tagihan pada tubuh perempuan itu"


  "Jadi itu pemikiran para karyawan disini"Aku mengangguk_nganggukkan kepalaku,dari kemaren aku heran kenapa semua karyawan tidak berusaha merendahkanku,jadi mereka berbicara di belakangku,apa yang membuat mereka tidak berani mencibirku di depan mataku.


    "Ehhh....jangan keras_keras nanti di dengar pak Barak kita di pecat lagi"Yang ini membuatku terkaget


"Kenapa kita di pecat hanya karena ini"Ini suara wanita tadi yang memujiku dengan polos ,dari tadi sepertinya dia hanya menjadi pendengar


"Kamu ngga' masuk ya.....waktu kita di kumpulin di lobby kantor dan pak Barak mengancam kita semua"Ohhhh.....jadi begitu,semua kebenaran memang harus di cari disini,aku jadi penasaran .


"Iya....sih waktu itu aku ngga' masuk,aku kan lagi sakit


"Tapi uang tutup mulut dari perusahaan udah nyampe' di tangan kamu kan?


"Ia..."Apa jadi Barak mengancam mereka dan memberi mereka uang,pantesan kalau begitu,udah di sumpel pake' uang dan ancaman


  Karena udah puas,atas semua berita yang saya denger dari mereka ,aku beranjak keluar,aku benerin bajuku dan____


BRAAAAAAK"Aku membuka pintu toilet,sengaja agak di keraskan supaya mereka kaget,semua menoleh padaku,mereka langsung terlihat pucat pasi,seperti  dugaanku mereka bertiga ,karyawan kantor


   Aku menghampiri mereka dengan dagu di angkat keatas,perkataan mereka memang menorehkan luka,namun berita yang aku dengar dari omongan mereka sudah mengobati luka itu


  Mereka semua diam,aku menghidupkan kran air dan mencuci tanganku


"Kami tidak bermaksud_____


"TERIMAKASIH"Aku menghentikan perkataan salah satu perempuan itu tersenyum dan mengucapkan terimakasih


"Tapi tolong_____


"Perkataan salah satu perempuan tadi,menghentikan langkahku yang sudah berbalik memunggungi mereka


  "Tidak usah hawatir....aku bukan pengadu"Aku bicara tanpa membalik badanku,setelah itu aku berjalan dengan anggun menuju ke luar toilet


    "Aduhhh.....gimana ini,seharusnya kita tidak menjelekkan dia,siap_siap di pecat kita ini"Aku masih mendengar suara kehawatiran mereka,padahal tadi aku sudah bilang kalau aku tidak akan mengadu tapi tetep saja mereka hawatir,Barak memang pandai mengintimidasi orang,buktinya aku sekarang menyerah dan mengikuti apa yang ia rencanakan"Pria Brengsek,rasanya ingin aku cekek sampai ******"Aku mengeram memancarkan amarah


   "Begitu caranya,Barak menutup mulut semua orang,dengan ancaman dan uang,pantesss.....semua orang terlihat bahagia,jadi kebahagiaan yang sudah di atur.


   Keluar dari toilet aku langsung ingin memasuki ruangan.


"Tok.....tok....tok ...."Aku mengetuk pintu sebelum masuk ,tanpa menunggu jawaban aku langsung manarik gagang pintu dan membukanya


"Hentikan tatapan sinismu itu dan keluarlah"Suara Barak langsung terdengar di telingaku,disana ada Mba' Mauli juga,ternyata Barak bicara dengan Mba' Mauli


"Ingat ucapanku"Aku lihat sepertinya Barak sedang memarahi Mba' Mauli,marah tentang apa,aku juga tidak mengerti.


Mba' Mauli berbalik,aku melihat matanya merah dan pipinya basah,tatapan kami bertemu,dia menarik sudut bibirnya seakan terpaksa tersenyum padaku,kemudian dia melangkah keluar .


   "Bacakan jadwalku,jangan banyak terdiam seperti itu,walau kamu calon istriku,kuharap kamu tetap profesional.


  "Ya ......Tuan..."Aku mengangguk ,dan segera membacakan jadwalnya hari ini.


    Kami di sini menunggu tamu yang ingin menjalin kerja sama dengan kami.


   "Nanti malam aku ingin di masakin oleh calon istriku"Aku  mengangkat kepalaku menatap mata Barak


"Maksudnya aku"?


"Ya....kamu kan sekarang calon istriku"Barak mengedipkan matanya


"Selain brengsek ternyata kamu juga genit"Aku bicara sinis padanya


"Di rumah udah ada banyak juru masak yang masakannya begitu enak,kenapa aku mesti repot_repot masak,dan satu lagi aku ini calon istri kamu bukan tukang masak"Sadiskan gue.....aku memang slalu bersikap begini sejak menerima tawaran yang ia berikan ,aku melakukan ini supaya dia muak padaku,tapi sampai saat ini rasa muak itu belum terlihat.


"Muka kamu lucu kalau lagi marah_marah....makin cinta deh...aku"Barak tersenyum dan dia berusaha memegang daguku,tapi aku keburu berpaling,dan aku langsung memelototinya


"INGAT YA....NO PHYSICAL CONTACT"


"OKE....Rileks....setidaknya kamu jangan tegang di depan klien kita Oke..."Barak mengangkat kedua tangannya seperti orang yang sudah menyerah


"Yaaaaa...."Aku menjawabnya males,aku lihat Barak menyunggingkan senyumnya


"Kenapa tersenyum?Aku bertanya sinis


"Setidaknya sekarang matamu sudah terisi,walaupun diisi dengan amarah"Barak bicara seperti orang ngelantur aku ngga' ngerti


"Ngga' ngerti aku kamu ngomong apa"Aku melengos


"Tatapanmu yang kosong....seperti tidak ada semangat"Aku terpaku mendengar ucapan Barak,aku menyadari keadaan diriku yang terlihat hampa sejak di tinggal dia,dan yang menyadari tatapanku ini biasanya hanya Ibam dan Sajad,tidak kusangka si brengsek ini juga menyadari hal ini"Ehhhh.....dengar Nabila kamu jangan terbuai dengan hal ini,ingat siapa sebenarnya orang yang ada di depanmu ini


"Mereka sudah datang ayo kita sambut"Suara Barak menyadarkan keterpakuanku,aku langsung berdiri dan membalik badanku menuju kearah pintu masuk

__ADS_1


"DEGGGGG...."Astagfirloh ....apa ini?


   "Apa orang ini klien kami,tapi tunggu,aku tidak mungkin tidak menyadari ini,jelas_jelas nama perusahaannya bukan nama belakang orang ini karena aku yang mengatur pertemuan ini ,tapi____"AAAAHHHHHH...Ini tidak mungkin ,aku tidak bisa,aku tidak bisa bersikap profesional kalau di depan dia...."Bagaimana ini,haruskah aku pergi,pura_pura ke toilet,ahhhh tapi itu akan sangat memalukan,aku juga tidak ingin orang itu tahu kalau dia masih sangat mempengaruhi hidupku,seandainya aku punya kekuatan bisa menghilang dengan tiba_tiba,atau....ilmu itu....yah....ya....ilmu bisa merubah bentuk ,lalu aku harus berubah bentuk seperti apa .."Uhhh.....apa ini kenapa aku makin ngelantur,sebelum aku selesai dengan pertikaianku dengan diriku sendiri ,orang itu udah ada di depanku.


     Sampailah orang itu di depan kami,dia tersenyum pada kami,"OHHHH....Senyumnya masih begitu menawan,senyum yang mampu membuat hati rontok ngga' karuan,yang sangat aku rindukan,dan sekarang aku membenci rinduku ini


"OHHH....SAKINA NABILA,kendalikan dirimu dan bersikaplah profesional"Aku masih berperang dengan hatiku


"Selamat siang tuan Mubarak Hadi"pandangannya menuju kearah Barak dan Barak menyambut tangan orang itu,namun orang itu seperti tidak mau berlama _lama bersalaman dengan Barak sehingga dia melepas tangannya dan


segera ingin menoleh padaku.


"Maaf..."Suara Barak menghentikan orang itu yang ingin segera menyapaku,sedang aku hanya bisa melongo bagai orang bodoh.


  "Silahkan duduk dulu sebelum kita membahas yang lain"Kami semuapun menduduki kursi kami masing_masing,dan bertepatan aku malah persis ada di depan Bilal Abimana ini ,aku agak kikuk dan tidak nyaman,Bilal menatapku seperti ingin memakanku.


"Saya hanya tahu tentang perusahaan anda tapi tidak mengenal anda,biasanya kami berinteraksi dengan Bapak HERMAN YAHYA"Barak memulai pembicaraan dengan nada formal


"Ohh...ya pak Mubarak saya asisten di perusahaan ini dan ini Bos Saya pemilik perusahaan 2 BIL GROUP"


"Nama Bos saya ini___


"Bisakah saya saja yang memperkenalkan diri"Orang itu menoleh pada Asistennya meminta untuk memperkenalkan dirinya sendiri tanpa bantuannya


"O....iya pak silahkan"Asisten orang itu terlihat pucat,dia menyadari kesalahannya"Hehhh.....dia tidak berubah sama saja selalu sok ngebos dan pintar mengintimidasi .


"KENALKAN NAMA SAYA MUHAMMAD BILAL ABIMNA PEMIMPIN SEKALIGUS PEMILIK PERUSAHAAN INI"


"He...he....he....kayak anak TK aja"Aku tertawa sendiri,namun semua orang menatapku


"APA....,apa aku....ohh....tidak ,aku kira aku tadi bicara dalam hati ,jadi itu tadi keluar dari mulutku"


"Ohhh....ya...ampun...maaf..maaf mulutku memang usilll"Aku memukul mulutku sendiri,Namun Bilal dan Barak tersenyum melihat tingkahku,sepertinya Bilal dan Barak menyadari keadaan mereka yang sama_sama tersenyum sambil memperhatikanku,karena sekarang mereka saling menatap penuh intimidasi ,seperti tidak ada yang mau mengalah.


"Ohhh..dari keluarga ABIMANA rupanya.


"Jadi anda tahu tentang keluarga saya?


"Tentu saya tahu keluarga anda termasuk ayah anda FAIZAL ABIMANA"


"Pengusaha yang sangat sukses,dengan bisnis di berbagai bidang"


"Ya.....Ayah saya memang hebat,tapi anda menerima kerja sama ini bukan karena nama Abimana kan"


"Tentu saja bukan ,kami melihat dari segi kompeten nya perusahaan tersebut ,bukan karena nama pemiliknya"


"Terimakasih kalau begitu"


   "O....iya Bapak Abimana perkenalkan ini Asisten saya ,sekaligus CALON ISTRI saya"Barak menegaskan suaranya di calon istrinya sepertinya dia menyadari ketertarikan Bilal padaku"AHHH....Benerkah Bilal masih tertarik padaku,ohh...helloww  aku tidak akan berpendapat begitu kalau sikap Bilal tidak mencerminkan hal itu,bukankah Bilal katanya sudah menikah,tapi aku tidak mungkin salah dia masih tertarik padaku aku melihat itu di matanya


"Maafkan ketidak sopanan nya tadi,dia memang sering keceplosan bicara tentang isi hatinya"


"Ya.....sudah tahu,dan saya kenal dia"Bilal menoleh padaku,sikapnya yang tadi ingin segera melihatku berubah mungkin karena mendengar aku yang merupakan calon istri Barak"Tapi tunggu dulu...dia bicara apa tadi ,sudah kenal ,aku ngga' nyangka kaget aku mendengar ucapannya aku kira dia akan menutupi keadaan kami yang sudah saling mengenal,tapi ini....wahhh...wahhh...sungguh di luar dugaan ,Bilal memang tidak ada duanya"kokkk....jadi muji dia sihh....ihhh...aku kan udah move on"


"Kalian sudah saling kenal?Barak bertanya penasaran,benarkan ...ini pasti panjang .


"Iyaaa.....dia..mantan___


"MANTAN SAHABAT"Aku meneruskan ucapan Bilal


"Siapa bilang kita mantan sahabat"?Bilal menatapku


"Kita memang mantan sahabat"Aku balas menatapnya


"Tapi kita itu mantan_____


"BUKAAANNN....kita bukan mantan pacar,aku kan sudah memberi peraturan di geng kita di larang pacaran,masa' aku yang buat peraturan aku yang ngelanggar"


"Ihhh....kapan aku bilang kamu mantan pacar aku"?


"Tadi.....kamu bilang mantan..."


"Aku kan belum selesai ngomong"


"Yaa....aku menghentikan kamu yang ingin ngomong ngawur"


"Yang ngawur tuh kamu"


"KAMU..."Aku berteriak


"KAMU..."


"YA...KAMU"


"BUKAN KAMU"


"AKU..."


"AKU...."Tanpa ku sadari aku mengikuti ucapan Bilal,dan tanpa aku sadari pula aku berdebat dengan Bilal di depan Barak.


    Kami terdiam setelah menyadari hal itu,Barak melihat kami berdua dengan heran,dia pasti kaget melihat kedekatanku dengan Bilal


"Dia teman sekolahku,dan berasal dari desa yang sama,tetanggaan"Aku berusaha menjelaskan pada Barak,takut dia salah faham,bukan takut di tinggalin sihh....tapi takut dia ngebatalin janjinya padaku.


   

__ADS_1


 


  


__ADS_2