2 BIL

2 BIL
BAGIAN 32


__ADS_3

       Aku menghela nafasku,ini sudah dua bulan semenjak kejadian di Rumah paman dan inilah yang terjadi setengah bulan lagi aku akan menyandang nama Hadi dan bersuamikan Mubarak.


   Hal ini sudah aku prediksi,jadi saat Barak bilang ingin  mempercepat pernikahan kita yang dari awal sudah di rencanakan masih lama akan terjadi,namun hal itu sebentar lagi akan segera di laksanakan,dan aku yakin alasannya karena kejadian waktu aku bertamu ke Rumah Bibiku,dan tak di sangka disana sudah ada Bilal,dan alasan adanya Bilal di sana aku tidak tahu


     Barak menyimpulkan sendiri isi fikirannya ketika melihat aku masuk bersamaan kedalam Ruang tamu dengan Bilal dan sampai sekarang dia tidak menyinggung hal itu,atau bertanya apa yang terjadi sebenarnya,dia hanya marah ngga' jelas .


     segala urusan pernikahannnya di serahkan pada wedding organizer yang di pilh Barak sekarang bahkan aku rela untuk hanya diam saja menerima semua yang di putuskan oleh Barak tanpa meminta bantuanku atau pendapatku,aku pasrah dan menunggu Hari pernikahannya tiba


   Sekarang ini Barak sedang ada di luar negri,perjalanan Bisnis selama seminggu ,biasanya aku slalu membuntuti dia kemana_mana,namun kali ini aku di ijinin oleh Barak untuk istirahat,dan dia mengajak Mba' Mauli untuk menemaninya


   "UHHHH..."Seharusnya aku cemburu dan berfikir bagaimana interaksi mereka berdua yang notabene Mba' Mauli menyukai Barak,dan aku yakin Barak mengetahui semua itu,tapi aku malah merasa biasa aja....


   Ini sudah malam hari jarum jam yang paling pendek, sudah menunjuk pada angka sembilan,aku menguap dan bersiap untuk memejamkan mata dan berpetualang di alam bawah sadarku.


  "Brakkk...."Ada suara kegaduhan terdengar,di rumah ini semua pelayan tidak tinggal disini,mereka pulang setelah menyelesaikan pekerjaan mereka,saat ini hanya ada aku dan kedua pengawalku


  "Ahhhh.....aku tidak perlu takut,kedua pengawalku itu mampu melawan seratus orang sekalipun ,mereka sangat cekatan juga,jadi aku tidak merasa hawatir atau was_was jika sudah ada mereka,namun karena rasa penasaran yang begitu tinggi,sebenarnya suara apa yang aku dengar tadi ,aku pun keluar


"Krekkkk..."Aku membuka pintu dengan pelan sekali,dan melangkah keluar ,aku mengernyit ,tidak ada apa_apa....,akupun keluar dan kulihat disana kedua pengawalku sedang berdiri sigap dia hanya sendiri "kemana pengawal satunya?Aku bertanya sendiri


   Akupun keluar dan membuka pintu dengan kunci yang sudah aku ambil dari meja tadi,kedua pengawalkupun memegang kunci yang sama denganku jadi kalau mereka ada perlu mereka tinggal masuk tanpa mengganggu tidurku


"Ohh...😮Nona bangun"?Pengawalku itu melihatku dengan heran


"Tadi aku mendengar...suara...___


"Ohhh....itu..."pengawalku menghentikan perkataanku dan langsung menjawabnya


"Tadi itu suara jendela yang terkena angin ,mungkin tadi pelayan lupa untuk menutupnya"


"Kami sudah berkeliling tadi ,keadaan aman"Pengawal itu menjelaskan panjang lebar,akupun menganguk mengerti


"Ya...sudah aku istirahat dulu ya ...besok saya mau kekantor"!


"Iya....Nona silahkan"Akupun melangkah masuk kedalam meninggalkan pengawalku tadi


   Esok paginya aku sudah siap untuk pergi kekantor,kedua pengawalku seperti biasa sudah siap sedia untuk mengawalku tanpa pernah mengeluhkan apapun padaku


  Sampai di tengah perjalanan tiba_tiba mobil berhenti mendadak


"Heiii ...ada apa"Aku sontak berteriak kecil


"Ada kerumunan di depan sepertinya ada kecelakaan"Pengawalku menjelaskan padaku,mendengar hal itu  muncul rasa penasaran ku,akupun keluar mobil


"Ehh....Nona mau kemana"?


"Tentu saja mau melihat keadaan "Aku menjawab mereka dengan sinis


"Jangan Nona bahaya..."


"Bahaya apaan .....aku cuma mau lihat sebentar,udah dehhh....kalian jangan berlebihan"Mendengar nada kesalku,mereka langsung keluar mengikutiku


"Ada apa...pak"Aku bertanya pada seorang supir sebuah Taxi


"Tidak tahu .....Non ..katanya sih kecelakaan"Sopir tadi menjawab sambil sesekali berusaha mempertajam pandangannya kearah kerumunan orang yang ternyata masih jauh di depan,sedang disini udah macet begiu lama,membuat suasana gerah


  Kedua pengawalku masih setia ada di belakangku,aku terus menyusuri jalan hendak mendekat namun jarak kecelakaan itu masih terlihat jauh di mata


"Sebaiknya kita kembali ke mobil dehhhh...."Aku membalik badan dan mengajak kedua pengawalku untuk kembali lagi ketempat mobil kami berada,aku terus berjalan sambil melihat kearah pergelangan tanganku,aku melihat jam tangan ku "Aku ada pertemuan penting lagi"Aku menggerutu sendiri,untung kemarin udah saya siapin semua berkasnya,hari ini aku harus menemui klien sendiri,tanpa Barak karena dia sedang di luar negri.


    Kami sampai di depan mobil kami


"Kita cari jalan lain ya...."Aku menoleh dan memberi perintah sekali lagi pada kedua pengawalku


"Baik Nona" Ucapan salah satu pengawalku membuat aku menghentikan tanganku yang ingin membuka mobil


"Ban nya kempes Nona"Ucapan itu bagai membelah kepalaku


"Sàat seperti ini ban Mobil malah kempes"Amarah langsung menghantam dadaku


"Sebentar Nona saya akan menggantinya dengan Ban serep"


"Yahhh....tetep saja aku sedang buru_buru,ini klien penting loh"


"Aku naik taxi aja..."


"Tapi Nona____


"TAPI APA......"Aku berteriak menghentikan ucapan pengawalku


"Kamu ganti Ban nya...aku dan dia akan naik taxi aja,cari arah jalan lain"


  Aku membereskan perasaan tidak percaya mereka padaku yang seakan menyangka aku akan kabur


"Tapi mana ada disini Taxi yang kosong"Aku pun melihat kearah mobil,angkot ,sepeda motor dan Taxi yang terlihat berjejer menunggu jalanan lengang


"Ikutlah denganku,aku tahu jalan pintas menuju ke kantor kalian"Dunia ternyata sangat kecil jika dihadapan kuasa Allah,lihat sekarang aku malah bertemu dengan dia di saat begini


"Kalau tidak mau ya .....sudah..."Bilal masuk kemobil nya tanpa menungguku untuk berfikir


"Kita ikut dia....dan jangan banyak bertanya"Aku bicara tegas dan lugas,akupun masuk kedalam kursi penumpang bersama pengawalku sedang pengawalku yang satunya sedang mengganti Ban Mobil kami


   Setelah ada dikursi penumpang dan duduk manis bersama satu pengawalku juga,ternyata ketenangan hatiku yang sudah aku atur dengan baik supaya tidak terpengaruh akan sosok Bilal ,sekarang malah harus di usik oleh hadirnya si mak lampir pelakor"Eeeeehhhh....aku salah ya ....dia bukan pelakor,emang aku istrinya Bilal apa ....kami juga tidak pernah pacaran hanya satu hal yang jelas Bilal adalah sahabatku,teman baikku,dia pantas di sebut apa ya  ....?


"Perebut Sahabat orang gitu....ahhh..pikiranku makin ngga' karuan,semoga hal ini segera berakhir ,aku segera sampai tujuan dengan tepat waku tanpa harus melewati tangisan dulu.


  "Kelihatan banget sihh...kalau mobil hasil minjem"Rista berusaha mengejekku,aku hanya memutar bola mataku malas,begitulah kalau menjadi orang yang sok tahu,pikirannya hanya terisi tentang kejelekan.


  "Bukannya pria itu pria yang kemarin "?


"Sekarang berdua ,lalu yang satunya kemana tuhh....?


"Udah bosen kali ya .....sama cewek kayak kamu,atau pria itu udah bangkrut karena sering di porotin"Rista mengoceh di sepanjang perjalanan kami,aku hanya membalas ocehannya dengan diam ,tanpa mau membela diri sedikitpun,dan Bilal yang sedang menyetir di sampingnya terlihat tidak peduli juga,makin kesini sepertinya aku udah mulai terbiasa tidak diperhatikan ataupun di bela Bilal saat ada yang menjelekkanku


"O...iya...tuan apa kamu tidak tahu ,kalau perempuan yang ada di samping tuan itu,udah punya tunangan"Rista sepertinya mengira pria yang ada di sampingku ini mempunyai hubungan khusus denganku,aku melipat tanganku di dadaku dan memejankan mataku,sekali lagi mengabaikan ocehan Rista


"Sudah hentikan Ris...."!Bilal mulai mengeluarkan suaranya dengan bentakan


"Tapi itu kenyataan Bilal..."Rista masih melawan


"Kamu_____"


"Perkenalkan Nama saya HAMBALI HASAN.........."Pengawalku memotong perdebatan mereka berdua,dari tadi aku masih memejamkan mataku ,menikmati ocehan Rista dan perdebatan nya dengan Bilal


"Saya pengawal dari Nona SAKINA NABILA,saya di perintah oleh Tuan Mubarak untuk slalu memberi keamanan pada Nona Nabila"pengawal yang ada di sampingku ini sepertinya sudah merasa geram dari tadi,aku tahu itu terdengar dari nada bicaranya,padahal selama ini ,dia tidak pernah banyak bicara,apapun yang aku lakukan dia hanya diam dan hanya memperhatikan dan mengasiku memastikan keadaanku aman hanya itu,tapi kali ini mendengar setiap kalimat  yang ia ucapkan dan itu merupakan kalimat terpanjang yang prnah saya dengar selama dia menjadi pengawalku


  Aku tersenyum kecil membayangkan wajah Rista yang pastinya akan menciut dan terlihat kecut,mendengar ungkapan pengawalku itu,yaahhh.....aku sihh tidak sepenuhnya menyalahkan Rista karena wajah dari pengawalku ini terlihat begitu manis ,dia memiliki wajah orang Asia dalam versi Imut dan manis bukan pria yang memilki rahang tegas seperti kebanyakan para Bodyguard lainnya.


"Dan yang kemarin bersama kami ,itu pengawal Nona Nabila juga"Pengawalku ini sepertinya ingin menebas prasangka buruk Rista sampai keakarnya .


"Dia kakakku namanya ADZAN HASAN"Mereka memang bersaudara dan aku mengetahuinya saat aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka yang sedang membahas tentang keluarga mereka.


    HAMBALI HASAN,dan aku sering memanggilnya HAMBA dia seumuran denganku,menjadi bodyguard karena keahliannya dalam ilmu bela diri


      Dan ADZAN HASAN yang merupakan kakak dari Hamba ,dia juga jago ilmu bela diri,kalau Hamba memiliki wajah yang manis sedang ADZ begitu kami memanggilnya mempunyai wajah yang tegas ,keduanya mempunyai daya tarik masing_masing ,dengan ketampanan yang lebih mendominadi


    "Maaf .....kami tidak bermaksud untuk_____


"Tidak apa_apa tuan,saya terima jika saya di pandang buruk,tapi saya tidak bisa menerima jika ada orang yang menjeleķkan Nona Nabila"Hamba memotong ucapan Bilal,aku tahu Bilal merasa tidak enak hati ,pada pengawalku ini,sehingga dia menyampaikan permintaan maafnya


"Siapa suruh Nonamu itu,sering bergonta_ganti pasangan,jangan salahkan pikiranku dong...."


"TAPI....."Aku menghentikan ucapan Hamba dengan memberinya tatapan yang tajam,bersamaan dengan suara Hamba ,Bilal juga menegur Rista.


"Sudah jangan diterusin,atau kamu mau turun disini"Bilal mengeluarkan ancamannya,Ristapun menutup mulutnya,sepertinya dia takut akan ancaman Bilal,semua terdiam dan suasana akhirnya sepi,hanya suara deru mobil yang terdengar .


  Aku bisa menghadiri rapat tepat waktu,karena Bilal yang sudah berbaik hati memberiku tumpangan walaupun aku harus merasakan sesak karena melihat secara langsung bagsimana Bilal begitu perhatian pada Rista,yang merupakan.......merupakan apaya .....?apa mereka sudah menikah ...ahhh bodoh amat ,terserah deh...mereka mau menikah atau belum,aku tidak peduli,yang penting tadi rapat berjalan dengan lancar,klien yang aku hadapi terlihat puas dengan semua presentasiku


"Ada yang ingin bertemu dengan Nona"Hamba menyambutuku di depan ruanganku,mereka berdua selalu stanbay menunggu dan mengawasiku


"Tamunya menunggu di ruangan anda"


"Baiklah terimakasih"Aku pun memasuki ruanganku,tamuku tadi langsung berdiri menyambutku denfan senyumannya,yang belakangan ini terlihat memudar karena aku sudah menyakiti putra kesayangannya


"Mama disini"Aku mulai terbiasa memanggil nya dengan sebutan mama semenjak aku bertunangan dengan Sajad,dan tidak berubah tentunya walaupun pertunanganku dengan Sajad udah putus namun aku kembali bertunangan dengan Barak anaknya juga


  Aku mendekat dan memeluk Mama Hasna,yang mempunyai Nama lengkap HASNA HADI.


"Apa kabar nak?


"Baik ma...."Mama Hasna menarikku dan menuntunku duduk disampingnya di atas Sofa


"Mama agak marah sebenarnya,kamu memutuskan hubungan dengan Sajad sepihak"


"Maaf ma.."Aku menunduk malu


"Tidak perlu minta maaf.....Mama menghormati pilihanmu,itu juga merupakan hak yang kamu miliki Nak"Mama Hasna mengenggam tanganku


"Terimakasih ma....."


"Mama boleh minta tolong ngga'?


"Tentu aja Ma.......aku sangat mau"


"Anterin Mama kerumah sakit ya.....?


"Mama sakit....?Aku menatap Mama Hasna dengan rasa hawatir


"Hanya pemeriksaan rutin Nak"


"Ayo .....Ma ....aku anterin"Aku bergegas mengambil Tasku dan kamipun keluar dari Ruanganku


"Kita kerumah sakit anterin Mama Hasna"Aku langsung bicara pada kedua pengawalku yang sudah berdiri menyambutku


"Mereka ikut juga Nak..."?Mama Hasna menghentikan langkah kami,mendengar pertanyaan Mama Hasna membuatku menoleh padanya


"Ia...Ma..mereka ditugaskan Barak untuk mengawasiku"


"Mama agak tidak nyaman saja"


"Maaf Ma.....aku tidak bisa membantah Barak"Aku menunduk penuh penyesalan


"Ya.....sudah tidak apa_apa ....ayo kita berangkat"Mama Hasna tersenyum,kelihatan kalau Mama Hasna memang tidak nyaman ketika harus di kawal seperti ini


  Kami sudah berada di dalam Mobil ,kami menggunakan Mobil Barak,tadi Kak Adz begitu sekarang aku memanggil pengawalku karena memang dia lebih tua dariku,dia seumuran dengan Barak,seharusnya terhadap Barak  aku juga memanggilnya kakak tapi aku kira panggilan itu terlihat begitu terhormat untuk Barak,lagi pula aku benci Barak ,jadi aku agak tidak nysman jika harus memanggilnya dengan sebutan Kakak


    Tadi Kak Adz sudah mengambil Mobil di rumah Barak dan memasukkan Mobil yang biasa kami gunakan ke bengkel


  Kedua pengawalku duduk di depan sedang aku dan Mama Hasna duduk di kursi penumpang


"Drrtt....drttt..."Bunyi ponsel bergetar,bukan ponselku tapi ponsel Mama Hasna


"Ya....halo"Mama Hasna mengangkat panggilan itu


"Saya akan segera sampai"


"Hmm...iya..."Aku hanya diam mendengar dan menunggu Mama Hasna menyelesaikan pembicaraan nya di ponsel


"Iya...."Mama Hasna mengangguk,kemudian dia menyelesikan obrolannya dan mematikan ponselnya

__ADS_1


   Kami sampai di sebuah Rumah sakit yang begitu besar terletak di pusat kota ini,kami melangkah memasuki Rumah Sakit ,hingga sampai di sebuah Ruangan yang di depannya tertulis Nama seorang dokter


"Kamu temani Mama di dalam ya....Nak"!Mama Hasna menggenggam tanganku ,dan menatapku penuh dengan permohonan


"Dannn........"Mama berhenti bicara ,tatapannya tertuju pada kedua pengawalku


"Mama....tidak usah hawatir saya akan bicara pada mereka"Aku langsung mengerti maksud dariMama Hasna,dari awal dia memang agak sungkan saat bicara denganku di  depan mereka berdua


"Aku akan masuk kedalam,kalian tidak perlu ikut ,awasi dari luar sudah cukup kan....?Aku bicara dengan tegas


"Ia....Nona..kami tidak akan ikut masuk dan tetap menunggu dan mengawasi dari luar saja"kak Adz langsung menjawabku


"Bagus kalau kalian langsung mengerti"Begitulah mereka ,tidak pernah membantah,selalu pengertian,tidak cerewet dan tidak suka mengatur,karena itulah aku betah di kawal mereka


  Aku masuk kedalam Ruangan yang di dominasi dengan warna putih ini,Mama segera menutup pintu Ruangan itu,dan aku di sambut dengan senyum dari seseorang yang begitu tulus dan sangat tampan


   Orang ini yang dulu mampu membuatku tersenyum ceria lagi ,dia Sajadah Hadi mantan tunanganku


   Aku menoleh menatap Mama menuntut sebuah penjelasan.


"Bicaralah Nak,kalian butuh bicara"Mama membalas tatapanku dengan jawaban


"Jadi kalian menjebakku"Aku bicara pelan namun aku yakin mereka berdua mendengarnya


"Mama mohon .....  Mama akan menunggu kalian"Mama meninggalkanku bersama Sajad dia masuk kesebuah ruangan,tidak tahu ruangan apa itu


"Baik ....bicaralah"Aku duduk di kursi yang biasa diduduki  pasien dan Sajad duduk di depanku kursi yang biasa diduduki oleh dokter


"Kamu sengaja menyewa tempat ini untuk menjebakku"Aku memperlihatkan rasa kesalku


"Ini tempat praktek temanku,hari ini dia sedang libur,jadi aku meminjam tempat ini dan menggunakan Mama agar bisa menemuimu"


"Alhamdulillah Mama mendukungku"


"Kamu mau bicara apa Sajad?


  "Aku hanya rindu..."Tangan Sajad bergerak dan menarik tanganku ,lalu menggenggamnya


"Apapun itu ,rencana yang ada di otakmu,aku masih belum tahu,sungguh sulit untuk mencari tahu,kami kebingungan..."


"Kami____"?Aku menotong ucapan Sajad dengan pertanyaan,aku dari awal yakin ,Sajad tidak mungkin memaksaku untuk mengatakan yang sebenarnya,dia terlalu lembut untuk menjadi pria yang keras,dan aku jadi penasaran arti kami yang di maksud Sajad


"Ya.....kami"


"He ..he...he"Sajad terkekeh geli,aku menatapnya heran


"Saat itu aku sendirian ,mencari tahu kesana _kemari,tentang apa yang menjadi tujuanmu,aku kewalahan,hingga aku teringat Ibam, aku langsung menemui dia,namun aku salah ternyata dia tidak tahu juga,lalu Ibam teringat sesuatu,diapun membawaku menemui dia....."Sajad diam tidak meneruskan ucapannya,sepertinya dia menunggu responku,aku ingin menahan rasa penasaranku tapi aku tidak mampu,sehingga pertanyaan pun keluar dari mulutku


"Dia...siapa"?Aku bertanya dengan suara pelan,di otakku sudah mencerna dia yang di maksud Sajad


"Sepertinya kamu sudah mengerti dia yang aku maksud"


" Ya...dia....MUHAMMAD BILAL ABIMANA,Nama yang tidak bisa aku hapus dari hatimu"Sajad menyebut nama itu


  Aku menunduk lesu mendengar ucapan Sajad


  "Sebenarnya tadi Ibam menunjukkan foto kebersamaan kalian,melihat foto itu,senyummu yang ada di sana yang tidak pernah kamu tunjukkan saat kamu bersamaku,membuat gejolak cemburu yang ada di hati menguak"Sajad telihat memerah seperti menahan amarah


"Karena itu aku ingin melihatmu,menatap matamu,mencari jawaban apakah aku masih punya kesempatan"


"Sajad kamu jangan membuatku ,semakin merasa bersalah"


"Tidak putri......jangan merasa bersalah,dari awal inilah pilihan hidupku,aku memang sudah menyiapkan hatiku untuk terluka"Sajad mengeratkan genggamannya


"Aku ingin kamu bahagia....."


"Tidak bisakan kamu melepaskan kakakku dan hidup bersamaku,aku akan______"


"Aku tidak akan melepaskan kakakmu,aku akan mengikatnya dengan kebencianku sampai dia mati"Emosiku langsung terpancing,ketika Sajad menyebut Nama Barak kakaknya


"Kalian tidak perlu mencari tahu tentang tujuanku,aku bisa menghadapinya sendiri"Aku berdiri dan membelakangi Sajad


  Sajad pastinya sudah tahu bukan cinta yang mendasari kebersamaanku dengan Barak ,namun Sajad pasti tidak tahu tujuanku yang sebenarnya karena hanya aku yang tahu cerita sebenarnya ,apa yang terjadi sepuluh tahun yang lalu,dan semua tersimpan rapi diingatanku ,dan karena aku yang kehilangan ingatan di saat itu membuat Kak Raiz memikul beban semua nya sendiri.


   "Maaf kan aku yang sudah mencampakkanmu,kuharap kamu menemukan seseorang yang lebih baik dariku,lupakan aku Sajad,aku tidak pantas untuk di cintai"Setelah mengucapkan itu semua aku melangkah mendekati pintu,dan memegang gagang pintu dan memutarnya


"Aku mencintaimu,aku sangat mencintaimu,maaf aku tidak mampu merubah itu,kamu selalu menjadi yang terpenting dalam hidupku,aku tidak akan pergi dari sisimu aku akan slalu ada untukmu,aku ingin menjadi orang yang kamu temui di saat kamu butuh sandaran hidup"Sajad menghentikan gerakan tanganku,dan dengan terpaksa aku diam dan mendengarkan semua ucapan Sajad


"Aku hanya ingin melihatmu bahagia,melihat perempuan yang aku cintai tersenyum itu sudah lebih dari cukup untukku"Aku membuka pintu tanpa mau tahu apa Sajad sudah selesai bicara atau tidak.


   Aku melangkah pergi meninggalkan Rumah sakit,kedua pengawal ku mengikutikutiku ,seperti biasa mereka tidak banyak berkomentar melihat perubahan mimik mukaku.


  Ini sudah malam hari,aku sendiri di rumah ini ,semua pekerjaan sudah beres namun aku masih merasa sepi,teringat pertemuanku dengan Sajad,itu membuatku mengingat semua orang yang aku sayangi,aku merindukan mereka,cinta tulus mereka membuatku merasa aman dan bahagia saat bersama mereka


   Mungkin ini adalah hukuman untukku karena akulah penyebab semua penderitaan ini ,aku sendiri penyebabnya,karena adanya aku kami semua kehilangan kak Bina yang begitu baik yang begitu menyayangiku melebihi segalannya.


  Karena aku kami kehilangan Kak Raiz yang begitu baik dan begitu menyayangiku dengan sepenuh hatinya


"Flash back"


"Kak Bina......"Saat itu aku mencari kak Bina kesegala penjuru Rumahku,aku ingin memperkenalkan kakaku dengan Kak Raiz dan Kak Barak ,kak Bina sepertinya baru patah hati,Kak Bina tidak pacaran sihh...."Karena peraturan Abi berlaku untuk semua putrinya yaitu tidak boleh pacaran,hanya saja kemarin malam aku melihat Kak Bina menangis di belakang rumah kami,tidak tahu alasan nya apa,hanya aku lihat Kak Bina memegang sebuah foto di tangannya,namun selanjutnya aku melihat kakak merobek foto itu dan membuangnya,lalu dia berlari menuju kekamarnya dan aku yakin Kak Bina menangis


  Aku menghampiri tempat kak Bina tadi lalu aku memunguti sobekan foto tadi,dan setelah di satukan tetnyata itu foto Kak Bina dengan seorang lelaki dengan pakaian seragam yang sama dan aku yakin mereka satu sekolah karena memakai seragam yang sama


  


Aku menghela nafas dan hanya menggelengkan kepala,aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya,namun saat itu aku hanya bergumam ternyata memang merepotkan menjadi orang dewasa


  Aku mengetuk kamar Kak Bina,tak lama Kak Bina membukanya dengan suara serak dan aku yakin dia sudah menghapus air matanya


"Mau ngobrol....."Aku bicara agak manja,aku memang slalu bersikap manja pada kakakku karena dia slalu memperlakukan aku seperti itu,dia begitu menyayangiku,sampai_sampai kami jarang bertengkar,kami tidak hubungan saudara seperti pada umumnya yang selalu merebutkan segala sesuatu,kami slalu menginginkan hal yang berbeda,sikapku yang agak tomboy berbeda dengan kakakku yang sangat feninim


"Kenapa.....apa Bilal,berulah lagi?Aku memang slalu membicarakan tentang Bilal pada Kak Bina


"Kakak menangis....?Aku langsung bicara jelas tanpa basa_basi


"Menangis.....enggak kok"Kak Bina agak gelagapan


"Tadi aku lihat kak Bina"Kak Bina tidak bisa menghindar lagi


"Kak Bina.....pacaran?


"Kamu ini apaan sihh......ya enggaklah ,bisa di pecat kakak jadi anak nya Abi kalau sampai Kak Bina pacaran"


"Lalu itu tadi foto siapa?


"Kamu ini kayak detektif aja.....menguntiti kakak terus sekarang kakak di tanya_tanya"


"Aku tidak suka melihat Kak Bina menangis"


"Terimakasih adikku"


"Lalu siapa cowok itu?Aku masih kekeh menanyakan hal itu


"Cowok yang kak Bina suka.....kak Bina berharap dia menjadi suami kakak kelak,namun dia melakukan suatu kesalahan dan kak Bina tidak bisa memaafkannya"


"Kalau begitu....lupakan cowok itu,biar aku nanti yang mencarikan cowok untuk Kak Bina"Aku menunjuk diriku sendiri sok melindungi kakakku


"Hahhh......gimana ya....."Kak Bina menghela nafasnya,wajahnya memasang sok memikirkan sesuatu


"Bener kamu mau mencarikan cowok untuk kakak?


"He...ehhh"Aku mengangguk yakin


"Kalau kak Bina,maunya cowok itu seperti Bilal ...apa kamu mau mencarikannya untuk kakak?


"BILAL....."


"Ihhh....kakak kok malah pengennya cowok kayak Bilal,dia....kan nakal,bandel juga,suka berantem lagi"


 "Gimana lagi kakakkan maunya kayak Bilal....atau kamu kasih aja Bilal sama kakak,kamu kan tidak suka sama Bilal,itu kamu lho yang bilang"


Aku cemberut mendengar ucapan Kak Bina,aku tidak mengerti ini perasaan apa,seperti sebuah ketidak relaan


"JANGAN.....kakak tidak boleh sama Bilal ,soalnya Bilal bandel,aku tidak rela"


"Tidak rela...atau apa nihhh....?


"Ya.....kakak cari yang pintar dan yang dewasa dong kak"Aku menunduk tidak tahu harus mengatakan apa lagi


"Ha....ha....ha...."Kak Bina tertawa


"Nabila____Nabila.......kakak bercanda kok"


"Ngga' bercanda juga ngga' apa_apa ,memang apa hubungannya sama aku kak"


"Sudahlah nanti kalau kamu sudah dewasa kamu pasti mengerti"sekarang aku mengerti maksud semua ucapan Kak Bina


  Saat itu aku Kak Raiz mengatakan sesuatu yang membuat aku berfikir untuk memperkenalkan Kak Raiz dengan Kak Bina


"Seandainya ada gadis seperti dirimu dalam versi dewasa ,pasti kak Raiz bakalan suka"Kak Raiz bicara seperti orang yang frustasi ,padahal aku tahu dia hanya ingin menggodaku,namun karena ucapannya itu ,aku betpikir  untuk mengenalkan kak Raiz pada Kak Bina,namun sayang aku juga harus mengenalkan temannya juga yang bernama Barak,aku tidaj suka Kak Barak ,dia terlihat seperti cowok playboy,aku melihat itu saat dia menatapku,sedang kalau Kak Raiz ,aku melihat kasih sayang seorang kakak dimatanya,tatapannya sama seperti saat Kak Bina menatapku


"Aku punya kakak,namanya kak Bina,dia sangat baik dan cantik"


"Benarkah.....?Kak Raiz terlihat bersemangat


"Kamu mau mengenalkan kak Raiz pada kakakmu itu"


"Iya....."Aku mengangguk


"Apa dia secantik kamu?Itu suara kak Barak,seperti biasa bahasanya selalu menyebalkan


"Kata Abi yang penting dalam diri seorang perempuan itu adalah isi hatinya,fisik merupakan nomer kesekian dalam  ukuran perempuan muslim,jadi aku sarankan Kak Baraj jangan melihat perempuan dari segi fisik saja tapi lihat juga hatinya"Aku bicara menirukan ucapan Abi,itu memang sepenuhnya ucapan Abi,selama ini ucapan Abi hanya bisa aku tiru ucapannya,belum mampu melaksanakannya.


"Ya.....ya...Ustadzah kecil,maafkan aku ini yang hanya tertarik pada fisik seorang gadis" Kak Barak melipat tangannya berlagak menohon maaf


"Ayo.....ikut aku ke Rumah aku kenalin sama Kak Bina"Aku menarik Kak Raiz untuk mengikutiku


"Disana rupanya "Aku berseru sendiri


   "Itu dia kakakku"Aku menunjuk kak Bina,dia sedang membaca buku ,ini taman belakang Rumahku,Abi sengaja membuatnya untuk kami jika kami ingin membaca atau belajar


"Tempatnya indah  ..."Kak Raiz bergumam,dia melihat di sekitarnya,begitu juga Kak Barak


  Taman ini dipenuhi dengan berbagai bunga dari berbagai jenis ,Umi sangat menyukai Bunga,karena Bunga merupakan pengharum alami,jadi setiap bunga bermekaran disini tercium wangi bunga alami dari berbagai jenis


"KAK BINA....."Aku berteriak memanggil Kak Bina,dia langsung menoleh ,aku menghampirinya,dan diikuti oleh kedua kakakku yang ada di belakangku ini


"Kakak lagi ngapain....?


"Lagi iseng aja baca_baca buku"Kak Bina memperlihatkan bukunya.......lalu aku lihat dia melihat ke arah belakangku


"Siapa.....mereka?Kak Bina tersenyum ramah pada Kak Raiz dan kak Barak


"Ohhh....."Kak Raiz gelagapan ,aku lihat sepertinya dia terpesona pada kakakku,aku terkekeh geli melihat itu


"Tadi......Nabila...bilang"Kak Raiz masih gelagapan


"He...he...he..."Aku makin terkekeh geli melihat suara kak Raiz yang tiba_tiba gagap,dan aku lihat kak Barak hanya diam menunggu dengan kurang semangat,syukurlah kalau dia tidak tertarik pada kakakku,aku tidak rela jika kakakku berjodoh dengan dia

__ADS_1


  Walaupun baru kenal aku tahu dia seorang pemain perempuan


"Kenalkan saya Raiz Abimana"


"Abimana______"Kakakku tersentak kaget


"Ya....aku kakaknya Bilal,pacar adik kamu ini"Kak Raiz mengacak_ngacak rambutku


"Kak Raiz ihhhhh....aku bukan pacarnya Bilal"Aku kesal dan merapikan rambutku


"Tadi katanya dia nyari cewek yang seperti aku tapi versi dewasanya,lalu ingat kak Bina,aku kan mirip kak Bina"


"Mirip apaan ...."


"Kamu tuh masih ingusan"Kak Raiz malah menghinaku


"Kalau kakakmu ini ,dia sangat cantik"


"Kak Raiz jahat....."


"Ada yang baru yang lama langsung di buang"Aku menghentakkan kakiku kesal


"NABILA manis sama Kak Barak aja ya....."Ada kak Barak dia langsung merangkulku,selama ini aku memang lebih dekat dengan Kak Raiz,aku agak tidak suka sama kak Barak,jadi saat aku lihat Kak Raiz lebih memperhatikan Kak Bina ,aku merasa kesal


"O...iya kenalin Nama saya MUBARAK HADI,Temannya Raiz,dan juga Nabila"Kak Barak menarikku dan merangkulku,sambil berjabat tangan dengan Kakakku,aku lihat Kak Bina melihat kearah kak Barak dengan tatapan aneh


"Kalian ngobrol aja...biar aku yang mengurus Nabila"


"Ngga' mau aku mau sama Kak Raiz"Aku berusaha menepis rangkulan kak Barak


Kak Barak menarik tanganku dan menggenggamnya


  "Mau gendong di punggungku"Kak Barak memberi tawaran yang sangat menggiurkan,karena aku yang masih delapan tahun waktu itu,sangat suka jika di gendong di punggung,dan Abi yang paling sering menggendongku kemudian Bilal juga


  Bilal slalu berusaha menjaga kesehatannya demi untuk slalu menjagaku dan saat ini Bilal sedang bersama teman_temannya ,aku tidak di ajak katanya itu urusan laki_laki,akupun mengalah dan memilih untuk diam di Rumah lalu menghampiri kak Raiz yang saat itu sedang santai dinteras Rumahnya


  Aku diam melihat kak Barak yang sudah berjongkok memamerkan punggungnya,dan menyuruhku untuk menaikinya,semua terdiam menunggu responku,aku melihat Kak Raiz dan kak Bina


"Kalau kamu ngga' mau sama kak Bina a_______"


"Ayo.....biar aku yang menggendongmu"Suara anak kecil sepertiku akhirnya terdengar,dan dia menghentikan ucapan Kak Bina


"BILALLLL......."Aku berteriak dan langsung menghampiri Bilal ,dia tersenyum menyambutku,kemudian tatapan matanya berpindah kearah Kak Barak yang sudah bangun dari jongkoknya,dia membalas tatapan Bilal,aku hanya mengagaruk kepalaku yang tidak gatal tanda ketidak mengertianku


"Aku mau kalau sama Bilal....."Bilal langsung berjongkok dan akupun menaiki punggungnya.


"Kalau sama Bilal ,baru aku tenang"Kak Bina bergumam


"Aku pergi ya....kak da...da...da..."Aku berteriak ceria


"Langsung ceria dia"Aku mendengar ucapan Kak Bina,dia terdengar lega


"Ya.....ya......pergi sana....tapi jangan terlalu genit"Kak Bina berteriak pelan


"Ihhh.......aku ngga' genit"Aku menoleh menatap Kak Bina


"Sudah pergi sana...."


"Ya.....da...da..."Aku melambai dan berlalu pergi dengan di gendong Bilal,aku melihat Kak Barak bicara dengan kak Raiz lalu dia pergi melangkah menuju ke Rumah Bilal


"Tadi aku nyariin"


"Sampe' capek aku berleliling"Bilal mulai bicara


"Biarin.....siapa suruh tadi ninggalin"


"Maaf aku ada urusan"


"Lain kali jangan mau jika ada yang mau menggendong kamu,hanya aku  dan Abi yang boleh menggendong kamu"Bilal begitu kuat menggendongku padahal tinggi dan postur tubuh kami hampir sama .


"Aku......siapa itu aku?


"Ngga' pernah dengar nama seperti itu"


"Aku Muhammad Bilal Abimana"Bilal bicara sambil menjedotkan kepalanya ke kepalaku


"SAKIT....BILAL....."Aku memekik kesakitan sambil mengusap kepalaku,lalu aku memukul bahu Bilal.


"AWWW.....sakit Bila...."Bilal memekik pura_pura sakit sambil menirukan nada perkataanku tadi


"Ihhhhh......Bilal nyebelin"Aku mencubit lengan Bilal


"Tapi ganteng iya.....kan...?


"Iya.......ganteng tapi nyebelin"


"Nyebelin kok masih nempel"


"Ihhh... .enak aja kamu tuhhh ..yang nempel"


"Iya....deh....memang aku yang nempel,aku akan nempelin kamu terus,sepanjang hidup kamu"


"Janji........"


"Janji......."


"Apa perlu memakai huruf sumpah"


"Tidak usah  ...aku yakin kamu pasti menepatinya"


BRUKKKKKK"Tiba_tiba kami terjatuh,kami seperti di terjang sesuatu,Bilal terjatuh dengan aku yang menimpanya,untung tempat kami jatuh itu rumput ,kalau tidak pasti kepala Bilal bakal bocor dan berdarah


"Ohhhh......maaf ...kakak ngga' lihat,kak Barak lagi membalas pesan tadi"Ternyata Kak Barak yang sudah menabrak kami,Bilal menatap kak Barak sengit


"Jangan marah dong   ....tadi kakak udah bilang ngga' sengaja kan  .."


Bilal membantuku bangun dan menggenggam tanganku terus menarikku pergi dari sana tanpa mengucapkan sepatah katapun


"Bocah.....posesif"Aku mendengar gumaman Kak Barak dan aku yakin Bilal juga mendengarnya,tapi dia tidak peduli kami terus melangkah menjauh dari kak Barak


"Kamu ngga' suka kak Barak?


"Iya ....."


"Kenapa....?


"Ngga' tahu ngga' suka aja saat dia menatap kamu"


"Kamu jangan berlebihan Bilal ,kita ini cuma anak kecil,mungkin itu memang sudah ciri khasnya kak Barak"


"Sudah......jangan bahas itu lagi"Akupun diam dan hanya menurut,dan mengikuti krmana Bilal melangkah


  Begitulah aku dan Bilal ,kami yang sudah mengikat tali hubungan kami dengan erat,karena itulah aku kebingungan dalam melangkah saat di tinggal Bilal .


    Ada suara ketukan pintu,itu pasti pengawalku,karena saat ini hanya mereka yang mrnemaniku,semua pelayan sudah pulang setelah menyelesaikan pekerjaan mereka


"Ceklek......"Aku membuka pintu,dan di depanku sudah ada Hamba,menyambutku dengan senyuman penuh penghormatan,yang membuatku agak merasa tidak pantas mendapat itu semua


"Diluar ada Tamu"


"Siapa...?


"Dia bilang namanya Abi"


"Abi.....benarkah"Aku langsung bersemangat mendengar itu,aku yakin itu Abiku,karena Abi tidak pernah mau menyebutkan nama lengkapnya,itu memang ciri khasnya,dan pengawalku ini memang belum mengenal Abiku.


   Aku berlari menuju kearah ruang tamu ,Abi tersenyum saat melihatku dan aku langsung mengampiri dan memeluk


"ABIII......Aku kangen.....😄😄😄"


"Abi kangen juga sama kamu"Abi mencubit hidungku,kamipun duduk di sofa,dan aku masih bergelayut manja padanya


"Pulang yuukkk......Umi ksngen juga katanya"Abi langsung bicara


"Pulang____"


"Tapi_____"


"Kami mesti ijin dulu nihh......"


"Enggga' gitu Abi,ini cuma masalah di kantor,Barak sekarang lagi di luar Negri"Saat Barak di luar Negri ,sepertinya semua orang yang aku sayangi berlomba menemuiku,sepertinya mereka benar_benar tidak ingin menggangguku,tapi ini Abi yang meminta aku sebagai anak harus mematuhinya


     "Abi sebentar lagi________


"Yaa......Abi tahu sebentar lagi kamu menikah,karena itu kami mau menikmati kebersamaan kami dengan anak kami ini sebelum dia terikat dengan pernikahan"Abi menjelaskan panjang lebar


"Lagi pula......kalian pasti sudah menyewa WO...WO....untuk mengurus segalanya kan"


"Abi....ini wo..wo...WO Abi wedding organition"


"Ya.....pokoknya yang itulah ..."Abi mengibaskan tangannya


"Abi .....janji ,lima hari sebelum pernikahan ,Abi, Umi dan kamu akan ada disini"


"Eee.....baiklah saya ngomong sama Barak dulu ya....."


"Ya.......ya....telfon Barakmu itu"Abi terlihat kesal


   Akupun menelfon Barak dan mengatakan semua yang di ucapkan Abi,Barak tidak banyak bicara,dia langsung memberiku ijin,lagi pula aku tidak pernah melanggar janjiku dan menjadi gadis penurut,dan tidak membantah sehingga kurang lebihnya Barak percaya padaku,namun aku masih harus membawa kedua pengawalku,itu sudah merupakan syarat mutlak yang tidak bisa di bantah


"Abi......Barak mau bicara"Barak sepertinya mau mengatakan sesuatu pada Abi


"O....iya...sini"Akupun memberikan ponselku pada Abi


"Waalaikum salam"Sepertinya Barak mengucapkan salam,dan seterusnya Abi hanya menjawab iya........dan mengangguk_ngangguk,aku hanya memperhatikan Abi,setelah itu Abi diam dan dia menjawab salam lagi lalu memberikan ponsel itu padaku,Abi bilang barak sudah mematikan panggilannya.


"Abi masih mau istirahat atau bagaimana"


"Kita langsung berangkat Kina....."


"Tadi Barak udah bilangkan kalau aku harus membawa kedua pengawalku"


"Ya....."Abi menjwab males


"Sudah...ayo cepetan kamu siap_siap dan suruh kedua pengawalmu itu juga siap_siap,jangan hanya berdiri tegak mengawasi Abi dari tadi,bilang Abi bukan maling gitu"Aku tertawa kecil mendengar keluhan Abi,dari tadi memang kedua pengawalku itu berdiri di belakang sofa yang aku duduki sama Abi


"Kalian.....siap_siap sana....kalian ikut ke Rumah Abi"Aku masih terkekeh pelan,aku melihat raut wajah kedua pengawalku yang seperti tersudut oleh perkataan Abi


"Baik.....Nona"Merekapun bergegas begitu juga aku sendiri


 


       Kami semua ada di dalam mobil kali ini Hamba  yang menyetir dan kak Adz duduk di samping Hamba sedang aku duduk di kursi penumpang bersama Abi,karena Abi kesini membawa mobil jadi mau tidak mau kami menggunakan mobil Abi,dan aku bersikeras agar pengawalku saja yang menyetir dan akhirnya Abi mengalah walau harus melalui perdebatan yang begitu panjang.


 


 


  

__ADS_1


__ADS_2