2 BIL

2 BIL
BAGIAN 35


__ADS_3

"Namaku PESONA LAIL ILHAM"


"HHAAAHH"


"Jangan menganga begitu Non...."Semua santri memang memangilku dengan panggilan Non,sedang pada kedua orang tuaku selaku pemilik pesantren mereka memanggil Abi Ustadz  dan Umi Ustadzah.


"Ahh...ngga' kok .."Aku menutup mulutku salah tingkah


"Ibuku Non,dia suka India,namun karena tidak ingin menghilangkan corak indonesianya,jadilah Nama  Pesona yang ibuku gunakan ,bahkan mereka sampai berdebat dan akhirnya mereka sepakat memasukkan nama LAIL DI tengah namaku"


"Letak India nya dimana?Aku terkekeh mendenger alasan itu


"Aku di panggil Sona Non"


"Ohhh..."Mengangguk mengerti


"Kamu orang sini?


"Bukan Non.....aku dari desa sebelah..."


"Kalau Non tahu KPSD...Ya aku dari desa itu"


"Ohh.....kamu satu desa dengan Akhi Ali"


"Belajar silat juga.....?


"Ya....."


"Aku juga tahu Non mantan Ukhti disana"


"Kamu kelas berapa....?


"Kok kita ngga' pernah papasan"


"Aku lebih tingi satu tingkatan dari Non"


"Aku sudah berhenti"Memasang wajah cemberut


"Non disana idola .....banyak yang mengelu_ngelukan tentang Non"


"Ya.....begitulah aku"Sona memutar bola matanya,tidak ada yang bisa menyangkal kenyataan itu


"Kamu....ngga' suka aku ya?Wajah Sona nampak pias,dia kaget,menambah keyakinanku


"Jadi...beneran kamu ngga' suka aku"Sona memberi tatapan rasa bersalah


"Emmmm.. ...aku kecewa ...."Wajahku cemberut,tebakanku memang tidak pernah meleset


"Padahal aku menyukai kamu loh...."Aku berwajah kecewa,Sona menatapku penuh penyesalan


"Ya...sudah ,waktu udah mepet,selesai semua,kita sholat..."Aku udah selesai dan wajahku sudah bersih dari riasan


"Aku akan berusaha untuk membuat kamu ....menyukai aku"Bicara sambil meletakkan kedua tangan dipinggang


   Sona melihatku aneh.....gadis judes itu melongo melihat tingkahku,dia hanya menggeleng tidak percaya,aku pergi menuju ke musolla tanpa menunggu balasan dari Sona


    Sona membereskan barang_barang yang aku tinggalkan"Menyukai dia....."Sona bicara sendiri


"Sekarang aku tahu bagaimana begitu menariknya dia,aku rasa dia tidak perlu berusaha,rasa tidak sukaku sudah berubah,pesonanya sungguh luar biasa,seharusnya dialah yang pantas menyandang namaku PESONA,Wanita yang begitu mempesona,aku ngga'nyangka bakal bersaing dengan wanita semacam itu"Sona bicara sendiri


   Sholat sudah selesai,kami sekeluarga melangkah menuju pintu gerbang keluar pondok,kami semua hendak pulang termasuk ke tiga sahabatku mereka sudah pamit pulang duluan.


    Ada Akhi Ali dan Khalil,mereka menyalami kami sekeluarga dan saat tiba di depanku,aku menatap sinis Khalil.


"Bukannya kamu menyukaiku?Bertanya dengan wajah kesal,tanpa basa_basi langsung keintinya,Khalil menghembuskan nafas sambil memejamkan matanya,dia sudah mengerti arah ucapanku,sementara yang lain berjalan menjauh dan sudah memasuki Mobil,aku lihat Bilal menungguku,dia pasti mengerti ada yang perlu aku dan Khalil selesaikan,sedang Akhi Ali sudah menyingkir dari tadi


"Dan sekarang kamu membantu Bilal,bukanya kalian tidak akur"Aku berteriak pelan berusaha menahan,aku maklumi keterlibatan ketiga sahabatku,tapi  Khalil ,benar_benar tidak menyangka .


"Aku lihat keadaan kamu waktu ditinggal Bilal,kehancuran itu"


"Akupun sadar dalamnya perasaan kamu padanya"Menatap penuh kasih sayang


"Aku kaget waktu mendengar kamu malah bertunangan dengan orang lain"


"Sekarang aku mengerti dengan apa yang di lakukan Ibam"


"Kamu membuat Ibam melakukan itu semua kan...."!


"Kuharap kamu juga membiarkan apa yang aku lakukan,ini demi kamu"


"Tapi....dia_____"


"Ahh......sudahlah aku pulang"Capek yang kurasa sekarang,Bilal sepertinya sudah mendapat banyak dukungan


   Aku melangkah menuju kearah Mobil dengan pintu terbuka di tahan oleh tangan Bilal yang menungu aku dari tadi,aku menatapnya kesal


"Sebenarnya apa yang kamu cekoki pada mereka sehingga,membuat mereka semua tunduk pada kamu Bilal"?


"Kasih sayang dan cinta"Bilal tersenyum menyeringai


"Omong kosong"


"Sebaiknya kita cepat pulang nanti keburu pengawal kamu datang ,mereka kelimpungan nanti nyari kamu"Menatap Bilal sinis dan memasuki mobil


   Aku merenungi ucapan Khalil,perasaan Ibam padaku memang merupakan rahasia umum,bukan hanya Ibam,Roy,Irfan mereka selalu menunjukkan cintanya padaku,namun Ibam memang lebih bucin dari mereka,dia berani menempeliku walau aku sedang bersama Bilal,mereka sering berselisih,namun Bilal yang slalu menang karena dari awal Bilal memang merupakan orang yang sangat penting bagiku,sebelum dia meninggalkan aku waktu itu


  Sekarang sihh....aku enekkk...ngeliat dia,sekarang aja dia cengengesan penuh kemenangan,memutar bola mataku dengan jengah


  Taulah kalau Barak akan tahu ini semua,untungnya kami bersepakat untuk merahasiakannya dulu,Bilal menyuruhku untuk menyelesaikan urusan yang aku rencanakan,namun dia akan mencari tahu sendiri rencana karena dia yakin kalau aku tidak mungkin menceritakannya,dia bilang tidak akan memaksa.


   Keberuntungan Bilal dan kesialanku,rencananya di mudahkan ,urusan di catatan sipil tentang surat Nikah tidak ribet sama sekali ,karena memang aku belum meminta surat pindah,jadi Bilal bisa dengan gampang meresmikan pernikahan kami dalam hukum negara


   Sedang surat pindah yang di minta Barak untuk mengurus rencananya untuk menikahi ku sudah ada padaku ,ngga' tahulah apa itu asli atau palsu,bagiku sekarang yang penting adalah tatap membiarkanku menjalani rencanaku .


  Masalah pesantren sudah selesai tentu saja karena Bilal sudah mendapatkan apa yang di inginkannya.


"Kita bicara dulu"Bilal menghentikan mobilnya,aku mengalihkan tatapanku


Padanya...


"Maaf soal pengawal kamu"


"Ngga' apa_apa ,asal jangan sampai kamu mengikat atau menahan mereka,membuat mereka sibuk,termasuk ide yang bagus"


"Apa kamu yakin pernikahan ini,tidak akan bocor dan di denger Barak"


"Ya ...aku yakin"


"Sebaiknya kamu selesaikan ,rencana kamu sebelum pernikahan yang di rencanakan Barak terlaksana"Sok ngatur dia ......emang dia siapa,o......iya aku lupa dia suamiku


"Kapan pernikahan kamu itu"


"Sepuluh hari lagi"


"Kamu bisa menyelesaikan rencana kamu itu,sampai waktu itu terjadi"


"Memang  apa yang kamu tahu tentang rencanaku"


"Aku belum tahu"!


"Aku tidak peduli,mau selesai atau tidak rencanaku,kalau Barak menikahiku,aku hanya akan diam saja,terserah kamu mau menghalanginya dengan cara apa"


"Kalau kamu berhasil membatalkan pernikahan itu,bagus.....kalau tidak berhasil bagus juga"


"Bila...."Bilal tersingung aku tahu itu


"Bila....Bila...apa?


"Kamu jangan pernah menyalahkanku Bilal,ingat satu hal kamu sudah memutuskan hubungan kita,aku sudah pernah memohon bahkan bersimpuh ,tapi...apa..!


"Kamu hanya bisa berpaling tanpa mau menoleh"


"Tapi apa setelah semua yang kamu lakukan, lihat kamu malah dengan mudah mendapatkan apa yang kamu mau tanpa harus bersusah payah"


"Tapi jangan ingat masalah hati tidak akan semudah ini bisa kamu dapatkan "


"Apa kamu kira...setelah bertahun_tahun ini perasaan ku masih sama,hehhh .....jangan mimpi kamu,tidak ada yang abadi di dunia ini,apalagi sebuah perasaan ,semua bisa di kikis oleh waktu"Tatapanku sinis


"Tapi kita sudah menikah....Bila"


"Ingat....aku melakukan ini demi pesantren,dannn...kamu sudah janji,membiarkanku pergi dan merahasiakan ini"


"Satu hal lagi....."


"Jikalaupun pernikahanku dengan Barak batal ,maka yang berhak atas diriku dannn juga hatiku hanyalah tunanganku yang dulu,yaitu Sajadah Hadi"


"Jika Sajad masih mau menerimaku ,maka aku akan kembali dengan senang hati,namun jika Sajad tidak menerimaku maka aku akan bersamamu dengan sakit hati"Mengoceh panjang lebar di depan Bilal,wajahnya terlihat kecewa dengan semua ucapanku,aku tidak peduli


"Aku jalan kaki.....lagi pula sudah dekat,ini juga untuk meminimalisir kecurigaan pengawalku"Membuka pintu mobil dan melangkah pergi,aku lihat Bilal menunduk kecewa dan dia tidak mengatakan apaun,aku tidak peduli.


   Aku membuka pagar rumahku dan disana aku sudah di sambut oleh para pengawalku,mereka melihatku penuh kehwatiran


"Nona maaf kami lama...."!


"Ngga' usah minta maaf......"Jadi merasa bersalah melihat mereka begitu menghawatirkanku .


"Sudah ayooo....masuk kedalam"


  Aku tidak menunggu lama ,sudah lima hari aku disini,sudah pamit ke Abi besok mau pulang,Abi ngijinin namun dia bilang sekarang bukan Abi yang harus memberi ijin ,kewajibanku ijin pada suamiku Bilal .


    urusan kantor tidak bisa di tinggal lagi ,Barak bilang dua hari lagi dia pulang dari luar negri, aku harus segera berpanitan pada Bilal,ucapan Abi harus slalu dituruti,kalau tidak bisa_bisa dia murka dan ngga' ngijinin aku kembali ke kota.


  Terakhir aku melihat Bilal saat dia mengantarku pulang setelah pernikahan,setelah itu Bilal tidak muncul lagi di hadapanku,entahlah dia marah atau apa dengan perkataanku,dan aku tekankan sekali lagi ,aku tidak peduli

__ADS_1


    Aku perintahkan para pengawalku untuk mengemasi barang_barang mereka,dan aku bilang akan jalan_jalan sebentar ,tanpa mereka,wajah penuh keberatan tapi aku sudah memberi mereka keyakinan dengan berbicara manis ,ingin mengenang masa_masa aku disini,mereka melunak dan membiarkan ku jalan_jalan sendiri


"Ting... ..tong"Suara bunyi bel yang aku tekan,tak lama pintu terbuka menampilkan seorang pelayan ,Bibi ini begitu setia sampai saat ini masih bekerja disini


"Nona Nabila"Dia mengenalku,ya....dia juga melihat saat aku dulu disini di campakkan dan sekarang aku malah........


"Bi...Bilal ada....."Sedikit hawatir takut ada Rista,istri pertama yang kedua harus selalu mengalah,begitu kan....aku benci mengalah


"Masuk saja"Suara familiar itu Bilal ,pria menyebalkan sayangnya itu suamiku


   Aku masuk setelah Bibi mempersilahkanku,Bilal duduk di sofa sambil memainkan ponselnya,aku menghampiri berdiri didepannya, Bibi tadi sudah pergi .


"Emmm....Ap....apa kamu sibuk?Bertanya berusaha tenang,kenapa bisa deg....degan sih....kan cuma minta ijin


   "Tidak sibuk ......."Menjawab datar


"Duduk jangan berdiri"Masih dingin,mungkin masih marah dengan yang kemarin,aku duduk mengikuti perintahnya,tepat didepannya ,selalu ada rasa gugup jika bertemu,dulu tidak pernah begini,hanya rasa nyaman dan damai saat bersama


"Om dan Tante ada....?


"Ayah....sama Mama...."Bilal mengoreksi panggilanku


"Tidak biasa,bisakah tetap seperti itu ,bibir terasa kelu jika merubah panggilan "Memberi penawaran


"Tidak biasa patuh juga ,slalu membantah"Menatapnya kesal,tidak ingin berdebat jadi mengalah saja


"Ayah sama Mama ada"?


"Mereka keluar"Berdiri mendekati lalu duduk merapat disampingku,membuat bagian samping kami begitu dekat,wajahku memerah degup jantung sudah bertalu_talu,untuk menyembunyikan menggeser sedikit sehingga agak jauh,Bilal malah ikut bergeser


  "Tidak nyaman...ada Bibi,jangan terlalu dekat"Gugup berusaha santai


"Dulu kita sering begini"Bilal menarikku kedalam dekapannya


"Dengar kan itu"Suara detak jantung yang sama yang dulu sering aku dengar di saat Bilal mendekapku untuk memberiku ketenangan,aku diam menikmati


  "Apakah benar masih sama,lalu kenapa pergi meninggalkanku,dia tahu keadaanku jika tanpanya,namun tetap tega menutup mata lalu pergi tanpa sebuah penjelasan"Hanya bisa bicara di hati tidak mampu berucap


   Aku berontak berusaha untuk lepas namun sia_sia...tenaganya lebih besar


"Jangan lupa aku suamimu"Suara penuh penekanan,Bilal marah,akupun diam saja dari pada berdebat panjang lagi malas


  "Mau kembali kekota"Tetap dalam posisi sambil bicara ,suara agak bergetar,Bilal menegang aku merasakan itu,dia marah terserah,tapi ini semua demi Abi.


   "Tidak usah kembali bisakah?Mencium puncak kepalaku yang masih betbalut hijab.


  "Sudah janji....harus di tepati"


"Tidak mau ke kamar"Perkataan apa itu,bikin malu ,tapi dia sudah janji tidak mau menuntut,pernikahan ini untuk melindungiku,menurut Bilal Barak sangat berbahaya,entah dia menilai dari mana ,bahkan dia sampai menggunakan cara licik dengan menjadikan pesantren sebagai ancaman


"Tidak ingat janji itu?


"Janji ...."


"Janji yang mana?


"Ishhh....terlalu banyak janji makanya lupa pada janji"


"Beneran lupa...!


"Janji untuk tidak menuntut"


"Menuntut apa........?


"Menuntut untuk berbuat lebih"


"Tapi itu hakku"Bilal ngotot


"Tapi sudah janji Bilal"


"Tidak mau aku akan melakukan"


"Dasar memang .....penghianat brengsek tetap saja tidak berubah"Memberontak kali ini berhasil


"Pria dimana saja sama slalu melakukan yang di inginkan"Menggerutu


"Pokok nya tidak ada hak hubungan suami istri sudah janji"Ini dosa melawan perintah suami ,aku sungguh belum siap


"Hubungan suami istri...."Bilal mengernyit


"Coba lihat kesini"Memerintah dengan seenaknya ,tapi tetap saja aku patuh


"Apa...."?Mataku menajam ,tangan berada di dua pinggangku


"Pletakk...."Bilal menyentil dahiku


"Awww....hesssshhh sakit Bilal"Meringis ini sakit banget,aku memukul bahunya


"Buang pikiran kotormu itu"


"Benarkah....."Aku terperangah kaget benarkah tidak berfikir kerarah itu,apa karena udah ada Rista sehingga dia tidak menuntutku"Hanya dari hati tidak mampu mengungkapkan ,terdiam apa kecewa ,ooohhh..Nabila buang pikiran itu


"Ayo....."Bilal menarik tanganku ,membawaku menuju ke kamar Bilal,udah hafal dengan benar ,karena sering kesini dari kecil,namun sejak kejadian tentang kakak ku Tante Raisya berubah dan melarangku kesini.


   Karena itu Bilal memutuskan pindah kamar dan memilih kamar yang di bawah,membuat dia mudah membawaku,memasukkan ku lewat jendela kamarnya,dia masuk dari pintu depan


  Bilal menuntun kekamar yang sama ,dia tidak pindah lagi tetap di kamar ini,penuh dengan kenangan.


   Kamar terbuka ,pemandangan tetap sama tidak berubah,hanya mungkin di cat baru karena terlihat lebih cerah,didinding itu ada foto yang sangat besar dan itu fotoku dan Bilal waktu lulus SD.


  "Coba ganti dengan foto waktu kita lulus SMA ,disana kan aku lebih cantik"Aku menggerutu sendiri,di foto SD aku agak cabi....dengan rambut sebahu di ikat ekor kuda ,senyum manis menghiasi foto itu dengan poni di dahiku Bilal merangkulku dan bukannya melihat kearah kamera dia malah melihat kearahku.


    Kami sudah ada di kamar ,Bilal mengunci pintu kamar.


"Kenapa di kunci"Aku bersedekap mempertanyakan


"Biar lebih leluasa"Tidak peduli dengan jawaban yang seperti menggodaku ,aku melihat sekeliling lagi,mendekati kaca rias,aku menyunggingkan senyumku


  Lemari kaca rias itu ,di beli oleh Bilal untukku,betapa Mamanya Bilal mengoceh seharian karena itu merupakan lemari cewek,tidak ada yang tahu maksud Bilal


  Saat itu Bilal mengajakku ke kamarnya masih dengan seragam sekolah SMP kelas dua,aku bukannya pulang ke rumah malah ngacir ke rumah Bilal


   Di sana aku numpang mandi ,karena gerah dan tidak mungkin memakai seragam lagi,aku meminjam baju Bilal,ingin menyisir rambut,aku menggerutu


  "Kenapa sih...kalau kaca rias cowok tidak ada meja dan tempat duduknya dua hal itu kan sangat berguna"Bilal sedang duduk di tempat tidurnya memainkan ponselnya


"Besok aku beli dan di letakkan di kamar ini"


"Ya....ya...Bos besar"Aku mengejek Bilal


"Memang Bos besar kan?Memutar bola mata malas


  Keesokan harinya lemari kaca hias itu udah nangkring di kamar Bilal,hanya bisa menganga tidak percaya ,dari mulai beli sampai besoknya lagi mamanya Bilal ngomel ngga' selesai_selesai,Bilal hanya diam memaklumi.


    "Memikirkan sesuatu"Suara Bilal membuyarkan lamunanku,hanya menggeleng tanda mengelak,aku menduduki kaca rias itu dan menatap wajah ku sendiri


  Banyak yang berubah,wajahku dan wajah Bilal lebih terlihat dewasa sekarang,dan fikiran main_main saja dalam hidup menghilang dengan sendirinya,diri yang polos berubah di penuhi dengan kemarukan dan keegoisan di rasuki kebiasaan di kota


  Kalau boleh aku mempunyai sifat maruk dan egois aku ingin memiliki Bilal seutuhnya ,lalu bagaimana dengan istrinya,perempuan pertama yang Bilal nikahi


   Sentuhan di pundakku membuyarkan lamunan sekali lagi ,aku menatap mata Bilal lewat kaca,dia menekan_nekan bahuku,menjalar ke leher ,masih terhalang dengan hijabku,aku diam karena percaya Bilal akan menepati janjinya,tidak akan berbuat lebih


  Bilal mengangkat kepalaku dan menghadapkan wajahku keatas ,


"Kenapa dengan kening dan alis ini?Bilal memijat keningku tepat di atas alisku


    Aku menengadah mata kami saling menatap ,lalu Bilal menunduk dan meletakkan bibirnya di dahi ku,badanku langsung gemetar dan degup jantungku bertalu, bibirnya beralih berlabuh di pipiku yang kiri bergerak pelan pipi kanan,masih diam memejamkan mata seakan menikmati dan menunggu kelanjutannya.


   Sekian lama tidak ada yang terjadi ,terpaksa membuka mata dan langsung terlihat tatapan mata menyeringai dengan sunggingan senyum mengerikan ,menggodaku ,sungguh menyebalkan kenapa aku terlena


  Aku melengos membenarkan letak kepalaku menghadap kearah cermin,wajah sudah berwarna merah karena malu,dia menertawakanku ,bagaimana aku begitu mudah saat di depannya,pada yang lain aku mampu membangun tembok dinding yang kokoh sehingga membuat mereka yang tertarik tidak berani mendekat.


    Tidak di sangka Bilal meluruhkan  badannya dia duduk bersila di lantai dekat kursi ,merubah arah kursi menghadapnya,hingga kakiku tepat lurus dengan dadanya,Bilal mengambil tanganku mengenggam dengan erat


   "Bisakah melupakan sejenak tentang yang lain,aku ingin bersama seperti dulu"Meminta penuh harap,bukannya dia sendiri yang membuat hubungan ini rumit,mana mungkin melupakan yang lain ,menyakiti benar_benar tidak aku suka.


"Baiklah....."Tidak apa kali ini agak egois,Bilal mencium kedua tanganku dia merebahkan kepalanya di pangkuanku


"Rindu aku sangat rindu"Bilal mulai mengoceh,mendengarkan belum mengerti rindu yang di bicarakan


"Sakit sekali ,bertahan demi tujuan ini,aku benar_benar sangat merindukanmu Bila"Terasa basah,apakah dia menangis,tanpa di perintah tanganku bergerak ingin menyentuh


"Cinta apa ini Bila "Tanganku mengambang diatas kepala Bilal,terkejut"Apakah.....?Bertanya di hati"Aku sangat mencintaimu,di hatiku ,otakku, jiwa, raga,bahkan saat menyebut namamu membuat ku tenang


   "Apakah.....masih sama"?Mengangkat kepala ,segera menyingkirkan tangan yang tadi ingin menyentuh,aku menampakkan wajah tidak mengerti


"Apakah nama Bilal masih menjadi yang spesial di hati ini"Bilal menyentuh dadaku tepat di detakan jantungku,yakin dia merasakan jantungku yang berdegup kencang,dia menyadari itu sejenak kami terdiam sama_sama salah tingkah


    Aku langsung berdiri berusaha menghindari,Bilal menyeringai tersenyum"Aku senang jantungmu berdetak seperti itu saat bersamaku,tinggal mencari tahu detakan itu karena marah atau karena gugup dan salah tingkah karena aku"


  "Diammm.....Bilal,kamu tidak berhak atas detakan ini saat begitu tega meninggalkanku"Marah


"Itu....cuma karena ,aku lapar saja"Alasan tidak masuk akal apa ini ya...gugup


"Baru kali ini,ada orang lapar sampai deg_deg kan,bukannya perutnya berbunyi"


"Kalau di terusin aku pergi"Jurus andalah ,karena tahu Bilal masih ingin bersamaku,tidak berani ke rumah karena takut bertemu pengawalku,nanti curiga ,mereka kenal Bilal,karena Barak menekankan bahwa tidak boleh deket_deket Bilal,dan sudah memperlihatkan foto Bilal pada mereka


    "Baiklah..nikmati selagi bersama"Bilal mendekat ,membelai pipiku dengan lima jarinya,terus menyusuri menuju dagu menjalar terus  menyusuri seluruh wajahku,hingga  membelai bibirku berkali_kali menyusuri seakan menggoda.


   Mendekatkan wajahnya ,mengikis jarak kian dekat ,degup sudah berirama tidak karuan ,hidung sudah bersentuhan ,entah kenapa bibirku malah terbuka merekah lalu mata terpejam,deru nafas hangat menerpa wajahku,aroma sejuk tercium aroma mulut Bilal selalu aku suka,makin dekat tinggal satu senti lagi kedua bibir itu akan menempel


"Drrtttttt.....drrttt...."Ada yang bergetar di saku ku ,tidak beranjak berusaha mengabaikan,namun suara ponsel itu tidak berhenti

__ADS_1


    Para bibir menjauh tangan merogoh saku di bajuku mengambil ponsel itu.


"Ponsel....brengsek" Bersedia untuk melemparnya,namun tanganku menengadah menatap tajam membatalkan niat untuk melempar


    "Berikan....."Terpaksa menyerahkan,mengangkat ponsel sambil saling tatap


"Ya...Hamba..."Itu No pengawalku Hamba.


"Kami jemput Nona dimana"Suara Hamba


"Tidak usah...."


"Hahhh...."Menghembuskan nafas


"Apa tadi penjelasannya kurang jelas"


"Ia....Nona maaf kami hawatir"


"Besok kita kembali ke kota ,kali ini saja ,mohon biarkan aku bebas ,setelah ini aku pasti sibuk"


"Bisa kalian tunggu aku mengubungi kalian"Bernada kesal biar mereka mengerti


"Iya...Nona"Langsung mematikan ponsel tanpa salam perpisahan,marah kesal ,bikin emosi .


"He..he....he..."Kami nyengir bersamaan


"HAA...HA.....HA.."Tumpahlah tawa kami ,mengingat tingkah kami yang seakan berselingkuh,tawa berhenti saling menatap lagi


"Kamu melempar ponsel ini"Ponsel di goyang_goyangkan di depan wajah Bilal


"Tahu ngga' ini ponsel siapa"


"Ngga' peduli ponsel siapa ,nanti tinggal aku ganti"


"Ini ponsel Abi tahu ......ahhh...nyebelin kamu"


"O ....ya ..waahhh slamet___slamet ,untung nga' jadi,"


"Kenapa takut?Mengejek


"Ia....takut di pecat"


"Di pecat???????


"Di pecat jadi menantu"Memutar bola mata malas


"Jam nerapa besok berangkat?Bertanya sambil mendudukkan diri di tempat tidur, mencair tidak kikuk lagi


"Besok aku juga kekota"Menjelaskan,ikut duduk naik keatas  saling menghadap mengambil bantal meletakkan diatas paha yang duduk bersila


"Besok pagi jam tujuh aku berangkat"Menjawab tidak judes lagi


"Kamu berangkatnya kapan"?


"Sore aku berangkat ,masih ada urusan"Hanya mengangguk mengerti


  "Menginap ...ya.....masih sangat rindu"wajah penuh harap


"Gimana aku nyingkirin pikiran mesum,kalau dari tadi ajakan nya menjurus kesana"Menggerutu kesal


"Heeee....sengaja sih ....menggoda"


"Siapa tahu kamu khilaf ,dan mau ,lumayan rejeki nomplok"


"Brakkk"Memukulkan bantal ke bahunya


"Ngga' berubah tetap nyebelin"


"Tapi......ngangenin..kan?


"Ya....kangen pingin jambak"Meraih rambut Bilal dan menjambak


"Awww....sakit Bila"


"Biar....biar tahu rasa "


"Beneran ya.....nginap disini"


"Di kota pasti sulit bertemu,aku tahu kamu lagi sibuk dengan semua proyek di kantor mu"


"Apa lagi tentang rencana kamu,yang tidak butuh bantuan itu"Slalu berkata tidak butuh bantuan,bisa mengurus sendiri,itu kata_kata yang slalu kukatakan jika ada yang menawarkan bantuannya .


  Kami melanjutkan membicarakan hal tidak penting,Bilal terlihat tulus,lalu kenapa dia tega meninggalkanku,alasannya belum jelas karena tidak ada yang menjelaskan.


    Mama Bilal Tanye Raisya,yang sekarang aku usahain untuk memanggilnya Mama ,masih sulit karena tidak biasa,dia menawarkanku untuk makan bersama,dan sekarang kami saling berhadapan ayah menghadap Bilal sedang aku berhadapan dengan Mama Raisya.


  Tak banyak yang bisa kami bicarakan ,hanya menanyakan kabar dan keadaan,hubungan kami belum mencair masih kikuk dan asing tidak biasa di perhatikan oleh ,sudah lama itu terjadi,mereka bersikap dingin seakan terbiasa dengan itu .


  Yang memintakan ijin pada Abi Bilal ,sekarang bagaimana caranya mengatakan pada para pengawalku,mereka terlalu rewel kalau menyangkut tentang keselamatanku,bisa berbuat sesuatu yang nekat,Barak memang pintar memilih orang,begitu patuh tidak ada kalimat membantah.


  "Kuncinya jangan gugup rileks santai oke ...."Bilal menyarankan


"Dulu repot minta ijin sama Abi,kini setelah ada ijin Abi,repot lagi minta ijin pengawal,dua lagi pengawalnya"Menggerutu


"Ssssttttt diam ini dia"Menutup bibir jari dengan satu telunjuk


"Hamba....."Langsung di jawab


"Dengar.....tidak perlu banyak bertanya,aku akan menginap di rumah temanku,"


"Tapi Nona sebaiknya_______"


"Oke.....akan kuhubungi Barak"Memotong ucapan karena sudah tahu maksudnya


"Tiiiittttt"Menekan dengan keras,kesal


"Gimana......"?Bertanya penasaran


"Aku akan menelfon Barak"


"Kita....ke kamar"Menghalau tangan mengajak kekamar


"Hahhhh......ngapain kesana ,cuma telfon ini"


"Ngga' enak di dengar mama"Aku langsung mengerti dan melangkah cepat kekamar


   Duduk ditepi tempat tidur sambil mengutak_atik ponsel menghubungi Barak"Tut.....tut....."Tersambung


"Nabila....."Barak langsung menyebut namaku


"Ya.....aku_____"Kaget tiba_tiba ,pangkuan terasa berat ,ternyata Bilal merebahkan kepalanya di pangkuan ku,diam tidak bisa menegur,karena sedang tersambung dengan Barak


"Awww......"Reflek mencubit lengan Bilal namun tidak mampu menyingkirkannya,suara ringisan Bilal membuat pertanyaan terdengar dari Barak


"Suara siapa itu,?


"Suara......suara apa"Pura_pura tidak memdengar"


"Barak.....halo....halo...."berteriak kecil melanjut kan sandiwara


"Halo....tidak dengar suaraku halo ...halo...."


"Halo..,aahhh....iya sudah terdengar Barak"


"Ada dimana" Bertanya masih curiga


"Emmm.....sebenarnya ,aku di rumah temen"Berusaha tenang


"Sudah tahu Adz sudah lapor"Cepat sekali mereka ,menyebalkan,sulit di tipu


"Dengar......aku tahu ini mencurigakan,tidak bisakah kali ini percaya,kalau aku tidak akan macem_macem"


"Tidak akan curiga kalau kamu nurut Nabila ,bahkan kamu tidak membawa ponsel yang aku berikan "Aku lupa ,ponsel yang slalu bisa mendeteksi keberadaanku,ini sebuah keberuntungan yang tidak di sengaja,yang aku bawa ponsek Abi yang aku pinjan tadi ,ponselku sedang low bat


"Poselnya low bat jadi sekarang sedang diisi daya"Menjelaskan ,itu jujur tidak mengarang,aku meminjam posel Abi karena memang untuk mengubungi kedua pengawalku itu,Barak tidak bertanya lagi karena Kak Adz pasti sudah melapor


"Lalu sekarang ingin apa?Suara agak tenang terdengar menghalus


"Sudah lama kami tidak bertemu,rindu ,ingin menginap di rumahnya,teman lama,hanya punya kesempatan hari ini ,besok kembali kekota"


"Laki_laki atau____"


"Perempuan "Menyela ucapan,dari tadi Bilal masih di pangkuanku,menahan tawa ,melihat wajahku ,menahan suara supaya tidak bergetar ,takut curiga,mencebikkan bibir melotot .


"Baiklah.....kamu boleh menginap tapi,kamu bawa temanmu menghadap ke Adz dan Hamba agar aku lebih yakin"Barak sungguh menyebalkan,dan pria yang di pangkuanku ini lebih menyebalkan ,dari tadi aku bicara dengan Barak,dia sibuk sendiri,menarik_narik bajuku,mengusap_ngusap perutku,menyebalkan"Hahhhh....aku ada ide"Niat buruk muncul


"BRAAAAKKKK........"Suara barang jatuh,eeehh....salah manusia jatuh,tanpa bicara aku berdiri ,tanpa bisa menahan Bilal jatuh.


"Awwww .....ssshhhh"Bilal meringis kesakitan


"Hii.....hii...hiii.."Menahan kekehan takut terdengar


"Suara apa itu Nabila?Bertanya tegas,tapi aku sudah ada jawaban tidak perlu mengarang lagi


"Aku lagi di belakang rumah temanku,disini banyak pohon pisang,Bapak  temanku memotong pohon pisang dan merobohkan pohonnya hingga berbunyi begitu"


"Ohhhh.....begitu,pasti pohon pisangnya sangat besar ya.....hingga bunyi seperti jembatan yang roboh"Menahan tawa mendengar ucapan Barak,andai dia tahu yang roboh bukan pohon tapi manusia yang sangat ia antisipasi agar menjauh dariku ,aku melihat kearah Bilal yang mengusap_ngusap pantatnya


   Meleletkan lidah mengejek,Bilal menatap sinis,bangun lalu duduk lagi di tepi tempat tidur


"Ya....sudah Barak,aku segera pulang bersama teman perempuanku"Mengakhiri telfon ,menatap Bilal,masih ada sisa tawa,tapi masih di tahan


"Sekarang bagaimana ,mau cari dimana teman perempuan,kamu kan tahu  ,temanku hanya kalian"!

__ADS_1


"???????????????????"Sama_sama berfikir


    


__ADS_2