2 BIL

2 BIL
BAGIAN 30


__ADS_3

  Tubuhku bergetar


Padahal jiwaku nyaman


Enggan menatap


Padahal merindu


        Menggapaimu adalah mimpiku


        Menggenggammu adalah inginku


        Meraihmu adalah harapku


        Merangkulmu adalah asaku


Aku terjebak disini


Di perasaan yang mustahil untuk di hilangkan


    Aku memaki


   Aku mengejek


   Namun di hati aku slalu terpana


  Di hati aku slalu memuji


Aku disini


Masih setia


Seperti semula


Persis sama


Tidak berubah.


     Seakan menunggu


     Seakan menanti


Kedatanganmu


Kehadiranmu


Untuk kembali lagi padaku


"APAA...?Aku menatap Bilal tajam.,dan membentaknya


"Ngga' apa_apa"Bilal menjawabku cuek


"Ngapain sih  ...kamu kembali,bukannya kamu sudah menikah....kenapa tidak pulang saja,dan bertemu istrimu "


"Nanti istri kamu cemburu lagi ,melihat kamu yang berdekatan dan menggoda perempuan lain


tidakkah kamu hawatir sekarang istrimu itu menunggu dirimu dengan perasaan cemas"Aku bicara tanpa melihat Bilal ,aku sunguh merasa salah tingkah kalau didekat Bilal,aku kikuk ,padahal dulu aku terbiasa di samping Bilal tidak terpengaruh dengan apapun tindakannya,namun sekarang ,Bilal bicara sedikit saja itu sudah membuatku merinding tidak karuan


"Yang bilang saya mau menggoda kamu siapa?Bilal bicara mengejekku


"Siapa yang bilang kamu mau menggodaku"?Aku sampai tidak tahu sebenarnya tadi aku bicara apa padanya,aku tidak mengingatnya sehingga aku tidak bisa menyangkal dengan tegas


"Itu tadi kamu yang bilang"


"Kapan...ih...engga' ya..."Aku berusaha mengelak lagi namun tetap dengan perasaan kikuk dan salah tingkah


"Sial....Ibam benar dia masih bisa mempengaruhiku,bahkan tubuhkupun tidak bisa di ajak kompromi"


"Itu tadi aku denger dengan jelas"


"Lagi pula....asal kamu tahu ya....!


"Aku tidak pernah menggoda ataupun merayu perempuan ,yang ada malah perempuan yang ngepet_ngepet mau deketan sama aku"Bilal malah memuji dirinya sendiri


"SOK......kegantengan kamu"Aku bicara sambil mencebik mengejeknya"Dia ganteng beneran lagi...ihhh...nyebelin"Aku menggerutu dalam hati


"Lalu kenapa kamu kembali"Dan kamu kembali begitu terlambat sangat terlambat,karena sekarang aku sudah merubah haluan dari tujuan hidupku"Aku bergumam sendiri dalam hati


"Aku kan hanya rindu sama Ibam"!Alasan Bilal sungguh tidak masuk akal


"Benarkah?Aku berusaha menggertak Bilal


"Iyalahh......kami kan sahabat"Bilal terlihat salah tingkah juga ,aku melihat wajah merah merona yang slalu Bilal perlihatkan saat dia sedang berbohong


"Sahabat pala lho peyang"


"Ngga' ada tuh sahabat pergi menjauh tanpa pamitan"Aduhh.....bicaraku kasar amat,tapi biarin ,biar dia jera dan segera menjauh


"Kamu kayak jailangkung aja ,pergi ngga' pamit datang ngga' ngomong_ngomong"Aku malah ngelantur,nggak jelas dan ngga' nyambung sama sekali


"Bukannya kalau jailangkung itu datang tak di antar pulang ngga' di jemput ya..."Bilal bicara sambil berpikir


"Ahh...ngga' usah kemana_kemana"Aku mengibaskan tanganku


"Sekarang kita bicarain tentang hubungan kita aja "Aku berusaha menghentikan pembicaraan kami yang agak ngelantur.


"Yang ngelantur siapa ...yang marahin siapa?Tapi Bilal malah ngomel sendiri dan aku mendengar itu dengan jelas


"Pendengaran ku masih jelas ya...!


"Yaa....ya...."


"Tapi tunggu dulu hubungan Memang kita punya hubungan apa?


"Ya.....hubungan sahabat lah,kamu kira hubungan apa?"Wajahku agak pias melihat Bilal yang begitu cuek mendengar jawabanku,dulu kami tidak pernah berdebat Bilal slalu mengalah dan membenarkan apapun yang aku lakukan dan yang aku ucapkan.


   Sekarang kami bak dua orang asing yang baru bertemu dan selalu berseteru saat bersama


   Aku berbalik menghadap Bilal


"Kamu merasa bersalah ngga' sih.....saat meninggalkan kami?


"Tidakkah kamu merasa dirimu itu sangat jahat ketika mencampakkan kami sahabatmu yang slalu berada di sisi kamu dari kecil"Aku memberanikan diri bicara sambil menatap mata Bilal,berusaha mencari kebenaran.

__ADS_1


"Tidakkah kamu sadar sebenarnya yang merasa di tinggalkan disini hanya kamu"Bilal bicara sambil menyeringai dia bermaksud mengejekku dan menggodaku,Bilal belum sadar keadaanku yang menahan amarah, dan aku rasa Bilal sudah salah dalam memilih kalimat ,dia sangat menyinggungku begitu dalam sehingga rasa marah dulu saat aku di tinggal sendirian bangkit


    Mataku memerah dadaku sudah terasa sesak ,aku makin menatap Bilal dengan sorotan mata tajam


"YA.....YAA....,memang hanya aku yang merasa ditinggalkan disini"Aku berbicara


"Dulu saat kamu meninggalkanku ,aku HANCUR"Aku berteriak,Bilal langsung sadar kalau aku sedang marah


" Aku di kelilingi oleh orang_orang yang sangat menyayangiku,tapi semua itu aku abaikan,aku hanya butuh kamu waktu itu,keberadaanmu.....adanya DIRIMU walau sudah tidak ada rasa sayang dalam hatimu,tapi hadirmu sudah CUKUP untukku,tapi APA...kamu pergi,tanpa alasan tanpa penjelasan,kamu sudah tidak peduli dengan keadaan diriku bagaimana aku jika hidup tanpa adanya DIRIMU"Nafasku naik turun menahan amarah


"Tapi jangan hawatir ....itu dulu"Aku menarik nafas berusaha menenangkan sesak yang kurasa


"Sekarang semua sudah berubah,bagiku hadirmu sudah tidak berarti lagi,aku sudah terbiasa tersenyum tanpa adanya dirimu,SEKARANG AKU BAHAGIA"Setelah mengatakan itu semua aku melangkah pergi dan membuka pintu,ternyata Kak Hima tidak mengunci pintunya,aku langsung masuk kedalam tanpa melihat keadaan Bilal


   Aku melangkah makin dekat dengan ruang tamu ,di sana terlihat Ibam bicara akrab dengan paman,tadi Kak Hima sudah cerita kalau Ibam sudah minta ijin pada paman ayahnya Kak Hima untuk melakukan Taaruf dengan Kak Hima dan paman memberinya ijin,aku turut bahagia mendengar hal itu,Ibam pria yang baik Kak Hima pantas mendapatkan Ibam


      Barak tersenyum ketika melihatku,tadi aku melirik sebentar saat berjalan melewati Bilal,terlihat Bilal mengepalkan tangannya seakan menahan sesuatu,apa aku masih berpengaruh buat Bilal,apa Bilal masih mempunyai hati padaku atau apakah itu hanya karena dia memang tersinggung dengan ucapanku?


"AHHHHH.....Aku berteriak histeris tapi hanya di hati"Sudahlah aku tidak peduli_AKU TIDAK PEDULI,"Dan hati awas kamu ,jangan menoleh kebelakang,biarlah semua itu menjadi masa lalu suram yang harus aku lewati dalam hidupku"Aku memperingati hatiku sendiri supaya tidak tergugah dan kembali pada hati yang dulu,yang sampai sekarang masih berusaha aku buang.


"Aku harus melihat kedepan"Aku berusaha tersenyum pada Barak yang melihatku dari tadi dari awal aku terlihat dari ruang tamu,Barak tersenyum juga padaku.


  Tapi____tiba_tiba wajah Barak berubah,dia berdiri dari tempat duduknya seakan tersentak kaget karena melihat sesuatu,melihat hal itu,semua orang pun melihat kearah Barak"Ada apa ya?Aku mengernyit heran,namun aku mendengar suara langkah kaki tepat di belakangku,aku hendak menoleh


"Hehh....kendalikan juga kepala dan matamu,di belakang itu pasti Bilal,hanya dia yang ada di belakang mu tadi,jadi diam dan tetaplah tersenyum pada tunanganmu yang ada di depan itu"Sekali lagi aku menasihati diriku sendiri,aku langsung merubah bahasa badanku tersenyum pada Barak yang ada di depanku,dan melangkah dengan yakin,karena aku terlihat santai saat berjalan dan begitu lama untuk sampai di depan Barak sepertinya Barak tidak kuasa menahan kegeregetannya,sehingga dia melangkah dan berlari menuju kearahku,setelah sampai dia langsung merangkul bahuku"Kita pulang dan jelaskan apa yang kamu bicarakan dengan dia "Barak membisikiku


"Paman kami pamit dulu....sepertinya paman punya tamu penting...permisi paman"Tidak aku sangka sama sekali Barak sampai segitunya,aku sampai merasa ngga' enak sama paman.


"Tapi Barak aku mau kesana dulu ...pamit sama Bibi dan paman"Aku berusaha mencegah Barak


"Tidak usah ,kalau aku bilang pulang ,ya...pulang.."Barak menahan gertakannya suara nya bergetar menahan amarah


"Aku pulang dulu Bibi ...paman"Akupun setengah berteriak pada Paman dan Bibi karena jarak yang agak jauh


"Setidaknya aku kesana dulu untuk____"


"Tidak usah....ayo cepet"Barak menghentikan perkataanku ,padahal biasanya kalau aku pamit keluar aku slalu bersalaman pada mereka ,tapi kali ini aku bersikap benar_benar tidak sopan ,ini semua karena Barak,Barak memang tidak tahu aturan suka semaunya sendiri,orang yang paling menyebalkan di dunia


"Oke....oke...."Akupun hanya bisa menyerah dan pasrah ,tidak lucu juga nanti kalau Barak mengamuk di rumah Pamanku


"Tapi nak setidaknya_____"


"Assalamu alaikum Bibi.... paman"Aku bahkan memotong ucapan Bibi dengan tidak sopan,aku marah merasakan ini,aku ingin melangkah duluan ,namun Barak menahan tubuhku


"KITA..jalan bersama"Akupun langsung diam melihat Barak yang menahan gertakannya


   Kami berbalik dan terlihat Bilal berdiri melihat kami dia seakan terpaku melihatku yang di rangkul oleh Barak dan  terlihat mesra


    Kami melangkah makin dekat dengan Bilal,lalu Bilal menjulurkan tangannya berusaha bersikap sopan


"Kami buru_buru Tuan Abimana,lain kali saja"Barak menghapus senyum ramah Bilal dengan perkataannya ,aku melijat sekilas tatapan mata Bilal namun segera memutus tatapan itu,aku sadar akan diri Bilal yang masih mampu mempengaruhiku dengan baik,bahkan tubuhku tidak mampu untuk berbohong


    Kamipun terus mekangkah keluar dari Rumah Bibi dan pamanku,tanpa memperdulikan Bilal.


   "Aku harus menahan ini,aku tidak boleh menoleh"Aku berperang dengan diriku sendiri


"Jangan menoleh,dia melihat kearah kita"Barak menghentikan perang yang terjadi dalam diriku,aku hanya bisa menunduk pasrah


"Prankkkkkk......"Aku tersentak mendengar suara vas Bunga terlempar dari tempatnya


Brakkkk"Suara kursi yang sengaja Barak angkat dan dia lempar kesembarang arah,aku hanya bisa tersentak dengan tubuh bergetar,menutup telinga dengan kedua tangan tidak mampu meredam kegaduhan yang di buat oleh Barak.


"Dia....Abimana...."


"Adik dari Kakak iparmu itu...?


"Adik ipar kakakmu....YA...HEHHH"


Barak menatapku dengan kilatan amarahnya


"Aku mengangguk pasrah"Aku dari tadi sudah ketar_ ketir,dari tadi Barak sudah menahan amarahnya,dia orang yang sangat cerdik,dia langsung mengerti dan faham,kalau aku dan Bilal punya hubungan saat pertama kali dia melihat interaksi kami berdua,dan dia langsung tahu bahwa kami bertemu tadi saat melihatku dan Bilal berjalan ,walau kami tidak bergandengan tangan.


"DIA ADIK DARI TEMANKU....RAIZ ABIMANA"


"Apa semua tujuanmu ada hubungannya dengan dia .....?


"TIDAK....Tidak sama sekali dia tidak ada hubungannya dengan ini,aku melakukan ini semua untuk menebus rasa bersalahku,semua yang terjadi pada kak Raiz di sebabkan olehku.


Barak menelan ludahnya kasar dia memandang kearahku dan melangkah mendekatiku,aku masih setia menunduk dan menangis dengan seluruh badan yang bergetar,dan tanpa aku duga sama sekali Barak meluruhkan badan nya kebawah dia berlutut aku terperangah menatapnya,dia mengambil kedua tanganku dan menggenggamnya erat ,aku ingin menepisnya tapi Barak makin mengeratkan genggamannya,membuatku agak risih karena inilah pertama kalinya Barak menggenggam tanganku dengan erat


"Tidak bisakah hatimu menerimaku?Sekali lagi aku terperangah dengan ucapan Barak,aku diam tidak menjawabnya,air mataku sudah berhenti kini berganti dengan tatapan tajam yang aku persembahkan pada Barak


"Tidak bisakah kamu melupakan luka masa lalu itu?Aku tidak menjawabnya ,Barak sudah keterlaluan ,bahkan maaf saja belum tentu aku berikan dan sekarang dia malah meminta hatiku.


   Aku menepis tangan Barak berdiri dan melangkah pergi meninggalkannya tanpa mengucapkan atau menjawab pertanyaannya,saat jarakku agak jauh dari Barak aku menoleh melihatnya,dia masih bersimpuh disana terlihat sangat menyedihkan,siapa yang menyangka orang itu adalah Mubarak Hadi seorang pengusaha yang terkenal dengan kegigihannya dan sikap arogan nya serta sikap dingin yang slalu dia perlihatkan pada orang lain,dia bersimpuh meminta hatiku yang dia tahu sudah menjadi milik orang lain,aku yakin dia marah karena mengetahui fakta tentang itu,bukan karena dia tahu fakta tentang Bilal yang merupakan adik dari temannya MUHAMMAD RAIZ ABIMANA.


   Aku melangkah memasuki kamarku ,aku tidak peduli dengan keadaan Barak biarlah dia mengobati sakit hatinya dengan menyendiri,lagi pula dari awal aku tidak menjajikan hatiku untuknya ,aku bersedia bersamanya dan dia mewujudkan inginku,dia bilang dia tidak masalah menikah denganku walau aku tidak punya perasaan padanya ,ehhhh....salah maksudku aku tidak bisa memberikan dia hatiku .


     Aku diam di kamarku,tadi Barak mengungkit nama Kak Raiz kakak iparku membuatku jadi teringat padanya.


Flash back


     *Aku dan Bilal sudah berteman sejak kecil, keluarga Bilal pindah kedesa kami waktu mama Bilal yaitu Raisya Abimana tengah mengandung Bilal,Rumah Bilal dan  Rumahku berdekatan kami tetangga


    Saat aku umur 8 tahun waktu itu masih kelas 3 SD sedang Bilal udah kelas 4,di rumah Bilal sedang ada rame_rame ,karena penasaran aku melangkah memasuki Rumah Bilal di halaman Rumah Bilal terlihat ada Mobil yang masih asing di penglihatanku,aku tahu mobil nya om Faizal jelas itu bukan mobil Om Faizal


"Ting....tong..."Aku memencet bel rumah Bilal,setelah memencetnya aku menunggu sejenak ,menunggu orang yang ada di Rumah ini membukakan pintu untukku


"Dan....ceklekkk...."Alhamdulillah langsung di bukain pintu,terlihat di depanku seorang pemuda yang masih asing di mataku,aku mengernyit menatap penasaran pada pemuda di depanku ini,dan berbicara sendiri di dalam hatiku"Dia siapa ya...?Bisikku dalam hati,tapi yang lebih herannya lagi pemuda yang ada di depanku ini juga ikut terdiam sepertiku


"Emmmm..."Aku bergumam ragu ingin bicara apa


"Siapa Bar....."Terdengar lagi suara seorang pemuda yang aku yakin seumuran dengan pemuda di depanku ini,dia melangkah dan mendekati ku yang masih berdiri di depan pintu


    Pemuda yang baru dateng tadi langsung tersenyum padaku ,aku langsung sumringah ,senyumnya mirip Bilal,aku sangat menyukai senyum Bilal yang khas dan pemuda yang ini memiliki nya


"Ade' siapa.....?Dia bertanya tanpa menghilangkan senyumnya padaku


"Namaku_____


"Ohhh....tunggu dulu ,kakak tahu nama kamu"Pemuda itu mengangkat jari telunjuknya seperti mengingat sesuatu


"Nabila benerkan... ..."

__ADS_1


"Pacarnya Bilal...."


"Waahhh....manis sekali kamu"Pemuda itu mencubit kecil pipiku


"Aku bukan pacarnya Bilal kak,kata Abi pacaran itu ngga' boleh dalam Islam haram hukumnya"


"Whaa.....ha..ha...."Mendengar perkataanku yang seperti orang dewasa dua pemuda di depanku ini tertawa terpingkal_pingkal


"Baiklah Ustadzah kecil"Sekali lagi pemuda yang senyumnya mirip Bilal tadi mencubit pelan pipiku


"Ayo....masuk...ke dalam ,pacarmu ...ehhh.....maksudku Bilal sudah menunggu di dalam


   "Jangan terlalu formal begitu kakk....disini merupakan Rumah kedua ku ,aku sering ada disini jadi..Tuan Rumah ini sudah sangat mengenalku,mereka sudah menganggapku seperti keluarga mereka"Aku bicara lagi sok dewasa


"Ha...ha....ha..."Mereka tertawa lagi


"Rupanya dia tidak tahu siapa kamu Iz...."Ha....ha....ha"Aku hanya menatap mereka kesel


   Aku masuk ke dalam mendahului mereka,aku langsung menduduki sofa yang ada di ruang tamu keluarga Abimana,aku duduk dengan elegan di atas sofa sambil melirik_lirik kearah dua pemuda tadi menunggu mereka mendekatiku


  Mereka tertawa terpingkal_pingkal masih menertawakan sikapku yang sok dewasa,mereka duduk di sofa yang ada di depanku


"Bukannya tadi kamu bilang ,kamu sudah di anggap keluarga disini,kok tidak langsung masuk saja ke kamar Bilal,katanya tadi mau ketemu Bilal?


"Itu namanya tidak sopan kak,walaupun aku sudah di anggap keluarga tapi aku juga harus tahu batasan"


"O....iya...kak kita belum berkenalan ,kenalkan nama saya Sakina Nabila fatahilllah"Aku mengulurkan tanganku pada kakak tadi yang slalu tersenyum padaku,mereka berdua tersenyum padaku ,bisa di bilang masih menertawakan sikapku


"Kenalkan juga namaku Muhammad Raiz Abimana"Kakak itu menyambut tangan ku dan menyebutkan namanya


"Tapi kok namanya terasa familiar ya"Aku menaikkan mataku keatas memikirkan sesuatu,mereka tersenyum lagi melihatku,mreka tahu kalau aku memikirkan sesuatu


"Ohhhh....putrinya ustad fatahillah"?Suara kakak tadi memecah lamunanku ternyata kakak itu mengenal ayahku


"Iya aku putrinya Abiku"Aku mengangguk meyakinkan kakak yang bertanya tadi,mereka tersenyum lagi


"Perkenalkan juga Namaku MUBARAK HADI...."Kakak yang satunya tadi yang hanya diam saja waktu melihatku di depan pintu,dia memperkenalkan dirinya


    Aku menyambut uluran tangannya dan menyebut namaku sekali lagi di depan nya,lalu dia mengangkat tangan kirinya dan tangan kirinya itu mendarat di pipiku dia melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan kakak yang satunya tadi yaitu mencubit kecil pipiku


"Kamu manis sekali sih....."Kakak itu tersenyum manis padaku,aku membalas senyum nya


"Coba kamu tuh seorang gadis dewasa pasti aku langsung suka sama kamu"Kakak itu menepuk dan mengusap_ngusap pipiku,aku tersenyum tanpa merasa risih ,karena aku menganggap itu sebagai bentuk kasih sayang seorang yang lebih dewasa kepadaku seperti yang pernah di lakukan oleh Abi ku atau paman_pamanku yang gemes karena melihat ku.


  Namun tiba_tiba ada yang menepis tangan pemuda tadi dan yang kulihat besar tangan nya tidak jauh beda denganku,jadi dia seumuran denganku dan disini yang masih kecil sepertiku hanya Bilal,aku langsung menoleh dan melihat siapa anak itu,saat aku melihat nya ada rasa lega yang menyeruak di hatiku


"Dia milikku jangan sentuh dia"Bilal langsung memelukku dan membawaku agak menjauh dari kedua pemuda tadi,dan aku hanya menerima pasrah perlakuan posesif Bilal padaku yang sudah dia lakukan sejak kecil dan semua sifat posesif itu makin jadi saat Bilal melihatku di ganggu anak_anak nakal di sekolah kami yang memang suka mengganggu murid lain nya.


"Waahh.....wahhh..adikmu posesif Iz"Pemuda tadi yang mengaku bernama Mubarak bertepuk tangan seakan mengejek Bilal


  "Katanya ngga' pacaran kok,peluk_pelukan gitu"?Pemuda satunya yang tadi  bernama Raiz itu bicara memojokkanku


"Kami ngga' pacaran ia kan Bilal?Aku melihat Bilal


"Ia...kami ngga' pacaran ,kata Abi itu Haram tidak boleh di lakukan"Bilal mengangguk menyetujui ucapanku


"Aku hanya melindungi nya dari kalian pemuda nakal"Bilal bicara tetap masih memelukku


"Tapi Bilal ....apa kamu ngga' mau bilang sama dia aku ini siapa?


"Dia kira tadi kami tamu lho?


"Ohhh.....ya....aku lupa ngga' cerita sama kamu Bila,dia kakakku ,MUHAMMAD RAIZ ABIMANA"


"OHH.....Jadi dia kakak kamu Bilal"


"Kalau begitu kakaknya Bilal ,kakakku juga iya kan.....?


"Ia adik maniss....."Kak Raiz mengusap kepalaku


"Coba.....adikku manis kayak gini"Kak Raiz mencubit pelan pipiku lagi


"Ngga' bandel kayak yang yang ini"Dan kak Raiz malah menjewer telinga Bilal


"Kak Raiz sakit....."Bilal meneriaki kakaknya


"Kalau kak Raiz kakaknya Bilal,lalu kakak yang itu siapa"?Aku menunjuk pemuda tadi


"Ohhh.....dia temen Kak Raiz"Bilal menjawabku


"Berarti temenku juga"Aku bicara lugu,membuat kak Raiz dan pemuda satunya lagi tersenyum


"Ia.....dong....anggap kakak ini teman juga"Kakak tadi menjawabku antusias


"Tapi kakak sih lebih senang kalau dianggap kekasih"kakak tadi menyeringai dia menggoda Bilal


"Jangan coba_coba"Bilal menutupiku dengan tubuhnya berusaha menghalangi pandangan kakak tadi padaku


"Sudah di bilangin tadi kalau dia ini milikku "Bilal bicara gaya marah anak kecil ,yang malah membuat kedua orang dewasa di depan kami ini menertawakan tingkah Bilal


"IYA....IYA....dasar anak kecil"Kakak tadi yang bernama Mubarak Hadi dan aku memanggilnya Kak Barak


"Kamu mau main .....di halaman apa kita kekamarku"?Bilal bertanya dengan suara halus aku ingin menjawabnya namun suara tawa kedua pemuda tadi menghentikanku


"Ha....ha.....ha.....😂😂😂😂😂"Mereka berdua sampai memegang perut mereka


"Jadi kalian sering berduaan di dalam kamar"?Kak Raiz menatap kami sambil masih tertawa


"Ohhh....Raiz..seppertinya kamu akan di langkahi sama adik kamu"Kak Barak bicara sesuatu yang tidak kami mengerti sama sekali


"Jangan di dengerin....ayooo....ke kamarku"!Bilal menarik tanganku dan menggandengnya menuju kekamar Bilal dan memang benar aku memang sudah biasa berada di kamar Bilal tanpa merasa risih ,papa dan mamanya Bilal juga sudah terbiasa melihatku keluar masuk ke kamar nya Bilal


"Awas jangan kebabblasan Bilal"Bilal menutup telingaku,padahal aku tidak mengerti maksud dari kedua kakak tadi*


     Itulah pertemuan pertamaku dengan Barak dan juga kak Raiz,dari cerita Bilal ternyata memang kak Raiz tinggal dengan neneknya di luar negri,saat mereka pindah ke indonesia dan tinggal di desaku ,kak Raiz sudah terikat dengan pendidikannya di sana jadi Kak Raiz di tinggal bersama nenek mereka.


   Dan Barak merupakan teman dari kak Raiz,mereka kesini katanya mau melihat peluang Bisnis yang ada di Indonesia,padahal mereka masih kuliah semester 2 waktu itu,tapi sudah berfikiran untuk memulai Bisnis


   Pemuda_pemuda yang sangat hebat dan cerdas,aku mengagumi mereka berdua,hingga saat mereka di desa ini aku sering bermain bersama mereka dan berjalan_jalan menikmati indahnya desaku,tentu di temani oleh Bilal yang slalu setia di sampingku tanpa mau memberi kesempatan pada kakak dan temennya itu mendekatiku.


   Aku tersenyum sendiri mengingat tingkah Bilal yang memang slalu perhatian padaku sejak dulu,tapi sekarang Bilal sudah berubah,walau hatiku untuk Bilal tidak berubah masih sama seperti dulu dan kabar tentang hati Bilal,harus aku tanyakan pada siapa,tidak mungkin aku menanyakan semua itu pada Bilal nanti dia besar kepala lagi dan akhirnya aku menjadi bahan ejekannya


   Apa Bilal tidak mengingat Barak?Aku bertanya sendiri pada hatiku,aku saja saat pertama kali bertemu Barak butuh beberapa waktu untuk menyadari bahwa dia orang yang kukenal.

__ADS_1


__ADS_2