A Falling Memory [Belum Direvisi]

A Falling Memory [Belum Direvisi]
Scharlete


__ADS_3

Ku berharap bisa berbahagia disini tanpamu. Namun, apa yang membuatmu terus melekat di pikiran dan hatiku.


Tiap malam mengungkap rindu ditemani cahaya rembulan.


Berharap tiba - tiba kamu muncul di balik jendela kamarku.


Kini ku sendiri,


Duduk di bawah pohon,


Memandangi daun yang gugur.


Tiada hentinya hingga kau kembali ke sisiku.


Andai waktu kuputar kembali...


Bisakah aku membujukmu untuk tinggal?


Bila bisa, akan kubayar waktu itu meski dengan waktu hidupku.


Namun aku takut,


Takut kalau sebenarnya aku tak begitu berharga bagi mu...


~Natania Scharlete

__ADS_1


"SCHARLETE!! " Teriak Dian pada gadis yang kini tengah berdiri menghadap sebuah pohon maple berwarna merah. "Iya aku datang " Sahut gadis itu.


"Cepetan sini! " Teriak Fani yang tak sabar.


"Iya iya! " Jawab scharlete sambil berlari ke arah ketiga sahabatnya itu. "Manggilnya tuh selow dikit napa? Diliatin orang tau." Kata Scharlete. "Halah, biasanya juga sering diliati orang gara gara malu -maluin. " Jawab Fani ketus.


"Yah Mbak Nini marah, gimana Let let bujuknya? " Jawab Scharlete dengan nada mengejek. Wajar jika Fani nampak kesal, siapa yang rela menunggu hampir dua puluh menitan di tengah lapangan.


Mereka semua pun tertawa akibat jawaban Scharlete. "Udahlah, kuy masuk kelas! " Kata Dian. Bisa lama bila ceritanya dilanjutkan, keburu kelas dimulai .


Mereka berempat pun masuk ke kelas yang atasnya berlogokan 11.1.


Mereka pun duduk ke tempat duduk masing -masing yang berdekatan.


"Fan ada ulangan gak? " Tanya Scharlete sambil menepuk bahu teman sebangkunya itu.


"Duduk ditempat masing -masing! " Perintah Bu Vana yang mengajar Biologi sekaligus wali kelas mereka itu. Mereka pun langsung duduk dengan manis setelah mendengar perintah wali mereka.


"Silahkan masuk pak! " Kata wali kelas nya itu. Pak kepala sekolah pun masuk ke kelas. "Perhatian untuk semuanya! Kita sekitar 4 minggu lagi akan melaksanakan Penilaian Tengah Semester. " Ujar pak kepala sekolah itu. Seketika seluruh kelas riuh mendengar kata kepala sekolah itu. "Jadi harap mempersiapkan diri dengan baik. Sekian terimakasih. " Tambah kepala sekolahnya kemudian pergi keluar kelas.


"Oke, sekarang mari kita mulai pembelajarannya. " Ujar Bu Vana yang membuat kelas diam lagi. "Kemarin sudah sampai mana? " Tanya Bu Vana.


Scharlete entah apa yang mengganggu pikirannya, tidak memperhatikan gurunya itu menjelaskan. Dia malah menatap pohon tempat ia berdiri tadi. "Cepat kembali aku rindu " Katanya dalam hati dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.


Sialnya gurunya yang tengah menjelaskan itu melihat Scharlete yang tidak memperhatikan itu. "Scharlete! " Panggil Bu Vana dengan lembut pada Scharlete yang terus menatap jendela itu.

__ADS_1


"Apa Fan? " Jawab Scharlete mengira yang memanggilnya adalah Fani. "Apa sih gerak Tropisme? " Tanya Bu Vana mengetes anak muridnya itu. "Gerak tumbuhan yang dipengaruhi rangsangan dari luar. " Jawab juara kelas itu dengan benar.


"Kan lagi dijelasi Bu Vana di depan. "Tambahnya lagi. "Schar, coba liat dulu..." Ujar Fani yang dari tadi diam. Scharlete pun menoleh dan berkata "Ken-" Dia terkejut ternyata yang dari tadi menanyainya Bu Vana. Dia pun menampilkan senyum tanpa dosanya "Eh, Bu Vana. Kenapa bu? " Kata scharlete.


"Mikirin apa kamu? " Tanya Bu vana. "Lagi mikirin masa depan bu. " Jawab Scharlete pada guru yang akrab dengannya itu.


Seketika seluruh kelas tertawa. Bu Vana hanya bisa menepuk jidatnya. Bu Vana pun kembali ke depan kelas. Scharlete terbiasa membaca pelajaran saat pagi hari di rumah sehingga dia bisa tahu. Bu Vana pun tak heran lagi kenapa anak murid nya itu bisa menjawab. Namun, biasanya Scharlete memperhatikan penjelasan. "Perhatikan pelajaran! " Suruh Bu Vana. "Iya bu. " Jawab sekelas.


Bel istirahat pun berbunyi. "Schar, kau mikirin apa sih? " Tanya Dian.


"Udah dibilang mikirin masa depan. " Jawab Scharlete santai. "Sumpah kau tuh dibilang bodoh tapi pinter dibilang pinter tapi rada bodoh." Kata Fani kesal. Mulut Fani mungkin sudah dibumbui bon cabe sejak lahir. "Hiks menusuk dihati " Jawab Scharlete dramatis. "Udahlah , ayo ke kantin !" Ajak Mita.


Tiba -tiba "Bruk " Dian menabrak seseorang ."Kau! " Teriak Dian


-


-


-


-


-


mohon dukungannya ya! boleh tulis kritiknya di bawah dan jangan lupa klik jempolnya ya!

__ADS_1


bye!!


__ADS_2