A Falling Memory [Belum Direvisi]

A Falling Memory [Belum Direvisi]
Perpisahan


__ADS_3

"Akhir pekan mau jalan jalan gak? Sekalian perpisahan sama Kak Frans? " tanya Scharlete sambil menoleh ke arah ketiga temannya itu bergantian.


"Boleh juga sih... Ntar tanya yang lainnya ada yang mau ikut atau nggak. " balas Dian.


"Tapi gapapa nih? Kirain mereka berdua mau perpisahan romantis gitu loh. " Mita mengejek temannya itu.


"Tapi, kalau ngomong soal romantis, Fani gak rencana pacaran nih?" tanya Scharlete pada Fani sambil menggendong tas ranselnya kemudian berdiri.


"Ntar, kapan kapan. Males aku. Ketemu model otak udang lagi gimana? " jawab Fani santai sambil mengancing resleting tasnya kemudian ikut berdiri.


"Yah, ga semuanya seperti mereka. Ga semua orang seperti cicak goreng, jadi coba dicari aja. Jangan sampai jomblo akut cuma gara gara orang seperti mereka." Dian menggendong tasnya kemudian berdiri.


"Tapi, kalian merasa ga sih, Scharlete sama kak Fransisco tuh mirip mukanya. " Mita kemudian ikut berdiri.


"Iya, loh. Lumayan mirip. " Fani ikut menambahi sambil berjalan keluar kelas diikuti ketiga sahabatnya itu.


"Tapi, aku ada satu pertanyaan. Scharlete orang Indonesia kan? " Dian ikut bertanya


"Ya iyalah. " jawab Scharlete sambil terus berjalan.


"Kau pakai softlens? " tanya Fani.


"Emang aku kurang kerjaan ya? " jawab Scharlete lagi.


"Kau cat rambut? " tanya Mita lagi pada Scharlete.


"Jelas nggak. Kan kalau sekolah ga boleh dicat rambutnya." jawab Scharlete kini disertai alasan yang sangat masuk akal.


"Kau schincare an? " tanya Dian pada Scharlete lagi.


"Ga lah. Aku ga se - girly itu. Cukup Niel aja yang schincare an. " jawab Scharlete lagi. Mendadak ketiga temannya itu berhenti berjalan di tengah koridor. Scharlete yang sadar pun ikut berhenti kemudian menoleh ke belakang tempat teman temannya berada.


Dian, Mita, dan Fani memperhatikan Scharlete dari atas hingga bawah seolah sedang menganalisis.


"Yakin, kau orang Indo? " Fani bertanya lagi.


"Iya, Fani." Scharlete menjawab pertanyaan temannya itu.


"Ga masuk akal. " balas Mita.


"Why? " Scharlete mengangkat kedua tangannya heran sambil menaikkan alisnya.


" Satu, warna mata kau. Orang Indonesia matanya jarang warna abu-abu . Mending kalau coklat. Kayak Mita, matanya coklat. " jelas Dian.


"Dua, orang Indonesia jarang ada yang warna rambutnya coklat muda." Mita ikut menambahi.


"Tiga, jarang banget ada orang Indonesia yang putih abis itu tinggi." Alasan Fani tak kalah masuk akal.


"Mana kutahu. Mungkin aku sejenis peri apa ya? " Scharlete mengepak ngepakkan tangannya.


"Tapi serius loh. " Dian masih lanjut berbicara. "Mana saya tempe. " bala Scharlete.


*/


"Bruk" seorang gadis bertabrakan dengan Imanuel hingga terduduk.

__ADS_1


"Gapapa? " tanya Imanuel sambil mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri.


"Gapapa kok. " jawab gadis itu sambil membalas uluran tangan Imanuel. Namun, tanpa sengaja Imanuel ikut terjatuh karena tertarik gadis itu hingga menimpanya.


"Maaf. " Imanuel langsung bergegas berdiri.


Gadis itu kemudian bergegas berdiri lagi.


"Amel. " Gadis itu mengulurkan tangannya sambil mengenalkan diri.


"Scharlete. " Scharlete tiba tiba datang kemudian membalas uluran tangan Amel pada Imanuel.


"Udah, masuk kelas yuk! " Scharlete langsung menarik tangan Imanuel untuk pergi meninggalkan Amel yang sedang memasang muka marah.


**akhir pekan


"Scharlete, Imanuel, sini!!" panggil Mita pada dua orang yang sedang kebingungan mencari teman temannya.


"Datang!!" Scharlete menghampiri teman temannya itu dengan diikuti Imanuel di belakangnya. Dari kejauhan, tampak Mita, Dian, Evan, Sean, dan Fransisco yang sedari tadi menunggu temannya yang lain datang.


"Loh, Fani mana? " Scharlete bertanya setelah melihat tidak adanya keberadaan Fani di antara mereka.


"Katanya bareng Vito. " jawab Sean pada Scharlete.


"Tapi ga usah repot repot banget loh, sampe buat acara perpisahan segala. " Fransisco merasa tidak enak.


"Gapapa kok! " ucap Dian sambil menggandeng tangan Fransisco.


"Ehem. Dian... " Sean berdehem melihat Dian yang bergandengan dengan Fransisco.


"Napa sih? Kalau iri cepet cepet cari pacar dong! " Mita menyikut lengan Sean.


"Narsis amat sih jadi orang. " celetuk Dian.


Semua orang tertawa akibat perkataan Dian tadi.


"Sorry ya, telat! " kata Vito yang tengah berlarian menuju tempat sedari tadi mereka semua mengobrol.


"Mana Faninya? " tanya Scharlete yang heran tak melihat adanya Fani.


"Napa? Kangen? " Fani datang menghampiri sambil memegang satu mangkuk kecil es krim.


"Yah ga ngajak ngajak... Aku kan juga mau. Ayo, El kita beli!! " Scharlete menarik tangan Imanuel menuju toko es krim.


'kok rasanya ada aura membunuh ya?' gumam Imanuel dalam hati. Dia kemudian dengan cepat menoleh ke arah belakang.


'Cuma perasaan aku kah?' batinnya lagi.


"Napa? " tanya Scharlete ikut menoleh ke belakang melihat Imanuel yang menoleh ke belakang.


"Gapapa. Mau rasa apa ?" Tanya Imanuel ketika mereka berdua sudah berdiri di depan toko es krim.


"Kok telat banget? " Tanya Fransisco melihat Vito dan Fani yang baru datang.


"Fani beli es krim nya lama. " jawab Vito mengangkat bahu.

__ADS_1


"Siapa ya, yang telat jemput? " Fani memutar bola matanya.


"Orang udah telat juga, tambah telat lagi gapapa lah. " Fani mengangkat bahunya.


"Kau gatau apa orang udah nunggu seabad. " Mita kesal.


"Mau kemana dulu? " Tanya Imanuel yang sudah kembali bersama Scharlete.


"Kita jalan jalan di mall dulu. Makan siangnya di sini aja. Sorenya baru pergi ke taman bermain. Udah dipesen kan tiketnya? " Jelas Evan dengan teliti dan beraturan.


"Udah. Siapa yang mau simpen tiketnya? Kalau sama aku hilang ga ngurus ya. " kata Fani mengeluarkan 9 buah tiket dari dalam tasnya.


"Kalau hilang kamu ga usah ikut main. " balas Scharlete.


"Yaudah, kamu aja yang simpen tiketnya. Jadi kalau hilang aku masih ikut main soalnya bukan aku yang pegang. " Fani menyodorkan tiket tiket itu pada Scharlete.


"Kau kayak ga kenal Scharlete aja. Pikun akut gitu malahan lebih bahaya. " Ejek Sean sambil mengambil tiket itu dari tangan Fani.


"Udah. Cari tempat makan dulu yuk!! " Ajak Mita.


"Mau dimana? " tanya Fransisco.


"Terserah sih... Mau makanan Indo apa Inggris? " goda Dian mengingat bahwa Fransisco berasal dari Inggris.


"Mumpung masih di Indo makan makanan Indo aja. Kalo yang lain tahun depan juga bisa." jawab Fransisco.


"Wokeh!! " balas Scharlete antusias.


**


"Kita cari tempat duduk yang pas pasan orangnya aja. " saran Scharlete setelah mereka memasuki sebuah restoran dengan gaya tradisional.


"Loh, kenapa? " tanya Fani heran.


"Nanti ada tamu gak diundang. " jawab Scharlete.


"Tamu tak diundang pala lu. Setan apa? " Mita menyentil kepala Scharlete gemas dengan tata bahasa yang digunakan temannya itu.


"Ihh... Sakit tau! Intinya nurut aja dah! " Scharlete mengusap jidatnya yang tadi disentil oleh Mita. Mereka kemudian memilih tempat duduk lesehan dengan ukuran yang sangat pas untuk mereka ber sembilan.


"Mana, gak ada tau tamu ga diundangnya yang ada malahan kucing. " kata Sean pada Scharlete.


"Ih... Kalo kucing mah, tamu diundang. palingan bentar lagi. " jawab Scharlete


"Udah, mau makan aja ribut heran beut, dah!" Evan kesal atas tingkah semua temannya itu yang sedari tadi tidak bisa diam.


-


-


-


-


- Halo, saya kembali.

__ADS_1


ok, padahal rencananya mau hiatus seminggu tapi mau gimana? Rasanya nulis novel jadi kebiasaan lama lama. Jadinya tetap nulis naskah deh waktu luang.


jangan lupa like, komen, dan klik favorit ya kalo suka! tolong bantu vote juga dong! BUBYE!!


__ADS_2