![A Falling Memory [Belum Direvisi]](https://asset.asean.biz.id/a-falling-memory--belum-direvisi-.webp)
"Aduh!! " Fani menabrak orang yang berdiri di tengah lorong kelas yang tak lain adalah Peter, Pacarnya.
"oh, hai Peter! " sapa Fani duluan .
"Hai." balas Peter singkat.
"Kau kenapa? " tanya Fani sambil memegang tangan Peter.
"Gapapa "jawab pria itu sambil melepas tangan Fani.
"oh, yaudah. Aku masuk ke kelas ya. " Kata Fani lagi.
"Yaudah sana! " balas Peter singkat .
Fani kemudian berjalan memasuki kelas yang berlogokan 11.1 itu. Dia kemudian mendudukkan dirinya di kursi sebelah Scharlete kemudian menghembuskan nafas kasar.
"Buk Fani kenapa? " Tanya Dian heran.
"Gatau, pagi pagi udah gak ada jiwa. " Jawab Mita.
"Kek mayat hidup buk. Baru bagun kah? " tanya Scharlete.
"Fani ngapa? " Tanya Viona dan Eci menghampiri mereka.
"Gatau nih. " jawab jawab Mita.
"Kenapa Fan? " tanya Eci pada Fani.
"Si Peter kok jadi aneh ya? " tanya Fani balik.
"Aneh gimana? " tanya Viona.
"Kayak ngejawab pertanyaan kita tuh singkat banget. "tambah Fani.
"Yang sabar ya, buk! " kata Eci.
"Haih... gatau lah. " tambah Fani lagi.
"Felling aku sih.... dia ada apa apa tapi gatau ya, kalo salah. " kata Scharlete.
"hei! " kata Dian memelototkan matanya pada Scharlete. Scharlete pun refleks menutup mulutnya.
**
"Tumben kalian bertiga mau ikut ke 'pohon'?" tanya Scharlete sambil mendudukkan dirinya di atas ayunan.
__ADS_1
"Gapapa. Bosen aja di kelas. Lagipula aku penasaran ngapa sih kau suka banget dengan nih pohon. " jawab Mita sambil menyentuh batang pohon yang tampak sudah lama tertanam itu.
"Percaya gak percaya... Rasanya tuh pohon ini familiar banget. Seolah -olah aku udah tahu pohon ini dari lama. " jawab Scharlete sambil bermain ayunan yang bersenggayut di dahan pohon itu.
"Emang kau pernah lupa ingatan apa sampe -sampe pernah ke pohon ini tapi gak ingat. " kata Fani yang tengah duduk sambil membaca novel.
"Pernah. " jawab Scharlete sambil menunjuk dagunya dengan jari telunjuknya.
"Hah?! serius? Pernah kecelakaan? ato kepala kebentur lantai?! " Tanya Dian sambil berteriak.
"Kok kau kayak seneng banget, ya? " kata Scharlete tersenyum kesal.
"Hihi. " Dian tertawa.
"Haduh... punya kawan pada gak waras gini ya? " tanya Fani menepuk jidat .
"Ngaca dulu napa? " Balas Mita mengejek.
"Udahlah padahal sama gila gak mau ngaku. " jawab Scharlete dengan nada sedikit mengejek.
*/
"Halo? Who this? ~Siapa ini? " Seorang wanita cantik dan dewasa itu tengah menjawab telepon. Mungkin orang tidak akan mengira kalau dia sudah memiliki seorang anak yang berumur 16 tahun.
"Iya. Jadi sekitar 2 minggu lagi deh mungkin. " jawab maminya itu.
"oh, okedeh ." Kata Imanuel membalas pernyataan maminya itu.
"Who ~Siapa? " tanya seorang pria yang sedikit tua namun tampak keren dengan muka sedikit galak yang sedang bekerja itu.
"Imanuel, tanya jadi pulang atau gak. " jawab Sandra pada Jovan suaminya itu.
Tiba-tiba telepon Sandra berdering.
"Halo? dengan siapa? " tanya Sandra.
"Oh... It's been long time. ~Sudah lama ya... " ujar Sandra setelah pertanyaannya tadi itu dijawab.
*/
"Eh!!! itu tuh si Peter kan? " Tanya Viona heran.
Viona kini tengah berjalan jalan di mall pada malam hari dengan adiknya Viola.
"Siapa? " tanya Viola penasaran.
__ADS_1
"Ssstt ... diam. kakak mau ambil foto dulu." ujar Viona sambil menutup mulut adiknya itu.
'Sumpah.Si Peter lagi jalan sama siapa itu? kejem banget. Gak habis pikir deh. ' batin Viona. Dia tanpa sengaja melihat Peter tengah berjalan jalan dengan seorang gadis yang merupakan teman sekelasnya.
"kirim gak ya? " pertanyaan itu terlintas di kepala Viona.
'Kalo aku kirim trus ternyata cuma salah paham kan gak enak dengan Fani.' batinnya lagi.
**
Di saat yang bersamaan ada seorang gadis yang tengah duduk selonjoran di atas kasur sambil memeluk bantal gulingnya dan memainkan HP.
"Dian bosen gak? " tanya Sean dari depan pintu kamar adiknya itu.
"Napa? " tanya Dian balik.
"mending kasih aku ide buat nulis yuk! " ajak Sean.
"Boleh juga. Skuy! " sahut Dian sambil beranjak turun dari tempat tidurnya itu.
"genrenya apa? " tanya Dian pada Sean sambil berjalan menuju kamar Sean yang tepat bersebelahan dengan kamarnya itu.
"Belum dipikirin sih... Bingung. " jawab Sean.
"Plis deh. ada Ketos otaknya mampet. " kata Dian ."tak" Sean menjitak kepala Dian.
"Haduh... makanya semampet apapun otak aku yang penting ga pacaran dengan cicak goreng. " ejek Sean.
"Itusih namanya gak laku." jawab Dian tak mau kalah.
*/disisi lain
"hachiu ....pasti ada yang kangen aku nih! " kata Kevin narsis.
-
-
-
-
-terima kasih atas dukungannya ya! mohon dukungan kedepannya juga. Jangan lupa like, vote dan klik favorit ya kalo suka!
Thank you, luv yu !!
__ADS_1